Showing posts with label personal thoughts. Show all posts
Showing posts with label personal thoughts. Show all posts

Tuesday, July 10, 2018

Parent check: Whose life are you helping to manage, yours or your kids?


By Arum Budiani | ig: arum_ourlearningfamily |  ourlearningfamily.blogspot.co.id 


Pilihan baju kakak-kakak ketika kami  menginap. Saya hanya memberikan mereka jumlah setiap jenis baju yg butuh disiapkan beserta keperluannya buat apa. Sisanya ya mereka yg pilih with no intervention from us parents (pun ada, berupa saran, dan berhak ditolak oleh mereka)

Ada seorang teman yg baru2 ini posting soal anaknya yg mulai negosiasi macam2. Lalu saya ikut berkomentar kalau nggak usah nunggu remaja, punya anak tween (pre-teen) aja udah macam2 negosiasinya, apalagi yang punya siblings, the whole negotiation thing goes up into peace-treaty-level negotiations all.the.time. *endless drama here folks, move along* πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Meski pas ngadepin itu berasa gregetan, gemesan n kremesan pake sambel level jontor to the max, tapi kalau dipikir-pikir setelahnya, it's so very heartwarming to see the kids growing and learning to manage their lives according to how they see fit. Kadang kita lupa, it's *their* lives (in the long run) that we are helping them manage, not ours. We are but only facilitators in helping them figure our their world, teaching them the rules/boundaries/limitations, but the rest is basically up to them, helping them figure out what works best for *them*, which might not necessarily works best for us, haha  Enter negotiations, discussions, win-win solutions..  (and a whole lot of chocolate for me) πŸ˜† ... just hang in there and make sure to do things keep your sanityπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


On that note, might I say that learning to live together as a family *takes a lot of hard work*, a whole lot of negotiation, and a lifetime of doing it. With the end goal in mind, you want family to be a sanctuary and roots to come home to, right? Semangat yaa! You're not alone... all of us parents are in the same boat, and we're all learning together!  May Allah ease the way for you to achieve peace within your families and yourselves ❤.


#ourlearningfamilyvalues

Friday, April 14, 2017

Dear Moms of Kids With Allergies, You Are Not Alone.

Your struggle is real, as real as the red rashes that appear on your baby’s cheeks.

Your fear is real, every time you want to eat something but you’re afraid that it may cause a new allergic reaction on your very own offspring. 

Your guilt is real, every time you know that your baby is allergic to something but you can’t stand the temptation to eat just one tiny bite of that chocolate cake you haven’t eaten for months. 

Your despair is real, every time you crave for comfort food—food that you have loved since you were little—but you can’t since your baby is allergic to it. 

Your weariness is real, all the time spent in the kitchen making meals that you would love to just order out and buy, but can’t since it’s too risky for allergens. 

Your frustration is real, every time you try a new “allergy free” recipe and it flops, when your toddler has a birthday party to go to but has to bring her own cake so she can eat “cake” like other kids there. 

Your strength is real, every time you have to explain to family members, friends, and strangers that your kid is allergic and that is his allergic reaction. 

Your humility is real, every time you politely decline party or get-together invitations because you know that the menu won’t support your allergen-free diet. 

Your bravery is real, every time you wake up in the morning, trying again and again to face this challenge—one that has changed your whole life in the blink of an eye. 

Your hope is real, every time you choose to be optimist and trust that your baby will someday overcome his allergies. 

Your feelings are real, they’re completely normal, because you, Mama, are human. 

And you, strong mama, are not alone.  

April 14, 2017
By Arum Budiani
http://ourlearningfamily.blogspot.com

Thursday, March 10, 2016

Life Happens


When you homeschool, everything that happens to you as a family impacts the WHOLE family. You can plan out schedules up until the whole year, but when life happens, you just gotta adjust the best you can and go with the flow. Beberapa bulan kemarin, jadwal homeschooling kami secara mendadak harus mengalami “penyesuaian”. Ya, selain karena alasan yang umum, misalnya Little Bug, si Hubs, Baby Bird, dan saya juga akhirnya sakit berturut-turut (alhamdulillah nggak sampai rawat inap, hanya mulai dari demam tinggi, radang tenggorokan, dan paling parah Little Bug kena tyfus), yg mengharuskan kami banyak beristirahat, selain itu.... alhamdulillah, another little life insyaaAllah is happening inside me :) This little life unexpectedly made my days a bit stagnant for the past 3 months, karena harus menyesuaikan dengan mual, lemas, hilangnya nafsu makan, rasa ngantuk luar biasa, dan semi-bedrest yang menyebabkan saya harus libur nyetir dulu sampai dinyatakan aman. Praktis kegiatan saya dan anak-anak jadi lebih banyak di rumah dan saya di tempat tidur atau sofa, nggak bisa naik-turun ke ruangan yang biasa kami pakai buat bermain dan melakukan paperwork lainnya.

Panik? Ya, kalau nggak terbiasa melihat anak-anak main seharian sih iya, karena seolah-olah ada “warning” di belakang kepala saya yang berbunyi “Gimana dengan target schoolworknya Little Bug? Gimana dengan kegiatan-kegiatan Baby Bird? Akan terpenuhi kah? Akankah mereka “ketinggalan” dibandingkan anak-anak seusianya?” Yaa, kurang lebih seperti itulah. Banyak “liburnya” alias minimal schoolwork (buat Little Bug) dan sisanya main bebas di rumah. Hmm, gak jauh beda dengan sehari-hari sih.. hanya kerasa nggak maksimal aja dari bagian sayanya, padahal anak-anak mah seneng-seneng aja dan saya juga jadi diingatkan bahwa free play itu banyak sekali proses belajar yang terjadi, hanya kita nggak melihat saja :) Paling banter saya usahakan Little Bug menulis di journal hariannya, mengerjakan math worksheets buat latihan soal (karena kelas 1 SD menurut materi kurnas sedang pada bagian penjumlahan/pengurangan 2-digit, jadi mau nggak mau memang harus rajin latihan supaya lebih terbiasa dan teliti), dan sesekali mengerjakan latihan soal pelajaran lain (spt PPKN, Bhs.Indonesia, dsb) dari buku soal kelas 1 SD (cara curang saya, karena 1 buku isinya ringkasan pelajaran + latihan soal hehehe). Alhamdulillah juga target materi buat kelas 1 SD juga belum terlalu banyak, jadi bisa juga tercover sedikit banyak dari baca buku-buku cerita/ nonfiksi yang berhubungan dengan topik-topik tsb. Idealnya mah lebih banyak percobaan, arts & crafts, dkk... but hey, life happens and you just gotta do what you can til the situation is better (which at times  felt like for-e-ver, but turns out baru beberapa bulan aja kok!).

Berbeda dengan kalau mengirim anak-anak ke sekolah formal, kondisi ortu nggak akan banyak mempengaruhi.. kalau begini, saya terus terang di awal-awal sempat merasa down.. bisa nggak ya saya tetap HS anak-anak dengan kondisi seperti ini? Apakah anak-anak saya dirugikan? Dan gong-nya: Am I a bad mom for making this decision?

Lalu.. saya mencoba melihat sisi positifnya. After all, life is to be celebrated and Hubs & I are really thankful for all the little lives in our life (including the little-est that we are super-excited about)! Anak-anak sikapnya masyaaAllah, jadi jauh lebih pengertian selama beberapa bulan terakhir. Little Bug lebih banyak ngemong Baby Bird, mereka lebih akur dalam bermain (baca: porsi akur lebih banyak daripada porsi berargumen/bertengkar) dan juga lebih banyak membantu saya di rumah (walaupun ada ART yang pulang-pergi, tapi tetap mereka berusaha membantu yang kecil-kecil). Mereka maklum dengan menu makanan yang lebih sederhana dan sering beli, maklum juga kalau saya lebih sering tidur sebentar-sebentar karena mual, juga lebih sering menanyakan “Gimana keadaan Mama? Masih mual? Adik bayi baik-baik aja kan?”.

Ketika cek bulanan (bonus: cek bulanan ke dokter bisa dianggap sebagai field trip HS, hahaha), mereka kagum melihat layar USG (sekeluar dari ruang dokter, pasti ramai celotehan soal adik bayi yang ‘melambaikan tangan’ dan bergerak-gerak ‘saying hello’ ke kakak-kakaknya) dan Little Bug juga berusaha mencerna tahap-tahap perkembangan bayi dari poster-poster yang ada di luar kamar periksa. Baby Bird juga berusaha memahami apa yang terjadi dengan pengertian untuk seusianya, terutama mengapa saya harus banyak istirahat beberapa bulan kemarin (“Karena bayinya masih belum nempel ya di dalam perut Mama?”). Lalu dia juga sering tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan atau celotehan lucu, seperti, “Adik bayi mau ikut kita pergi juga ya?” (uhm, nggak bisa ditinggal juga di rumah kan hehehe) dan “Mama makan lele, berarti adik bayi nanti juga suka lele dong?” (well, I hope so! Scientists say that the eating appetite/tastes for the later born baby is affected by what the Mom eats during her pregnancy... so you can see why I was so frustrated when I lost my appetite in the 1st trimester of this pregnancy---food just didn’t look appetizing to me, even though I was hungry, hikz!).

Buat saya yang awalnya sempat down, googling berbagai blog tentang punya anak 3 dan sengaja cari yang lucu-lucu, because humor helps! Nemu website ini tentang keluarga yang punya anak 3, sounds real and it made me laugh and cry at the same time (blame the pregnancy hormones!). I like real blogs that combine humor with reality instead of preaching perfection, memudahkan untuk enjoy the ride :)
 Saya sangat bersyukur atas kehidupan ini, tapi namanya manusia biasa, pasti ada saat-saat saya merasa panik, khawatir, sedih, bersalah, gelisah, dkk... it’s only human to go through the WHOLE range of emotions (from super excited to sad) when you are expecting another little life, and if we can accept and embrace all of the feelings, insyaaAllah it will be easier to deal with the situation and be thankful for everything. In other words, you embrace the fact that life happens and you are more blessed than you will ever realize!

Every experience is humbling and teaches you something new each day. You can make plans but in the end, the important thing is that you are all happy and healthy together as a family... because every moment is special, no matter if it goes according to your original plans or not. You may not be achieving weekly/monthly targets, but other learning experiences are happening and reminds you that learning is not just textbooks and worksheets, even if you already know that it’s true but you are reminded in the realest (is that even a word?) way possible. You learn to trust your kids, trust their innate abilities, trust that they will develop accordingly under God’s care, and really trust your days in God’s plans. You learn to make the best out of everything, even if your days look like instant noodles, playdoh, and Disney Jr. Cartoons (and you definitely learn NOT to look at [read: compare yourself to] what other moms on pinterest/facebook/instagram/path/whatsapp groups/other social media are doing for their kids at this moment, haha!). You learn to see the smiles on your kids face, because they don’t expect anything but to spend time with you (even though you feel like a sloth and suddenly fall asleep during a story or a game of Candyland). You learn to enjoy each day. You learn to be as happy-go-lucky as your kids... because being happy and thankful and content is a choice, not an outcome of certain pre-meditated conditions and plans. You learn to embrace life and give yourself without losing sight of what’s important... and you learn to fight and struggle to make everything better, even though you don’t actually know what tomorrow will bring.. but you try and you pray and you trust God. That’s it.

So, that’s where we are in life right now, juggling homeschool and pregnancy and life as a whole. And I couldn’t be more thankful, alhamdulillah! :)


Saturday, January 16, 2016

The Day They Took Our Playground Away

Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

Okay, this is my “mom-rant” alias keluhan khas emak-emak. Sebelum mulai, saya ingin membuat pernyataan disclaimer dulu: saya sangat mensyukuri kota tempat tinggal saya sekarang. Saya menghargai upaya pemerintah mempercantik lingkungan kota. Saya juga menyadari bahwa kami tinggal di area perkotaan, di mana lahan terbuka hijau memang terbatas. Jadi, saya pun bersyukur atas “apa yang ada” terlepas apakah hal tsb “ideal” ataupun tidak, karena ya… “yang penting ada”. Saya juga bersyukur masih mampu membiayai anak-anak saya untuk ke playground berbayar. There. Sudah ada disclaimer yaa… jadi mari mulai menyalurkan rasa kecewa dan kehawatiran saya sebagai seorang emak HS atas semakin terbatasnya fasilitas ruang bermain outdoor bagi anak-anak. 

Jadi begini ceritanya…. Di kota tempat kami tinggal, ada sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumah. Taman itu terbuka dan gratis dan menurut saya cukup luas. Ada tempat buat duduk-duduk, ada pohon-pohon yang rindang, ada area berumput yang cukup luas, dan ada 2 buah set ayunan untuk anak-anak (yang pada prakteknya dipakai oleh bayi hingga para ABG). Sederhana tapi terdengar ideal buat main anak-anak, bukan? Meskipun kami tidak ke sana setiap hari, namun setiap kali ke sana, anak-anak selalu senang bermain ayunan atau sekedar berlari-lari di area rumputnya. Kalau hari Minggu, taman itu ramai oleh keluarga dan ada penjual makanan di sekitarnya plus penjual aneka mainan anak yang bisa dimainkan di luar ruangan, seperti gelembung sabun, bola, dsb.

Nah, beberapa bulan yang lalu, taman tersebut tiba-tiba direnovasi supaya menjadi lebih cantik. Hasilnya, memang lebih cantik. Tapi saya dan anak-anak sedih karena ayunan kami hilang, digantikan oleh trotoar/walkway cantik yang melintasi taman tersebut. Area rumput yang tadinya cukup luas terbagi menjadi petak-petak yang ditumbuhi aneka tanaman/bunga yang cantik. Area yang agak lebar pun adalah area yang dilandasi oleh semen, cocok untuk duduk-duduk atau bersepeda (asalkan tidak ada yang sedang duduk-duduk di sana). Juga ditambahkan neon box berupa huruf-huruf yang menghiasi taman tersebut dengan namanya, dilengkapi dengan areal yang cukup memadai buat ber-selfie ria.

Taman itu memang cocok buat jalan-jalan santai melintasi taman atau misalnya naik otopet/sepeda. Atau sekedar duduk-duduk di bangku yang disediakan. Cantik, memang. Tapi, kenapa ayunan kami diambil? Kenapa areal rumput luas sekarang terpotong oleh walkway yang membaginya menjadi petak-petak yang ditumbuhi tanaman yang cantik, yang “tidak boleh diinjak”? Anak-anak kalau mau main lempar-lempar bola harus lebih berhati-hati karena arealnya menjadi jauh lebih sempit. Mau lari-lari, ya masih bisa sih, asal nggak kesandung batasan2 walkway atau nabrak orang yang lagi berjalan kaki santai melintasi walkway taman. Paling sedih, kenapa areal buat nama taman lebih luas daripada areal rumputnya? Kenapa buat selfie difasilitasi, sedangkan alat bermainnya dihilangkan? I bet those neonbox letters cost more than 1 simple set of playground equipment.

Seperti yang sudah saya bilang di disclaimer, saya masih bersyukur taman tersebut ada dan tidak dijadikan menjadi tempat parkir atau apa. Saya juga mengakui, taman tersebut lebih cantik dan rapi. Tapi anak-anak kecil yang menjadi generasi penerus kota ini nggak butuh cantik dan rapi ataupun tempat selfie—mereka lebih membutuhkan ruangan terbuka lebar yang hijau sebagai tempat bermain.
Pernahkah kita menghitung berapa banyak areal playground terbuka yang gratis, yang tersedia untuk anak-anak? Kota saya, yang ironisnya memiliki banyak taman dan kebun yang cantik, kehilangan salah satu taman bermain anak-anaknya. Kalau anak-anak saya mau berlari-larian dengan bebas, pilihan terakhir saya hanyalah lapangan luas di pusat kota, yang itupun harus berbagi dengan masyarakat yang juga menggunakannya untuk bermain bola. Atau ya saya harus mengajaknya ke playground berbayar di berbagai pusat perbelanjaan. Ya, kami harus membayar per jam untuk suatu hal yang harusnya menjadi hak mereka sebagai anak-anak. Alhamdulillah kami bisa menyisihkan dana, nah buat anak-anak yang orang tuanya bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan dasar, bagaimana caranya??

Di sini, saya merasakan playground sebagai barang mewah. Hanya anak-anak yang menjadi siswa sekolah tertentu bisa menikmatinya, atau harus ke mall dulu dan bayar untuk bisa menikmatinya dengan sesekali, sesuai kemampuan orang tua. Mungkin mereka berpikir, buat apa menyediakan alat bermain gratis kalau nantinya akan dirusak? Tapi bagaimana anak-anak akan belajar merawat kalau tidak diberikan sama sekali? Apa susahnya mempekerjakan beberapa orang satpam untuk menjaga keamanan playground publik?

Mungkin mereka berpikir, anak-anak sudah bisa bermain di sekolahan. Tapi, apa kabar dengan sekolah yang tidak memiliki alat bermain yang memadai? Belum lagi jam istirahat/bermain yang terbatas.  Di sisi lain, orang tua yang libur pada akhir pekan terpaksa membawa anak-anaknya lagi-lagi ke mall, karena hanya di situlah tempat bermain anak-anak berada, baik yang gratis maupun berbayar. 

Ah, anak-anak tidak membutuhkan alat-alat playground pun sudah bisa bermain kok! Iya, memang… tapi adanya beberapa alat bermain seperti ayunan,, perosotan, panjat-panjatan, dsb bisa membuka beragam kesempatan bermain dan belajar keterampilan baru… tidak berhakkah anak-anak diberikan alat bantu untuk menambah keasyikan bermain? Sebegitu rugikah mengeluarkan uang untuk generasi cilik kita? Selama ini, ada taman untuk berlatih skateboard… ada lapangan bola umum… ada lapangan bulu tangkis… bahkan ada taman buat corat-coret graffiti—semuanya rata-rata untuk remaja ke atas. Kapankan anak-anak kecil kita akan memiliki taman bermain yang layak dan khusus untuk mereka? Haruskah mereka menjadi warga yang besar dulu untuk bisa menikmati fasilitas ruang terbuka publik? 

Anak-anak berlari bebas di sebuah taman kota yang letaknya sekitar 2 jam dari kota tempat tinggal kami

Anak-anak kecil lah yang paling membutuhkan ruang terbuka lebar untuk berlari, lompat, eksplorasi, dan bergerak tanpa larangan “awas, nabrak! Awas, nggak boleh menginjak rumput!” dan berbagai macam peringatan lainnya. Tapi sayangnya, semakin lama, ruangan terbuka untuk mereka semakin berkurang. Padahal, kurangnya waktu dan kesempatan bagi anak-anak untuk bergerak dan bermain bebas di tempat terbuka bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar, mempengaruhi rentang perhatian mereka, koordinasi motorik mereka, dst. Intinya, anak-anak butuh ruang untuk bergerak pada usia mereka yang masih kecil, bukannya menunggu mereka besar dulu!

Saya tidak mau membandingkan kondisi kota tempat tinggal saya dengan kota maupun negara lainnya, karena setiap tempat berbeda-beda kondisi lingkungannya. Namun, saya hanya merindukan sesuatu yang sederhana yang pernah saya alami sebelumnya (di 2 negara yang berbeda plus di kota tempat tinggal kami saat ini) dan kini semakin lama semakin susah dijangkau, baik secara lokasi maupun secara finansial.  


Semoga tulisan saya ini bisa menggerakkan hati kita semua untuk memikirkan nasib bermain anak-anak kita. Where there is a will, there is a way... we just have to remember that kids are our next generation, so they deserve to be thought of in the way that we think about facilitating the development of our teens and adults as part of our society. 


Tuesday, December 22, 2015

Confessions of a real, imperfect Mom

The mothering world out there is harsh. Yep, no kiddin! Dengan tanggung jawab membesarkan seorang anak (atau 2, 3, bahkan lebih), tekanan untuk menjadi “the ultimate supermom” itu sangatlah nyata. Seolah-olah your existence will be graded on how your kids will turn out. Sejak masih mengandung, kita sudah dibombardir dengan berbagai macam pilihan buat si baby setelah dia lahir nantinya: cloth diaper or disposable, breastmilk or formula, organic food or ordinary available groceries, co-sleeping or independent sleeping, ….. the list goes on and on and on and on. And then comes social media with the pictures and statuses of Moms who make all their kids meals from scratch from their own organic garden, make their toys from all recyclables, have the clean house like from the magazine pages,  and all the “ideal” things we all want for ourselves and our children. After all, our kids are top priority, so we want only the best for them, right?

The thing is, the pressure is so intense to be the ultimate super-duper mom that sometimes we lose ourselves in the beautiful journey of motherhood. We think that being a mom is another chore to cross off our daily list. But it's not. 

You forget that being a mom is a lifelong BLESSING. And your kids LOVE YOU for who you are, not for what others think about you.

 You can be so busy in trying to create the “Perfect and Ideal” that you lose sight of what’s important: loving you for who you are and being happy just being together with your children. 

Don’t get me wrong, we all have ideals and goals to strive towards. But don’t treat motherhood as if it were a black and white TV show. The episodes of motherhood are far from black and white, right or wrong. Apart from the religious and moral rules that we follow, the rest is an infinite number of pixels and colors that make your journey the ultimate blessing that God gave you. Each and every mother’s journey and struggle is her own. You are not one to judge them because you will never know her whole story. Remember, mothers are humans that make mistakes. Mothers are also lifelong learners that do their best within a given circumstance, so we should treat each other like that. Spread knowledge without judgement, because each mom will make decisions based on what’s feasible for her family, which sometimes might just be the best of the worst choices that she has.

So for all fellow moms out there…
Stop pressuring yourself because you are not perfect! Anak-anak akan belajar bahwa menjadi seorang manusia tidaklah harus sempurna.. yang penting adalah kita tidak pernah berhenti berusaha  untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa. Bacalah banyak ilmu soal parenting dan pilihlah yang kira-kira cocok buat keluarga dan situasi yang dijalani. Take baby steps with your kids because your journey is not for them, but with them. Jelaskan ke anak-anak (dengan sederhana) bagaimana kita berusaha menjadi lebih baik sedikit demi sedikit. It’s okay to let them know if you make mistakes.. minta maaf dan beri tahu upaya kita untuk belajar dari kesalahan itu. Dengan demikian, kita memberikan contoh nyata bahwa it’s perfectly human to make mistakes, dan yang penting terus berusaha belajar menjadi lebih baik. 

Nikmatilah waktu makan dengan anak-anak, apapun makanannya. Nikmatilah waktu bermain dengan anak-anak, apapun mainannya. Nikmatilah waktu dengan anak-anak, titik. Be happy just being with them, apapun momennya.

And be happy being you, a mom. Take time to take care of yourself. Eat chocolate when the kids are sleeping. Watch cartoons with them in your pijamas from time to time. Have ice cream for breakfast as a special treat. You make your own happiness, not others. Never stop learning, never stop loving. 


Happy Indonesian Mother’s Day. Be happy, Moms… enjoy your blessing!

Thursday, December 03, 2015

Ideal vs. Real


3 Desember 2015

Hallo semuanya, lama tak bersua J Tak terasa sudah menjelang akhir tahun 2015 dan juga akhir semester 1 untuk kelas 1 SD (bagi yang menggunakan sistem semester). 6 bulan pertama bagi kami dalam jenjang formal kelas 1 SD itu banyak sekali penyesuaian, perjuangan, dan juga penemuan—dan proses ini masih berlanjut ya, hehehe… I just thought I’d write to tell you how it has really been. Bukan mau menakut-nakuti dan bukan juga mau mengumbar aib pribadi, postingan ini lebih kepada pengingat buat diri saya sendiri untuk terus berjuang dan terus bersyukur atas apa yang ada.
Coming in to this homeschooling thing, I had a lot of ideals. Don’t get me wrong—I still do. Hanya saja, saya belajar untuk lebih luwes untuk menyesuaikan antara “the ideal” vs. “the real”… sama-sama beakhiran “-eal”, tapi huruf depannya beda haha.

Pada umumnya, awal tahun ajaran itu sudah membayangkan akan ini-itu dengan jadwal rapi setiap harinya. Think again! Life happens. Bisa jadi pagi itu Baby Bird bangun tidur disertai tantrum selama 30 menit. Atau mendadak si Hubs dinas ke Jakarta dan kami menemani perjalanan ke sana supaya nggak kena 3-in-1. Atau ada pameran keren yang hanya hari itu saja padahal jaraknya lumayan sehingga jadinya pergi seharian. Atau Little Bug butuh waktu extra untuk membahas suatu materi tertentu sehingga yang lain jadi tergeser. Atau ada yang sakit. Atau hal-hal lain yang sifatnya di luar dugaan. Yep, life happens. What I learned: just enjoy and focus on the time being together. Little Bug pernah nyeletuk, “Yang penting kita bareng-bareng kan, Ma?” J

Belajar memang nggak kenal tempat dan waktu. Teorinya begitu tapi kadang masih merasa dikejar-kejar oleh materi yang belum tercover. Face it, sebagian besar dari kita adalah produk sekolah formal selama 12+ years yang penuh dengan target-target capaian materi kurikulum. Dan meskipun kami memliih untuk mengikuti aturan pemerintah mengenai sekolahrumah (that’s what they call it), mengelola waktu supaya bisa tercapai ideal “belajar apa saja di mana saja kapan saja dengan siapa saja” dan juga memenuhi persyaratan negara… butuh banyak legowo nya. Anak-anak nggak akan sadar dengan tekanan tersebut kecuali kalau kita turut menekan mereka… jadi jangan!  Cukup mereka tahu setahun ke depan ada topik-topik apa saja yang akan dibahas. Selebihnya biar kita yang fasilitasi dengan metode yang paling cocok dengan anak-anak. Focus on the positive. Focus on the excitement of learning something new. Jelaskan kenapa hal tersebut penting/relevan untuk dipelajari. Focus on fun field trips that you can go on or intriguing projects you can do. Dan selalu kaitkan dengan kehidupan sehari-hari setiap ada kesempatan.



Kita sebagai fasilitator yang harus kerja keras mengawasi waktu, supaya tetap fleksibel untuk memenuhi keingintahuan mereka tapi di sisi lain juga nggak lupa waktu. Enaknya homeschool ya anak didiknya hanya anak-anak kita aja, jadi kalau butuh menyesuaikan waktu akan lebih mudah diakali. Kita punya sepanjang hari, which is a lot!Kita sebagai orang tua pelan-pelan bisa belajar untuk legowo dan enjoy dengan proses belajar yang terjadi meskipun tidak sesuai jadwal, tidak sesuai rencana awal, atau bahkan "ketinggalan" menurut kita... insyaaAllah there is room for flexibility and time for catching up.. anaknya cuma anak kita aja kan, bukan sekelas isi 40? Hehehe... :)  Plus kita nggak harus stuck di 1 metode saja—we can facilitate the learning process however we want. Misalnya ketika belajar soal rukun Iman, saya membacakan cerita tentang malaikat sebelum Little Bug tidur. Contoh lain, saya membahas materi soal bangun ruang matematika melalui kegiatan bermain balok kayu di sore hari. Atau perubahan bentuk benda dan karakteristik benda melalui sensory play jelly beku saat akhir pekan. Lama-lama Little Bug juga bisa belajar bahwa dalam sehari itu ada alokasi waktu yang bisa dia gunakan dengan bebas dan juga ada waktu untuk menyelesaikan hal-hal yang diperlukan. 

Real life is like that. Ideally, they are free to do whatever they want the whole day, seperti saat mereka masih balita (siapa sih yang nggak mau? Haha). But in reality, the older you get, the more obligations to finish before you can do what you want… that’s when you learn to prioritize, etc. Dalam hal ini, mulai jenjang kelas 1 ini, Little Bug ada paperwork/kegiatan terstruktur sesuai kurikulum nasional di luar waktu bebasnya untuk belajar/bermain yang lain. Supaya bisa legowo? Make those obligations as fun or enjoyable as you can using creative ways. Find meaning in them and do your best to enjoy fulfilling them. Jangan berpikiran bahwa kewajiban tersebut nggak ada gunanya dan kita terpaksa melakukannya. Perception is important… jadi tugas kita sebagai orang tua untuk memfasilitasi supaya persepsi anak-anak tetap positif. Some things is life you may not like but you just gotta tough it out. But who says you can’t find enjoyable ways to do them? Hehe ;)

Ketika menemui tantangan atau kesulitan, saya selalu ingatkan Little Bug mengenai konsep growth mindset – bahwa otak dia adalah otot yang sedang dilatih, makin sering dilatih makin terampil. Cara melatih otak ya dengan berbagai tantangan atau kesulitan. Misalnya dalam hal menulis rapi: dia sedang melatih otaknya untuk mengkoordinasi otot-otot di tangan supaya bisa menulis dengan rapi dan terbaca. Saya sering menyemangati dengan kata-kata “it gets easier the more you do it” meskipun dia tampak nggak percaya, hehe ;p You can read more about the growth mindset here.


Last but definitely not least, don’t forget to think positive towards Allah in all of your days. Your day might not start out the way you planned it, or it might not turn out the way you planned it, but it sure is the way Allah planned it for you, and He is the best of all planners. Don’t lose your ideals as long as you can balance it with the real…. Just do your best and be thankful for each day, because life can be messy at times but it’s always a blessing to be alive and living it together with your family!

Tuesday, April 21, 2015

Grup sosmed para Kartini

Ketika itu, Kartini yang asli menulis curahan hatinya dalam surat-surat, yang kemudian dibukukan menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.  Fast forward ke saat ini, saya mengenal sekelompok Kartini masa kini yang mencurahkan pemikiran mereka melalui sebuah grup sosmed. Grup ini lama-lama menjadi sebuah support group bagi anggotanya, Kartini masa kini yang berjuang dengan tantangan kehidupan sehari-hari.

Para Kartini muda ini beragam profesinya, ada yang menjadi dokter, pemilik usaha online, pendidik, PNS, mahasiswa jenjang lanjutan, manager, bekerja di media, di perusahaan swasta, pengrajin kue, konsultan independen, dan ada yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Ada yang sudah menikah dan ada yang belum, ada pula yang menjalani hubungan jarak jauh dengan pasangannya. Ada yang belum memiliki anak dan ada yang baru saja melahirkan anak ke-4nya. Para Kartini yang beragam, namun memiliki sebuah persamaan: semuanya memiliki pilihan hidup masing-masing beserta konsekuensinya. Everyone is fighting their own battles beyond the boundaries of the LCD monitor of their smartphone.

Namun demikian, semuanya saling menghormati pilihan masing-masing. Mereka saling bertukar informasi, dari tips mengasuh anak sampai rekomendasi merek payung lipat yang tahan banting. Ide resep masakan, isu pendidikan, tips dandan, curhat mengenai sebagian perilaku para suami yang entah kenapa nggak bisa dipahami para istri (haha!), rekomendasi toko/tempat liburan/produk/film bagus, info diskonan (emak-emak banget), sampai curhatan demi mempertahankan kewarasan masing-masing--- semua diterima dengan terbuka. Setiap Kartini memiliki kesempatan untuk memberikan pendapat dan berbagi pengalaman---tanpa memaksakan kehendaknya kepada yang mengajukan pertanyaan di awal diskusi. Tanpa men-judge.

This is my perception of the modern-day Kartini. Women who consciously make their own life choices and take responsibility for them, some good and others that require a grain of salt and a bite-the-bullet-and-get-on-with-it attitude. It's not just about getting an education and putting that degree in a paid job. It's about educating yourself so you can make the best decisions with your given situation. It's about learning to be a wise woman who is empathic and doesn't give in to prejudice or negative stereotypes. It's about being supportive and being a good friend, encouraging them to be a better person within their own abilities and also learning to accept advice form others. It's about the journey of living life to the fullest and being thankful for what you have (and don't have).. it's about trying to be better each day... and trying again the next. Confidence, support, compassion, empathy, and courage.

So to all women, Happy Kartini Day! May we all be wise and smart women who will make the world a better place, starting from our own families and surroundings. Dan semoga semakin banyak support group yang hadir dalam kehidupan para Kartini masa kini... let's all start judging less and supporting more towards our women-friends, you never know what battle they are fighting behind their smile. Thank you to my group, you all know who you are! :)



Friday, November 07, 2014

Ijazah & Ibu Rumah Tangga



Waktu saya dulu memutuskan untuk berhenti bekerja setelah Little Bug lahir, si Hubs bertanya kepada saya: “Nggak apa-apa tuh kamu berhenti bekerja? Ijazahnya nggak sayang? Nanti kalau kamu mau lanjut sekolah lagi juga nggak apa-apa kok...” Dan saya dengan (se)tenang (mungkin) menjawab “insyaaAllah nggak apa-apa.” Tetap pada pendirian saya. Pun ada tawaran pekerjaan sampingan nantinya, yang saya terima haruslah yang bisa dikerjakan dari rumah, part-time, atau sifatnya insidentil saja. Sekolah lagi? Hmm... untuk saat ini, menjadi seorang ibu dan full-time home manager saja adalah sekolah lanjutan bagi saya, dengan ujiannya yang tak menentu materinya, praktek langsung setiap saat, dan tak pernah berakhir hingga akhir hayat.

Oh ya, ijazah. Bagi saya, ijazah adalah tanda kesetaraan. Bahwa kita telah bekerja keras dan jujur untuk menyelesaikan sebuah bagian/tingkat pendidikan formal tertentu, dengan pola pikir yang dibentuk sebagai hasil dari ilmu yang didapat. Ya, ijazah S1 saya harusnya mencerminkan bahwa saya memiliki pola pikir dan attitude yang mencerminkan seseorang yang telah lulus dari universitas. Jadi kalau dikomentarin “sayang amat ijazahnya nganggur karena ujung-ujungnya di rumah saja”—saya amat sangat tidak setuju. Kenapa? Karena pola pikir dan attitude seharusnya nggak akan pernah “nganggur” ketika kita meletakkan ijazah itu di rumah saja. Keinginan untuk belajar ilmu dan informasi terkini tetap bisa berlangsung dari rumah, apalagi dengan adanya internet yang memudahkan belajar di mana saja dan kapan saja dengan siapa saja yang bersedia berbagi ilmunya, dari yang berbayar maupun yang free. Belum lagi banyaknya seminar, workshop, atau training insidentil yang bisa diikuti. Belajar maupun menebar manfaat tidak harus berhenti di persoalan ijazah ataupun status sebagai ibu rumah tangga.

Kesadaran bahwa menjadi orang tua itu butuh ilmu parenting yang dipadukan se-harmonis mungkin dengan praktek di lapangan dan disesuaikan dengan sifat dan keunikan tiap anak plus kondisi keluarga, itu juga merupakan pengejawantahan dari pola pikir yang dilambangkan oleh si ijazah tadi. Hanya nggak pake apresiasi resmi dari pihak luar. Nggak ada jabatan resmi atau gelar lanjutan buat pembelajaran seumur hidup ini. Oh ada deng gelarnya, saya menyebutnya “M.om” atau “M.ama”, ujiannya nanti di akhirat, langsung sama Allah. Well, that goes for everybody, not just for us stay-at-home-moms.
But anyways, intinya jangan anggap pendidikan itu hanya demi ijazah, dan ijazah itu hanya demi pekerjaan (di kantoran). Kalau begitu, then we’d be stuck at square one: “ijazah nganggur kalau ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga”.  Menjadi ibu rumah tangga itu adalah sebuah pilihan pekerjaan, dan nggak semua orang beruntung untuk menjadikannya sebagai pekerjaan yang utama atau satu-satunya. Dan pilihan ini juga bukan solusi untuk ongkang-ongkang kaki menikmati uang suami. Being a stay-at-home-mom is HARD WORK. It’s work that never ends—or as I prefer to look at it, a blessing  that never ends. A blessing because you can make this decision and you can adjust your life to it however you need to—and you will find ways to adjust even though it might not be an easy task to do.

So, don’t be afraid of that one piece of paper. Cara menghargai ijazah adalah dengan mencerminkan pola pikir, sikap, dan integritas yang sesuai dengan si ijazah tadi. Sekolah lagi, monggo. Bekerja formal, silahkan. Menebar manfaat dari rumah, ya sama baiknya. Dan yang paling penting: ingatlah kalau rezeki dari Allah, bukan dari ijazah :) Ijazah can open up opportunities, but it shouldn't be an obstacle to create them. Jum'at barokah buat semuanya! :)