Showing posts with label baby bird. Show all posts
Showing posts with label baby bird. Show all posts

Sunday, November 20, 2016

Tell me about your drawing...

A picture is worth a thousand words, so the famous quote says. But when concerning little kids' drawings, a picture can either be worth a lot more than 1000 words or a lot less, depending on how you respond to it when they show you what they just "drew".

Ketika anak menunjukkan gambarnya, baiknya kita menanggapi dengan "wah, ceritain dong tentang gambarnya!" --- bukan langsung nebak itu gambar apa. Dari kemungkinan 1000 kata bisa jadi cuma 1 kata tuh klo langsung ditebak.. atau kalau lagi usia toddler, bisa jadi langsung diambekin kalau2 kita salah tebak, hehe 😅

Mungkin saja ceritanya nggak masuk akal, loncat2 jalan berpikirnya,  n bahkan nggak mirip sama sekali dengan yg diceritakan. Diikuti aja yaa.. supaya dia merasa idenya dihargai, imajinasi dan kemampuan berceritanya pun akan semakin berkembang. Tanpa batasan penilaian berlabel baik/buruk ~~bagus/jelek, anak2 akan lebih berani untuk terus berkarya tanpa takut salah/jelek. Pun awalnya begitu, kita bisa terus menyemangati mereka untuk terus berkarya dengan fokus pada proses gambarnya, kegigihan mereka dalam upaya menggambar sesuatu, dan betapa kreatifnya mereka dalam berkarya.

Lil Bird loves to draw and has finished 1 whole sketch book (2 sides on each page) even though she only started in late Sept 😊 It's amazing what kids can put on to a blank piece of paper if you just free them to scribble/doodle/draw anything... 🎨🖼

There is no right or wrong in art, but there will always be a story behind it 😉

Wednesday, October 19, 2016

Having fun with process art

By Arum Budiani
Oct. 19, 2016

Weekend kemarin, anak-anak melakukan process art berupa storytelling painting. Process art, sesuai namanya, adalah kegiatan seni yang lebih terfokus pada proses pembuatannya--bukan hasil akhirnya. Jadi, tidak ada tujuan produk jadi tertentu seperti halnya karya seni biasa. Anak-anak bisa membuat karya seni dengan santai dan sesuka hati mereka dan pengalaman ketika berkreasi itulah yang menjadi esensi kegiatan ini.

Storytelling painting kali ini menggunakan aneka karakter mainan yang memiliki "jejak".. jadi anak-anak bebas menggunakan cat tempera untuk membuat jejak kaki/roda di atas kertas yang besaaar! Yup, saya sengaja mengeluarkan kertas ekstra besar untuk kegiatan ini... karena permukaan yg lebih luas juga memberikan kesan bahwa mereka punya kebebasan lebih untuk berkreasi sesuka hati, hehehe! Cat temperanya juga yang 100% washable plus dialas taplak plastik yang besar pula, jadi easy cleanup afterwards. Segitu, Si Hubs masih kaget melihat "berantakannya" hahaha... maklum, biasanya kami melakukan process art di kala weekdays.. jadi dia kan di kantor, sampai rumah dah terima produk akhirnya hahaha!

Diawali dari jejak harimau.. lalu ada penjelajah yang mengikutinya.. ditambah dinosaurus, pinguin,  mobil-mobil, bahkan sebuah bola bekel juga ikut meninggalkan jejaknya! There's no limit on their imagination, just make sure you have enough paper and paints, hehehe!

Thursday, August 14, 2014

Baby bird in the kitchen

Ada yang pagi-pagi mulai bantu mama di dapur.. bikin pancake hehehe :-)  This is part of learning from everyday life experiences... belajar kapan saja dan di mana saja :-)

Resep andalan kami adalah resep "hotcake" ala Jepang:

150 gr tepung
2 sdt baking powder
2 sdm gula halus
1 telur
120 ml susu
1 sdm minyak

Semua aduk jadi 1, trus tinggal dimasak di atas api kecil. Great to do with the kids :-)

Wednesday, November 13, 2013

Starting the day with Mom-n-Me time



Homeschool dengan 1 anak balita dan 1 anak batita itu buat saya seperti berdansa. Tapiiii.. langkah-langkahnya gak ada yang pasti, hanya bisa baca berbagai artikel dan buku ttg cara2 orang lain melakukan langkah2 dansa mereka dan berharap ada yang bisa kita tiru. Little Bug itu sebenarnya sangat dekat dengan saya.. tapi akhir-akhir ini si Baby Bird sudah mulai protektif sama saya, jadi kakaknya nggak boleh dekat-dekat, apalagi main berdua saja. Kasian juga sih si kakak, tapi sepertinya ini proses yang normal untuk usia Baby Bug yang sedang dalam proses menuju mandiri dan berusaha mengenali ke-aku-an dirinya.  

Kalau baca artikel, ada anjuran untuk menyediakan quality time 1-on-1 dengan masing2 anak. Teorinya sih begitu, tapi kalau adiknya belum bisa disuruh main sendiri kan susah.. apalagi jam tidur sama, kamar tidur (masih) sama, dan kadang si Hubs dinas ke luar kota jadi nggak ada tandemnya. Tadinya saya bicarakan baik2 dgn Little Bug, meminta pengertiannya untuk ngalah dulu dengan adiknya. Tapi, namanya juga masih kecil, lama2 sedih juga dia.. dan buntutnya ke mana2. Dia jadi lebih susah diajak kerjasama, lebih cenderung menggoda adiknya, nggak mau main bareng adiknya, moodnya jelek seharian, dan wajah sedih dengan mata sayu itu yang bikin nggak kuat.... huaaaa... sampe nangis deh mikir gimanaaa caranya supaya bisa bagi waktu antara mereka berdua, kerjaan rumah, waktu pribadi saya, dan waktu istirahat, tanpa kehilangan kesabaran saya. 

Nggak sengaja pada suatu pagi, Little Bug bangun duluan dan berhasil untuk tidak membangunkan adiknya ketika keluar kamar. Dia langsung bersemangat untuk mengajak saya main. Nah, saya biasanya pagi2 kesana kemari melakukan pekerjaan rumah yg belum dilakukan atau baca-baca artikel yg perlu (tadinya, pagi2 adalah me-time buat saya mumpung anak2 masih tidur), sempat akan menolak dan tergoda untuk bilang “..... menit lagi ya, Mama selesaiin ini dulu..” atau “nanti dulu ya, Mama beresin .... dulu”.  Tapi karena saya tahu kalau kesempatan main berdua itu suka susah dan unpredictable, akhirnya saya tunda semuanya dan meng-iya-kan ajakannya untuk main.

Saya bilang ke Little Bug, “mainnya sampai jam segini ya/atau sampai adik bangun ya (mana yg duluan), lalu mama butuh waktu untuk selesaikan kerjaan rumah” dan dia setuju. Dengan girang dia membawa saya masuk ke dunia Lego-nya, asyik bercerita sana-sini.  Atau waktu itu pernah juga kami membaca buku bersama, berdua saja tanpa “gangguan” dari Baby Bird yang selalu bersemangat untuk “ikut” membaca cerita. 



Memang waktunya nggak lama dan nggak bisa dipastikan setiap harinya, kadang 30 menit, kadang bisa sampai 1 jam, kadang nggak bisa sama sekali. Tapi dengan dia tahu kalau saya berusaha untuk menyediakan waktu berdua setiap pagi (walaupun kadang berhasil dan nggak) sepertinya mem-boost rasa secure-nya terhadap kasih sayang saya. Karena ya mungkin buat anak kecil kadang yang terlihat adalah Mama yang mem-favorit-kan si adik, padahal nggak begitu. Untuk sebuah isu yang menurut saya cukup sensitif dan rumit, ternyata solusinya cukup simple untuk Little Bug yang berhati sensitif ini, yakni memkhususkan waktu untuk bener-bener berdua saja, seolah-olah seperti men-charge “batere” Little Bug dengan energi positif untuk sepanjang hari itu.

Setelahnyaaaa... Little Bug sangat kooperatif membantu saya dengan pekerjaan rumah dan juga mengajak adiknya main bersama ketika saya butuh untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dengan 2 tangan (as opposed to sambil menggendong Baby Bird dengan tangan satunya lagi hehehe). Alhamdulillah juga nggak perlu memakai babysiter elektronik, walaupun kadang untuk pekerjaan yang benar-benar butuh waktu lama saya masih izinkan mereka nonton DVD sampai saya selesai aja. 

Jadi, mungkin ini adalah cara kami untuk memulai hari.. diawali dengan waktu khusus berdua, sisanya yaa dijalani kemudian. Cucian bisa ditunda... artikel bisa di-bookmark untuk dibaca saat senggang...  rumah boleh jadi berantakan. Tapi yg paling penting Little Bug mendapatkan quality time yang stabil di awal hari.. energi positif untuk hari itu.. dan moga2 bisa semakin lancar hari2 homeschool kami. Sedikit demi sedikit menemukan ritme yang paling pas untuk keluarga kami :)

Friday, July 05, 2013

Little Bug's Reading Journey

(ditulis untuk 4 Juli 2013)


Alhamdulillah, at almost 4.5 years old, Little Bug has started to read out loud on his own, or preferrably reading to me or Hubs. Did we teach him to read? Not really.  All I did was introduce him to letters of the alphabet (through everyday play) and the phonetic sounds they make. Oh, and we bought him (actually, ourselves) LOTS of books, most of them bought on sale (you know, the kind after the BIG sale where they reduce the prices MORE so they can sell off the rest of the unsold books) or bought secondhand through flea markets and online shops. Kalau nemu buku murah dan bagus serasa nemu harta karun!
Intinya ,kami memang membiasakan anak-anak untuk melihat kami suka membaca, suka mengunjungi bursa buku murahatau toko buku, kalau pergi ke mana-mana hampir selalu membawa bekal buku untuk dibaca dalam perjalanan/di tempat tujuan, sehingga alhamdulillah minat dan kecintaan terhadap buku tumbuh subur dengan sendirinya--- nggak perlu les baca atau maksa-maksa anak buat baca.

Little Bug’s “reading journey” has started ever since he was a baby. And no, I wasn’t the pregnant mom who read everyday to her baby inside the womb. (I did sing a lot of songs in class and read books out loud to the kids, but I wasn’t that disciplined enough to read out loud to Little Bug while he was still in the womb ). Anyways, I started regularly reading to him from when he was about 6 months old. We started with 2 very 1st boardbooks: the classic “Goodnight, Moon” and another board book titled “Cookie’s Week”. Sampai hafallll isi bukunya hehehe! Awalnya hanya saya saja yang rajin membacakan buku untuk Little Bug. Tapi lama-lama saya minta si Hubs untuk ikutan. Awalnya dia nggak pe-de dan belepotan. Tapiii, lama-lama makin terbiasa dan dia suka sekali memplesetkan isi buku ceritanya jadi macem-macem--- it was hillarious! Jadinya saya juga ketagihan dehhh untuk ikutan dengerin si Hubs membacakan cerita buat Little Bug (sambil saya cekikikan sendiri).




So the routine was Me or Hubs reading, and Little Bug started by listening & staring at the pictures on the boardbooks... lalu ada masa mengemut dan menggigit-gigit buku... terus belajar membolak-balik halaman buku sendiri... ada juga masa dia nggak sengaja merobek bagian halaman buku karena terlalu bersemangat “membaca”, tapi lama-lama dia belajar untuk menjaga supaya buku tetap rapi dan terawat.. teruuuuuus aja berkembang sampai sekarang alhamdulillah sudah bisa baca pelan-pelan setiap kalimat di buku yang berbahasa Indonesia. Alhamdulillah, samoi hari ini, Little Bug sudah membaca dengan tuntas 2 buah buku berjudul “The Tickly Octopus” dan “Emilie Belum Mau Tidur”, yg memang masing-masing kalimatnya pendek-pendek. Kalau yg paragrafnya agak panjang atau tulisannya banyak, dia baca semaunya dia dan sisanya tinggal nyodorin ke emak-bapaknya buat dibacakan ke dia hehehe ;p



Kami nggak pernah memaksa dia untuk membaca, nggak pernah mengajarkan secara formal/drilling cara membaca, namun juga nggak melarang ketika dia menanyakan tentang bunyi huruf atau cara membaca sebuah kata. Dan memang, kami sampai sekarang masih lebih sering membaca (menterjemahkan ke) dalam bahasa Indonesia ketimbang in English, hanya karena kami ingin Little Bug memiliki fondasi bahasa ibu yg kuat sebagai modal belajar bahasa asing nanti. Yah, buku-buku in English memang sudah mulai dia coba eja dan baca, we’ll see how it goes karena membaca kata-kata in English ada aturan-aturan tersendiri juga toh (yg emak-bapaknya belum siap nihhh klo disuruh ngajarin baca dengan bener, huhuhu)... but we’re just going to let it flow dulu  and see how it goes.

Namanya juga homeschool, mau nggak mau kita juga ikutan belajar bareng dengan anak-anak. Nggak harus tahu semuanya, tapi harus mau untuk sama-sama belajar dan mencari tahu apa yang belum diketahui. It’s a real-life example of life-long learning, bahwa mentang2 udah jadi emak-bapak bukan berarti kita berhenti belajar--- justru harus ikutan belajar biar nggak ketinggalan sama anaknya. Sambil menyelam, minum air... sambil kita menunjukkan ke anak kalau kita masih semangat belajar macam-macam, secara nggak langsung kita memberikan contoh nyata bahwa belajar itu terjadi sepanjang hayat ;)


Monday, June 24, 2013

The Sweetest Thing

Beberapa hari lalu, Little Bug dan Baby Bird berantem. Yahh, as usual, Baby Bug selalu mau tahu apa sih yang lagi dipegang oleh kakaknya, mau ikutan main juga. Dan Little Bug pada saat itu sedang nggak mood untuk berbagi/bermain bersama adiknya. Saya lupa tepatnya mainan/buku apa yang jadi sumber konflik, tau2 Little Bug teriak “Adeeeeeeeeeeeeeeeek!!! Kenapa mainan Mas dirusakin?????” (padahal nggak ada yg dirusak yah, hanya mungkin “dipegang” atau diutak-atik sedikit karena rasa ingin tahu si adik yang lagi sedeng2nya).
Nah, di rumah, saya memang berusaha menerapkan prinsip komunikasi & penerimaan emosi yang sering dituliskan oleh blog The Twin Coach dan Janet Lansbury - Elevating Childcare. I’m not perfectly consistent with it, nor am I really good at parenting, but having a 4 yr old and a 1 yr old in the house, I try my best to keep the peace in our house while accomodating both kids’ feelings. Segera setelah Little Bug teriak tanda marah, saya mengingatkan si Hubs (yg sudah mau memarahi Little Bug karena over-reacting thd tingkah laku adiknya) bahwa it’s totally okay for Little Bug to be angry with his baby sister and we should just let him vent out his anger in an acceptable way (no physical attack on his sister). Namanya juga anak-anak, mereka kan punya perasaan juga dan berhak dihargai, meskipun menurut kita itu over-reacting yah... gigit lidah aja dah! Kata kuncinya: tunggu. Wait and see what happens.
So, Little Bug saat itu langsung teriak “aku nggak mau sama adik!” lalu keluar dari kamar tidur (TKP nih) dan langsung teriak kenceng2 sambil lari ke teras belakang. Di sana dia ngeluarin uneg-unegnya (dalam nada keras) sambil jalan bolak-balik di sekeliling sand box. Kayaknya sih sempet main pasir dulu sebentar, saya nggak nemenin, saya waktu itu sedang menghibur si baby bird yang nangis juga karena ditinggal kakaknya, hehehe...
Sekitar 5 menit kemudian, suasana tenang kembali, saya lalu meninggalkan baby bird yang lagi asyik main sama si Hubs di kamar dan keluar untuk ngecek keadaan Little Bug. Ternyata, dia sudah mengambil kertas & pensil dan senang menulis sesuatu di ruang kerja saya. Ketika saya tanya, “Little Bug lagi apa?”, dia jawab “ini lagi nulis surat buat adik, Mama bisa tolong bantuin nggak nulisnya?”
Deg. Saya langsung terenyuh. Anak 4 thn 4 bulan ini memilih untuk menuangkan rasa marahnya dalam sebuah surat untuk adiknya. Isinya seperti ini: “Ade lain kali jangan rusak barang Mas.” Dia meminta tolong kepada saya untuk membantunya mengeja kata  “jangan” dan “barang”. Dia juga bingung karena dia kira kertasnya nggak cukup tempatnya buat dia tulis kata2 “jangan” (yg saat itu aku mengusulkan ‘gimana kalau kertasnya dibalik, kan masih ada tempat?’ dan little bug langsung meng-iya-kan sambil sibuk nulis lagi). Ketikadia sudah selesai menulis, saya pelan-pelan tanya:
Saya:  “Little Bug masih marah sama adik?”
LB: “masih.”
S: “Little Bug masih sayang sama adik nggak?”
LB: “masih”.
S: “mau nggak nulis ‘I love you’ buat adik di surat ini?”
LB: “mau, tapi mama ya yg nulis, aku nggak bisa nulisnya”
Dan saya pun menuliskan kata2 “I love you, adik” pada bagian akhir surat itu dan memberikan sedikit heart-2-heart, bahwa meskipun kita marah sm seseorang, nggak berarti kalau kita lantas berhenti sayang dgn orang tsb, sama halnya kalau saya marah dgn Little Bug, bukan berarti bahwa saya berhenti sayang dengan dia. Dan sepertinya Little Bug sudah bisa mengerti hal tersebut, karena dia masih bersedia menuliskan “I love you Adik” di akhir surat “marah”nya, hehehe 
Setelah itu, Little Bug meminta saya mengeposkan surat itu untuk Baby Bird dan dia juga ngintil untuk membacakan surat itu kepada Baby Bird dan si Hubs yg lagi nemenin Baby Bird main di kamar. And not long after that, he was back laughing and playing with his little sister again, as if nothing happened.
Bagi saya, ini momen yang sangat berharga sekali! Little Bug sudah mulai bisa mengenali emosi yang dia rasakan dan menyalurkannya dengan cara yang lebih baik. I couldn’t be more proud and happy to see him express his anger through words.. and I let him know that, too! Walaupun setelah itu (dan sampai sekarang) masih ada episode konflik antar kakak-adik, tapi yg penting Little Bug sudah mulai bisa menyalurkan emosi marahnya dengan cara yang dia bisa dan dengan cara yg menurut saya efektif untuk memberikan label yang jelas tentang apa yang baru saja ia rasakan. I just have to remember (and keep practising) to wait and see what happens when they fight and be as calm as possible in facilitating them to solve their own problems by themselves.

Somewhere in that simple piece of paper, written from bottom to top, from right to left, is my son’s feelings.. his overwhelming anger that he chose to pour on a piece of paper.. while in the end realizing that he still loves his baby sister no matter how angry he is at her (at that time).