Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, December 30, 2015

Sunat 101

Ditulis oleh Arum Budiani, 
pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

Alhamdulillah, Little Bug tanggal 25 Desember kemarin sudah disunat, yeayy! Liburan sekolah memang identik dengan sunatan, karena kebanyakan orang tua memilih waktu libur yang agak lama supaya pemulihan pascasunat bisa berjalan dengan santai, tanpa memotong waktu sekolah. Lah, kami kan homeschool, apa bedanya? Well, Little Bug ada jadwal les music yang sayang kalau harus terlewati, jadi kami memilih ketika lesnya juga libur 2 minggu hehehe J

Anyways, saya ingin berbagi beberapa tips yang menurut kami bisa membantu memperlancar prosedur sebelum, ketika, dan sesudah sunat pada anak. Sebelum proses sunat, saya mencari-cari artikel di internet soal sunat dan yang ketemu banyak malah iklan sunat, hikz.. jadilah bertekad berbagi pengalaman setelah sunat supaya ortu yang kebingungan seperti saya tidak bernasib sama hehehe J  Yang perlu diingat hanya bahwa setiap anak berbeda-beda, jadi silahkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga & anak masing-masing ya J  


Sebelum Sunat

  •  Kami mulai sounding tentang sunat itu jauh sebelum sunat dilakukan… mungkin setahun atau 2 tahun sebelumnya. Soundingnya nggak terus-terusan, hanya pas sikon mendukung dan juga sambil meyakinkan kalau kita percaya Little Bug akan berani melakukannya saat dia siap. Nah, kapan mau sunatnya terserah si anak, makanya soundingnya mulai dari lama (saat ini Little Bug 6,5thm, kami sudah mulai sounding sejak umur 4thn an).  Kalau ada temannya yang sunat, kami beritahu juga dan kami ajak berkunjung beberapa hari setelah si anak sembuh untuk memberikan ucapan selamat sekaligus saya memperlihatkan kalau pasca sunat insyaaAllah akan baik-baik saja.


  • ·         Isi sounding pada intinya adalah memperkenalkan bahwa sunat itu ada dan harus mereka lalui. Tidak lupa kami menjelaskan kenapa sunat itu harus dilakukan, baik dari segi agama maupun kesehatan. Dan dari segi kesehatan, kami juga menjelaskan kalau lebih cepat lebih baik, karena semakin lama maka semakin rawan untuk kotoran terselip di bagian ujung alat kelaminnya meskipun kita selalu berusaha membersihkannya dengan sebaik mungkin.


  • ·         Kami pribadi memberitahu Little Bug bahwa kami berharap dia bersedia sunat sebelum umur 7 tahun, akan tetapi pemilihan waktunya terserah dia kapan dia siapnya, baik sebelum atau saat umur 7 tahun itu. Itu preferensi pribadi ya, karena kami anggap 7 tahun sudah mulai lebih banyak mendalami Islam sehingga inginnya sudah disunat sebelum atau pada usia tsb.


  • ·          Kita jelaskan prosedurnya secara sederhana, baik pengertian tentang apa yang akan dilakukan maupun perbedaan antara beberapa metode sunat. Kami memberikan 2 pilihan metode untuk Little Bug (konvensional/bedah di RS vs clamp) dan dia akhirnya memilih metode clamp setelah melihat beberapa temannya  memilih metode yang sama plus dia lebih nyaman sunat dilakukan di klinik kecil daripada di RS. Silahkan mencari info sebanyak-banyaknya mengenai berbagai metode sunat (dari internet, ke tempatnya langsung, tanya ke teman yang sudah menyunatkan anaknya, tanya dsa keluarga, dsb). Semua metode ada risikonya, plus minusnya... pilih yang paling sesuai buat keluarga dan anak, perbanyak istikhoroh supaya tenang dalam mengambil keputusan.


  • ·         Sounding disesuaikan isinya dengan sikon yang ada. Di awal-awal penjelasannya masih sederhana , makin anaknya besar maka sedikit-sedikit ditambah penjelasannya dengan yang lebih detail. Jadi pemahaman si anak dibangun sedikit demi sedikit tentang prosedur ini.


  • ·         Kami tidak berbohong mengenai rasa sakitnya. Nggak didramatisir juga (please, jangan yaaa) tapi dijelaskan apa adanya. Kami jelaskan akan sakit sebentar saat disuntik anastesi, lalu pas prosedur sunat tidak akan terasa apa-apa karena efek suntikan anastesi tadi. Sakit berikutnya ketika efek obat hilang, itupun akan terbantu oleh obat pengurang rasa sakit. Dan kami dengan lembut meyakinkan bahwa kami akan menjalankan seluruh proses bersama-sama--- dia tidak akan sendirian.


  • ·         Setelah Little Bug bersedia disunat, kami menentukan tanggal. Nah ini kami putuskan berdasarkan 2 hal: jadwal yang tersedia di tempat sunat dan jadwal yang memungkinkan si Hubs untuk cuti. Yes, little boys need their dads for this one! Kalau seperti si Hubs yang susahhhh cuti, bisa diakali dengan pilih sunat pada hari Jum’at, supaya bisa meminimalisir jumlah hari cuti. Pengalaman dengan Little Bug, yang beraduh-aduh ria itu hari pertama dan hari ke-2, selanjutnya udah mulai terbiasa pada hari ke-3. Jadi usahakan ada si ayah pada hari pertama sampai ke-3, minimal sampai hari ke-2. Untuk jadwal dari tempat sunat, semakin awal semakin baik supaya anak nggak jiper duluan kalau-kalau pasien sunat sebelumnya teriak-teriak/menangis heboh. Atau kalau dapat jadwal yang agak siang, mungkin bisa diakali dengan menunggu di mobil sampai saat gilirannya.


  • ·         Tanggal sudah oke, lalu apa lagi?  Have fun together!!!! 1-2 minggu sebelum sunat, saya sengaja ajak Little Bug jalan-jalan atau main apapun kesukaannya. Ya tentunya diatur sedemikian rupa  supaya kondisi anak-anak tetap fit sebelum sunat. Intinya, si anak dibuat happy dulu sebelum nanti pemulihan pascasunat di rumah. Dengan menghabiskan waktu bersama melakukan apa yang dia suka, kita bisa meningkatkan bonding dengan anak-anak dan itu diharapkan bisa mempermudah anak-anak untuk lebih kooperatif saat prosedur sunat maupun saat pemulihannya. Nggak perlu mahal-mahal atau jauh-jauh, yang penting menghabiskan waktu melakukan apa yang mereka suka.


  • ·         Kami juga bersama-sama menyiapkan kegiatan untuk dilakukan di rumah saat pemulihan. Kita bisa memilih mainan/games untuk dimainkan bersama, buku-buku untuk dibaca bersama, film untuk ditonton bersama, dst. Di sini juga ada bagian dari negosiasi reward pascasunat hehehe… J Sesuaikan dengan kegemaran anak dan yang kira-kira bisa mengalihkan perhatian dari rasa sakitnya. Little Bug sangat suka Lego, jadi itu yang menjadi andalan kami kemarin (dan berhasil, dari pagi sampai sore ya nguplek aja terus hehehe). Selain itu, kami pada dasarnya menerapkan pembatasan penggunaan gadget dan screen-time, tapi kami “sesuaikan” untuk hari pertama dan ke-2 pascasunat kemarin J


  • ·         Jangan lupa siapkan obat merah, cotton bud, tissue basah, tissue kering, dsb sebagai “peralatan tempur” ketika anak nantinya buang air kecil pasca sunat. Tanyakan pada dokter apa saja yang harus disiapkan, sesuai dengan metode sunat yang digunakan.



Saat Hari-H Sunat

  • ·         Apapun yang terjadi, pasang muka tenang dan senyum! Kalau kecemasan di hati kita berlebihan, itu akan dirasakan oleh anak-anak, trust me! Anak-anak butuh didampingi mama-papa yang tenang dan berpikir positif terhadap Allah. Kalau mama-papanya cemas berlebihan, bagaimana anak akan bisa tenang mengandalkan kita untuk mendampinginya melalui seluruh prosedur sunat?


  • ·         Kalau anak merasa cemas, dengarkan dia dan katakan kalau wajar merasa cemas sebelum tindakan medis apapun. Kita juga bisa jujur dengan anak kalau kita juga ikut merasa cemas menanti prosedur sunat, lalu secara lembut mengingatkan kalau Allah selalu bersama dengan kita dan yakinkan kalau kita akan melalui ini bersama-sama sebagai sebuah tim.


  • ·         Ini mungkin terdengar seperti pesan sponsor, tapi memang sebaiknya yang mengantar sunat adalah orang-orang terdekat saja, jangan 1 RT, hehe ;p Takutnya semakin banyak pengantar malah semakin besar tekanannya… dan semakin rame di tempat sunat haha! Eyang-om-tante-pakde-bude-sepupu-tetangga-dst bisa diarahkan untuk menemui di rumah saja setelah selesai prosedur sunatnya. Kehebohannya di rumah aja ya, supaya nggak nambah deg-degan sebelum masuk ruang sunat hehehe J


  • ·         Bawa bekal makanan ringan+ minuman yang disukai anak. Obat bius memiliki masa berlaku dan obat pereda nyeri sebaiknya diberikan beberapa saat sebelum efek bius benar-benar habis. Tanyakan hal ini kepada dokter yang menjalankan operasi, jangan lupa! Mananan dan minuman berfungsi agar anak bisa makan & minum sebelum mengkonsumsi obat pereda nyeri.


  • ·         Dampingi dan pandu anak selama prosedur sunat. Jelaskan dengan nada tenang dan secara sederhana apa yang akan dokter/perawat lakukan step-by-step sesaat sebelum dilakukan supaya anak nggak merasa bingung/kaget. Dan ingatkan kembali bahwa dia akan disuntik obat bius sehingga nggak akan terasa apa-apa ketika prosedur sunat dilakukan. Pengalaman kemarin, Little Bug menjerit-jerit saat disuntik anastesi… selebihnya bisa tenang karena sudah baal, hehehe! Kalau anak jejeritan dan menangis meronta, jangan ikut panik! Tetap berusaha tenangkan dan yakinkan klo kita ada di sampingnya. Just hang in there, your kid needs you more than ever to stay calm… so he can stay calm!


  • ·         Last but not least, batasi foto-foto saat prosedur sunat. It’s a very personal procedure and your kid needs you more than the photos. ‘Nuff said.



Setelah Sunat

  • ·        Ingat bekal makanan/minuman yg dibawa? Makan dan minum supaya anak bisa minum obat pereda nyeri beberapa saat SEBELUM efek obat bius hilang. Lumayan bisa mengurangi drama di awal-awal masa pemulihan.


  • ·         Papa/Mama statusnya on stand-by pas hari pertama abis sunat. Kalau Little Bug apa-apa maunya dengan papanya, jadi si Mama urus-urus yang lain hehe. Kalau para ayah mengeluh capek, kita ingatkan dengan lembut kalau sunat hanya sekali seumur hidup (well, dikalikan dengan jumlah anak laki-laki yang dimiliki ya) dan ini saatnya mereka memanjakan si anak jadi dinikmati aja hehehe!


  • ·         Ingat semua kegiatan yg disiapkan sebelum sunat sebagai aktivitas pascasunat? Bring them on! Mulailah dengan kegiatan yang paling bisa mengalihkan perhatian anak dari rasa sakitnya. Kemarin kami menyediakan beberapa film dan games di tab pas awal-awal, karena itu yang lumayan ampuh. Selain itu, bermain Lego juga ampuh menyerap perhatiannya untuk waktu yang cukup lama, hehe J Sesuaikan dengan kesukaan masing-masing anak ya J

Little Bug main Lego kesukaannya pascasunat, bisa seharian! Caption kecil: Little Bug apa-apa maunya sama si Hubs, dari bangun tidur sampai tidur lagi :)


  • ·         Kami pribadi belum merencanakan kapan atau dalam bentuk apa syukuran sunatnya. Fokus di pemulihan dulu supaya perhatiannya nggak terpecah… anak-anak lebih butuh kehadiran kita dan keluarga terdekat di saat pemulihan daripada perayaan dengan banyak orang-orang yang belum tentu ia kenal baik J


  • ·         Kalau saran untuk makan & istirahat yang cukup mah udah umum ya. Yang penting kita juga jangan overly strict atau galak atau protektif dengan anak selama masa pemulihan. Usahakan tetap menciptakan suasana yang positif dan semangat untuk sembuh sehingga bisa cepat pulih lukanya. Anak dibuat se-happy mungkin meski sedang bergelut dengan rasa nyeri… yakinkan dia kalau insyaaAllah dia bisa melewatinya dan kita yang menjadi penyemangat no.1, bukan pihak yang menakut-nakuti dengan segala macam ancaman dan scenario menyeramkan J


Special notes:

·         Orang bilang, sunatan adalah “hajatnya anak laki-laki”. Bagi saya, pengertian akan maknanya “hajat anak laki-laki” tersebut bukan pada besarnya perayaannya, tapi lebih kepada besarnya perhatian kita kepada si anak laki-laki kesayangan sebelum, pada saat, dan sesudah prosedur sunat tsb. The greatest gift we can give is our attention and our presence, not presents. Untuk Little Bug, dia bisa menghabiskan waktu banyak dengan papanya yang khusus cuti untuk hari sunatnya dan setiap malam dikipasin manual (ala tukang sate) sampai dia tertidur pulas (padahal dah pake AC hahaha). Saya juga bisa menghabiskan waktu dengannya sebelum sunat, mengajaknya seharian jalan-jalan ke taman yang sangat ia sukai dan makan apa yang dia gemari. Eyang-eyangnya pada datang ke rumah dan memberikan perhatian secara bergantian. Kami merasa semakin dekat dan kompak sebagai sebuah keluarga yang telah melewati proses ini bersama. Itulah makna yang sesungguhnya, “hajat” yang paling penting J

Semoga pengalaman dan hikmah yang kami ambil dari pengalaman sunat Little Bug bisa membantu ya J  Stay calm and enjoy the once in a lifetime process as a family J



Sunday, June 29, 2014

Ramadhan day 1: The arrival of The Humble Hud-huds



29 Juni 2014

Bismillah...

Alhamdulillah hari ini sudah tiba bulan suci Ramadhan! Seperti yang telah saya tulis di sini, kami tahun ini berencana mengajak anak-anak untuk melakukan lebih banyak kebaikan (good deeds) melalui ajakan duo burung Hud-hud yang lucu. Deg-degan juga sih karena nggak bisa ditebak tanggapan Little Bug akan bagaimana, tapi alhamdulillah, bisa dikatakan berhasil!


Hari ini Little Bug memang berencana ikut sahur dan latihan puasa, jadi saya siapkan Humble Hud-huds pada sebuah nampan di ruang seni kami. Setelah sholat subuh, si Hubs tidur lagi, Baby Bird juga masih tidur, jadi kesempatan yang tepat nih! Aktivitas dengan burung Hud-hud ini bisa menjadi special bonding time antara saya dengan Little Bug di pagi hari saat Baby Bird masih tertidur (walaupun nantinya ada aktivitas yang bisa juga dilakukan barengan, ini hanya “nilai plus” aja hehehe). Dengan bersemangat, saya bilang ke Little Bug kalau “kita kedatangan tamu istimewa nih! Lihat yuk siapa!” Trigger kalimat itu alhamdulillah cukup menarik perhatian Little Bug dan dia langsung ke ruang seni untuk melihat “siapa” yang “datang”...


 Saya sudah menyiapkan Humble Hud-huds beserta surat pendek yang dijepit dengan paruh mereka. Selain itu, saya siapkan stik es krim sebagai sarana aktivitas pagi ini—membantu mereka membuat sarang! Jadi selain mengajak Little Bug untuk memberikan nama panggilan buat mereka dan membantu mereka membuat sarang, dia juga diajak untuk membuat sesuatu untuk teman Hud-hud yang barusan pindahan juga. *Kebetulan ada teman keluarga kami yang baru pindah ke rumah baru, jadi sekalian dijadikan “target” perbuatan baik hari ini, hehehe*

Duo burung Hud-hud diberikan nama: “Happy” dan “Hipa”... lucu kan? :)  Lalu kami mulai proses membuat sarangnya, yang butuh sedikit brainstorming terlebih dahulu sebelum mulai menempel-nempelnya, seperti: mau berbentuk seperti apa, ukurannya sebesar apa, tingginya nanti seberapa, cara menyusun/membuatnya seperti apa, dsb. Lalu sesudah ketemu bentuk dan cara menyusunnya, saya dan Little Bug bekerja sama membuat sarang tersebut dengan menggunakan paruh dari si Happy dan si Hipa, jadinya seperti permainan ketangkasan deh, hehehe! Setelah sarang burungnya selesai, Little Bug melanjutkan kreasinya dengan berinisiatif memberikan telur-telur untuk setiap burung Hud-hud. Lalu kami juga membuat sesuatu untuk anak teman kami yang baru saja pindah ke rumah baru juga agar dia bisa merasa cepat betah & nyaman di rumah barunya.



Proses pembuatan sarang bisa digunakan untuk mengajarkan:

  •  Konsep matematika sederhana: bentuk segi tiga, segi empat, segi lima, dan segi enam. Menghubungkan ukuran burung dengan bentuk, ukuran, dan tinggi sarang yang diperlukan supaya kedua burung muat dalam 1 sarang. Sempat juga muncul opsi untuk membuat 2 sarang, masing2 burung mendapat 1 sarang, tapi nggak jadi. Setiap burung juga ingin diberikan telur, jadi melatih konsep hitung sederhana dan penambahan/pengurangan sederhana.

  • Kemampuan motorik halus: menggunakan “paruh” burung untuk menjepit batang-batang es krim. Menggulung bentuk bulat dari kertas Kokoru.

  • Koordinasi mata-tangan: menempelkan stik es krim & kertas gulungan Kokoru.

  • Sosioemosional: kerjasama membuat sarang, belajar bergiliran ketika menempel stik es krim dan mengoleskan lem pada stik es krim; belajar empati dengan membayangkan perasaan para burung (dan juga anak teman keluarga kami) yang baru saja pindah ke rumah baru.


Alhamdulillah, Little Bug dengan semangat membangunkan si Hubs dan asyik cerita tenang Happy dan Hipa, lalu berulang kali bilang kalau dia nggak sabar lihat besok pagi akan ada surat apa dari mereka, hehehe... :)

Oh ya, ada juga doa yang berhubungan dengan soal “rumah” ini yang bisa diajarkan ke anak-anak, QS Nuh 71: ayat 28,

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu-bapakku, dan siapapun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang beriman laki-laki dan perempuan...”

Semoga bisa menginspirasi ya! So happy that it’s Ramadhan! In shaa Allah sampai jumpa di posting selanjutnya... kira-kira apa yaa isi surat yang akan dibawa oleh Happy & Hipa? Hmmm.... :)

Tuesday, June 24, 2014

The Humble Hud-huds : Tamu Istimewa di Bulan Ramadhan



In shaa Allah, sebentar lagi bulan suci Ramadhan akan segera tiba. Kami ingin mengajarkan anak-anak bahwa bulan yang istimewa ini adalah kesempatan bagi kita untuk lebih giat lagi dalam berbuat kebaikan dan menebar manfaat, tentunya selain beribadah secara pribadi. Jadi, (latihan) puasa buat Little Bug bukanlah alasan untuk bermalas-malasan atau gogoleran di tempat tidur, apalagi di depan TV... tapi, kami ingin mengajaknya dengan cara yang agak sedikit berbeda dan moga-moga lebih menarik buat dia (dan Baby Bird juga).

Alhamdulillah, teringat oleh posting blog yang diadakan oleh salah satu blog parenting yang saya ikuti, mereka menciptakan ide The Kindness Elves dalam rangka menyambut hari Natal. Nah berhubung ini Ramadhan, cukup ide mereka buat inspirasi dan setelah sedikit baca-baca, akhirnya saya memilih untuk menghadirkan..... 2 ekor burung Hud-hud, dari kisah Nabi Sulaiman a.s. Saya menyebut mereka "The Humble Hud-huds", artinya burung Hud-hud yang bersahaja... karena kalau berbuat & menyebarkan kebaikan, nggak perlu berkoar-koar toh?

Ya, burung Hud-hud bersifat peka terhadap keadaan sekeliling dan cocok untuk mengajak anak-anak melakukan berbagai kebaikan. Cara membuatnya pun mudah & murah, cukup dengan jepitan baju, mata plastik (atau bisa juga digambar dengan spidol), dan potongan kecil kain flanel/perca/helai bulu imitasi--- sesuai dengan persediaan yang ada aja :)  Ujung jepitan baju menjadi “jambul” dari burung Hud-hud, ujung satunya lagi menjadi paruhnya yang nanti bisa dijepitkan ke berbagai macam benda atau ke surat kecil dari mereka, sesuai dengan aktivitas ajakan pada hari itu.



Nah, aktivitasnya terserah kepada keluarga masing-masing, intinya aktivitas yang mengajak kepada berbuat baik bagi orang lain. Bisa dilakukan setiap hari atau sesempatnya/sesuai dengan sikon setiap keluarga. Beberapa ide misalnya mengajak anak-anak untuk membantu dalam pembuatan makanan untuk berbuka puasa keluarga, mengajak berbagi makanan untuk berbuka puasa untuk tetangga/masjid, mengajak mendonasikan beberapa mainan/buku untuk anak yatim, mengajak membuat prakarya untuk diberikan ke eyang/teman,  mengajak bersedekah, dsb. Jadi, orang tuanya kudu kreatif dikit hehehe... ;p

In shaa Allah, saya akan berusaha mem-post kegiatan bersama burung Hud-hud yang kami lakukan.. yang pertama sepertinya akan memulai dari awal, yakni mengajak anak-anak membantu burung Hud-hud membuat sarang mereka (dari stik es krim) dan memberikan nama. Nah bisa juga disisipkan kisah Islam atau ayat Al Qur’an atau hadits yang berkaitan dengan aktivitas hari itu.. dimulai dari kisah burung Hud-hud di pasukan Nabi Sulaiman a.s. :)



Jadi, selamat merencanakan kegiatan Ramadhan...  jangan lupa bisa sekalian download gratis Jurnal Ramadhan untuk anak dari blog ini juga! Ganbarimashou!!!

Saturday, May 31, 2014

Free Printable pertama kami

Setelah sekian lama menggunakan free printable dari blog & website lain, kini saatnya kami mulai membuat free printable sendiri untuk dibagikan buat teman-teman semua. Tujuannya hanya 1: berbagi manfaat buat sesama.  Jadi, doakan saja saya bisa mengatur waktu dengan lebih terampil lagi, sehingga Allah mudahkan saya untuk buat printable-printable lainnya, amiiin....

Anyways, inspirasi di balik printable ini adalah printable gratis "Kids Ramadhan Journal" yang diberikan oleh blog A Muslim Homeschool. Nah, berhubung Little Bug baru 5 tahun dan juga belum banyak menggunakan Bhs.Inggris dalam kegiatan belajarnya, jadi sepertinya dia nggak akan mendapatkan manfaat yang maksimal dari jurnal tersebut. Jadiiii setelah sekian tahun nggak menggunakan program Word selain buat menulis blog, kembali saya mengasah ingatan dan keterampilan seperti jaman kuliah duluuu hehehe :D

Alhamdulillah, jadilah Jurnal Ramadhan sederhana yang inshaaAllah bisa digunakan anak-anak dari usia 4 tahun - SD. Isinya banyak mewarnai--- dari cover depan hingga halaman paling akhir, yang terdapat tempat khusus buat menggambar (atau bisa juga tempel foto). Nah, begini cara penggunaannya:

  • Halaman cover: warnai cover sesuka anak dan tuliskan namanya di bagian bawah. 
  • Halaman pembuka: ada space buat menempel foto anak di awal Ramadhan atau bisa juga menggambar potret diri sendiri, atau menggambar apapun yang anak inginkan yang berhubungan dengan bulan Ramadhan.
  • Halaman Target Ramadhan: nah pada bagian ini anak-anak perlu dibantu untuk berdiskusi menentukan target apa yang ingin mereka capai selama bulan Ramadhan tahun ini. Target tidak perlu muluk-muluk... yang penting sederhana, konkrit, dan sesuai dengan kemampuan anak. Ada 5 balon untuk 5 buah bidang target: sholat, Al-Qur'an, puasa, sedekah, dan lain-lain. Ada baiknya orang tua juga berdiskusi dengan anak mengenai bagaimana mencapai target tersebut,, jadi anak juga nggak asal-asalan membuat target hehehe. 
  • Halaman harian: print 1 halaman untuk setiap hari di bulan Ramadhan, tulis hari ke-berapa dan di bawahnya tulis tanggal masehi-nya. Selanjutnya, anak tinggal mewarnai bagian-bagian pada halaman ini sesuai dengan kegiatannya sehari-hari. Pada kotak "Perbuatan Baikku Hari Ini", anak diajak untuk melakukan sedikitnya 1 perbuatan baik untuk orang lain, sederhana saja sudah cukup. Misalnya, membantu Mama membereskan meja makan setelah sahur, mengantarkan makanan berbuka untuk tetangga, dsb. Pada kotak "Keberhasilanku Hari Ini", anak disemangati untuk terus mencapai keberhasilan baru. Misalnya, berhasil menghafal 1 ayat Al Qur'an, berhasil belajar 2 huruf hijaiyah, berhasil naik sepeda tanpa jatuh, dsb. Jadi, berpuasa di bulan Ramadhan bukan alasan untuk bermalas-malasan.. justru harus memacu diri untuk lebih baik lagi dimulai dari bulan yang penuh rahmat ini. Dan terakhir, kotak "Ayat Al Qur'an atau Hadits hari ini" adalah ajakan buat orang tua dan anak untuk sama-sama memilih 1 ayat atau 1 hadits untuk direnungkan setiap hari. Bisa saja dihafalkan ataupun tidak, yang penting ayat atau hadits tersebut didiskusikan maknanya dan aplikasi atau hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Ayat atau hadits yang dipilih bebas, nggak harus berkaitan dengan bulan Ramadhan juga nggak apa-apa.. yang penting adalah interaksi antara kita dengan Al Qur'an dan Hadits, sehingga menjadikan mereka bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Semoga kegiatan menelaah Al Qur'an dan Hadits ini bisa tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari bahkan setelah bulan Ramadhan usai :)
  • Halaman penutup: ada space buat menempel foto anak saat Idul Fitri atau bisa juga menggambar potret diri sendiri/keluarga, atau menggambar apapun yang anak inginkan yang berhubungan dengan momen Idul Fitri. Di bawahnya ada kotak tempat renungan saat Ramadhan usai, silahkan didiskusikan kira-kira apa saja kesan dan pemikiran saat berakhirnya Ramadhan.. boleh juga diisi doa dan harapan hingga inshaaAllah Ramadhan tahun berikutnya.
Nah, jurnal ini tidak dimaksudkan sebagai alat evaluasi yang memberatkan anak. Intinya ada catatan khusus untuk mengenang Ramadhan tahun ini dan sebagai sarana mendekatkan anak dengan orang tua dalam sebuah kegiatan bersama saat bulan Ramadhan. Gunakanlah kesempatan ini untuk menyemangati anak dalam berkegiatan dan hargailah perbuatan baiknya dan keberhasilannya walau sesederhana apapun.

Jadi, semoga jurnal ini bermanfaat buat semua... dan silahkan di-share link ke halaman blog ini jika ada yang mau download. Karena GRATIS, mohon jangan sampai ada yang menyalahgunakan ya... Semoga Allah terima niat saya untuk berbagi ilmu yang bermanfaat, amiin...

Untuk men-share file ini dengan orang lain, mohon di-share link-nya via blog Our Learning Family yaa... thank you!
















Saturday, May 24, 2014

Pieces of the “Why Homeschool?” Puzzle



 Semua bermula ketika ada ajakan gathering teman-teman SMA ke Pulau Pramuka. Little Bug sangat, sangat, sangat (!!!) antusias dengan rencana liburan singkat ke laut itu! Memang, dari dulu dia sudah ada minat yang besar terhadap semua hal yang berbau laut: hiu, paus, ikan-ikan, dan pantai. Mungkin karena si Hubs juga “doyan” laut, jadi modeling-nya berhasil “ditransfer” ke Little Bug hehehe :D Anyways, demi memaksimalkan pengalaman liburan itu sebagai pembelajaran (ini pemikiran emak homeschool banget deh), maka awal bulan ini kami mulai tema bulanan tentang laut. Saya tiba-tiba teringat kalau ibuku sepulang haji memberikan buku tentang scientific wonders in Oceans & Animals yang ditinjau dari isi (berbagai ayat) Al-Qur’an yang relevan (She’s the best mom, right? Alhamdulillah!). Selama ini buku itu duduk manis di musholla rumah (karena masih panjang antrian buku lainnya yang ingin saya baca), tapi baru kemarin-kemarin ini saya mulai mencari-cari mana isi yang bisa saya share ke Little Bug, yang kira-kira akan bisa dia bayangkan dan pahami (remember, he’s still 5 yo). Nah, sejak saat itu malah saya-nya yang keterusan (baca). Dan alhamdulillah...

Saya jadi sadar bahwa selama ini, saya belum benar-benar berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sebagai seseorang yang beruntung dilahirkan dalam keadaan otomatis beragama Islam, saya selama ini nggak melalui proses “ilmiah” dalam mencari tahu tentang daya tarik Islam itu sendiri. Beda dengan para mualaf yang ada proses “aha! Moment”-nya alias diberikan hidayah dari Allah SWT, yang dari cerita-cerita yang saya baca, banyak dari mereka yang masuk Islam diawali karena baca ayat Al-Qur’an yang membuka pikiran dan hati mereka.  Dan pagi ini, saya baru menyadari.... mungkin Allah dengan cara-Nya “menyuruh” saya homeschooling salah satunya supaya bisa lebih dekat dengan-Nya dan melibatkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan saya pribadi maupun (inshaaAllah) dalam kehidupan anak-anak.... masyaaAllah!

Kok bisa saya berpikir ke arah situ? Well, seperti yg pernah saya ceritakan di awal, keputusan untuk homeschooling waktu itu diambil setelah proses istikhoroh dan pertimbangan yang cukup lama. Keputusan yang berat karena waktu itu Little Bug sudah dalam proses masuk ke TK setelah 2 tahun di waiting list—TK yang ideal sesuai tujuan pendidikan keluarga kami saat itu. Tapi entah kenapa muncul keraguan dari niat yang tadinya sudah mantep... yang setelah “berproses” akhirnya berakhir dengan permulaan baru untuk mencoba homeschooling. I didn’t know how I was going to do it or wether or not it was going to work for our family, but it felt like the right thing to do. Nggak kalah penting sudah kulonuwun sama yang Maha Mengetahui.

Nah, pagi ini, saya berpikir.... kalau saja...

  • Kami dulu nggak harus pulang dari Jepang, anak-anak pasti akan saya masukkan ke sekolah Jepang.. dan saya mungkin nggak akan berpikir untuk memperkaya kehidupan mereka dengan Al-Qur’an—mungkin hanya sebatas ngaji dan hafalan surat pendek saja.

  • Kami tetap memasukkan Little Bug ke sekolah ideal itu, saya tentunya nggak akan pusing mikir untuk mengajarkannya agama, karena ada mindset bahwa sudah “all-in” dengan paket pembelajaran di sekolah.

Kalau saja saya nggak homeschool, saya nggak akan berusaha mencari sumber-sumber lainnya untuk mengajarkan tentang Islam ke anak-anak. Karena saya pengetahuannya minim, ditambah pelajaran agama waktu sekolah duluuu yang sudah “banyak lupa” , saya (awalnya) terpaksa untuk belajar lagi... for the kids sake... but it’s actually for my own sake. Kemarin waktu nonton film kartun bareng Little Bug tentang “sifat-sifat Allah”, saya ikutan belajar lagi.. waktu nyari ayat Al-Qur’an tentang lapisan laut, saya jadi berdoa semoga anak-anak bisa melihat kalau Al-Qur’an itu bukan sekedar bahan hafalan atau kewajiban baca semata, tapi benar-benar the most important book in our lives!

Memang, ada opsi untuk memasukkan anak-anak ke TPA buat belajar ngaji, atau madrasah buat belajar agama, panggil guru ngaji ke rumah, masuk ke rumah hafidz, dsb. Ya, semuanya inshaaAllah ada ahli yg bisa bantu. Tapi karena proses belajar di rumah yang mulai terasa hambar oleh ilmu thok (saja—dalam bhs.jawa), maka alhamdulillah hidayah (menurut opini awam saya) datang dalam bentuk kebutuhan untuk membuka Al-Qur’an dan mempelajari mukjizat ilmiahnya. Setidaknya, itu sebuah permulaan bagi saya.. bagi homeschooling kami. Semogaaaa kelak ada bagian (atau keseluruhan) isi Al-Qur'an yang mereka bisa ingat.. atau siapa tahu mereka kelak bisa mengungkap lebih banyak ilmu Allah yang sudah ada di dalam Al-Qur'an. But for the main part, I'll be happy if at least they want to *enthusiastically* open the Al-Qur'an daily plus read and reflect about the meaning.

Salah satu keuntungan homeschooling adalah penyesuaian tujuan homeschooling atau pergeseran basis kegiatan sehari-hari bisa dilakukan kapan saja, sesuai dengan perkembangan keluarga—dalam hal ini, perkembangan saya pribadi dalam hubungan saya dengan Allah SWT. Sepertinya ibuku dulu pernah mendoakan supaya saya bisa lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an... saya nggak begitu ngeh waktu itu, tapi mungkin ini adalah jawaban dari doanya, wallahualam. Saya jadi menyadari, mungkin inilah (sebagian) alasan Allah waktu itu membuat saya ragu-ragu untuk memasukkan Little Bug ke sekolah formal itu. Mungkin Allah nyuruh saya untuk belajar lagi... and what better way to do it then to learn with my kids? MasyaaAllah!

Jadi, saya hanya ingin share cerita ini sebagai sharing pengalaman saja, bukan untuk pamer apalagi mengintimidasi. Semua keluarga punya alasan dan tujuan masing-masing. Dan nggak harus homeschool juga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT--this is just my own circumstances. Barangkali saja ini bisa membantu memberikan insight buat siapapun di luar sana yang lagi “galau” tentang homeschooling. Ya, tidak semua keluarga akan cocok dengan homeschooling, dan nggak semua akan memiliki tujuan yang sama atau menggunakan metode yang sama. But if it feels right, then trust Allah.. and pray... karena Allah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaNya.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah*. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Luqman: 27).

*Ilmu-Nya dan hikmah-Nya, artinya semua itu tidak cukup untuk menuliskan kalimat Allah.