Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Tuesday, July 17, 2018

A letter to myself at the beginning of the homeschool year

I hope I never forget, the simple wonders that can catch the attention of a child.
I hope that I don't lose sight of what's important, because what's important to the small child is truly important according to their time, not necessarily according to our own adult time. That feelings matter, no matter what the cause. That the abstract scribbles have an important story. That crazy thoughts are a sign of rich imagination at work.
.
.
.

I hope that I don't get too caught up in "curriculum", "academics", or how other kids are doing. I hope I remember that life is a neverending learning process. That "school" is not the only education there is. That the "classroom" is not the only socialization that exists. That methods of learning are merely tools to choose from, try out, and customize to the best fit.
.
.
.
I hope I remember that I'm facilitating a human being--- not a robot, not an object, not a compilation of grades, not just some trophy waiting to be shown off. Planting the seeds of character... and enjoying the lifelong process of them getting to know about themselves and the world around them. .
.
.
Most of all, I hope I remember that this raising and educating kids thing takes time-- life-long, in fact. So I hope I don't forget to enjoy the ride with them, be thankful for every moment I'm blessed to be with them. The days are long but the years are short. May Allah grant us a grateful heart and guidance in putting the best effort we can to raise our kids ❤

Arum_ourlearningfamily | ourlearningfamily.blogspot.co.id | July 17, 2018
.
.
.
#ourlearningfamilyvalues
#homeschoolingmultiplechildren

Tuesday, July 10, 2018

Parent check: Whose life are you helping to manage, yours or your kids?


By Arum Budiani | ig: arum_ourlearningfamily |  ourlearningfamily.blogspot.co.id 


Pilihan baju kakak-kakak ketika kami  menginap. Saya hanya memberikan mereka jumlah setiap jenis baju yg butuh disiapkan beserta keperluannya buat apa. Sisanya ya mereka yg pilih with no intervention from us parents (pun ada, berupa saran, dan berhak ditolak oleh mereka)

Ada seorang teman yg baru2 ini posting soal anaknya yg mulai negosiasi macam2. Lalu saya ikut berkomentar kalau nggak usah nunggu remaja, punya anak tween (pre-teen) aja udah macam2 negosiasinya, apalagi yang punya siblings, the whole negotiation thing goes up into peace-treaty-level negotiations all.the.time. *endless drama here folks, move along* πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Meski pas ngadepin itu berasa gregetan, gemesan n kremesan pake sambel level jontor to the max, tapi kalau dipikir-pikir setelahnya, it's so very heartwarming to see the kids growing and learning to manage their lives according to how they see fit. Kadang kita lupa, it's *their* lives (in the long run) that we are helping them manage, not ours. We are but only facilitators in helping them figure our their world, teaching them the rules/boundaries/limitations, but the rest is basically up to them, helping them figure out what works best for *them*, which might not necessarily works best for us, haha  Enter negotiations, discussions, win-win solutions..  (and a whole lot of chocolate for me) πŸ˜† ... just hang in there and make sure to do things keep your sanityπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


On that note, might I say that learning to live together as a family *takes a lot of hard work*, a whole lot of negotiation, and a lifetime of doing it. With the end goal in mind, you want family to be a sanctuary and roots to come home to, right? Semangat yaa! You're not alone... all of us parents are in the same boat, and we're all learning together!  May Allah ease the way for you to achieve peace within your families and yourselves ❤.


#ourlearningfamilyvalues

Friday, October 13, 2017

Turun Gunung

October 13, 2017

Hello... apa kabar? Kangen nulis... :)
Terakhir sempat menulis blog itu... ketika sedang awal-awal berjuang menghadapi alergi Baby Squirrel. Sejak usia 4-5 bulan, alergi makanannya timbul berupa dermatitis atopi. It’s the rash on the cheek that everyone says “Ahhh, pasti kena ASI ya?”--- and then I have to explain to them what it’s all about. Awalnya masih santai, lama-lama pegel juga menjelaskan ke setiap orang yang ditemui di jalan, bahkan yg nggak saya kenal. Belum lagi yang memberikan unsolicited advice mengenai penanganan alergi pada Baby Squirrel. Dan makin lengkap kalau dapat judgement atau komentar yang melebar mengenai hal-hal yang nggak ada kaitannya sama sekali dengan topik alergi. Jadilah saya memutuskan untuk sementara hanya fokus pada urusan keluarga kecil saya saja. Sementara “menghilang” dari keramaian social media. They needed me. And I was determined to give them my 200%.

Dealing with food allergies benar-benar menjungkirbalikkan kehidupan seluruh keluarga kami, but only for the better. Only for the better? Yes, I can say that now. Setelah bertapa di atas gunung menghadapi perubahan dalam keluarga kami, mamak yang satu ini sudah bisa turun gunung dengan wangsit lengkap buat menata kembali kehidupan keluarga dan berbagi cerita.  No, Baby Squirrel still has his allergies, but alhamdulillah not as bad as before. You could say that the whole allergy episode brought our whole family to a new chapter of life, hard yet better for all of us, insyaaAllah.

“The only thing constant in life is change.” –Heraclitus

Saya menganggap bahwa Allah menyentil saya untuk berubah menjadi lebih baik melalui alergi makanannya Baby Squirrel. Tekanan yang begitu besar untuk mengubah pola makan malah menjadikan seluruh keluarga lebih “sadar diri” dalam hal makanan. Bahan makanan yang menimbulkan alergi bukannya dipaksakan untuk diberikan, melainkan dicari penggantinya. Do you know how hard it is to change your own eating mindset? Bahwa orang Indonesia nggak akan kenyang sebelum makan nasi? Nah kalau anaknya alergi sama beras putih, gimana? Jeng jeng jeng  jenggggg.... *cue horror music*

Menghadapi alergi makanan ini, saya sepertinya melalui “the 5 stages of grief” dari Kubler-Ross:
1. Denial (Ah, masa ini bikin dia alergi sih? Makan aja terus supaya nanti lama-lama kebal. Nanti juga alerginya hilang kalau sudah makin besar.)
2. Anger (Kenapa obat ini nggak ada efeknya? Kenapa anak ini harus alergi sama makanan favorit saya? kenapa ini terjadi sama anak saya? kenapa semua orang bisa makan seenaknya dan nggak ada yang mengingat bahwa saya sedang bersusah payah menghindari makanan itu? Kenapa saya tadi makan makanan itu, setelahnya si kecil jadi merah-merah lagi deh pipinya.. )
3. Bargaining (dulu waktu hamil saya makan apa yang menyebabkan alergi ini ya? Kalau saja saya bisa mengulang kembali waktu? Berusaha mencari cara buat mengurangi atau mengobati alergi dengan hasil yang sesegera mungkin.)
4. Depression (nggak kepingin makan karena takut menimbulkan alergi. Merasa bersalah karena makan seenaknya. Merasa bersalah karena memberikan macam-macam obat anti-alergi untuk anak padahal masih bayi.)
5. Acceptance (menerima bahwa komposisi makanan keluarga harus berubah dan mencari alternatif pengganti bahan makanan tertentu; menerima bahwa alergi tidak akan hilang begitu saja dan mencari celah supaya bisa sesekali mencicipi makanan yang membuat alergi; bersyukur bahwa reaksi alergi hanya berupa ruam di pipi---bukan anaphylactic shock yang mengancam jiwa. Terus mengingat bahwa yang penting anak sehat dan ceria dan kita berusaha sebaik mungkin buat menjaganya agar tumbuh sehat. Mengambil hikmah dari semua ini).

“We think about our problems all the time, but we don’t think about all the problems Allah saved us from.” – Nouman Ali Khan

Quote di atas benar-benar membuat saya tersadar akan betapa beruntungnya kami sekeluarga. Yes, food allergies are hard. Akan tetapi, masih jauh lebih banyak hal yang patut disyukuri dengan hadirnya tantangan alergi ini. Seluruh keluarga jadi lebih bervariasi jenis makanannya, terutama untuk jenis sumber karbohidratnya. Sejauh ini kami sudah mencoba beras analog jagung, sorghum, quinoa, dan buckwheat.. belum lagi aneka superfood seperti chia seed, nutritional yeast, serta aneka pemanis non-gula tebu seperti gula singkong, gula aren, maupun gula sorghum. Para kakak juga sudah belajar untuk memikirkan apakah mama dan adiknya bisa makan suatu makanan serta mendapat kosa kata baru seperti gluten-free, allergen, refined sugar, dkk. Sungguh pembelajaran yang luar biasa.. dari yang tadinya asal makan malah menjadi makan yang tidak asal-asalan. #Gratefuleating as I like to call it. Sebab, hadirnya alergi makanan ini mengingatkan saya untuk lebih mensyukuri makanan yang bisa saya makan. Makan secara sadar dan benar-benar berusaha untuk menyiapkan makanan yang lebih sehat. Keluar dari zona nyaman bernama nasi putih, tepung terigu, fasto food, dan processed food. Kembali berjibaku di dapur, mencoba aneka resep meskipun gagal. Berdamai dengan keadaan tanpa hanya pasrah semata... tetap berusaha membuat makan menjadi hal yang menyenangkan dan mendekatkan seluruh keluarga.

Yoshhh... lega deh udah curhat. I know I’m not alone on this allergy thingy, so that’s why I’m telling you my story. Just to let you know that you are not alone, just in case you have a similar situation like mine. In any case, be thankful with everything and keep on fighting, Momma!




  

Friday, April 14, 2017

Dear Moms of Kids With Allergies, You Are Not Alone.

Your struggle is real, as real as the red rashes that appear on your baby’s cheeks.

Your fear is real, every time you want to eat something but you’re afraid that it may cause a new allergic reaction on your very own offspring. 

Your guilt is real, every time you know that your baby is allergic to something but you can’t stand the temptation to eat just one tiny bite of that chocolate cake you haven’t eaten for months. 

Your despair is real, every time you crave for comfort food—food that you have loved since you were little—but you can’t since your baby is allergic to it. 

Your weariness is real, all the time spent in the kitchen making meals that you would love to just order out and buy, but can’t since it’s too risky for allergens. 

Your frustration is real, every time you try a new “allergy free” recipe and it flops, when your toddler has a birthday party to go to but has to bring her own cake so she can eat “cake” like other kids there. 

Your strength is real, every time you have to explain to family members, friends, and strangers that your kid is allergic and that is his allergic reaction. 

Your humility is real, every time you politely decline party or get-together invitations because you know that the menu won’t support your allergen-free diet. 

Your bravery is real, every time you wake up in the morning, trying again and again to face this challenge—one that has changed your whole life in the blink of an eye. 

Your hope is real, every time you choose to be optimist and trust that your baby will someday overcome his allergies. 

Your feelings are real, they’re completely normal, because you, Mama, are human. 

And you, strong mama, are not alone.  

April 14, 2017
By Arum Budiani
http://ourlearningfamily.blogspot.com

Monday, March 20, 2017

Sharing hasil Diskusi Tutur2: "Safer Internet At Home"

18 Maret 2017, Qarnaina Daycare Bogor

Narsum: Ilya Alexander, praktisi media komunikasi dan internet.

By Arum Budiani,
Ourlearningfamily.blogspot.com

The internet is inevitable. You can't keep your kids away from it. It's a new "world" just like the real world: there are good people/places and bad. Ada content yg bermanfaat dan ada hal2 yg bisa berbahaya/merugikan diri sendiri dan orang lain.

- Perlu diingat, the internet wasn't originally made for kids/education, awalnya buat militer/bisnis. So it isn't, by default, a "safe" place.

- Perkembangan teknologi dan penggunaan skrg menjadikan internet buat semua hal (tmsk pendidikan) dan bisa diakses semua orang (tmsk anak2).

- Reminder: Google and Wikipedia are information portals. Jadi SEMUA info ada di sana untuk kepentingan ilmiah. Maybe not using explicit/real graphics, but the written information is there. How you use the information ya terserah masing2 pengguna.

We need to teach our kids how to navigate the internet and keep themselves safe. We can try to make sure that they will use internet to bring good/useful for us and others, even when we're not with them.

How?

Parents need to:
- keep up with the latest trending "apps" and
- Pelajari t&c apps tsb such as age ratings, content, and reviews.
- teach kids how to navigate safely and be intelligent in the digital world 
- don't give personal laptops/tabs/tv to kids, use them together in the family room
- read how to apply and use parental/safety controls for the gadgets

***Safety is NOT a tool but a PROCESS***

- there's no all-in-1 solution/web browser/parental control app/web-blocker that will gurantee the safety of your family while using the internet!

- you have to educate yourself (first) and your family so you can apply rules/boundaries that will benefit & protect your family.

- Jangan sampai kita di-outsmart sama anak2/keluarga kita. We always have to be 1 step ahead krn kids are smart and technology is always developing.

- Analogi internet spt mobil. Tau fungsinya, tau cara pakainya scr umum, dan perlu tau batasan2 safetynya. Tapi nggak perlu jiper duluan krn mikir harus mempelajari SEMUANYA sampai ke hal2 teknis2 banget. Kita nggak perlu belajar soal reaksi pembakaran bensin atau parts2 mesin untuk bisa pakai mobil, kan? Tapi kita wajib tau gmn jaga spy aman berkendara, belajar nyetir yg aman, tau siapa yg hrs dikontak klo2 ada trouble, dsb.

Last but definitely not least:

- Beware of information theft. Dan tingkatkan awareness buat safety when using gadgets in public (use passwords, small fonts, use gadgets discreetly).

- be extra careful when using social media: keep names, places, important detail info to yourself. Be careful of the pics you post!

- Daya gunakan separate accounts in your family PC/laptop untuk menjaga keamanan data

****Paling penting: jaga password, terutama password email! Krn password email itu awal mula dr semua akses ke mcm2 apps/socmed.

Sunday, November 20, 2016

Tell me about your drawing...

A picture is worth a thousand words, so the famous quote says. But when concerning little kids' drawings, a picture can either be worth a lot more than 1000 words or a lot less, depending on how you respond to it when they show you what they just "drew".

Ketika anak menunjukkan gambarnya, baiknya kita menanggapi dengan "wah, ceritain dong tentang gambarnya!" --- bukan langsung nebak itu gambar apa. Dari kemungkinan 1000 kata bisa jadi cuma 1 kata tuh klo langsung ditebak.. atau kalau lagi usia toddler, bisa jadi langsung diambekin kalau2 kita salah tebak, hehe 😅

Mungkin saja ceritanya nggak masuk akal, loncat2 jalan berpikirnya,  n bahkan nggak mirip sama sekali dengan yg diceritakan. Diikuti aja yaa.. supaya dia merasa idenya dihargai, imajinasi dan kemampuan berceritanya pun akan semakin berkembang. Tanpa batasan penilaian berlabel baik/buruk ~~bagus/jelek, anak2 akan lebih berani untuk terus berkarya tanpa takut salah/jelek. Pun awalnya begitu, kita bisa terus menyemangati mereka untuk terus berkarya dengan fokus pada proses gambarnya, kegigihan mereka dalam upaya menggambar sesuatu, dan betapa kreatifnya mereka dalam berkarya.

Lil Bird loves to draw and has finished 1 whole sketch book (2 sides on each page) even though she only started in late Sept 😊 It's amazing what kids can put on to a blank piece of paper if you just free them to scribble/doodle/draw anything... 🎨🖼

There is no right or wrong in art, but there will always be a story behind it 😉

Sunday, September 11, 2016

Raising Humans


Sept.11, 2016

I’ve been meaning to write a lot ever since the newest baby was born--- I know, you get the urge to write at the weirdest, busiest, and most impossible times to write haha! Dengan diingatkan kembali niat buat sedekah setiap hari, seenggaknya berusaha sedekah ilmu aja kali ya... bahkan mungkin bukan ilmu, sekedar sharing paradigma aja. Karena kita melihat hidup kita melalui kacamata masing-masing, siapa tau kacamata kita butuh dipoles dikit lensanya biar semakin jernih :) 

Alhamdulillah, sejak lahiran, beberapa hari terakhir ini kepala si emak HS ini sudah mulai bisa memikirkan hal lain selain ngejar jadwal ASI dan ngejar jam tidur. Well, life doesn’t stop just because you gave birth to a baby, right? Si Hubs dah selesai cuti dari minggu lalu, anak-anak juga udah selesai “libur”nya, the daily grind must go on. You would think that, being the 3rd time around, parenting would go easier. In reality? I think it’s all about prespective. About how you look at what parenting really is, what having kids really means to you.

No offense, but one of my major ick-factor is when someone says to me, “Udah, langsung aja nambah anak, biar sekalian capeknya...”. And I’m like, WHAT?!? 1. Elo kata, gue kayak kucing, punya anak tiap musim kawin, sekali beranak banyak? 2. Emangnya membesarkan anak-anak itu seperti nyuci piring atau nyuci baju atau kerjaan rumah tangga lainnya--- sekalian dikerjakan supaya cepat selesai lalu berleha-leha kemudian? Tentunya kedua jawaban ini nggak saya katakan ya, jawaban andalan saya hanya senyum dan ketawa diplomatis sambil melipir ke tempat lain atau ganti topik pembicaraan.

Buat saya, punya anak itu artinya dapat kesempatan istimewa untuk membesarkan manusia. Yes, raising humans, not kittens. Kalau hewan piaraan cukup dikasih makan/minum, dijaga kebersihannya, dan diberikan kasih sayang... kalau manusia, it is way more than that. Raising humans, not racing to get them all grown up and out of the house.  I know, it sounds ironic. Tapi setiap kali dengar ada orang tua yang bilang “Iya nih, masih ngasuh bocah-bocah di mall” atau “asyik, giliran papanya ngasuh anak-anak”... it seems like spending time with your children make you as excited as.... washing dishes. (hahaha, yes, it’s obvious, I hate washing dishes). Sesuatu yang pingin cepat-cepat diselesaikan. Kewajiban yang melelahkan.

Yes, I know parenting IS exhausting and it NEVER ENDS. Nggak terbatas pada ayah ibu yang berada di rumah, bahkan ayah ibu bekerja pasti tetap memikirkan anak-anak mereka sepanjang hari. Status orang tua itu sudah melekat dan nggak bisa dilepaskan... jadi, kenapa kita nggak menikmatinya sekalian???

We have been given the special priveledge of being someone’s mom or dad. Anak-anak kita nggak milih kita... we were chosen for them.. and they are programmed to love us unconditionally no matter what we do. So why take this priveledge for granted? Kita nggak tahu sampai kapan dapat kesempatan buat menikmati mereka tumbuh. And don’t let tragedy be your wake-up call, naudzubillahminzalik. You can wake up thankful everyday, but you sometimes forget just how much a priveledge it is to be a parent somewhere along the long journey. Fyi, for me, the most recent reminder untuk bersyukur adalah ketika tanda tangan berlembar-lembar Informed Consent pra-operasi SC-- itu cukup sebagai wake-up call, if anything else.  With every signature, I prayed that I would be given many more chances to become a better parent. Yeah, going to an operating table can do wonders for you to think about your life.

So dear parents, let’s enjoy our moments with our kids. Jangan anggap mereka sebagai bagian sebuah “to-do list” yang perlu dikerjakan supaya cepat selesai. Nikmati waktu bersama mereka sebelum mereka tahu-tahu udah mau terbang dari sarang. Be happy with them. Let them know you are thankful to be their parents. Yakinkan anak-anak kalau “mengasuh” mereka bukan sesuatu yang “melelahkan” atau “terpaksa dilakukan”... tapi kesempatan istimewa, karena mereka istimewa!  

Thursday, March 10, 2016

Life Happens


When you homeschool, everything that happens to you as a family impacts the WHOLE family. You can plan out schedules up until the whole year, but when life happens, you just gotta adjust the best you can and go with the flow. Beberapa bulan kemarin, jadwal homeschooling kami secara mendadak harus mengalami “penyesuaian”. Ya, selain karena alasan yang umum, misalnya Little Bug, si Hubs, Baby Bird, dan saya juga akhirnya sakit berturut-turut (alhamdulillah nggak sampai rawat inap, hanya mulai dari demam tinggi, radang tenggorokan, dan paling parah Little Bug kena tyfus), yg mengharuskan kami banyak beristirahat, selain itu.... alhamdulillah, another little life insyaaAllah is happening inside me :) This little life unexpectedly made my days a bit stagnant for the past 3 months, karena harus menyesuaikan dengan mual, lemas, hilangnya nafsu makan, rasa ngantuk luar biasa, dan semi-bedrest yang menyebabkan saya harus libur nyetir dulu sampai dinyatakan aman. Praktis kegiatan saya dan anak-anak jadi lebih banyak di rumah dan saya di tempat tidur atau sofa, nggak bisa naik-turun ke ruangan yang biasa kami pakai buat bermain dan melakukan paperwork lainnya.

Panik? Ya, kalau nggak terbiasa melihat anak-anak main seharian sih iya, karena seolah-olah ada “warning” di belakang kepala saya yang berbunyi “Gimana dengan target schoolworknya Little Bug? Gimana dengan kegiatan-kegiatan Baby Bird? Akan terpenuhi kah? Akankah mereka “ketinggalan” dibandingkan anak-anak seusianya?” Yaa, kurang lebih seperti itulah. Banyak “liburnya” alias minimal schoolwork (buat Little Bug) dan sisanya main bebas di rumah. Hmm, gak jauh beda dengan sehari-hari sih.. hanya kerasa nggak maksimal aja dari bagian sayanya, padahal anak-anak mah seneng-seneng aja dan saya juga jadi diingatkan bahwa free play itu banyak sekali proses belajar yang terjadi, hanya kita nggak melihat saja :) Paling banter saya usahakan Little Bug menulis di journal hariannya, mengerjakan math worksheets buat latihan soal (karena kelas 1 SD menurut materi kurnas sedang pada bagian penjumlahan/pengurangan 2-digit, jadi mau nggak mau memang harus rajin latihan supaya lebih terbiasa dan teliti), dan sesekali mengerjakan latihan soal pelajaran lain (spt PPKN, Bhs.Indonesia, dsb) dari buku soal kelas 1 SD (cara curang saya, karena 1 buku isinya ringkasan pelajaran + latihan soal hehehe). Alhamdulillah juga target materi buat kelas 1 SD juga belum terlalu banyak, jadi bisa juga tercover sedikit banyak dari baca buku-buku cerita/ nonfiksi yang berhubungan dengan topik-topik tsb. Idealnya mah lebih banyak percobaan, arts & crafts, dkk... but hey, life happens and you just gotta do what you can til the situation is better (which at times  felt like for-e-ver, but turns out baru beberapa bulan aja kok!).

Berbeda dengan kalau mengirim anak-anak ke sekolah formal, kondisi ortu nggak akan banyak mempengaruhi.. kalau begini, saya terus terang di awal-awal sempat merasa down.. bisa nggak ya saya tetap HS anak-anak dengan kondisi seperti ini? Apakah anak-anak saya dirugikan? Dan gong-nya: Am I a bad mom for making this decision?

Lalu.. saya mencoba melihat sisi positifnya. After all, life is to be celebrated and Hubs & I are really thankful for all the little lives in our life (including the little-est that we are super-excited about)! Anak-anak sikapnya masyaaAllah, jadi jauh lebih pengertian selama beberapa bulan terakhir. Little Bug lebih banyak ngemong Baby Bird, mereka lebih akur dalam bermain (baca: porsi akur lebih banyak daripada porsi berargumen/bertengkar) dan juga lebih banyak membantu saya di rumah (walaupun ada ART yang pulang-pergi, tapi tetap mereka berusaha membantu yang kecil-kecil). Mereka maklum dengan menu makanan yang lebih sederhana dan sering beli, maklum juga kalau saya lebih sering tidur sebentar-sebentar karena mual, juga lebih sering menanyakan “Gimana keadaan Mama? Masih mual? Adik bayi baik-baik aja kan?”.

Ketika cek bulanan (bonus: cek bulanan ke dokter bisa dianggap sebagai field trip HS, hahaha), mereka kagum melihat layar USG (sekeluar dari ruang dokter, pasti ramai celotehan soal adik bayi yang ‘melambaikan tangan’ dan bergerak-gerak ‘saying hello’ ke kakak-kakaknya) dan Little Bug juga berusaha mencerna tahap-tahap perkembangan bayi dari poster-poster yang ada di luar kamar periksa. Baby Bird juga berusaha memahami apa yang terjadi dengan pengertian untuk seusianya, terutama mengapa saya harus banyak istirahat beberapa bulan kemarin (“Karena bayinya masih belum nempel ya di dalam perut Mama?”). Lalu dia juga sering tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan atau celotehan lucu, seperti, “Adik bayi mau ikut kita pergi juga ya?” (uhm, nggak bisa ditinggal juga di rumah kan hehehe) dan “Mama makan lele, berarti adik bayi nanti juga suka lele dong?” (well, I hope so! Scientists say that the eating appetite/tastes for the later born baby is affected by what the Mom eats during her pregnancy... so you can see why I was so frustrated when I lost my appetite in the 1st trimester of this pregnancy---food just didn’t look appetizing to me, even though I was hungry, hikz!).

Buat saya yang awalnya sempat down, googling berbagai blog tentang punya anak 3 dan sengaja cari yang lucu-lucu, because humor helps! Nemu website ini tentang keluarga yang punya anak 3, sounds real and it made me laugh and cry at the same time (blame the pregnancy hormones!). I like real blogs that combine humor with reality instead of preaching perfection, memudahkan untuk enjoy the ride :)
 Saya sangat bersyukur atas kehidupan ini, tapi namanya manusia biasa, pasti ada saat-saat saya merasa panik, khawatir, sedih, bersalah, gelisah, dkk... it’s only human to go through the WHOLE range of emotions (from super excited to sad) when you are expecting another little life, and if we can accept and embrace all of the feelings, insyaaAllah it will be easier to deal with the situation and be thankful for everything. In other words, you embrace the fact that life happens and you are more blessed than you will ever realize!

Every experience is humbling and teaches you something new each day. You can make plans but in the end, the important thing is that you are all happy and healthy together as a family... because every moment is special, no matter if it goes according to your original plans or not. You may not be achieving weekly/monthly targets, but other learning experiences are happening and reminds you that learning is not just textbooks and worksheets, even if you already know that it’s true but you are reminded in the realest (is that even a word?) way possible. You learn to trust your kids, trust their innate abilities, trust that they will develop accordingly under God’s care, and really trust your days in God’s plans. You learn to make the best out of everything, even if your days look like instant noodles, playdoh, and Disney Jr. Cartoons (and you definitely learn NOT to look at [read: compare yourself to] what other moms on pinterest/facebook/instagram/path/whatsapp groups/other social media are doing for their kids at this moment, haha!). You learn to see the smiles on your kids face, because they don’t expect anything but to spend time with you (even though you feel like a sloth and suddenly fall asleep during a story or a game of Candyland). You learn to enjoy each day. You learn to be as happy-go-lucky as your kids... because being happy and thankful and content is a choice, not an outcome of certain pre-meditated conditions and plans. You learn to embrace life and give yourself without losing sight of what’s important... and you learn to fight and struggle to make everything better, even though you don’t actually know what tomorrow will bring.. but you try and you pray and you trust God. That’s it.

So, that’s where we are in life right now, juggling homeschool and pregnancy and life as a whole. And I couldn’t be more thankful, alhamdulillah! :)


Friday, May 22, 2015

Tolong jangan bilang anakku “pintar”….



Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama. Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset.  Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006). Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak: satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”) dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual. Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama.  Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.
Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah?? 

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb, sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya. Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

Dweck sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”
Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka. Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya. Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.

Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:
a.       Fixed mindset (FM)mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.
b.      Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus!  Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”
c.       Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM. GM akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”
d.      FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”
e.      FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).
f.        FM percaya kalau tes mengukur kemampuan. GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.
g.       Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.
h.      Guru dengan FM memiliki semua jawaban. Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.
i.         Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya. 

Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi menang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”--- masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil. Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”. Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.  

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

Referensi:
1.       Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.
2.       Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Kids: The Inverse Power of Praise. http://nymag.com/news/features/27840/#
3.       Teaching To Promote A Growth Mindset. Center For Research on Girls at Laurel School.