Showing posts with label little bug. Show all posts
Showing posts with label little bug. Show all posts

Friday, March 24, 2017

Retelling a story

We've been going through some routine changes lately in our homeschool. Partly because of having Baby Squirrel plus Little Bird's activities as well, and the other partly because of Big Bug getting bigger and more able to learn independently for some activities.

Now Little Bird reads the Iqro Book everyday, and while she does that, Big Bug reads an Islamic story by himself and will retell the story to me when Little Bird finishes her Iqro Book page. We use the retelling story "Scoop Chart" from thisreadingmama's blog and I'm really happy to see his progress of retelling stories!

I always tell him that no matter what he chooses to do later on in life, he'll need the language skills to communicate, collaborate, and hopefully bring good to himself and others. So even if he still does groan and complain from time to time, this Mama just smiles back and tells him "ganbatte!" Hehehe...

Wednesday, October 19, 2016

Having fun with process art

By Arum Budiani
Oct. 19, 2016

Weekend kemarin, anak-anak melakukan process art berupa storytelling painting. Process art, sesuai namanya, adalah kegiatan seni yang lebih terfokus pada proses pembuatannya--bukan hasil akhirnya. Jadi, tidak ada tujuan produk jadi tertentu seperti halnya karya seni biasa. Anak-anak bisa membuat karya seni dengan santai dan sesuka hati mereka dan pengalaman ketika berkreasi itulah yang menjadi esensi kegiatan ini.

Storytelling painting kali ini menggunakan aneka karakter mainan yang memiliki "jejak".. jadi anak-anak bebas menggunakan cat tempera untuk membuat jejak kaki/roda di atas kertas yang besaaar! Yup, saya sengaja mengeluarkan kertas ekstra besar untuk kegiatan ini... karena permukaan yg lebih luas juga memberikan kesan bahwa mereka punya kebebasan lebih untuk berkreasi sesuka hati, hehehe! Cat temperanya juga yang 100% washable plus dialas taplak plastik yang besar pula, jadi easy cleanup afterwards. Segitu, Si Hubs masih kaget melihat "berantakannya" hahaha... maklum, biasanya kami melakukan process art di kala weekdays.. jadi dia kan di kantor, sampai rumah dah terima produk akhirnya hahaha!

Diawali dari jejak harimau.. lalu ada penjelajah yang mengikutinya.. ditambah dinosaurus, pinguin,  mobil-mobil, bahkan sebuah bola bekel juga ikut meninggalkan jejaknya! There's no limit on their imagination, just make sure you have enough paper and paints, hehehe!

Wednesday, December 30, 2015

Sunat 101

Ditulis oleh Arum Budiani, 
pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

Alhamdulillah, Little Bug tanggal 25 Desember kemarin sudah disunat, yeayy! Liburan sekolah memang identik dengan sunatan, karena kebanyakan orang tua memilih waktu libur yang agak lama supaya pemulihan pascasunat bisa berjalan dengan santai, tanpa memotong waktu sekolah. Lah, kami kan homeschool, apa bedanya? Well, Little Bug ada jadwal les music yang sayang kalau harus terlewati, jadi kami memilih ketika lesnya juga libur 2 minggu hehehe J

Anyways, saya ingin berbagi beberapa tips yang menurut kami bisa membantu memperlancar prosedur sebelum, ketika, dan sesudah sunat pada anak. Sebelum proses sunat, saya mencari-cari artikel di internet soal sunat dan yang ketemu banyak malah iklan sunat, hikz.. jadilah bertekad berbagi pengalaman setelah sunat supaya ortu yang kebingungan seperti saya tidak bernasib sama hehehe J  Yang perlu diingat hanya bahwa setiap anak berbeda-beda, jadi silahkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga & anak masing-masing ya J  


Sebelum Sunat

  •  Kami mulai sounding tentang sunat itu jauh sebelum sunat dilakukan… mungkin setahun atau 2 tahun sebelumnya. Soundingnya nggak terus-terusan, hanya pas sikon mendukung dan juga sambil meyakinkan kalau kita percaya Little Bug akan berani melakukannya saat dia siap. Nah, kapan mau sunatnya terserah si anak, makanya soundingnya mulai dari lama (saat ini Little Bug 6,5thm, kami sudah mulai sounding sejak umur 4thn an).  Kalau ada temannya yang sunat, kami beritahu juga dan kami ajak berkunjung beberapa hari setelah si anak sembuh untuk memberikan ucapan selamat sekaligus saya memperlihatkan kalau pasca sunat insyaaAllah akan baik-baik saja.


  • ·         Isi sounding pada intinya adalah memperkenalkan bahwa sunat itu ada dan harus mereka lalui. Tidak lupa kami menjelaskan kenapa sunat itu harus dilakukan, baik dari segi agama maupun kesehatan. Dan dari segi kesehatan, kami juga menjelaskan kalau lebih cepat lebih baik, karena semakin lama maka semakin rawan untuk kotoran terselip di bagian ujung alat kelaminnya meskipun kita selalu berusaha membersihkannya dengan sebaik mungkin.


  • ·         Kami pribadi memberitahu Little Bug bahwa kami berharap dia bersedia sunat sebelum umur 7 tahun, akan tetapi pemilihan waktunya terserah dia kapan dia siapnya, baik sebelum atau saat umur 7 tahun itu. Itu preferensi pribadi ya, karena kami anggap 7 tahun sudah mulai lebih banyak mendalami Islam sehingga inginnya sudah disunat sebelum atau pada usia tsb.


  • ·          Kita jelaskan prosedurnya secara sederhana, baik pengertian tentang apa yang akan dilakukan maupun perbedaan antara beberapa metode sunat. Kami memberikan 2 pilihan metode untuk Little Bug (konvensional/bedah di RS vs clamp) dan dia akhirnya memilih metode clamp setelah melihat beberapa temannya  memilih metode yang sama plus dia lebih nyaman sunat dilakukan di klinik kecil daripada di RS. Silahkan mencari info sebanyak-banyaknya mengenai berbagai metode sunat (dari internet, ke tempatnya langsung, tanya ke teman yang sudah menyunatkan anaknya, tanya dsa keluarga, dsb). Semua metode ada risikonya, plus minusnya... pilih yang paling sesuai buat keluarga dan anak, perbanyak istikhoroh supaya tenang dalam mengambil keputusan.


  • ·         Sounding disesuaikan isinya dengan sikon yang ada. Di awal-awal penjelasannya masih sederhana , makin anaknya besar maka sedikit-sedikit ditambah penjelasannya dengan yang lebih detail. Jadi pemahaman si anak dibangun sedikit demi sedikit tentang prosedur ini.


  • ·         Kami tidak berbohong mengenai rasa sakitnya. Nggak didramatisir juga (please, jangan yaaa) tapi dijelaskan apa adanya. Kami jelaskan akan sakit sebentar saat disuntik anastesi, lalu pas prosedur sunat tidak akan terasa apa-apa karena efek suntikan anastesi tadi. Sakit berikutnya ketika efek obat hilang, itupun akan terbantu oleh obat pengurang rasa sakit. Dan kami dengan lembut meyakinkan bahwa kami akan menjalankan seluruh proses bersama-sama--- dia tidak akan sendirian.


  • ·         Setelah Little Bug bersedia disunat, kami menentukan tanggal. Nah ini kami putuskan berdasarkan 2 hal: jadwal yang tersedia di tempat sunat dan jadwal yang memungkinkan si Hubs untuk cuti. Yes, little boys need their dads for this one! Kalau seperti si Hubs yang susahhhh cuti, bisa diakali dengan pilih sunat pada hari Jum’at, supaya bisa meminimalisir jumlah hari cuti. Pengalaman dengan Little Bug, yang beraduh-aduh ria itu hari pertama dan hari ke-2, selanjutnya udah mulai terbiasa pada hari ke-3. Jadi usahakan ada si ayah pada hari pertama sampai ke-3, minimal sampai hari ke-2. Untuk jadwal dari tempat sunat, semakin awal semakin baik supaya anak nggak jiper duluan kalau-kalau pasien sunat sebelumnya teriak-teriak/menangis heboh. Atau kalau dapat jadwal yang agak siang, mungkin bisa diakali dengan menunggu di mobil sampai saat gilirannya.


  • ·         Tanggal sudah oke, lalu apa lagi?  Have fun together!!!! 1-2 minggu sebelum sunat, saya sengaja ajak Little Bug jalan-jalan atau main apapun kesukaannya. Ya tentunya diatur sedemikian rupa  supaya kondisi anak-anak tetap fit sebelum sunat. Intinya, si anak dibuat happy dulu sebelum nanti pemulihan pascasunat di rumah. Dengan menghabiskan waktu bersama melakukan apa yang dia suka, kita bisa meningkatkan bonding dengan anak-anak dan itu diharapkan bisa mempermudah anak-anak untuk lebih kooperatif saat prosedur sunat maupun saat pemulihannya. Nggak perlu mahal-mahal atau jauh-jauh, yang penting menghabiskan waktu melakukan apa yang mereka suka.


  • ·         Kami juga bersama-sama menyiapkan kegiatan untuk dilakukan di rumah saat pemulihan. Kita bisa memilih mainan/games untuk dimainkan bersama, buku-buku untuk dibaca bersama, film untuk ditonton bersama, dst. Di sini juga ada bagian dari negosiasi reward pascasunat hehehe… J Sesuaikan dengan kegemaran anak dan yang kira-kira bisa mengalihkan perhatian dari rasa sakitnya. Little Bug sangat suka Lego, jadi itu yang menjadi andalan kami kemarin (dan berhasil, dari pagi sampai sore ya nguplek aja terus hehehe). Selain itu, kami pada dasarnya menerapkan pembatasan penggunaan gadget dan screen-time, tapi kami “sesuaikan” untuk hari pertama dan ke-2 pascasunat kemarin J


  • ·         Jangan lupa siapkan obat merah, cotton bud, tissue basah, tissue kering, dsb sebagai “peralatan tempur” ketika anak nantinya buang air kecil pasca sunat. Tanyakan pada dokter apa saja yang harus disiapkan, sesuai dengan metode sunat yang digunakan.



Saat Hari-H Sunat

  • ·         Apapun yang terjadi, pasang muka tenang dan senyum! Kalau kecemasan di hati kita berlebihan, itu akan dirasakan oleh anak-anak, trust me! Anak-anak butuh didampingi mama-papa yang tenang dan berpikir positif terhadap Allah. Kalau mama-papanya cemas berlebihan, bagaimana anak akan bisa tenang mengandalkan kita untuk mendampinginya melalui seluruh prosedur sunat?


  • ·         Kalau anak merasa cemas, dengarkan dia dan katakan kalau wajar merasa cemas sebelum tindakan medis apapun. Kita juga bisa jujur dengan anak kalau kita juga ikut merasa cemas menanti prosedur sunat, lalu secara lembut mengingatkan kalau Allah selalu bersama dengan kita dan yakinkan kalau kita akan melalui ini bersama-sama sebagai sebuah tim.


  • ·         Ini mungkin terdengar seperti pesan sponsor, tapi memang sebaiknya yang mengantar sunat adalah orang-orang terdekat saja, jangan 1 RT, hehe ;p Takutnya semakin banyak pengantar malah semakin besar tekanannya… dan semakin rame di tempat sunat haha! Eyang-om-tante-pakde-bude-sepupu-tetangga-dst bisa diarahkan untuk menemui di rumah saja setelah selesai prosedur sunatnya. Kehebohannya di rumah aja ya, supaya nggak nambah deg-degan sebelum masuk ruang sunat hehehe J


  • ·         Bawa bekal makanan ringan+ minuman yang disukai anak. Obat bius memiliki masa berlaku dan obat pereda nyeri sebaiknya diberikan beberapa saat sebelum efek bius benar-benar habis. Tanyakan hal ini kepada dokter yang menjalankan operasi, jangan lupa! Mananan dan minuman berfungsi agar anak bisa makan & minum sebelum mengkonsumsi obat pereda nyeri.


  • ·         Dampingi dan pandu anak selama prosedur sunat. Jelaskan dengan nada tenang dan secara sederhana apa yang akan dokter/perawat lakukan step-by-step sesaat sebelum dilakukan supaya anak nggak merasa bingung/kaget. Dan ingatkan kembali bahwa dia akan disuntik obat bius sehingga nggak akan terasa apa-apa ketika prosedur sunat dilakukan. Pengalaman kemarin, Little Bug menjerit-jerit saat disuntik anastesi… selebihnya bisa tenang karena sudah baal, hehehe! Kalau anak jejeritan dan menangis meronta, jangan ikut panik! Tetap berusaha tenangkan dan yakinkan klo kita ada di sampingnya. Just hang in there, your kid needs you more than ever to stay calm… so he can stay calm!


  • ·         Last but not least, batasi foto-foto saat prosedur sunat. It’s a very personal procedure and your kid needs you more than the photos. ‘Nuff said.



Setelah Sunat

  • ·        Ingat bekal makanan/minuman yg dibawa? Makan dan minum supaya anak bisa minum obat pereda nyeri beberapa saat SEBELUM efek obat bius hilang. Lumayan bisa mengurangi drama di awal-awal masa pemulihan.


  • ·         Papa/Mama statusnya on stand-by pas hari pertama abis sunat. Kalau Little Bug apa-apa maunya dengan papanya, jadi si Mama urus-urus yang lain hehe. Kalau para ayah mengeluh capek, kita ingatkan dengan lembut kalau sunat hanya sekali seumur hidup (well, dikalikan dengan jumlah anak laki-laki yang dimiliki ya) dan ini saatnya mereka memanjakan si anak jadi dinikmati aja hehehe!


  • ·         Ingat semua kegiatan yg disiapkan sebelum sunat sebagai aktivitas pascasunat? Bring them on! Mulailah dengan kegiatan yang paling bisa mengalihkan perhatian anak dari rasa sakitnya. Kemarin kami menyediakan beberapa film dan games di tab pas awal-awal, karena itu yang lumayan ampuh. Selain itu, bermain Lego juga ampuh menyerap perhatiannya untuk waktu yang cukup lama, hehe J Sesuaikan dengan kesukaan masing-masing anak ya J

Little Bug main Lego kesukaannya pascasunat, bisa seharian! Caption kecil: Little Bug apa-apa maunya sama si Hubs, dari bangun tidur sampai tidur lagi :)


  • ·         Kami pribadi belum merencanakan kapan atau dalam bentuk apa syukuran sunatnya. Fokus di pemulihan dulu supaya perhatiannya nggak terpecah… anak-anak lebih butuh kehadiran kita dan keluarga terdekat di saat pemulihan daripada perayaan dengan banyak orang-orang yang belum tentu ia kenal baik J


  • ·         Kalau saran untuk makan & istirahat yang cukup mah udah umum ya. Yang penting kita juga jangan overly strict atau galak atau protektif dengan anak selama masa pemulihan. Usahakan tetap menciptakan suasana yang positif dan semangat untuk sembuh sehingga bisa cepat pulih lukanya. Anak dibuat se-happy mungkin meski sedang bergelut dengan rasa nyeri… yakinkan dia kalau insyaaAllah dia bisa melewatinya dan kita yang menjadi penyemangat no.1, bukan pihak yang menakut-nakuti dengan segala macam ancaman dan scenario menyeramkan J


Special notes:

·         Orang bilang, sunatan adalah “hajatnya anak laki-laki”. Bagi saya, pengertian akan maknanya “hajat anak laki-laki” tersebut bukan pada besarnya perayaannya, tapi lebih kepada besarnya perhatian kita kepada si anak laki-laki kesayangan sebelum, pada saat, dan sesudah prosedur sunat tsb. The greatest gift we can give is our attention and our presence, not presents. Untuk Little Bug, dia bisa menghabiskan waktu banyak dengan papanya yang khusus cuti untuk hari sunatnya dan setiap malam dikipasin manual (ala tukang sate) sampai dia tertidur pulas (padahal dah pake AC hahaha). Saya juga bisa menghabiskan waktu dengannya sebelum sunat, mengajaknya seharian jalan-jalan ke taman yang sangat ia sukai dan makan apa yang dia gemari. Eyang-eyangnya pada datang ke rumah dan memberikan perhatian secara bergantian. Kami merasa semakin dekat dan kompak sebagai sebuah keluarga yang telah melewati proses ini bersama. Itulah makna yang sesungguhnya, “hajat” yang paling penting J

Semoga pengalaman dan hikmah yang kami ambil dari pengalaman sunat Little Bug bisa membantu ya J  Stay calm and enjoy the once in a lifetime process as a family J



Sunday, March 22, 2015

The Essentials

Little Bug took part in his 1st ever piano competition today. Yes, he's just turned 6, the baby of the competition and he smallest too, hahaha...

No, i'm not some super-ambitious tiger mom with the eye on the trophy. But yes, I am the mom who wants her son to learn about intrinsic motivation from an early age. I want Little Bug to start learning about personal goals... personal targets.. and benchmarking against his own previous achievements. Well, not that he has been in a competition before, but he sure has come a long way from the basic do-re-mi.  Heck, just last month I wasn't even sure if he could be able to finish learning the song for the competition, hehehe!

The song was a piece titled "March" by Dimitri Shostakovich. We chose a piece that was upbeat and goes along with his age: young and bubbly. I asked his teacher for a piece that wasn't too easy or too hard, but with enough challenge to scaffold his piano playing abilities. Alhamdulillah, he rose to the challenge and persevered, although i had to give him a pretty serious encouragement midway during his 2-month practice before the competition.

I told him... that what really mattered was his perseverance in practicing. His confidence in playing. His courage to take part in the competition, even though he barely made the minimum age requirement and had no previous experience. His endurance through the hard parts of the song. And mostly, it's not about winning, but about challenging your own self and striving to be better than before. Winning is just a bonus... but that's not the heart of the reason behind competing...it's against yourself and your own previous achievements, others are just inspiration.

So, now as I'm writing this, we're still in the concert hall, listening to other piano geniuses displaying their hard work. The trophies are lined up... and thankfully Little Bug performed with more ability than before. He slipped up a bit but didn't stop,just calmy fixed it and continued with his song, finishing with a lift of his small captain's hat and a big grin on his cheerful face. I'm thankful Little Bug can be a part of this.. i hope he'll be inspired.. and be humbled, always.

Saturday, August 30, 2014

Life long learning

Tadi pagi, saya mendampingi Little Bug latihan keyboard. Sejak sementara dialihkan ke les privat sembari nunggu guru kelasnya recovery, progress-nya Little Bug memang terasa agak lebih cepat. Biasanya main lagu berdasarkan repetisi & pendengaran not (sembari belajar baca) dan agak pelan, ini jadi cepat karena fokusnya secara individual. Biasanya 1 lagu untuk beberapa kali pertemuan, ini bisa 2-3 lagu dipelajari setiap sesi les, meskipun hanya 30 menit saja.
Nah tadi waktu berlatih lagu baru, saya rada2 lupa bin keder baca not baloknya, Little Bug juga lupa melodi lagunya. Udah bukan di kunci C saja, tapi ada kunci G dan sekarang kunci F, tangan kanan dan kiri. *help me* Jadilah saya mencari tahu bersama-sama dengan dia.. nyoba-nyoba, trial and error. Alhamdulillah akhirnya bisa dimainkan, dan saya baru ngeh.. proses bingung dan cari tahu tadi beserta trial and error yang terjadi sebenarnya merupakan contoh yang baik untuk Little Bug. Bahwa kita belajar sepanjang hayat. Bahwa ilmu Allah itu sangat luas. Bahwa kita nggak harus tahu semuanya... apalagi gak usah sok tahu. It's okay to not know... and it's okay to make mistakes and try again. Dan bahwa seorang emak hs nggak harus bisa semua-mua-nya... karena bisa dipelajari sama-sama :-) 

Sunday, June 29, 2014

Yamaha JMC Music Course: My very own “Okaasan to issho” music show each week



June 29, 2014

*note: this is NOT a sponsored post, I’m not getting any money or being asked by anybody to promote Yamaha Music School. This is just based on our own experience. Although, I wouldn’t mind if Yamaha gave us a free trip to Japan, hahaha *wishful thinking* ;D

Kemarin akhirnya saya membawa 2 lembar foto 3x4 yang sudah diminta sejak bulan April/Mei lalu. Bukannya pelit nggak mau ke foto studio, tapi saya aja yang kelupaan terus untuk print & bawa karena terburu-buru takut telat keasyikan mau berangkat setiap kali Little Bug mau pergi les musik di Yamaha. Yup, it’s always a fun time for us (for me, at least)... saya bisa bonding dengan Little Bug (karena saya ikutan masuk & mendampingi di kelasnya) daaaan lagu-lagunya enak, seperti mendengar lagu-lagu di acara Jepang “Okaasan to issho” (artinya: bersama dengan ibu) yang sering saya tonton bareng Little Bug dulu waktu masih di Matsuyama. Jadi akhirnya kemarin foto itu ditempel di sertifikat level 1 Junior Music Course (JMC) yang alhamdulillah sudah berhasil Little Bug lewati bulan Februari yang lalu. Nggak terasa sekarang menjelang 1 tahun sejak dia bergabung di kelas JMC.. dan perkembangannya, masyaaAllah!

Sebenarnya, waktu tahun lalu memutuskan untuk HS, kami ingin memasukkan Little Bug ke salah satu kursus peminatan—yaa, buat kegiatan yang di luar rumah dan sekaligus untuk alasan “sosialisasi teman sebaya” –kalau ada kerabat yang menanyakan the oh-so-famous-HS-question-of-“socialization”. Waktu itu pilihannya jatuh antara kursus English dengan kursus musik, dan kami akhirnya memilih musik karena selain membaca kalau aktivitas bermusik itu adalah whole-brain activity, kami juga mengejar (kata Yamaha) “golden age”-nya Little Bug untuk perkembangan indera pendengarannya (hearing abilities). Kalau dipikir-pikir mungkin inilah kenapa anak kecil banyak yg bisa hafidz Qur’an kali yaa... selain memang dimudahkan Allah (bagi siapa saja yg berniat menghafal Qur’an), secara usia perkembangan juga katanya usia 4-6th itu saat indera pendengaran berkembang pesat (kalau saya gak salah ingat baca di brosur & poster di kelas Yamaha). Kami pikir waktu itu kalau English skills bisa disambi di rumah lah yaa dan alhamdulillah secara tak terduga Allah dekatkan kami juga dengan “guru bule” yg pada akhirnya jadi teman dekat keluarga kami.

Anyways, waktu mendaftar dan trial, saya terus terang belum ngeh kalau program JMC ini adalah kursus 2 tahun yang berkelanjutan. Saya pikir, apa bedanya dengan kursus English yg punya lanjutan level sampai entah berapa tahun... tapi ternyataaa, musik itu berbeda.. nggak bisa asal masuk, berhenti, dan melanjutkan kalau dengan kelas JMC ini. Kenapa? Karena pendekatannya beda. Beda di mana? Hmm, let me start at the beginning of when I first knew about Yamaha... 

Kalau diingat-ingat, di Matsuyama, saya sering bersepeda melewati tempat kursus Yamaha... di jalanan berkelak-kelok yang menurun dari areal Matsuyama Jo (castle) ke arah Okaido. Tempat les yang kecil di deretan ruko/pertokoan nan cantik, di jendela-jendelanya ditempel poster bergambar anak-anak sedang menyanyi dengan iringan guru yang bermain piano—saya hanya sempat memperhatikan poster itu sekilas ketika sedang berhenti menunggu antrian lampu merah untuk menyeberang jalanan.. dan pada saat itu, saya nggak begitu memperhatikan karena pemandangan anak-anak bernyanyi dengan guru yang bermain piano itu saya anggap biasa, karena saya pun melihat demikian di preschool tempat saya mengajar dan juga di day-care anak-anak pada umumnya. Musik = bernyanyi dengan iringan langsung piano/gitar. Pun pernah terbersit pertanyaan tentang tempat apakah itu, saya hanya ingat kalau teman saya yang orang Jepang bilang bahwa “oh, Yamaha, itu kursusnya bagusnya untuk anak kecil, karena melatih pendengaran. Mimi de kikoeru no renshuu...”  (berlatih mendengar (nada) dengan kuping) *bahasa jepangnya bener gak ya, lupa* .Pada waktu itu ya saya belum kebayang kalau akan berminat dengan programnya, apalagi di Indonesia...

Anyways, fast forward 4-5 tahun kemudian, Little Bug akhirnya masuk ke JMC level 1, yg dimulai antara usia 4-5 tahun. Dia memang dari kecil sudah menyukai lagu dan bernyanyi, dan ketika trial, lagu-lagu yang dimainkan di electone maupun yang dinyanyikan itu terasa familiar dengan lagu-lagu yang dulu dia dengar waktu *setiap hari* menonton acara anak “Okaasan to issho” dan “Inai-inai Baa!” di TV. Di daycare pun lagu-lagu itu yang dinyanyikan hehehe :)  Jadilah dia semangat banget, ditambah karena Mama mendampingi untuk setiap kelasnya, bener-bener “okaasan to issho” (bersama dengan ibu). Dari awal dia hanya bisa memainkan nada do-do-do dan do-re-do hingga saat ini sudah mulai berlatih cadence 3-not (3 not piano yang ditekan secara bersamaan untuk mendukung melodi lagu), dia nggak pernah mengeluh bosan atau merasa stres.

JMC ternyata memang begitu pendekatannya, beda. Semua dibawa fun dan dikenalkan lewat lagu dan nyanyian, bukan lewat drill dan hafalan istilah. Lagu-lagu yang dinyanyikan ataupun dimainkan itu punya karakteristik masing-masing yang bertujuan mengenalkan dan mengajarkan berbagai unsur dalam musik secara sembunyi-sembunyi. Kesannya kok begitu? Susah mendeskripsikannya, intinya anak nggak sadar kalau sedang mengeksplorasi berbagai komponen dalam musik. Lagu yang temponya cepat & lambat, nada yang terputus-putus atau yang sambung-menyambung, suara yang keras atau semakin kecil, dsb. Semuanya ada teorinya, ada namanya, tapi ya sudah dikemas rapi dalam repertoire lagu... tanpa si anak sadari. Setidaknya, secara perlahan-lahan dan bertahap baru si anak dikenalkan istilah khususnya, sebagai selingan di dalam kelas kalau pas lagi bahas komponen tertentu. Yang dilakukan Little Bug (dan anak-anak lain) kebanyakan hanya belajar bermain via kuping dan mulut. Setiap menekan tuts electone, mulutnya ikut bernyanyi nada yang ditekan, beserta panjang/pendeknya ketukan dan keras/lembutnya suara. 

Terkait dengan bermain lagu, anak juga serasa “bintang” dari pertunjukannya sendiri. Kenapa? Karena setiap lagu, yang paling sederhana sekalipun (misal do-do-do atau mi-re-do), itu punya iringan musiknya tersendiri. Jadi bukan berlatih via drilling beratus kali sendiri sehingga terdengar membosankan karena berulang-ulang itu-itu aja, melainkan memainkan komposisi nada yang diminta dalam iringan sebuah lagu tertentu, yang judulnya ya khas anak-anak. Misalnya, “Gajah bermain” atau “Roller coaster”. Padahal ya nadanya gitu-gitu aja, tapi karena dikemas dalam aransmen yang ceria, jadi terasa “wah”! Setiap kali diperkenalkan lagu baru, anak-anak juga diajak berimajinasi membayangkan cerita yang disampaikan oleh lagu  & nada tersebut, sehingga penghayatannya juga dilatih.

Selain bermain repertoire lagu, ada juga yang aku sebut “latihan kuping”, di saat anak-anak berkumpul di sebelah piano dan gurunya memainkan rangkaian solfege tertentu dan anak-anak diminta menyanyikan ulang rangkaian nada tadi sekaligus menghafalkannya. Kalau dipikir-pikir, mirip dengan salah satu cara untuk menghafal Al Qur’an mungkin ya, dengan mendengar berulang kali dan mengucapkan apa yg didengar berulang kali. Saya juga jadinya menggunakan metode ini untuk melatih hafalan surat pendek untuk Little Bug :)
 
Wah, jadi panjang deh entry yang satu ini. Alhamdulillah, menjelang 1 tahun atau 2 level di JMC, kami merasakan manfaatnya dan semakin kagum dengan ilmu Allah, yang tentunya melebihi “cuplikan” yang kami lihat dari awal sampai sekarang. Little Bug jari-jarinya semakin panjang (ha!), percaya dirinya semakin oke untuk tampil di panggung, dan ada warna tambahan pada kehidupan kanak-kanaknya yang diberikan oleh musik. Ya, tentunya di luar warna yang diberikan oleh pembelajaran aspek yang lain sehari-harinya. Intinya berikhtiar untuk memfasilitasi perkembangan anak secara holistik. Jadi, somehow, pendidikan musik kami lihat melengkapi “puzzle” yang sedang disusun oleh Little Bug dalam perkembangannya. Mungkin saja mengimbangi sisi serius-nya yang suka melahap buku-buku non-fiksi tentang binatang, mobil, laut, dan seabreg lainnya.. atau mungkin mengasah kemampuannya untuk berkonsentrasi sambil tetap merasa “enjoy”.. dan bisa jadi menyemangatinya dalam usahanya menghafal berbagai surat pendek... wallahualam.

Semoga bisa terus semangat berlatih dan terus menikmati bermusik ya.. siapa tau, one day, nanti bisa menebar lebih banyak manfaat dengan bantuan musik ;)

Ramadhan day 1: The arrival of The Humble Hud-huds



29 Juni 2014

Bismillah...

Alhamdulillah hari ini sudah tiba bulan suci Ramadhan! Seperti yang telah saya tulis di sini, kami tahun ini berencana mengajak anak-anak untuk melakukan lebih banyak kebaikan (good deeds) melalui ajakan duo burung Hud-hud yang lucu. Deg-degan juga sih karena nggak bisa ditebak tanggapan Little Bug akan bagaimana, tapi alhamdulillah, bisa dikatakan berhasil!


Hari ini Little Bug memang berencana ikut sahur dan latihan puasa, jadi saya siapkan Humble Hud-huds pada sebuah nampan di ruang seni kami. Setelah sholat subuh, si Hubs tidur lagi, Baby Bird juga masih tidur, jadi kesempatan yang tepat nih! Aktivitas dengan burung Hud-hud ini bisa menjadi special bonding time antara saya dengan Little Bug di pagi hari saat Baby Bird masih tertidur (walaupun nantinya ada aktivitas yang bisa juga dilakukan barengan, ini hanya “nilai plus” aja hehehe). Dengan bersemangat, saya bilang ke Little Bug kalau “kita kedatangan tamu istimewa nih! Lihat yuk siapa!” Trigger kalimat itu alhamdulillah cukup menarik perhatian Little Bug dan dia langsung ke ruang seni untuk melihat “siapa” yang “datang”...


 Saya sudah menyiapkan Humble Hud-huds beserta surat pendek yang dijepit dengan paruh mereka. Selain itu, saya siapkan stik es krim sebagai sarana aktivitas pagi ini—membantu mereka membuat sarang! Jadi selain mengajak Little Bug untuk memberikan nama panggilan buat mereka dan membantu mereka membuat sarang, dia juga diajak untuk membuat sesuatu untuk teman Hud-hud yang barusan pindahan juga. *Kebetulan ada teman keluarga kami yang baru pindah ke rumah baru, jadi sekalian dijadikan “target” perbuatan baik hari ini, hehehe*

Duo burung Hud-hud diberikan nama: “Happy” dan “Hipa”... lucu kan? :)  Lalu kami mulai proses membuat sarangnya, yang butuh sedikit brainstorming terlebih dahulu sebelum mulai menempel-nempelnya, seperti: mau berbentuk seperti apa, ukurannya sebesar apa, tingginya nanti seberapa, cara menyusun/membuatnya seperti apa, dsb. Lalu sesudah ketemu bentuk dan cara menyusunnya, saya dan Little Bug bekerja sama membuat sarang tersebut dengan menggunakan paruh dari si Happy dan si Hipa, jadinya seperti permainan ketangkasan deh, hehehe! Setelah sarang burungnya selesai, Little Bug melanjutkan kreasinya dengan berinisiatif memberikan telur-telur untuk setiap burung Hud-hud. Lalu kami juga membuat sesuatu untuk anak teman kami yang baru saja pindah ke rumah baru juga agar dia bisa merasa cepat betah & nyaman di rumah barunya.



Proses pembuatan sarang bisa digunakan untuk mengajarkan:

  •  Konsep matematika sederhana: bentuk segi tiga, segi empat, segi lima, dan segi enam. Menghubungkan ukuran burung dengan bentuk, ukuran, dan tinggi sarang yang diperlukan supaya kedua burung muat dalam 1 sarang. Sempat juga muncul opsi untuk membuat 2 sarang, masing2 burung mendapat 1 sarang, tapi nggak jadi. Setiap burung juga ingin diberikan telur, jadi melatih konsep hitung sederhana dan penambahan/pengurangan sederhana.

  • Kemampuan motorik halus: menggunakan “paruh” burung untuk menjepit batang-batang es krim. Menggulung bentuk bulat dari kertas Kokoru.

  • Koordinasi mata-tangan: menempelkan stik es krim & kertas gulungan Kokoru.

  • Sosioemosional: kerjasama membuat sarang, belajar bergiliran ketika menempel stik es krim dan mengoleskan lem pada stik es krim; belajar empati dengan membayangkan perasaan para burung (dan juga anak teman keluarga kami) yang baru saja pindah ke rumah baru.


Alhamdulillah, Little Bug dengan semangat membangunkan si Hubs dan asyik cerita tenang Happy dan Hipa, lalu berulang kali bilang kalau dia nggak sabar lihat besok pagi akan ada surat apa dari mereka, hehehe... :)

Oh ya, ada juga doa yang berhubungan dengan soal “rumah” ini yang bisa diajarkan ke anak-anak, QS Nuh 71: ayat 28,

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu-bapakku, dan siapapun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang beriman laki-laki dan perempuan...”

Semoga bisa menginspirasi ya! So happy that it’s Ramadhan! In shaa Allah sampai jumpa di posting selanjutnya... kira-kira apa yaa isi surat yang akan dibawa oleh Happy & Hipa? Hmmm.... :)

Tuesday, February 25, 2014

A pre-birthday letter to my soon-to-be 5 year old



25 February 2009
Mama ingat pada hari ini, 5 tahun lalu, udara masih dingin di Matsuyama. Iya, itu kota kelahiranmu, Nak.. kota kecil dimana dokter kandungan yang berbahasa Inggris hanya 1 di rumah sakit kecil itu—Tasaka sensei. Hari Rabu itu, Mama siap-siap dengan Papa dan Tante Seiko untuk ke RS. Sejujurnya Mama takut sekali.. karena sudah siap-siap mau lahiran normal, eeeh ternyata setelah diperiksa panggulnya maka disarankan untuk operasi saja demi keselamatan bayi dan ibu. Mama hanya bisa menyiapkan barang-barang di list keperluan melahirkan yang diberikan oleh RS dan terus berdoa.
Sampai di RS, Mama dipasangkan alat untuk mendengar detak jantung kamu. Bunyinya kencang dan cepat.. mungkin saingan sama detak jantung Mama yang saat itu cemas, takut, dan juga excited pada saat yang bersamaan. Mama ingat susternya tiba-tiba lari masuk ke kamar dan bilang kalau Mama harus segera diinfus supaya bisa diberikan obat, karena mulai muncul kontraksi--- padahal operasinya dijadwalkan untuk keesokan paginya. Malam harinya, Mama mulai puasa setelah makan malam.. Papa juga pulang setelah jam berkunjung selesai. Iya, di Jepang memang RS cukup “steril” dari penunggu yang tidak benar-benar dibutuhkan. Susternya baik-baik dan selalu siaga 24 jam. Walaupun begitu, sebenarnya Mama malam itu nggak bisa tidur..

26 February 2009
Pagi-paginya, Papa sudah datang. Mama siap-siap untuk proses operasi, jam 9 dijadwalkan tapi jam 8 sudah mulai untuk persiapannya. Mama ingat begitu masuk ruang operasi, ACnya terasa dingin sekali. Tapi rasa dingin dan gugup itu hilang ketika Mama dengar tangisan kamu, Nak.. jam 9.20 kalau nggak salah, Allah memberikan panggilan baru “Mama” untuk Mama... Mama untuk bayi kecil yang nangisnya terdengar hingga ujung lorong RS. Bayi kecil yang menangis kejer di awal-awal perjuangan Mama untuk memberikan ASI. Bayi kecil yang kepalanya bulat sempurna, mata sipit, dan kukunya selalu menghadiahkan sebuah cakaran baru setiap paginya. Bayi kecil yang pada kedua kakinya dituliskan nama mama dengan spidol hitam, supaya pas dimandikan suster nggak bakal ketuker. Bayi kecil yang sudah disiapkan namanya... doanya.. supaya inshaaAllah menjadi anugerah dari Allah yang memimpin dengan bijaksana dan menebar manfaat ke mana saja.

25 February 2014
Sore ini Bogor hujan... cuaca mendung dan langitnya sedikit mengingatkan Mama pada pemandangan dari jendela kamar RS waktu dulu.. tempat Mama selalu melihat Papa pergi pulang ke rumah hingga sosok berjaket abu-abu dan bersepeda itu sudah belok dan tak terlihat lagi. Tapi pemandangan sekarang siapa yang dapat membayangkan dulu. Ada kamu dan adikmu yang sedang tertidur lelap di dalam kamar. Dan ada Mama yang sedang berkaca-kaca membayangkan betapa cepatnya waktu berlalu.
Ya, 5 tahun benar-benar cepat, Nak! The days are long but the years fly by. Alhamdulillah, Mama nggak pernah menyesal memilih untuk selalu di rumah dengan kamu. Walaupun Mama suka mengeluh capek atau rumah berantakan, tapi Mama nggak akan pernah menyesali semua ini. Mama benar-benar bersyukur diizinkan Allah untuk tetap di rumah dan berjuang untuk membesarkan dan mendidik kamu sendiri. Mama sudah ikhlas untuk menunda semua impian Mama dalam hal karir. Mama juga selama 5 tahun ini berusaha untuk meneyimbangkan antara keinginan pribadi dan tugas sebagai seorang Mama.
Mama hanya menyesal karena Mama masih belum pandai mengatur waktu supaya semuanya bisa senang. Betapa berat membuat kamu menunggu ketika Mama masih harus menyelesaikan cucian piring atau menjemur baju. Mama juga belum pandai mengatur emosi seperti yang disarankan oleh semua artikel parenting yang Mama baca. Juga belum bisa melakukan semua ide aktivitas seru supaya kamu bermainnya tambah asyik dan punya nilai tambah pembelajarannya.
Tapi Nak, kamu tahu nggak? Kamu akan selalu punya tempat istimewa di hati Mama. Karena kamu adalah anak pertama... anak yang bersama Mama (dan Papa) belajar bagaimana berkompromi dan hidup bersama. Anak yang jadi “kelinci percobaan” ketika Mama menghadapi setiap tumbuh kembang kamu yang baru. Kamu yang sudah melihat Mama marah, senang, sedih, khawatir, dan semua emosi yang Mama nggak sadari. Kamu yang sudah ada sejak awal lika-liku perjalanan hidup Mama dalam menjadi seorang Mama. All those good times.. sad times.. hard times.. enlightining times.. thankful times... you’ve been there all along, looking up to me (and your Papa) and sometimes (lots of times) I guess I just didn’t act like a Mom should. Banyak sekali buku dan artikel tentang parenting yang Mama punya dan baca, tapi ketika sudah pada prakteknya, kadang susah sekali melakukan yang sederhana sekalipun. Maafkan Mama kalau Mama dulu masih sering marah dan membuat kamu merasa takut. Maafkan Mama yang dulu kadang terlalu sering lihat HP atau laptop sehingga kamu merasa terabaikan. Maafkan Mama yang belum bisa ber-scrapbook ria sebelum tahu-tahu laptop Mama diambil pencuri, lengkap dengan foto dan video kita yang sebagian belum sempat terback-up. I’m so sorry... I’m so sorry for not realizing this earlier... before now that you’re suddenly about to turn 5 years old, inshaaAllah tomorrow.
Mama tahu, nggak ada gunanya menyesal.  Tapi kamu benar-benar cepat sekali tumbuhnya... not my little baby anymore.. Dalam sekejap mata kamu udah jadi bocah lucu yang sudah bisa berargumen kalau ada yang tak sesuai, makannya  lahap, melakukan persuasi untuk mendapatkan Lego (lagi), dan senang bermain piano di waktu luang. Alhamdulillah, Nak... Allah yang Maha Penjaga.. Maha Melindungi.. Kalau bukan karena Allah yang jaga kamu, Allah yang mengilhami cara berpikir kamu.. akan jadi seperti apakah kamu, dengan Mama yang serba tak-sempurna ini? Mama hanya bisa membaca artikel parenting dan berusaha mendidik kamu semampu Mama... tapi sebenarnya Allah-lah yang membuat kamu menjadi anak yang hebat seperti sekarang ini.
Mama nggak bisa berhenti menangis haru mengingat 5 tahun itu sudah berlalu dengan begitu cepat... you’ve been beside me all along, dan kamu adalah guru Mama selama ini. Mama ikut tumbuh dan berkembang bersama kamu, Nak... dan Mama hanya berdoa supaya diberikan umur panjang dan kesehatan yang baik supaya bisa terus mendampingi kamu dalam tumbuh, berkembang, dan belajar tentang hidup ini. I love you so much, my little bug.. I know I’m not perfect but I really did try and still do try to be the best Mom for you. I know, sometimes I try too hard. But you’re there to teach me that I don’t need to be perfect to have fun with you. I just need to be more present in the moment with you.. be more patient.. and learn to have fun and relax a little more... not mind the housework too much...and be more simple in viewing this world and what’s truly important in life... and inshaaAllah that I will try my hardest to do, I promise you that! Alhamdulillah, Allah is teaching me about my life priorities through you... Allah is improving my skills through you.. and Allah is reminding me to become more humble through you.
Jadi saat kamu merasa kalau Mama lebih sayang adik daripada kamu... atau Mama terlalu “sibuk” untuk menikmati bermain bersamamu... tolong jangan lari dari Mama ya. Tolong ingetin Mama dan cerita sama Mama ya. Karena Mama butuh kamu.. sama seperti kamu butuh Mama. Dan suatu hari nanti saat kamu sudah bisa mengerti semua yang Mama tulis ini, maka kamu akan tahu kalau Mama (dan Papa) selalu sayang kamu.. always love you no matter what you do or what you say...  and that your Papa and I are very thankful to Allah for you and very blessed to be your parents. You’ll always have that special place and special connection as the firstborn child. My baby boy, always!

Love,
Mama
Bogor, 25 February 2014