Sunday, November 09, 2014

Mom's day out

As I'm writing this, I'm standing inside a commuter train, on my way home. Wait, something's missing: my kids and hubby.

Yes, today was my day out and about wihout the kiddos or hubby. Sebenarnya nggak berencana pergi juga, tapi ada book fair di Jakarta that was just too good to pass up. Dan sayangnya book fair seperti ini nggak child-friendly: huge crowds and small spaces. Jadilah dengan niat nyari buku murah buat anak2, saya berangkat sendiri naik kereta dan busway. Anak2 sama si Hubs dan pasukan Eyang.

This is my 1st time going to Jakarta alone without carrying Baby Bird in one arm and  holding Little Bug's hand in the other. No diapers or a change of clothes in my waist pouch. No keeping an eye on where the kids are or telling them about what we are seeing along the way. Just me, myself, and I.

5 minutes later, i missed them. Small kiddos reminded me of them and I automatically looked up from the book I was reading everytime I heard a kid cry. Although I was enjoying my trip alone, but the feeling of enjoyment was different. I guess this is what people mean when they say that motherhood changes you forever. No experience will ever be complete without the "whole package", meskipun dilengkapi pula dengan segala "kerempongannya". But now I know, that is where the real happiness is.

So, I stand here on this train, full of gratitude. Thankful that I have a family and a home to come home to. Thankful that I was able to spend some time alone enjoying what I like to do while bringing benefit too (although, not a benefit for the wallet, huhuhu). And thankful that some time away from the kids and hubby can fill my cup-- coz you can't parent on an empty cup. Knowing how full your cup is and letting yourself to actually fill it when empty--now that is the important part!

So, for all you real moms out there: don't forget to take care of you. Because being a mom is a tough job but it's also a lifetime blessing to be thankful for.

Friday, November 07, 2014

Ijazah & Ibu Rumah Tangga



Waktu saya dulu memutuskan untuk berhenti bekerja setelah Little Bug lahir, si Hubs bertanya kepada saya: “Nggak apa-apa tuh kamu berhenti bekerja? Ijazahnya nggak sayang? Nanti kalau kamu mau lanjut sekolah lagi juga nggak apa-apa kok...” Dan saya dengan (se)tenang (mungkin) menjawab “insyaaAllah nggak apa-apa.” Tetap pada pendirian saya. Pun ada tawaran pekerjaan sampingan nantinya, yang saya terima haruslah yang bisa dikerjakan dari rumah, part-time, atau sifatnya insidentil saja. Sekolah lagi? Hmm... untuk saat ini, menjadi seorang ibu dan full-time home manager saja adalah sekolah lanjutan bagi saya, dengan ujiannya yang tak menentu materinya, praktek langsung setiap saat, dan tak pernah berakhir hingga akhir hayat.

Oh ya, ijazah. Bagi saya, ijazah adalah tanda kesetaraan. Bahwa kita telah bekerja keras dan jujur untuk menyelesaikan sebuah bagian/tingkat pendidikan formal tertentu, dengan pola pikir yang dibentuk sebagai hasil dari ilmu yang didapat. Ya, ijazah S1 saya harusnya mencerminkan bahwa saya memiliki pola pikir dan attitude yang mencerminkan seseorang yang telah lulus dari universitas. Jadi kalau dikomentarin “sayang amat ijazahnya nganggur karena ujung-ujungnya di rumah saja”—saya amat sangat tidak setuju. Kenapa? Karena pola pikir dan attitude seharusnya nggak akan pernah “nganggur” ketika kita meletakkan ijazah itu di rumah saja. Keinginan untuk belajar ilmu dan informasi terkini tetap bisa berlangsung dari rumah, apalagi dengan adanya internet yang memudahkan belajar di mana saja dan kapan saja dengan siapa saja yang bersedia berbagi ilmunya, dari yang berbayar maupun yang free. Belum lagi banyaknya seminar, workshop, atau training insidentil yang bisa diikuti. Belajar maupun menebar manfaat tidak harus berhenti di persoalan ijazah ataupun status sebagai ibu rumah tangga.

Kesadaran bahwa menjadi orang tua itu butuh ilmu parenting yang dipadukan se-harmonis mungkin dengan praktek di lapangan dan disesuaikan dengan sifat dan keunikan tiap anak plus kondisi keluarga, itu juga merupakan pengejawantahan dari pola pikir yang dilambangkan oleh si ijazah tadi. Hanya nggak pake apresiasi resmi dari pihak luar. Nggak ada jabatan resmi atau gelar lanjutan buat pembelajaran seumur hidup ini. Oh ada deng gelarnya, saya menyebutnya “M.om” atau “M.ama”, ujiannya nanti di akhirat, langsung sama Allah. Well, that goes for everybody, not just for us stay-at-home-moms.
But anyways, intinya jangan anggap pendidikan itu hanya demi ijazah, dan ijazah itu hanya demi pekerjaan (di kantoran). Kalau begitu, then we’d be stuck at square one: “ijazah nganggur kalau ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga”.  Menjadi ibu rumah tangga itu adalah sebuah pilihan pekerjaan, dan nggak semua orang beruntung untuk menjadikannya sebagai pekerjaan yang utama atau satu-satunya. Dan pilihan ini juga bukan solusi untuk ongkang-ongkang kaki menikmati uang suami. Being a stay-at-home-mom is HARD WORK. It’s work that never ends—or as I prefer to look at it, a blessing  that never ends. A blessing because you can make this decision and you can adjust your life to it however you need to—and you will find ways to adjust even though it might not be an easy task to do.

So, don’t be afraid of that one piece of paper. Cara menghargai ijazah adalah dengan mencerminkan pola pikir, sikap, dan integritas yang sesuai dengan si ijazah tadi. Sekolah lagi, monggo. Bekerja formal, silahkan. Menebar manfaat dari rumah, ya sama baiknya. Dan yang paling penting: ingatlah kalau rezeki dari Allah, bukan dari ijazah :) Ijazah can open up opportunities, but it shouldn't be an obstacle to create them. Jum'at barokah buat semuanya! :)

Friday, October 17, 2014

Do what you love and love what you do.


As I write this, I’m in the middle of a translation project. Sebenarnya bukan proyek terjemahan yang pertama, namun dengan yang ini, terasa berbeda. Kenapa? Karena... bahan yang diterjemahkan adalah tentang pendidikan, khususnya mengenai kegiatan belajar yang berkaitan dengan kurikulum  Common Core dan fokus pada STEM (science, technology, engineering, and math) di kelas. Wow, alhamdulillah! Jadi, meskipun bahannya tidak terlalu banyak (secara hitungan halaman tidak seberapa) namun ilmu yang didapat tak ternilai sebagai masukan bagi kami yang ber-homeschool ria.

Yes, I think this is what the above quote is implying. Ketika kita melakukan sesuatu yang kita minati dan dibayar pula, syukur alhamdulillah, nikmatnya seperti ini. Walaupun ada tuntutan profesionalitas dan deadline, namun mengerjakannya tak dihantui perasaan atau beban yang berat. Malah semangat nyicil kerjaannya, apalagi buat saya di sela-sela kerjaan rumah (ART part-time kami hanya urus yang basic cleaning saja dan tidak memasak buat kami) dan kegiatan anak-anak, hehehe!

Sebenarnya selain soal pendidikan, saya juga hobi masak... tapi dengan memasak, rasanya berbeda. Saya pernah beberapa kali menerima pesanan, dan tanpa mengurangi profesionalitas pengerjaan pesanan, saya sadar kalau saya belum bisa menikmati proses menjual kue secara partai banyak. It takes the “joy” from cooking away bit by bit... mungkin kalau pesanan yang sedikit-sedikit bisa, tapi waktunya saat ini memang belum memungkinkan (someday... insyaaAllah). Nah, analisis seperti inilah yang butuh waktu dan pengalaman.. karena ya rupanya tidak cukup hanya sekedar label “hobi” atau “minat” atau “bakat”, we have to try and feel the difference.

Alangkah indahnya apabila kelak insyaaAllah kalau anak-anak sudah besar, mereka bisa merasakan hal ini juga. Doing something they love, being good at it, and getting paid for it, too! It will take time and trial & errors... lots and lots of room for learning, there! Semoga dengan kami berhomeschool ria, mereka akan punya lebih banyak “waktu luang” untuk mencari tahu apa sih yang mereka benar-benar sukai... dan mengembangkan kemampuannya di bidang itu... going down that path of self-discovery and embracing the process... because that’s what part of growing up is supposed to be, right? And because I want them to be happy (dunia & akhirat).. that’s all... :)


Saturday, August 30, 2014

Life long learning

Tadi pagi, saya mendampingi Little Bug latihan keyboard. Sejak sementara dialihkan ke les privat sembari nunggu guru kelasnya recovery, progress-nya Little Bug memang terasa agak lebih cepat. Biasanya main lagu berdasarkan repetisi & pendengaran not (sembari belajar baca) dan agak pelan, ini jadi cepat karena fokusnya secara individual. Biasanya 1 lagu untuk beberapa kali pertemuan, ini bisa 2-3 lagu dipelajari setiap sesi les, meskipun hanya 30 menit saja.
Nah tadi waktu berlatih lagu baru, saya rada2 lupa bin keder baca not baloknya, Little Bug juga lupa melodi lagunya. Udah bukan di kunci C saja, tapi ada kunci G dan sekarang kunci F, tangan kanan dan kiri. *help me* Jadilah saya mencari tahu bersama-sama dengan dia.. nyoba-nyoba, trial and error. Alhamdulillah akhirnya bisa dimainkan, dan saya baru ngeh.. proses bingung dan cari tahu tadi beserta trial and error yang terjadi sebenarnya merupakan contoh yang baik untuk Little Bug. Bahwa kita belajar sepanjang hayat. Bahwa ilmu Allah itu sangat luas. Bahwa kita nggak harus tahu semuanya... apalagi gak usah sok tahu. It's okay to not know... and it's okay to make mistakes and try again. Dan bahwa seorang emak hs nggak harus bisa semua-mua-nya... karena bisa dipelajari sama-sama :-) 

Sunday, August 24, 2014

Di Balik Lajunya Kereta Api



24 Agustus 2014

Tak kenal maka tak sayang. Peribahasa itu sepertinya sudah melekat di ingatan saya sejak jaman SD dulu, tapi anehnya, baru sekarang-sekarang ini setelah ber-homeschool ria saya bisa menghayati maknanya. Ya, seperti yang saya tuliskan pada entry blog yang lalu, keputusan kami untuk ber-homeschool lama-lama semakin banyak kepingan-kepingan puzzle yang mulai terlihat gambaran besarnya. Salah satu kepingan puzzle itu hadir kembali ketika kunjungan ke Stasiun Besar Bogor tadi pagi hingga siang. 




Awal mulanya adalah Little Bug yang ingin belajar tentang kereta api jenis Argo. Mungkin perjalanan kami beberapa bulan lalu ke Jawa Tengah (dengan menggunakan kereta Argo) memberikan kesan yang mendalam sehingga dia mau belajar lebih lanjut tentang hal tersebut. Kalau dipikir-pikir, alat transportasi jenis kereta api itu iconic dengan dunia anak-anak, dari lirik lagu “Naik Kereta Api” hingga daya tarik luar biasa tiap kali melihat kereta melintas di jalan raya. Berhubung di Bogor sendiri ada stasiun besar, jadi saya pikir cukuplah untuk saat ini kunjungan ke sana sebagai perkenalan akan dunia perkeretaapian.

Tujuan saya sederhana: mengenalkan kepada Little Bug bahwa kereta itu nggak jalan sendiri—ada support system terpadu supaya kereta bisa jalan dengan aman, lancar, dan nyaman. Tapi untuk melihat support system itu dari “balik layar” juga nggak bisa sembarangan nyelonong begitu aja. Alhamdulillah Allah yang Maha Pengatur memudahkan saya untuk pergi mengurus izin ke kantor PT KAI DAOP 1 Jakarta di stasiun Cikini, berdua dengan Baby Bird naik kereta. Setelah izin diperoleh, tinggal koordinasi dengan pihak Stasiun Besar Bogor, dalam hal ini kami langsung dibantu oleh Pak Wakil Kepala Stasiun Bogor, Pak Herry. Berhubung kunjungan ini atas nama Klub Hijau (klub-nya anak-anak homeschool di Bogor), jadilah saya ngajak para bocah dari temen-temen SMA yang seumuran, the more the merrier, ceritanya.  Kami semua masuk via pintu belakang stasiun, diterima langsung oleh Pak Herry. Selanjutnya, ada petugas keamanan stasiun yang mengantarkan kami keliling ke: ruang informasi, kabin masinis, ruang sinyal, dan area keluar/masuk stasiun (tempat tiket elektronik itu).






 Awalnya agak terasa kikuk, karena kata Pak Herry, baru kali ini ada kelompok (dalam hal ini, emaknya hahaha) yang minta kunjungan khusus untuk lingkungan stasiun saja, tanpa naik kereta—karena biasanya kunjungan ke stasiun KA itu intinya adalah pada perjalanan naik keretanya, hehehe J Jadi mungkin para petugas di sana juga baru kali ini menerima segerombolan bocah umur 4-8 thn yang melihat-lihat seperti apa sih pekerjaan mereka? Kalau dipikir-pikir, seperti sidak atau ujian dadakan aja, ditanya-tanya ini itu sama bocah & sama emak/bapaknya bocah, hehehe :P Tapi seperti yang dijelaskan petugas di ruang informasi, para petugas di stasiun itu harus bisa semua posisi, karena dirotasikan dan ada juga masa magang-nya di luar masa pendidikannya. Di ruang informasi itu, yang menarik ada perangkat internet untuk update app tentang posisi kereta commuter line, ada tempelan poster besar berisi berbagai sandi perkeretaapian (dari dulu aja nggak hafal semaphor, apalagi kalau suruh ngafalin sandi KA yg bejibun yak?), telfon model dulu, dan ada genta juga!

 Nah, genta itu adalah alat komunikasi penanda kereta diberangkatkan dari 1 stasiun menuju stasiun berikutnya, yang mengeluarkan bunyi “ting-tong” seperti jam dinding yang tua itu. Diputar handle-nya secara manual lalu memiliki mekanisme yang (kalau gak salah) bekerja dengan menggunakan elektromagnet, pokoknya berasal dari jaman dulu deh sebelum ada HT! Pertama kali menemukan genta adalah ketika kami bertujuan kembalik ke Jakarta dari Solo dengan menggunakan KA Argo Lawu... sambil nunggu kereta datang di Solo Balapan, kami mendengar suara seperti dentang jam... kami lacak suaranya ke sebelah ruang informasi di stasiun Solo Balapan, dan di sanalah kami dijelaskan secara singkat mengenai alat bernama genta itu. Kalau di jalur arah Jawa Tengah & Timur masih menggunakan genta, sedangkan ke arah Jawa Barat & Jabotabek sudah nggak pakai lagi, sudah menggunakan perangkat elektronik semua. Kebetulan genta yang di stasiun Bogor tadi sedang rusak, jadi sementara ini pakai HT saja kalau memberangkatkan kereta yang ke arah Sukabumi.                

Dari ruang informasi, kami diantar menyebrang rel untuk naik ke rangkaian kereta commuter line yang masih menunggu waktu keberangkatan. Kami diminta menunggu masinis KA tersebut datang... eh, ternyata, nggak boleh sembarangan tuker-tuker masinis lho! Yang boleh masuk kabin masinis suatu rangkaian KA itu ya hanya masinis yang bertugas untuk rangkaian tersebut (pada hari itu). Inilah standar keamanan yang ketat, alhamdulillah kami dapat izin untuk masuk sebentar ke ruang kabin masinis untuk diberikan penjelasan singkat tentang cara “jalan”nya KA. O iya ya, kereta nggak bisa belok, hanya bisa maju & berhenti.... sisanya mengikuti rel... ada tuas “tenaga” (tadi pakai istilah “gas”, padahal kereta nggak pakai bensin toh? Hehehe) dan  tuas rem, dengan kecepatan maksimum kereta 70km/jam kalau pas jam sepi dengan berbagai ketentuan khusus lainnya sepanjang jalur KA dari Bogor-Jakarta. Komunikasi dengan stasiun lain menggunakan HT dan selalu ada minimal 2 masinis di setiap rangkaian KA yang berjalan. Tadi nggak sempat nanya-nanya tentang prosedur pendidikan/pelatihan untuk jadi masinis, tapi yang saya bayangkan, pastinya sangat berat untuk menjalankan rangkaian kereta dengan banyak gerbong dari sebuah kabin masinis yang sempit.. masyaaAllah! Sayangnya, masinis tadi cerita kalau masih saja ada yang melempari KA dengan batu, makanya tetap ada pelindung kaca seperti teralis dipasang di kaca kabin masinis. Sedih ya?

Kami nggak berlama-lama di kabun masinis karena tidak ingin sampai mengganggu jadwal keberangkatan kereta.  Dari sana alhamdulillah kami cukup beruntung untuk diajak berkenalan dengan petugas yang paling besar tanggung jawabnya: petugas pengatur sinyal! Seperti halnya bandara memiliki control tower, maka stasiun KA juga memiliki menara sinyal. Dengan jendela-jendela besar sepanjang sisi dinding, ruangan itu selalu terkunci rapat. Kebetulan stasiun KA saat itu sedang kosong dan lengang setelah semua KA saat itu sudah diberangkatkan, jadi kami diperbolehkan berkunjung sebentar (kalau lagi ramai/sibuk, nggak akan boleh! Bahaya!). Di sana, Bapak yang sedang bertugas tadi tidak boleh ditemani siapa-siapa pada saat bertugas. Makanan dipesan ke ruangan, sholat & keperluan ke kamar kecil pun sudah diatur kapan saat-saat yang cukup “lengang” untuk sejenak melakukannya. Beliau bertugas untuk mengatur keberangkatan & kedatangan KA, membuka & menutup jalur rel yang dari maupun menuju stasiun Bogor (lupa sampai mana tadi wilayah pengaturannya, kalau nggak salah sampai Depok deh).  Di sana, kami dijelaskan kalau petugas pengatur sinyal KA nggak boleh seenaknya bertindak, semuanya harus sesuai peraturan (dan terlihat setumpuk buku aturan di samping meja itu). Kalau ada kereta mogok, atau kawat aliran listrik yang bermasalah, semuanya sudah ada step-by-step SOP-nya. Bapak inilah yang paling berat & besar tanggung jawabnya, karena beliau yang menentukan tindakan yang akan dilakukan. Dan nggak semudah seperti menderek mobil yang mogok atau memencet tombol untuk membetulkan sinyal yang rusak. Sekali lagi, semua ada SOPnya untuk menjaga keamanan semua pihak.         

Di sinilah, kepingan puzzle itu muncul... jleb! Saya yang terkadang pernah mengeluh dengan mudahnya terhadap kereta yang bermasalah, jadwal yang telat, dsb... ternyata si Bapak ini (dan para petugas pengatur sinyal lainnya) yang bertanggung jawab menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk menyelesaikannya dan harus sesuai SOP, nggak boleh salah. Bapak yang berusaha melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, nggak boleh ngantuk, nggak boleh salah, harus selalu tepat dan terjaga. Bapak yang bekerja begitu keras jauh di balik layar, jauh dari sorotan siapapun... begitu pula dengan petugas yang lainnya, yang tugasnya nggak kalah penting... nggak pantaslah saya yang hanya penumpang ini mengeluh seenaknya.
          
Ya, para penumpang pasti ingin sampai dengan tepat waktu dan aman, lancar dan nyaman. Tapi semua itu nggak akan tercapai tanpa kerja tim yang baik antar semua petugas di stasiun. Belum lagi faktor perawatan, peremajaan, dsb, yang mungkin saja berhubungan dengan kebijakan dan pendanaan dari pusat. Ada pepatah, don’t shoot the messenger. Jangan marah kepada si penyampai berita yang tak berkenan di hati kita. Mungkin begitu pula dengan para petugas KA.. ketika ada masalah, belum tentu salah mereka.. dan kita baiknya berpikiran positif terhadap mereka, dengan mengingat kalau semuanya berusaha keras memperbaikinya semampu mereka (dengan sesegera mungkin). Siapa sih yang mau kalau perjalanan kereta itu terlambat atau bermasalah? Siapa sih yang tak ingin memiliki pelayanan KA yang nyaman, modern, dan memadai? Ya, memang kita mesti bersabar dengan kondisi yang ada.. dan juga bersyukur atas semua kemajuan yang telah dicapai. Belum sempurna, tapi yang penting sedang dalam proses menuju ke arah yang lebih baik, terus begitu... tugas kitalah untuk mendoakan, saling menyemangati, dan juga mengajak untuk mendukung proses tersebut, karena kita juga punya kewajiban yang melekat pada hak  kita sebagai penerima layanan KA yang baik.
               
 Jadi pelajaran kami hari ini... adalah kembali diingatkan untuk menghargai kerja keras para penyedia jasa publik kita. Tak kenal maka tak sayang, dan saya di sini hanya berusaha bercerita pengalaman kami tadi, agar semakin banyak masyarakat yang sadar akan kerja keras para petugas KA. Dan mulai dari anak-anak kitalah tempat terbaik untuk membudidayakan sikap positif dan apresiasi terhadap kerja keras seluruh elemen support system KA tersebut :)

Tetap semangat, terus maju menjadi semakin baik dari hari ke hari! “Ayo kawanku lekas naik... keretaku tak berhenti lama!”  


                                                                           

Wednesday, August 20, 2014

Self-reminder for the new homeschool year (and years to come, insyaaAllah)

It's the start of the new homeschool year. Alhamdulillah, ini adalah tahun ke-2 kebersamaan keluarga kami di rumah. Tahun pertama dengan nyaman saya sebut sebagai "masa adaptasi"... nyaman kenapa? For my own peace of mind, supaya nggak ngerasa bersalah. Ngerasa bersalah karena apa? Ya, for not being the super-homeschool-mom that i'm not. Jadi emak HS yang stay-at-home itu buat saya pressure-nya lumayan berat-- well, sebenernya sih bisa juga sesantai yang kita pikirkan. Tapi dengan adanya social media tempat memajang kegiatan prasekolah/homeschool yang bikin ngiler (tapi juga sekaligus menginspirasi dan memacu semangat), kadang pressure to be that super-duper-uber-mom suka inevitable, susah dihindari. Mau pake alesan apa lagi? Udah ada priveledge to be "at home", "homeschool-supported", "internet-literate & proficient at googling", plus banyak resources yg DIY maupun yg frugal. Wham! The guilt hits you right smack on the head.

My hardest lesson from the past year is that the biggest challenge you face when homeschooling  is yourself. Be it your time-management, anger management, stress-management, or how high your expectations (of yourself) are... they are the major hurdles you have to realize, accept, and figure out a way to live with it and deal with it. There's also the fine-tuning of dealing with those hurdles and adjusting it to your own family's situation/circumstances. Without having tolerance for yourself, it'll be very  easy for you to get caught in what I call "the invisible race against no one".. perasaan tersaingi oleh kemajuan anak si A atau hasil DIY si B buat anaknya. And being "stuck in the moment" ala lagunya U2 itu is not a 1 time thing.. it can happen over and over if you don't get a grip and face reality.
What is the reality that i've learned over the past year?

That at the end of the day, what matters is that we're together and happy. And it doesn't take much to make your kids happy. All it takes is your presence and attention, and you in a good mood.

It doesn't matter what art/crafts you do.... as long as you enjoy the process of creating with your kids. Laugh. Get messy. Don't be afraid of trying.
It doesn't matter what you play or how sophisticated your DIY-pinterest inspired-toys are (that is, if you make any).... as long as you let the kids play anyway they like. Let them lead. Nothing is impossible in their imagination. Let your adult-logical brain have a break and think like a kid when playing with your kids. You're not playing for them--- you're playing with them.
It doesn't matter "how much" progress you're making with the kids on their learning goals (academic, religious, etc) each day... as long as you both are enjoying the journey of learning new things. That's what life-long learning is all about. Part of learning is not giving up, so be a team-mate and cheer your kids on!
It doesn't matter if the housework gets delayed. Wait, it does, actually-- just do it in small portions of time. Or better yet, do small parts of it with the kids as a team. Just to the point that you have clean dishes to eat with and clean clothes to wear plus a free area to snuggle with your kids. That'll be enough for the day.

Because even with the house in a mess.. and you think your activities with the kids are "just so-so" (cue the entering of negative-put-you-down-thoughts such as "nggak seperti si A yg bikin ini buat anaknya" atau "wah si B pergi ke situ sama anaknya" dan sebagainya)....
At the last but not very least, you can smile and say that "the kids were happy today being with me".. and that will reassure you that you didn't waste your time trying to keep up with the super-uber-duper moms out there, because you already are, each day that you bring happiness to your kids. And that is the most important thing of all.

Thursday, August 14, 2014

Baby bird in the kitchen

Ada yang pagi-pagi mulai bantu mama di dapur.. bikin pancake hehehe :-)  This is part of learning from everyday life experiences... belajar kapan saja dan di mana saja :-)

Resep andalan kami adalah resep "hotcake" ala Jepang:

150 gr tepung
2 sdt baking powder
2 sdm gula halus
1 telur
120 ml susu
1 sdm minyak

Semua aduk jadi 1, trus tinggal dimasak di atas api kecil. Great to do with the kids :-)