Showing posts with label reading. Show all posts
Showing posts with label reading. Show all posts

Sunday, November 27, 2016

Tak Kenal (Buku), Maka Tak Sayang (Buku)

Oleh: Arum Putri Budiani

“Adik sudah bisa baca, belum?”
Pertanyaan ini seringkali menjadi andalan untuk beramah-tamah dengan anak kecil yang baru saja ditemui maupun menjadi bahan obrolan hangat di kalangan ibu-ibu. Ya, membaca sepertinya menjadi sebuah parenting goal yang mahapenting, saking pentingnya hingga terkadang menjadi momok bagi orang tua maupun anaknya. Momok yang dengan mudah menghalangi esensi dari kegiatan membaca itu sendiri, yakni kecintaan akan buku dan jendela dunia yang ditawarkannya.

Ketakutan akan anak yang tidak mampu membaca pada usia dini justru mendorong adanya pendekatan yang keliru terhadap kegiatan membaca. Huruf-huruf diperkenalkan, ejaan diajarkan, dan suku kata dilafalkan hanya dengan tujuan untuk bisa membaca kata demi kata... bukan dengan tujuan agar anak suka membaca. Padahal menurut saya, proses belajar membaca itu sendiri diawali dengan membina sebuah hubungan positif dengan buku, bukan dengan huruf maupun suku kata seperti “b-a-ba”! 

“Children are made readers on the laps of their parents.”― Emilie Buchwald

Ya, budaya membaca dimulai sejak anak masih bayi, di dalam pangkuan orang-orang terdekatnya. Bahkan, sejak dalam kandungan juga bisa! Mereka dan si bayi mulai menikmati buku bersama. Mengapa “menikmati” dan bukan “membaca” buku? Karena buku tidak hanya untuk dibaca kata-katanya saja, akan tetapi bisa dimulai dengan melihat gambar atau warna-warni yang disajikan dalam sebuah buku anak-anak. Bayi dan balita akan “membaca buku” dengan cara yang berbeda-beda: diemut, digigit, diraba, dipeluk, dilempar, dibawa-bawa--- yang penting adalah interaksi anak dengan buku dan bukan kegiatan membaca yang menurut kita umumnya dilakukan oleh orang dewasa. Interaksi tersebut yang menjadi dasar untuk pemupukan kecintaan terhadap buku dan kegemaran membaca.  Dan kelak ketika sudah besar, anak-anak bisa diperlihatkan “barang bukti” bahwa mereka sejak bayi lho sudah suka dengan buku, hehehe! Itu yang terjadi saat saya kemarin mengatur ulang perpustakaan keluarga kami sehingga nanti insyaaAllah siap dinikmati oleh Baby Squirrel :) 
Our beloved baby books, terlihat bekas pemakaiannya hehehe...

Orang tua dan keluarga juga hendaknya mencotohkan kecintaan terhadap buku serta kegemaran membaca di depan anak, karena anak akan meniru apa yang dia lihat. Bagaimana mau menanamkan budaya membaca kalau orang tuanya tidak pernah menikmati dan membaca buku di depan atau bersama dengan anak-anaknya? Menurut saya, ujian terbesar adalah ketika malam-malam mata sudah 5watt dan anak-anak masih 100watt lalu ingin dibacakan (setumpuk) buku cerita sebelum tidur… nahhh itu dia! Jadi saya berbagi tugas dengan Si Hubs, kalau saya seringnya baca buku dengan anak-anak di pagi/siang hari, kalau malam biar jadi special time dengan ayahnya (emak setengah maksa sih, hahaha). Cara lain yang kami lakukan adalah dengan mengajak ke toko buku sebagai special treat supaya buku menjadi reward yang istimewa.. selain toko buku, bisa juga beli via online shop ataupun ke perpustakaan. Intinya, buku itu istimewa!
Buku paling istimewa dalam hidup: The Holy Qur'an! Ini punya masing-masing anak, kado dari Eyang di tahun pertama kelahiran mereka 


Selain itu, hal yang menurut saya perlu diperhatikan adalah untuk tidak terlalu berlebihan ketika menikmati sebuah buku. Cukup fokus pada kegiatan menikmati cerita buku tersebut tanpa harus menyiapkan 1001 aktivitas pelengkap dan pendukung buku tersebut, apalagi meng-kuis anak tentang aneka hal dari buku tersebut! Anak-anak bisa jadi merasa sungkan atau tertekan ketika membaca buku apabila setelahnya dibombardir dengan sederetan pertanyaan ala kuis ataupun berbagai kegiatan yang mungkin tidak diminatinya. Mungkin 1 atau 2 pilihan kegiatan bisa disiapkan jika anaknya berminat. Penekanannya bukan pada jumlah buku atau ada/tidaknya aneka aktivitas pendukung yang disiapkan, melainkan pada kedekatan dengan anak-anak dan perasaan senang setelah membaca sebuah cerita bersama-sama. Yang diperlukan hanya buku, orang tua, dan anak—sisanya opsional!

Anak-anak yang menyukai buku, secara alami akan memiliki rasa ingin tahu terhadap isi buku, apapun jenis bukunya. Mereka akan melihat bahwa di setiap halaman, terdapat rangkaian huruf-huruf yang menyusun kata… kata memiliki sebuah makna… dan rangkaian makna dari kata-kata tersebut menjadi sebuah cerita… dan semuanya berawal dari ketertarikan terhadap buku dan isinya! Jika anak-anak menyadari bahwa buku-buku itu menyenangkan untuk dinikmati, akan sulit sekali menghentikan mereka untuk membaca apapun, bahkan sejak mereka belum bisa benar-benar membaca 1 kata sekalipun! Terbukti melihat Big Bug dan Little Bird, meskipun berbeda pendekatannya terhadap proses belajar membaca kata (sesuai sifat tiap anak), akan tetapi sejak dini mereka berdua sama-sama sudah suka memegang buku dan menikmati buku sesuai dengan tingkat kemampuan mereka saat itu.
Big Bug membacakan buku kesukaannya kepada Baby Squirrel, meski belum memgerti tapi bisa menikmati bersama-sama


Jadi, di saat kita bertemu dengan anak kecil di kesempatan berikutnya, mari kita tanyakan “buku (tentang) apa yang adik suka?” –bukan “apa adik sudah bisa baca atau belum?”. Karena sesungguhnya, budaya membaca pada anak bermula dari kecintaan mereka terhadap buku, bukan kemampuan mereka untuk  membaca kata per kata. Tak kenal (buku), maka tak sayang (buku)... Cintai buku sebelum membacanya, sehingga rasa cinta tersebut akan menghasilkan seseorang yang gemar membaca, atau dengan kata lain, pembelajar seumur hidup!


Thursday, October 20, 2016

Bilingual Reader 2.0

Little Bug dan adik2nya adalah anak2 yg terlahir dengan internet (literally) di tangan mereka 😅 Meskipun demikian, saya yg old-school ini tetap mengajarkan mereka cara mencari informasi dengan menggunakan aneka macam buku referensi, dari almanak, ensiklopedia, bahkan kamus. Saya tahu, jauh lebih praktis untuk mencari informasi via internet... but just in case, hendaknya mereka dapat 'basic'-nya dulu sebelum ujung2nya kembali ke si mbah gugel hehehe 😂

Anyways, sejak awal kelas 2 SD ini, Little Bug mulai membaca chapter books untuk anak2. Berdasarkan sebuah artikel (link menyusul), saya mendapat informasi kalau setelah anak2 lancar membaca kalimat2 dan cerita sederhana, sebaiknya mereka lalu diajak membaca buku yang levelnya lebih sulit. Tujuannya agar mereka memperoleh kosa kata yang lebih sulit dan jarang digunakan dalam bahasa lisan. Selain itu, membaca cerita dengan plot lebih dalam akan memberikan kesempatan untuk belajar berempati dengan kehidupan/permasalahan si tokoh. Yup, lagi2 kembali ke keterampilan berempati, yang bisa dilatih salah satunya dengan membaca aneka cerita.

Kami mulai dengan pilihan antara 3 buku karangan EB White, yang mana Little Bug memilih yg berjudul The Trumpet Of The Swan. Setiap 2 hari sekali (2-3x seminggu) kami membaca bersama 1 bab--- terkadang bergantian tetapi seringnya dia membaca dengan keras dan saya duduk di sampingnya sambil mengawasi bacaannya. Ketika ada kosa kata yang tidak dimengerti, Little Bug menggunakan Google Translate dan mengetik sendiri kata yg ingin diterjemahkannya. Kami lalu melihat aneka definisi sekaligus belajar berbagai komponen (kata benda, kata kerja, dkk) dan aneka kosa kata dalam Bhs. Indonesia. Selain itu, dia sekalian berlatih spelling dengan sendirinya (karena kalau salah ketik, maka terjemahannya pun akan salah, kan?). Sekali mendayung, 1-2 pelajaran terlampaui hihihi 😉 Terakhir, di setiap akhir bab, kami berdiskusi mengenai isi bab tersebut. Selain melatih secara riil keterampilan menceritakan kembali isi sebuah tulisan, saya juga mengajaknya untuk berempati terhadap tokoh2 di dalam cerita tsb serta mengecek pemahamannya terhadap isi bab tadi. Awal2nya agak sulit, namun lama2 semakin terbiasa dan jadinya dia semakin berpikir ketika membaca, nggak hanya membaca kata2 tanpa berusaha memahami isi tulisan tsb. Paling sebel kan kalau anak2 habis membaca suatu buku lalu ketika ditanyakan apa isi bacaan tsb, mereka menjawab "nggak tahu" ... grrr... itu sih saya yah hahaha 😁

Anyways, ini adalah salah satu kegiatan kami bersama.. anak2 belajar, mamanya juga ikut belajar kosa kata... contoh nyata bahwa mama nggak perlu tahu semuanya, karena bisa dicari tahu bersama-sama. We are life-long learners, right? 😊

Wednesday, November 06, 2013

Belajar tentang bagian buku



Nov. 6, 2012

Pagi ini sewaktu mom-n-me-time dengan Little Bug, dia mengeluarkan playmat dinosaurus yang ada beberapa miniaturnya. Playmat ini kado ulang tahun dari seorang teman 2 tahun yang lalu, tapi berhubung Little Bug baru-baru ini saja tertarik dengan dinosaurus, jadi seolah2 baru kali ini dimainkan dengan makna yg lebih besar daripada dulu ketika dapat kado itu.

Di playmat itu terdapat beberapa nama dinosaurus (sesuai miniaturnya), dan Little Bug tiba-tiba berinisiatif mengambil salah satu buku dinosaurusnya dan mencari tahu informasi tentang apa makanan si dinosaurus tsb. Nah karena dia akhir-akhir ini selalu membaca buku itu, maka dia setengah hafal letak bagian beberapa jenis dinosaurus tertentu di dalam buku tersebut. Tapi nggak sengaja tercipta sebuah kesempatan untuk saya tadi pagi mengajak dia untuk mencari letak halamannya dengan melihat pada daftar isi yg kebetulan ada di bagian depan buku itu. Awalnya dia nggak mau, tapi saya ajak dia untuk melihat huruf depan dari nama jenis dinosaurus yang dia cari dan untuk melihat apakah ada di daftar isi atau tidak. Setelah ketemu (kalau kebetulan ada—nggak semuanya ada), saya tunjukkan nomor halaman dan Little Bug lalu mencarinya sendiri sampai ketemu.


 Selain itu, kami juga membaca buku cerita lainnya ttg dinosaurus. Kalau selama ini Little Bug selalu meminta saya membaca seluruh bagian buku dari depan sampai belakang secara berurutan (termasuk paragraf ringkasan isi buku di bagian sampul belakang buku), maka kali ini saya membacakan bagian paragraf ringkasan isi buku yg di sampul belakang itu segera setelah saya bacakan judul bukunya (di sampul depan). Awalnya dia protes, kenapa yang paling belakang dibaca duluan. Lalu saya jelaskan kalau itu adalah ringkasan isi buku, yg bisa membantu kita untuk memutuskan apakah mau/tidak membaca/meminjam/membeli buku itu tanpa melihat langsung seluruh isi bukunya. Saya contohkan saja kalau di toko buku bagaimana, dengan kondisi buku disegel plastik. Atau kalau saya mau beli buku online.

Memang, ini adalah pembelajaran sederhana. Namun menurut saya penting untuk tidak dilupakan di era yang serba gadget & mesin pencari ini. Kita memang dimanjakan dengan teknologi search engine yang akan mencarikan apa saja yg kita inginkan hanya dengan sebuah click, apalagi bisa sedetil yang kita inginkan. Semuanya dijabarkan dalam 1 layar, tanpa batas. Click artikel yang satu, kalau tidak ada informasinya, tinggal click artikel lainnya pada daftar, terus saja begitu dengan hanya modifikasi kata kunci saja. Sedangkan pada buku, tidak ada satu buku yang memuat segalanya, dan butuh usaha lebih untuk mencari informasi yang kita inginkan. Itu yang Little Bug sadari ketika buku dinosaurusnya yg satu (dengan gambar kartun dan cerita yang sederhana) ada informasi ttg spesies dinosaurus tertentu, sedangkan di buku yang satunya lagi tidak (padahal terkesan lebih lengkap, nah ternyata tidak jaminan, toh?). Ini masih belum masuk pembahasan tentang cara mencari topik via index belakang buku dan cara membaca kamus yah, hahaha... ntar insyaaAllah seiring dengan perkembangan bahan bacaan dan usia Little Bug :)

Proses mencari halamanyang satu-demi-satu membolak-balik kertas halaman buku juga terlihat sebagai suatu hal yang old-school­-ish jika dibandingkan gerakan swipe yg luwes pada permukaan tablet. Di sini Little Bug juga mengasah keterampilannya meng-handle halaman buku dengan jenis bahan yang berbeda-beda. Dari dulu berupa boardbook kokoh waktu bayi (digigit, diemut, dibanting, diraba-raba), kertas mengkilap yg agak tebal, kertas majalah, sampai kertas yang tipis di buku “kuno” milik saya dulu waktu kecil. Dan dia benar-benar harus memperhatikan angka halamannya, karena nggak ada tuh loncatan langsung ke halaman tertentu dengan hanya mengetikkan nomor halaman itu. It takes time, perseverance, and number skills.

Well, this is just how my family does things. We are a book-lover family and we try to grow a love of reading in our 2 kids. We are not anti-technology or anything, but we simply choose to give our kids gadgets later on in their life, minimalizing their use in their early years. Yes, they’ve seen and used tablets before (not ours, but relatives’ and friends’—only took them a few minutes to figure out and catch on how to use them). And si Hubs & I do use a computer/laptop in our daily life, we read a lot of articles/journals/e-books as much as our eyes permits (they tire more than real books). We also use the search engines with Little Bug on various topics, just to complete the books that we have/don't have.We have a TV set too, but used only if they feel  like watching cartoons/certain TV shows/DVDs.  But other than that, it’s just basic minimal-electronic, hands-on learning materials for the kids. Oh, Little Bug hasn’t uttered the words “I’m Bored” or “I don’t know what I can do” until now... so there’s my gadget-free gurantee that gadget-based entertainment is not essential to kids’ “fun” or well-being.... :)

Friday, July 05, 2013

Little Bug's Reading Journey

(ditulis untuk 4 Juli 2013)


Alhamdulillah, at almost 4.5 years old, Little Bug has started to read out loud on his own, or preferrably reading to me or Hubs. Did we teach him to read? Not really.  All I did was introduce him to letters of the alphabet (through everyday play) and the phonetic sounds they make. Oh, and we bought him (actually, ourselves) LOTS of books, most of them bought on sale (you know, the kind after the BIG sale where they reduce the prices MORE so they can sell off the rest of the unsold books) or bought secondhand through flea markets and online shops. Kalau nemu buku murah dan bagus serasa nemu harta karun!
Intinya ,kami memang membiasakan anak-anak untuk melihat kami suka membaca, suka mengunjungi bursa buku murahatau toko buku, kalau pergi ke mana-mana hampir selalu membawa bekal buku untuk dibaca dalam perjalanan/di tempat tujuan, sehingga alhamdulillah minat dan kecintaan terhadap buku tumbuh subur dengan sendirinya--- nggak perlu les baca atau maksa-maksa anak buat baca.

Little Bug’s “reading journey” has started ever since he was a baby. And no, I wasn’t the pregnant mom who read everyday to her baby inside the womb. (I did sing a lot of songs in class and read books out loud to the kids, but I wasn’t that disciplined enough to read out loud to Little Bug while he was still in the womb ). Anyways, I started regularly reading to him from when he was about 6 months old. We started with 2 very 1st boardbooks: the classic “Goodnight, Moon” and another board book titled “Cookie’s Week”. Sampai hafallll isi bukunya hehehe! Awalnya hanya saya saja yang rajin membacakan buku untuk Little Bug. Tapi lama-lama saya minta si Hubs untuk ikutan. Awalnya dia nggak pe-de dan belepotan. Tapiii, lama-lama makin terbiasa dan dia suka sekali memplesetkan isi buku ceritanya jadi macem-macem--- it was hillarious! Jadinya saya juga ketagihan dehhh untuk ikutan dengerin si Hubs membacakan cerita buat Little Bug (sambil saya cekikikan sendiri).




So the routine was Me or Hubs reading, and Little Bug started by listening & staring at the pictures on the boardbooks... lalu ada masa mengemut dan menggigit-gigit buku... terus belajar membolak-balik halaman buku sendiri... ada juga masa dia nggak sengaja merobek bagian halaman buku karena terlalu bersemangat “membaca”, tapi lama-lama dia belajar untuk menjaga supaya buku tetap rapi dan terawat.. teruuuuuus aja berkembang sampai sekarang alhamdulillah sudah bisa baca pelan-pelan setiap kalimat di buku yang berbahasa Indonesia. Alhamdulillah, samoi hari ini, Little Bug sudah membaca dengan tuntas 2 buah buku berjudul “The Tickly Octopus” dan “Emilie Belum Mau Tidur”, yg memang masing-masing kalimatnya pendek-pendek. Kalau yg paragrafnya agak panjang atau tulisannya banyak, dia baca semaunya dia dan sisanya tinggal nyodorin ke emak-bapaknya buat dibacakan ke dia hehehe ;p



Kami nggak pernah memaksa dia untuk membaca, nggak pernah mengajarkan secara formal/drilling cara membaca, namun juga nggak melarang ketika dia menanyakan tentang bunyi huruf atau cara membaca sebuah kata. Dan memang, kami sampai sekarang masih lebih sering membaca (menterjemahkan ke) dalam bahasa Indonesia ketimbang in English, hanya karena kami ingin Little Bug memiliki fondasi bahasa ibu yg kuat sebagai modal belajar bahasa asing nanti. Yah, buku-buku in English memang sudah mulai dia coba eja dan baca, we’ll see how it goes karena membaca kata-kata in English ada aturan-aturan tersendiri juga toh (yg emak-bapaknya belum siap nihhh klo disuruh ngajarin baca dengan bener, huhuhu)... but we’re just going to let it flow dulu  and see how it goes.

Namanya juga homeschool, mau nggak mau kita juga ikutan belajar bareng dengan anak-anak. Nggak harus tahu semuanya, tapi harus mau untuk sama-sama belajar dan mencari tahu apa yang belum diketahui. It’s a real-life example of life-long learning, bahwa mentang2 udah jadi emak-bapak bukan berarti kita berhenti belajar--- justru harus ikutan belajar biar nggak ketinggalan sama anaknya. Sambil menyelam, minum air... sambil kita menunjukkan ke anak kalau kita masih semangat belajar macam-macam, secara nggak langsung kita memberikan contoh nyata bahwa belajar itu terjadi sepanjang hayat ;)