Showing posts with label life-long learning. Show all posts
Showing posts with label life-long learning. Show all posts

Tuesday, July 17, 2018

A letter to myself at the beginning of the homeschool year

I hope I never forget, the simple wonders that can catch the attention of a child.
I hope that I don't lose sight of what's important, because what's important to the small child is truly important according to their time, not necessarily according to our own adult time. That feelings matter, no matter what the cause. That the abstract scribbles have an important story. That crazy thoughts are a sign of rich imagination at work.
.
.
.

I hope that I don't get too caught up in "curriculum", "academics", or how other kids are doing. I hope I remember that life is a neverending learning process. That "school" is not the only education there is. That the "classroom" is not the only socialization that exists. That methods of learning are merely tools to choose from, try out, and customize to the best fit.
.
.
.
I hope I remember that I'm facilitating a human being--- not a robot, not an object, not a compilation of grades, not just some trophy waiting to be shown off. Planting the seeds of character... and enjoying the lifelong process of them getting to know about themselves and the world around them. .
.
.
Most of all, I hope I remember that this raising and educating kids thing takes time-- life-long, in fact. So I hope I don't forget to enjoy the ride with them, be thankful for every moment I'm blessed to be with them. The days are long but the years are short. May Allah grant us a grateful heart and guidance in putting the best effort we can to raise our kids ❤

Arum_ourlearningfamily | ourlearningfamily.blogspot.co.id | July 17, 2018
.
.
.
#ourlearningfamilyvalues
#homeschoolingmultiplechildren

Friday, March 20, 2015

Not what, but how...

A couple of weeks ago, we went to Kidzania for Little Bug's birthday present. One of the professions he chose to do was a package courier, working together in a team of 3 kids along with 2 older, maybe 7 or 8 year olds. They were given a destination for the delivery--a tenant somewhere within the Kidzania town area. As they rushed off pushing their delivery carts, I followed a bit behind and casually asked where they were headed. They told me their destination and i just followed, eager to see how fast they would make the delivery (of course, i knew the destination already). For about 5-10 minutes, the were scurrying around the town streets, looking around for the destination. I couldn't help asking the older kids if they knew where to go, and they just laughed and said so innocenltly, "no". OMG.

They were probably in 2nd grade or so.. but they didn't realize that they had a problem---a challenge to solve. And they were doing nothing about it, just giggling and running around. Not wanting to waste precious time (if you've been to Kidzania, you know what i'm talking about) and just feeling bad for Little Bug running around in circles and not being heard by them, i told them to go back to the delivery "office" and to ask again about the location. The guy repeated his instructions and also gave them explicit directions, again, on how to get there. Finally!

So, this was an eye opener for me... these older kids should've had some sense of "real world" problem solving and initiative, but they were completely "blank" and just plain unaware of their situation. Why??
For any reason, i realized that the "what" breadth of facts that a kid knows just won't matter at all if they're equally clueless on what to do with what information they have, no matter the amount. And without an inquisitive atitude, how can they overcome problems/challenges, no matter how simple?

So with that experience, I started to emphasize a more explicit problem-solving approach with Little Bug in our daily lives. If he asks something, i start to ask him "how would you find the answer to that question, without asking me? What resources could you use? How would you use them?"

Before this, I would just usually ask him, "What do you think?" So he can think creatively and then I would comment on his answer. Now, it's more step-by-step and I try to get his understanding of thw challenges or problem he is facing.

Kids nowadays have Google search, books, and all sorts of sources of information at their fingertips. We just have to make sure they can see the problem or challenge that they face, especially when it's right under their nose.

Friday, November 07, 2014

Ijazah & Ibu Rumah Tangga



Waktu saya dulu memutuskan untuk berhenti bekerja setelah Little Bug lahir, si Hubs bertanya kepada saya: “Nggak apa-apa tuh kamu berhenti bekerja? Ijazahnya nggak sayang? Nanti kalau kamu mau lanjut sekolah lagi juga nggak apa-apa kok...” Dan saya dengan (se)tenang (mungkin) menjawab “insyaaAllah nggak apa-apa.” Tetap pada pendirian saya. Pun ada tawaran pekerjaan sampingan nantinya, yang saya terima haruslah yang bisa dikerjakan dari rumah, part-time, atau sifatnya insidentil saja. Sekolah lagi? Hmm... untuk saat ini, menjadi seorang ibu dan full-time home manager saja adalah sekolah lanjutan bagi saya, dengan ujiannya yang tak menentu materinya, praktek langsung setiap saat, dan tak pernah berakhir hingga akhir hayat.

Oh ya, ijazah. Bagi saya, ijazah adalah tanda kesetaraan. Bahwa kita telah bekerja keras dan jujur untuk menyelesaikan sebuah bagian/tingkat pendidikan formal tertentu, dengan pola pikir yang dibentuk sebagai hasil dari ilmu yang didapat. Ya, ijazah S1 saya harusnya mencerminkan bahwa saya memiliki pola pikir dan attitude yang mencerminkan seseorang yang telah lulus dari universitas. Jadi kalau dikomentarin “sayang amat ijazahnya nganggur karena ujung-ujungnya di rumah saja”—saya amat sangat tidak setuju. Kenapa? Karena pola pikir dan attitude seharusnya nggak akan pernah “nganggur” ketika kita meletakkan ijazah itu di rumah saja. Keinginan untuk belajar ilmu dan informasi terkini tetap bisa berlangsung dari rumah, apalagi dengan adanya internet yang memudahkan belajar di mana saja dan kapan saja dengan siapa saja yang bersedia berbagi ilmunya, dari yang berbayar maupun yang free. Belum lagi banyaknya seminar, workshop, atau training insidentil yang bisa diikuti. Belajar maupun menebar manfaat tidak harus berhenti di persoalan ijazah ataupun status sebagai ibu rumah tangga.

Kesadaran bahwa menjadi orang tua itu butuh ilmu parenting yang dipadukan se-harmonis mungkin dengan praktek di lapangan dan disesuaikan dengan sifat dan keunikan tiap anak plus kondisi keluarga, itu juga merupakan pengejawantahan dari pola pikir yang dilambangkan oleh si ijazah tadi. Hanya nggak pake apresiasi resmi dari pihak luar. Nggak ada jabatan resmi atau gelar lanjutan buat pembelajaran seumur hidup ini. Oh ada deng gelarnya, saya menyebutnya “M.om” atau “M.ama”, ujiannya nanti di akhirat, langsung sama Allah. Well, that goes for everybody, not just for us stay-at-home-moms.
But anyways, intinya jangan anggap pendidikan itu hanya demi ijazah, dan ijazah itu hanya demi pekerjaan (di kantoran). Kalau begitu, then we’d be stuck at square one: “ijazah nganggur kalau ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga”.  Menjadi ibu rumah tangga itu adalah sebuah pilihan pekerjaan, dan nggak semua orang beruntung untuk menjadikannya sebagai pekerjaan yang utama atau satu-satunya. Dan pilihan ini juga bukan solusi untuk ongkang-ongkang kaki menikmati uang suami. Being a stay-at-home-mom is HARD WORK. It’s work that never ends—or as I prefer to look at it, a blessing  that never ends. A blessing because you can make this decision and you can adjust your life to it however you need to—and you will find ways to adjust even though it might not be an easy task to do.

So, don’t be afraid of that one piece of paper. Cara menghargai ijazah adalah dengan mencerminkan pola pikir, sikap, dan integritas yang sesuai dengan si ijazah tadi. Sekolah lagi, monggo. Bekerja formal, silahkan. Menebar manfaat dari rumah, ya sama baiknya. Dan yang paling penting: ingatlah kalau rezeki dari Allah, bukan dari ijazah :) Ijazah can open up opportunities, but it shouldn't be an obstacle to create them. Jum'at barokah buat semuanya! :)

Saturday, August 30, 2014

Life long learning

Tadi pagi, saya mendampingi Little Bug latihan keyboard. Sejak sementara dialihkan ke les privat sembari nunggu guru kelasnya recovery, progress-nya Little Bug memang terasa agak lebih cepat. Biasanya main lagu berdasarkan repetisi & pendengaran not (sembari belajar baca) dan agak pelan, ini jadi cepat karena fokusnya secara individual. Biasanya 1 lagu untuk beberapa kali pertemuan, ini bisa 2-3 lagu dipelajari setiap sesi les, meskipun hanya 30 menit saja.
Nah tadi waktu berlatih lagu baru, saya rada2 lupa bin keder baca not baloknya, Little Bug juga lupa melodi lagunya. Udah bukan di kunci C saja, tapi ada kunci G dan sekarang kunci F, tangan kanan dan kiri. *help me* Jadilah saya mencari tahu bersama-sama dengan dia.. nyoba-nyoba, trial and error. Alhamdulillah akhirnya bisa dimainkan, dan saya baru ngeh.. proses bingung dan cari tahu tadi beserta trial and error yang terjadi sebenarnya merupakan contoh yang baik untuk Little Bug. Bahwa kita belajar sepanjang hayat. Bahwa ilmu Allah itu sangat luas. Bahwa kita nggak harus tahu semuanya... apalagi gak usah sok tahu. It's okay to not know... and it's okay to make mistakes and try again. Dan bahwa seorang emak hs nggak harus bisa semua-mua-nya... karena bisa dipelajari sama-sama :-) 

Saturday, May 24, 2014

Pieces of the “Why Homeschool?” Puzzle



 Semua bermula ketika ada ajakan gathering teman-teman SMA ke Pulau Pramuka. Little Bug sangat, sangat, sangat (!!!) antusias dengan rencana liburan singkat ke laut itu! Memang, dari dulu dia sudah ada minat yang besar terhadap semua hal yang berbau laut: hiu, paus, ikan-ikan, dan pantai. Mungkin karena si Hubs juga “doyan” laut, jadi modeling-nya berhasil “ditransfer” ke Little Bug hehehe :D Anyways, demi memaksimalkan pengalaman liburan itu sebagai pembelajaran (ini pemikiran emak homeschool banget deh), maka awal bulan ini kami mulai tema bulanan tentang laut. Saya tiba-tiba teringat kalau ibuku sepulang haji memberikan buku tentang scientific wonders in Oceans & Animals yang ditinjau dari isi (berbagai ayat) Al-Qur’an yang relevan (She’s the best mom, right? Alhamdulillah!). Selama ini buku itu duduk manis di musholla rumah (karena masih panjang antrian buku lainnya yang ingin saya baca), tapi baru kemarin-kemarin ini saya mulai mencari-cari mana isi yang bisa saya share ke Little Bug, yang kira-kira akan bisa dia bayangkan dan pahami (remember, he’s still 5 yo). Nah, sejak saat itu malah saya-nya yang keterusan (baca). Dan alhamdulillah...

Saya jadi sadar bahwa selama ini, saya belum benar-benar berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sebagai seseorang yang beruntung dilahirkan dalam keadaan otomatis beragama Islam, saya selama ini nggak melalui proses “ilmiah” dalam mencari tahu tentang daya tarik Islam itu sendiri. Beda dengan para mualaf yang ada proses “aha! Moment”-nya alias diberikan hidayah dari Allah SWT, yang dari cerita-cerita yang saya baca, banyak dari mereka yang masuk Islam diawali karena baca ayat Al-Qur’an yang membuka pikiran dan hati mereka.  Dan pagi ini, saya baru menyadari.... mungkin Allah dengan cara-Nya “menyuruh” saya homeschooling salah satunya supaya bisa lebih dekat dengan-Nya dan melibatkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan saya pribadi maupun (inshaaAllah) dalam kehidupan anak-anak.... masyaaAllah!

Kok bisa saya berpikir ke arah situ? Well, seperti yg pernah saya ceritakan di awal, keputusan untuk homeschooling waktu itu diambil setelah proses istikhoroh dan pertimbangan yang cukup lama. Keputusan yang berat karena waktu itu Little Bug sudah dalam proses masuk ke TK setelah 2 tahun di waiting list—TK yang ideal sesuai tujuan pendidikan keluarga kami saat itu. Tapi entah kenapa muncul keraguan dari niat yang tadinya sudah mantep... yang setelah “berproses” akhirnya berakhir dengan permulaan baru untuk mencoba homeschooling. I didn’t know how I was going to do it or wether or not it was going to work for our family, but it felt like the right thing to do. Nggak kalah penting sudah kulonuwun sama yang Maha Mengetahui.

Nah, pagi ini, saya berpikir.... kalau saja...

  • Kami dulu nggak harus pulang dari Jepang, anak-anak pasti akan saya masukkan ke sekolah Jepang.. dan saya mungkin nggak akan berpikir untuk memperkaya kehidupan mereka dengan Al-Qur’an—mungkin hanya sebatas ngaji dan hafalan surat pendek saja.

  • Kami tetap memasukkan Little Bug ke sekolah ideal itu, saya tentunya nggak akan pusing mikir untuk mengajarkannya agama, karena ada mindset bahwa sudah “all-in” dengan paket pembelajaran di sekolah.

Kalau saja saya nggak homeschool, saya nggak akan berusaha mencari sumber-sumber lainnya untuk mengajarkan tentang Islam ke anak-anak. Karena saya pengetahuannya minim, ditambah pelajaran agama waktu sekolah duluuu yang sudah “banyak lupa” , saya (awalnya) terpaksa untuk belajar lagi... for the kids sake... but it’s actually for my own sake. Kemarin waktu nonton film kartun bareng Little Bug tentang “sifat-sifat Allah”, saya ikutan belajar lagi.. waktu nyari ayat Al-Qur’an tentang lapisan laut, saya jadi berdoa semoga anak-anak bisa melihat kalau Al-Qur’an itu bukan sekedar bahan hafalan atau kewajiban baca semata, tapi benar-benar the most important book in our lives!

Memang, ada opsi untuk memasukkan anak-anak ke TPA buat belajar ngaji, atau madrasah buat belajar agama, panggil guru ngaji ke rumah, masuk ke rumah hafidz, dsb. Ya, semuanya inshaaAllah ada ahli yg bisa bantu. Tapi karena proses belajar di rumah yang mulai terasa hambar oleh ilmu thok (saja—dalam bhs.jawa), maka alhamdulillah hidayah (menurut opini awam saya) datang dalam bentuk kebutuhan untuk membuka Al-Qur’an dan mempelajari mukjizat ilmiahnya. Setidaknya, itu sebuah permulaan bagi saya.. bagi homeschooling kami. Semogaaaa kelak ada bagian (atau keseluruhan) isi Al-Qur'an yang mereka bisa ingat.. atau siapa tahu mereka kelak bisa mengungkap lebih banyak ilmu Allah yang sudah ada di dalam Al-Qur'an. But for the main part, I'll be happy if at least they want to *enthusiastically* open the Al-Qur'an daily plus read and reflect about the meaning.

Salah satu keuntungan homeschooling adalah penyesuaian tujuan homeschooling atau pergeseran basis kegiatan sehari-hari bisa dilakukan kapan saja, sesuai dengan perkembangan keluarga—dalam hal ini, perkembangan saya pribadi dalam hubungan saya dengan Allah SWT. Sepertinya ibuku dulu pernah mendoakan supaya saya bisa lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an... saya nggak begitu ngeh waktu itu, tapi mungkin ini adalah jawaban dari doanya, wallahualam. Saya jadi menyadari, mungkin inilah (sebagian) alasan Allah waktu itu membuat saya ragu-ragu untuk memasukkan Little Bug ke sekolah formal itu. Mungkin Allah nyuruh saya untuk belajar lagi... and what better way to do it then to learn with my kids? MasyaaAllah!

Jadi, saya hanya ingin share cerita ini sebagai sharing pengalaman saja, bukan untuk pamer apalagi mengintimidasi. Semua keluarga punya alasan dan tujuan masing-masing. Dan nggak harus homeschool juga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT--this is just my own circumstances. Barangkali saja ini bisa membantu memberikan insight buat siapapun di luar sana yang lagi “galau” tentang homeschooling. Ya, tidak semua keluarga akan cocok dengan homeschooling, dan nggak semua akan memiliki tujuan yang sama atau menggunakan metode yang sama. But if it feels right, then trust Allah.. and pray... karena Allah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaNya.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah*. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Luqman: 27).

*Ilmu-Nya dan hikmah-Nya, artinya semua itu tidak cukup untuk menuliskan kalimat Allah.


Friday, July 05, 2013

Little Bug's Reading Journey

(ditulis untuk 4 Juli 2013)


Alhamdulillah, at almost 4.5 years old, Little Bug has started to read out loud on his own, or preferrably reading to me or Hubs. Did we teach him to read? Not really.  All I did was introduce him to letters of the alphabet (through everyday play) and the phonetic sounds they make. Oh, and we bought him (actually, ourselves) LOTS of books, most of them bought on sale (you know, the kind after the BIG sale where they reduce the prices MORE so they can sell off the rest of the unsold books) or bought secondhand through flea markets and online shops. Kalau nemu buku murah dan bagus serasa nemu harta karun!
Intinya ,kami memang membiasakan anak-anak untuk melihat kami suka membaca, suka mengunjungi bursa buku murahatau toko buku, kalau pergi ke mana-mana hampir selalu membawa bekal buku untuk dibaca dalam perjalanan/di tempat tujuan, sehingga alhamdulillah minat dan kecintaan terhadap buku tumbuh subur dengan sendirinya--- nggak perlu les baca atau maksa-maksa anak buat baca.

Little Bug’s “reading journey” has started ever since he was a baby. And no, I wasn’t the pregnant mom who read everyday to her baby inside the womb. (I did sing a lot of songs in class and read books out loud to the kids, but I wasn’t that disciplined enough to read out loud to Little Bug while he was still in the womb ). Anyways, I started regularly reading to him from when he was about 6 months old. We started with 2 very 1st boardbooks: the classic “Goodnight, Moon” and another board book titled “Cookie’s Week”. Sampai hafallll isi bukunya hehehe! Awalnya hanya saya saja yang rajin membacakan buku untuk Little Bug. Tapi lama-lama saya minta si Hubs untuk ikutan. Awalnya dia nggak pe-de dan belepotan. Tapiii, lama-lama makin terbiasa dan dia suka sekali memplesetkan isi buku ceritanya jadi macem-macem--- it was hillarious! Jadinya saya juga ketagihan dehhh untuk ikutan dengerin si Hubs membacakan cerita buat Little Bug (sambil saya cekikikan sendiri).




So the routine was Me or Hubs reading, and Little Bug started by listening & staring at the pictures on the boardbooks... lalu ada masa mengemut dan menggigit-gigit buku... terus belajar membolak-balik halaman buku sendiri... ada juga masa dia nggak sengaja merobek bagian halaman buku karena terlalu bersemangat “membaca”, tapi lama-lama dia belajar untuk menjaga supaya buku tetap rapi dan terawat.. teruuuuuus aja berkembang sampai sekarang alhamdulillah sudah bisa baca pelan-pelan setiap kalimat di buku yang berbahasa Indonesia. Alhamdulillah, samoi hari ini, Little Bug sudah membaca dengan tuntas 2 buah buku berjudul “The Tickly Octopus” dan “Emilie Belum Mau Tidur”, yg memang masing-masing kalimatnya pendek-pendek. Kalau yg paragrafnya agak panjang atau tulisannya banyak, dia baca semaunya dia dan sisanya tinggal nyodorin ke emak-bapaknya buat dibacakan ke dia hehehe ;p



Kami nggak pernah memaksa dia untuk membaca, nggak pernah mengajarkan secara formal/drilling cara membaca, namun juga nggak melarang ketika dia menanyakan tentang bunyi huruf atau cara membaca sebuah kata. Dan memang, kami sampai sekarang masih lebih sering membaca (menterjemahkan ke) dalam bahasa Indonesia ketimbang in English, hanya karena kami ingin Little Bug memiliki fondasi bahasa ibu yg kuat sebagai modal belajar bahasa asing nanti. Yah, buku-buku in English memang sudah mulai dia coba eja dan baca, we’ll see how it goes karena membaca kata-kata in English ada aturan-aturan tersendiri juga toh (yg emak-bapaknya belum siap nihhh klo disuruh ngajarin baca dengan bener, huhuhu)... but we’re just going to let it flow dulu  and see how it goes.

Namanya juga homeschool, mau nggak mau kita juga ikutan belajar bareng dengan anak-anak. Nggak harus tahu semuanya, tapi harus mau untuk sama-sama belajar dan mencari tahu apa yang belum diketahui. It’s a real-life example of life-long learning, bahwa mentang2 udah jadi emak-bapak bukan berarti kita berhenti belajar--- justru harus ikutan belajar biar nggak ketinggalan sama anaknya. Sambil menyelam, minum air... sambil kita menunjukkan ke anak kalau kita masih semangat belajar macam-macam, secara nggak langsung kita memberikan contoh nyata bahwa belajar itu terjadi sepanjang hayat ;)