Saturday, August 30, 2014

Life long learning

Tadi pagi, saya mendampingi Little Bug latihan keyboard. Sejak sementara dialihkan ke les privat sembari nunggu guru kelasnya recovery, progress-nya Little Bug memang terasa agak lebih cepat. Biasanya main lagu berdasarkan repetisi & pendengaran not (sembari belajar baca) dan agak pelan, ini jadi cepat karena fokusnya secara individual. Biasanya 1 lagu untuk beberapa kali pertemuan, ini bisa 2-3 lagu dipelajari setiap sesi les, meskipun hanya 30 menit saja.
Nah tadi waktu berlatih lagu baru, saya rada2 lupa bin keder baca not baloknya, Little Bug juga lupa melodi lagunya. Udah bukan di kunci C saja, tapi ada kunci G dan sekarang kunci F, tangan kanan dan kiri. *help me* Jadilah saya mencari tahu bersama-sama dengan dia.. nyoba-nyoba, trial and error. Alhamdulillah akhirnya bisa dimainkan, dan saya baru ngeh.. proses bingung dan cari tahu tadi beserta trial and error yang terjadi sebenarnya merupakan contoh yang baik untuk Little Bug. Bahwa kita belajar sepanjang hayat. Bahwa ilmu Allah itu sangat luas. Bahwa kita nggak harus tahu semuanya... apalagi gak usah sok tahu. It's okay to not know... and it's okay to make mistakes and try again. Dan bahwa seorang emak hs nggak harus bisa semua-mua-nya... karena bisa dipelajari sama-sama :-) 

Sunday, August 24, 2014

Di Balik Lajunya Kereta Api



24 Agustus 2014

Tak kenal maka tak sayang. Peribahasa itu sepertinya sudah melekat di ingatan saya sejak jaman SD dulu, tapi anehnya, baru sekarang-sekarang ini setelah ber-homeschool ria saya bisa menghayati maknanya. Ya, seperti yang saya tuliskan pada entry blog yang lalu, keputusan kami untuk ber-homeschool lama-lama semakin banyak kepingan-kepingan puzzle yang mulai terlihat gambaran besarnya. Salah satu kepingan puzzle itu hadir kembali ketika kunjungan ke Stasiun Besar Bogor tadi pagi hingga siang. 




Awal mulanya adalah Little Bug yang ingin belajar tentang kereta api jenis Argo. Mungkin perjalanan kami beberapa bulan lalu ke Jawa Tengah (dengan menggunakan kereta Argo) memberikan kesan yang mendalam sehingga dia mau belajar lebih lanjut tentang hal tersebut. Kalau dipikir-pikir, alat transportasi jenis kereta api itu iconic dengan dunia anak-anak, dari lirik lagu “Naik Kereta Api” hingga daya tarik luar biasa tiap kali melihat kereta melintas di jalan raya. Berhubung di Bogor sendiri ada stasiun besar, jadi saya pikir cukuplah untuk saat ini kunjungan ke sana sebagai perkenalan akan dunia perkeretaapian.

Tujuan saya sederhana: mengenalkan kepada Little Bug bahwa kereta itu nggak jalan sendiri—ada support system terpadu supaya kereta bisa jalan dengan aman, lancar, dan nyaman. Tapi untuk melihat support system itu dari “balik layar” juga nggak bisa sembarangan nyelonong begitu aja. Alhamdulillah Allah yang Maha Pengatur memudahkan saya untuk pergi mengurus izin ke kantor PT KAI DAOP 1 Jakarta di stasiun Cikini, berdua dengan Baby Bird naik kereta. Setelah izin diperoleh, tinggal koordinasi dengan pihak Stasiun Besar Bogor, dalam hal ini kami langsung dibantu oleh Pak Wakil Kepala Stasiun Bogor, Pak Herry. Berhubung kunjungan ini atas nama Klub Hijau (klub-nya anak-anak homeschool di Bogor), jadilah saya ngajak para bocah dari temen-temen SMA yang seumuran, the more the merrier, ceritanya.  Kami semua masuk via pintu belakang stasiun, diterima langsung oleh Pak Herry. Selanjutnya, ada petugas keamanan stasiun yang mengantarkan kami keliling ke: ruang informasi, kabin masinis, ruang sinyal, dan area keluar/masuk stasiun (tempat tiket elektronik itu).






 Awalnya agak terasa kikuk, karena kata Pak Herry, baru kali ini ada kelompok (dalam hal ini, emaknya hahaha) yang minta kunjungan khusus untuk lingkungan stasiun saja, tanpa naik kereta—karena biasanya kunjungan ke stasiun KA itu intinya adalah pada perjalanan naik keretanya, hehehe J Jadi mungkin para petugas di sana juga baru kali ini menerima segerombolan bocah umur 4-8 thn yang melihat-lihat seperti apa sih pekerjaan mereka? Kalau dipikir-pikir, seperti sidak atau ujian dadakan aja, ditanya-tanya ini itu sama bocah & sama emak/bapaknya bocah, hehehe :P Tapi seperti yang dijelaskan petugas di ruang informasi, para petugas di stasiun itu harus bisa semua posisi, karena dirotasikan dan ada juga masa magang-nya di luar masa pendidikannya. Di ruang informasi itu, yang menarik ada perangkat internet untuk update app tentang posisi kereta commuter line, ada tempelan poster besar berisi berbagai sandi perkeretaapian (dari dulu aja nggak hafal semaphor, apalagi kalau suruh ngafalin sandi KA yg bejibun yak?), telfon model dulu, dan ada genta juga!

 Nah, genta itu adalah alat komunikasi penanda kereta diberangkatkan dari 1 stasiun menuju stasiun berikutnya, yang mengeluarkan bunyi “ting-tong” seperti jam dinding yang tua itu. Diputar handle-nya secara manual lalu memiliki mekanisme yang (kalau gak salah) bekerja dengan menggunakan elektromagnet, pokoknya berasal dari jaman dulu deh sebelum ada HT! Pertama kali menemukan genta adalah ketika kami bertujuan kembalik ke Jakarta dari Solo dengan menggunakan KA Argo Lawu... sambil nunggu kereta datang di Solo Balapan, kami mendengar suara seperti dentang jam... kami lacak suaranya ke sebelah ruang informasi di stasiun Solo Balapan, dan di sanalah kami dijelaskan secara singkat mengenai alat bernama genta itu. Kalau di jalur arah Jawa Tengah & Timur masih menggunakan genta, sedangkan ke arah Jawa Barat & Jabotabek sudah nggak pakai lagi, sudah menggunakan perangkat elektronik semua. Kebetulan genta yang di stasiun Bogor tadi sedang rusak, jadi sementara ini pakai HT saja kalau memberangkatkan kereta yang ke arah Sukabumi.                

Dari ruang informasi, kami diantar menyebrang rel untuk naik ke rangkaian kereta commuter line yang masih menunggu waktu keberangkatan. Kami diminta menunggu masinis KA tersebut datang... eh, ternyata, nggak boleh sembarangan tuker-tuker masinis lho! Yang boleh masuk kabin masinis suatu rangkaian KA itu ya hanya masinis yang bertugas untuk rangkaian tersebut (pada hari itu). Inilah standar keamanan yang ketat, alhamdulillah kami dapat izin untuk masuk sebentar ke ruang kabin masinis untuk diberikan penjelasan singkat tentang cara “jalan”nya KA. O iya ya, kereta nggak bisa belok, hanya bisa maju & berhenti.... sisanya mengikuti rel... ada tuas “tenaga” (tadi pakai istilah “gas”, padahal kereta nggak pakai bensin toh? Hehehe) dan  tuas rem, dengan kecepatan maksimum kereta 70km/jam kalau pas jam sepi dengan berbagai ketentuan khusus lainnya sepanjang jalur KA dari Bogor-Jakarta. Komunikasi dengan stasiun lain menggunakan HT dan selalu ada minimal 2 masinis di setiap rangkaian KA yang berjalan. Tadi nggak sempat nanya-nanya tentang prosedur pendidikan/pelatihan untuk jadi masinis, tapi yang saya bayangkan, pastinya sangat berat untuk menjalankan rangkaian kereta dengan banyak gerbong dari sebuah kabin masinis yang sempit.. masyaaAllah! Sayangnya, masinis tadi cerita kalau masih saja ada yang melempari KA dengan batu, makanya tetap ada pelindung kaca seperti teralis dipasang di kaca kabin masinis. Sedih ya?

Kami nggak berlama-lama di kabun masinis karena tidak ingin sampai mengganggu jadwal keberangkatan kereta.  Dari sana alhamdulillah kami cukup beruntung untuk diajak berkenalan dengan petugas yang paling besar tanggung jawabnya: petugas pengatur sinyal! Seperti halnya bandara memiliki control tower, maka stasiun KA juga memiliki menara sinyal. Dengan jendela-jendela besar sepanjang sisi dinding, ruangan itu selalu terkunci rapat. Kebetulan stasiun KA saat itu sedang kosong dan lengang setelah semua KA saat itu sudah diberangkatkan, jadi kami diperbolehkan berkunjung sebentar (kalau lagi ramai/sibuk, nggak akan boleh! Bahaya!). Di sana, Bapak yang sedang bertugas tadi tidak boleh ditemani siapa-siapa pada saat bertugas. Makanan dipesan ke ruangan, sholat & keperluan ke kamar kecil pun sudah diatur kapan saat-saat yang cukup “lengang” untuk sejenak melakukannya. Beliau bertugas untuk mengatur keberangkatan & kedatangan KA, membuka & menutup jalur rel yang dari maupun menuju stasiun Bogor (lupa sampai mana tadi wilayah pengaturannya, kalau nggak salah sampai Depok deh).  Di sana, kami dijelaskan kalau petugas pengatur sinyal KA nggak boleh seenaknya bertindak, semuanya harus sesuai peraturan (dan terlihat setumpuk buku aturan di samping meja itu). Kalau ada kereta mogok, atau kawat aliran listrik yang bermasalah, semuanya sudah ada step-by-step SOP-nya. Bapak inilah yang paling berat & besar tanggung jawabnya, karena beliau yang menentukan tindakan yang akan dilakukan. Dan nggak semudah seperti menderek mobil yang mogok atau memencet tombol untuk membetulkan sinyal yang rusak. Sekali lagi, semua ada SOPnya untuk menjaga keamanan semua pihak.         

Di sinilah, kepingan puzzle itu muncul... jleb! Saya yang terkadang pernah mengeluh dengan mudahnya terhadap kereta yang bermasalah, jadwal yang telat, dsb... ternyata si Bapak ini (dan para petugas pengatur sinyal lainnya) yang bertanggung jawab menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk menyelesaikannya dan harus sesuai SOP, nggak boleh salah. Bapak yang berusaha melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, nggak boleh ngantuk, nggak boleh salah, harus selalu tepat dan terjaga. Bapak yang bekerja begitu keras jauh di balik layar, jauh dari sorotan siapapun... begitu pula dengan petugas yang lainnya, yang tugasnya nggak kalah penting... nggak pantaslah saya yang hanya penumpang ini mengeluh seenaknya.
          
Ya, para penumpang pasti ingin sampai dengan tepat waktu dan aman, lancar dan nyaman. Tapi semua itu nggak akan tercapai tanpa kerja tim yang baik antar semua petugas di stasiun. Belum lagi faktor perawatan, peremajaan, dsb, yang mungkin saja berhubungan dengan kebijakan dan pendanaan dari pusat. Ada pepatah, don’t shoot the messenger. Jangan marah kepada si penyampai berita yang tak berkenan di hati kita. Mungkin begitu pula dengan para petugas KA.. ketika ada masalah, belum tentu salah mereka.. dan kita baiknya berpikiran positif terhadap mereka, dengan mengingat kalau semuanya berusaha keras memperbaikinya semampu mereka (dengan sesegera mungkin). Siapa sih yang mau kalau perjalanan kereta itu terlambat atau bermasalah? Siapa sih yang tak ingin memiliki pelayanan KA yang nyaman, modern, dan memadai? Ya, memang kita mesti bersabar dengan kondisi yang ada.. dan juga bersyukur atas semua kemajuan yang telah dicapai. Belum sempurna, tapi yang penting sedang dalam proses menuju ke arah yang lebih baik, terus begitu... tugas kitalah untuk mendoakan, saling menyemangati, dan juga mengajak untuk mendukung proses tersebut, karena kita juga punya kewajiban yang melekat pada hak  kita sebagai penerima layanan KA yang baik.
               
 Jadi pelajaran kami hari ini... adalah kembali diingatkan untuk menghargai kerja keras para penyedia jasa publik kita. Tak kenal maka tak sayang, dan saya di sini hanya berusaha bercerita pengalaman kami tadi, agar semakin banyak masyarakat yang sadar akan kerja keras para petugas KA. Dan mulai dari anak-anak kitalah tempat terbaik untuk membudidayakan sikap positif dan apresiasi terhadap kerja keras seluruh elemen support system KA tersebut :)

Tetap semangat, terus maju menjadi semakin baik dari hari ke hari! “Ayo kawanku lekas naik... keretaku tak berhenti lama!”  


                                                                           

Wednesday, August 20, 2014

Self-reminder for the new homeschool year (and years to come, insyaaAllah)

It's the start of the new homeschool year. Alhamdulillah, ini adalah tahun ke-2 kebersamaan keluarga kami di rumah. Tahun pertama dengan nyaman saya sebut sebagai "masa adaptasi"... nyaman kenapa? For my own peace of mind, supaya nggak ngerasa bersalah. Ngerasa bersalah karena apa? Ya, for not being the super-homeschool-mom that i'm not. Jadi emak HS yang stay-at-home itu buat saya pressure-nya lumayan berat-- well, sebenernya sih bisa juga sesantai yang kita pikirkan. Tapi dengan adanya social media tempat memajang kegiatan prasekolah/homeschool yang bikin ngiler (tapi juga sekaligus menginspirasi dan memacu semangat), kadang pressure to be that super-duper-uber-mom suka inevitable, susah dihindari. Mau pake alesan apa lagi? Udah ada priveledge to be "at home", "homeschool-supported", "internet-literate & proficient at googling", plus banyak resources yg DIY maupun yg frugal. Wham! The guilt hits you right smack on the head.

My hardest lesson from the past year is that the biggest challenge you face when homeschooling  is yourself. Be it your time-management, anger management, stress-management, or how high your expectations (of yourself) are... they are the major hurdles you have to realize, accept, and figure out a way to live with it and deal with it. There's also the fine-tuning of dealing with those hurdles and adjusting it to your own family's situation/circumstances. Without having tolerance for yourself, it'll be very  easy for you to get caught in what I call "the invisible race against no one".. perasaan tersaingi oleh kemajuan anak si A atau hasil DIY si B buat anaknya. And being "stuck in the moment" ala lagunya U2 itu is not a 1 time thing.. it can happen over and over if you don't get a grip and face reality.
What is the reality that i've learned over the past year?

That at the end of the day, what matters is that we're together and happy. And it doesn't take much to make your kids happy. All it takes is your presence and attention, and you in a good mood.

It doesn't matter what art/crafts you do.... as long as you enjoy the process of creating with your kids. Laugh. Get messy. Don't be afraid of trying.
It doesn't matter what you play or how sophisticated your DIY-pinterest inspired-toys are (that is, if you make any).... as long as you let the kids play anyway they like. Let them lead. Nothing is impossible in their imagination. Let your adult-logical brain have a break and think like a kid when playing with your kids. You're not playing for them--- you're playing with them.
It doesn't matter "how much" progress you're making with the kids on their learning goals (academic, religious, etc) each day... as long as you both are enjoying the journey of learning new things. That's what life-long learning is all about. Part of learning is not giving up, so be a team-mate and cheer your kids on!
It doesn't matter if the housework gets delayed. Wait, it does, actually-- just do it in small portions of time. Or better yet, do small parts of it with the kids as a team. Just to the point that you have clean dishes to eat with and clean clothes to wear plus a free area to snuggle with your kids. That'll be enough for the day.

Because even with the house in a mess.. and you think your activities with the kids are "just so-so" (cue the entering of negative-put-you-down-thoughts such as "nggak seperti si A yg bikin ini buat anaknya" atau "wah si B pergi ke situ sama anaknya" dan sebagainya)....
At the last but not very least, you can smile and say that "the kids were happy today being with me".. and that will reassure you that you didn't waste your time trying to keep up with the super-uber-duper moms out there, because you already are, each day that you bring happiness to your kids. And that is the most important thing of all.

Thursday, August 14, 2014

Baby bird in the kitchen

Ada yang pagi-pagi mulai bantu mama di dapur.. bikin pancake hehehe :-)  This is part of learning from everyday life experiences... belajar kapan saja dan di mana saja :-)

Resep andalan kami adalah resep "hotcake" ala Jepang:

150 gr tepung
2 sdt baking powder
2 sdm gula halus
1 telur
120 ml susu
1 sdm minyak

Semua aduk jadi 1, trus tinggal dimasak di atas api kecil. Great to do with the kids :-)