Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Tuesday, November 01, 2016

Our Family Command Center

Anak-anak yang semakin besar (dan lebih dari 1) plus kegiatan Si Hubs yg semakin sibuk kesana kemari pada akhirnya membuat saya mengaktifkan kembali Our Family Command Center. Intinya sih supaya semuanya (terutama si emak) tahu kegiatan seluruh anggora keluarga dan nggak ada kegiatan/janji yg terlupakan. Coz you know, the agendas of families these days can be cray-cray-zeeee... hehehe 😅

Nggak muluk-muluk, saya memanfaatkan ruang dinding tepat di belakang pintu masuk. Modalnya hanya sebuah kalender whiteboard dari jaman kuliah dulu dan ditambahkan DIY kotak surat dari clear holder, masing2 anggota keluarga dapat 1 kotak surat (kecuali si Baby Squirrel, yg saat ini masih baby banget). Ceritanya anak2 bisa menulis surat/pesan ke siapa aja dan dengan alasan apapun, dari ekspresi rasa kangen, sebal, sampai menggambar cerita. Mereka saking sukanya menulis "surat" , sampai2 kalau ada gambar yang mau dipajang, mereka nolak karena "ini surat, bukan buat dipajang" lalu dilipat2 (dan emaknya ngelus dada) 😂😅😘

Di sebelahnya calender ada "family rules" yang ala2 Etsy/Pinterest gituu tapi ini modal buat sendiri lalu diprint biasa aja hehehe *emak males ngebor dinding buat pigura*

As you can see, baru tgl 1 November aja udah mayan penuh tuh kalendernya 😂😂😂 Yang paling penting, kita semua bisa saling support dan komunikasi tetap lancar jayaaaa... semangat!!!

Wednesday, December 30, 2015

Sunat 101

Ditulis oleh Arum Budiani, 
pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

Alhamdulillah, Little Bug tanggal 25 Desember kemarin sudah disunat, yeayy! Liburan sekolah memang identik dengan sunatan, karena kebanyakan orang tua memilih waktu libur yang agak lama supaya pemulihan pascasunat bisa berjalan dengan santai, tanpa memotong waktu sekolah. Lah, kami kan homeschool, apa bedanya? Well, Little Bug ada jadwal les music yang sayang kalau harus terlewati, jadi kami memilih ketika lesnya juga libur 2 minggu hehehe J

Anyways, saya ingin berbagi beberapa tips yang menurut kami bisa membantu memperlancar prosedur sebelum, ketika, dan sesudah sunat pada anak. Sebelum proses sunat, saya mencari-cari artikel di internet soal sunat dan yang ketemu banyak malah iklan sunat, hikz.. jadilah bertekad berbagi pengalaman setelah sunat supaya ortu yang kebingungan seperti saya tidak bernasib sama hehehe J  Yang perlu diingat hanya bahwa setiap anak berbeda-beda, jadi silahkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga & anak masing-masing ya J  


Sebelum Sunat

  •  Kami mulai sounding tentang sunat itu jauh sebelum sunat dilakukan… mungkin setahun atau 2 tahun sebelumnya. Soundingnya nggak terus-terusan, hanya pas sikon mendukung dan juga sambil meyakinkan kalau kita percaya Little Bug akan berani melakukannya saat dia siap. Nah, kapan mau sunatnya terserah si anak, makanya soundingnya mulai dari lama (saat ini Little Bug 6,5thm, kami sudah mulai sounding sejak umur 4thn an).  Kalau ada temannya yang sunat, kami beritahu juga dan kami ajak berkunjung beberapa hari setelah si anak sembuh untuk memberikan ucapan selamat sekaligus saya memperlihatkan kalau pasca sunat insyaaAllah akan baik-baik saja.


  • ·         Isi sounding pada intinya adalah memperkenalkan bahwa sunat itu ada dan harus mereka lalui. Tidak lupa kami menjelaskan kenapa sunat itu harus dilakukan, baik dari segi agama maupun kesehatan. Dan dari segi kesehatan, kami juga menjelaskan kalau lebih cepat lebih baik, karena semakin lama maka semakin rawan untuk kotoran terselip di bagian ujung alat kelaminnya meskipun kita selalu berusaha membersihkannya dengan sebaik mungkin.


  • ·         Kami pribadi memberitahu Little Bug bahwa kami berharap dia bersedia sunat sebelum umur 7 tahun, akan tetapi pemilihan waktunya terserah dia kapan dia siapnya, baik sebelum atau saat umur 7 tahun itu. Itu preferensi pribadi ya, karena kami anggap 7 tahun sudah mulai lebih banyak mendalami Islam sehingga inginnya sudah disunat sebelum atau pada usia tsb.


  • ·          Kita jelaskan prosedurnya secara sederhana, baik pengertian tentang apa yang akan dilakukan maupun perbedaan antara beberapa metode sunat. Kami memberikan 2 pilihan metode untuk Little Bug (konvensional/bedah di RS vs clamp) dan dia akhirnya memilih metode clamp setelah melihat beberapa temannya  memilih metode yang sama plus dia lebih nyaman sunat dilakukan di klinik kecil daripada di RS. Silahkan mencari info sebanyak-banyaknya mengenai berbagai metode sunat (dari internet, ke tempatnya langsung, tanya ke teman yang sudah menyunatkan anaknya, tanya dsa keluarga, dsb). Semua metode ada risikonya, plus minusnya... pilih yang paling sesuai buat keluarga dan anak, perbanyak istikhoroh supaya tenang dalam mengambil keputusan.


  • ·         Sounding disesuaikan isinya dengan sikon yang ada. Di awal-awal penjelasannya masih sederhana , makin anaknya besar maka sedikit-sedikit ditambah penjelasannya dengan yang lebih detail. Jadi pemahaman si anak dibangun sedikit demi sedikit tentang prosedur ini.


  • ·         Kami tidak berbohong mengenai rasa sakitnya. Nggak didramatisir juga (please, jangan yaaa) tapi dijelaskan apa adanya. Kami jelaskan akan sakit sebentar saat disuntik anastesi, lalu pas prosedur sunat tidak akan terasa apa-apa karena efek suntikan anastesi tadi. Sakit berikutnya ketika efek obat hilang, itupun akan terbantu oleh obat pengurang rasa sakit. Dan kami dengan lembut meyakinkan bahwa kami akan menjalankan seluruh proses bersama-sama--- dia tidak akan sendirian.


  • ·         Setelah Little Bug bersedia disunat, kami menentukan tanggal. Nah ini kami putuskan berdasarkan 2 hal: jadwal yang tersedia di tempat sunat dan jadwal yang memungkinkan si Hubs untuk cuti. Yes, little boys need their dads for this one! Kalau seperti si Hubs yang susahhhh cuti, bisa diakali dengan pilih sunat pada hari Jum’at, supaya bisa meminimalisir jumlah hari cuti. Pengalaman dengan Little Bug, yang beraduh-aduh ria itu hari pertama dan hari ke-2, selanjutnya udah mulai terbiasa pada hari ke-3. Jadi usahakan ada si ayah pada hari pertama sampai ke-3, minimal sampai hari ke-2. Untuk jadwal dari tempat sunat, semakin awal semakin baik supaya anak nggak jiper duluan kalau-kalau pasien sunat sebelumnya teriak-teriak/menangis heboh. Atau kalau dapat jadwal yang agak siang, mungkin bisa diakali dengan menunggu di mobil sampai saat gilirannya.


  • ·         Tanggal sudah oke, lalu apa lagi?  Have fun together!!!! 1-2 minggu sebelum sunat, saya sengaja ajak Little Bug jalan-jalan atau main apapun kesukaannya. Ya tentunya diatur sedemikian rupa  supaya kondisi anak-anak tetap fit sebelum sunat. Intinya, si anak dibuat happy dulu sebelum nanti pemulihan pascasunat di rumah. Dengan menghabiskan waktu bersama melakukan apa yang dia suka, kita bisa meningkatkan bonding dengan anak-anak dan itu diharapkan bisa mempermudah anak-anak untuk lebih kooperatif saat prosedur sunat maupun saat pemulihannya. Nggak perlu mahal-mahal atau jauh-jauh, yang penting menghabiskan waktu melakukan apa yang mereka suka.


  • ·         Kami juga bersama-sama menyiapkan kegiatan untuk dilakukan di rumah saat pemulihan. Kita bisa memilih mainan/games untuk dimainkan bersama, buku-buku untuk dibaca bersama, film untuk ditonton bersama, dst. Di sini juga ada bagian dari negosiasi reward pascasunat hehehe… J Sesuaikan dengan kegemaran anak dan yang kira-kira bisa mengalihkan perhatian dari rasa sakitnya. Little Bug sangat suka Lego, jadi itu yang menjadi andalan kami kemarin (dan berhasil, dari pagi sampai sore ya nguplek aja terus hehehe). Selain itu, kami pada dasarnya menerapkan pembatasan penggunaan gadget dan screen-time, tapi kami “sesuaikan” untuk hari pertama dan ke-2 pascasunat kemarin J


  • ·         Jangan lupa siapkan obat merah, cotton bud, tissue basah, tissue kering, dsb sebagai “peralatan tempur” ketika anak nantinya buang air kecil pasca sunat. Tanyakan pada dokter apa saja yang harus disiapkan, sesuai dengan metode sunat yang digunakan.



Saat Hari-H Sunat

  • ·         Apapun yang terjadi, pasang muka tenang dan senyum! Kalau kecemasan di hati kita berlebihan, itu akan dirasakan oleh anak-anak, trust me! Anak-anak butuh didampingi mama-papa yang tenang dan berpikir positif terhadap Allah. Kalau mama-papanya cemas berlebihan, bagaimana anak akan bisa tenang mengandalkan kita untuk mendampinginya melalui seluruh prosedur sunat?


  • ·         Kalau anak merasa cemas, dengarkan dia dan katakan kalau wajar merasa cemas sebelum tindakan medis apapun. Kita juga bisa jujur dengan anak kalau kita juga ikut merasa cemas menanti prosedur sunat, lalu secara lembut mengingatkan kalau Allah selalu bersama dengan kita dan yakinkan kalau kita akan melalui ini bersama-sama sebagai sebuah tim.


  • ·         Ini mungkin terdengar seperti pesan sponsor, tapi memang sebaiknya yang mengantar sunat adalah orang-orang terdekat saja, jangan 1 RT, hehe ;p Takutnya semakin banyak pengantar malah semakin besar tekanannya… dan semakin rame di tempat sunat haha! Eyang-om-tante-pakde-bude-sepupu-tetangga-dst bisa diarahkan untuk menemui di rumah saja setelah selesai prosedur sunatnya. Kehebohannya di rumah aja ya, supaya nggak nambah deg-degan sebelum masuk ruang sunat hehehe J


  • ·         Bawa bekal makanan ringan+ minuman yang disukai anak. Obat bius memiliki masa berlaku dan obat pereda nyeri sebaiknya diberikan beberapa saat sebelum efek bius benar-benar habis. Tanyakan hal ini kepada dokter yang menjalankan operasi, jangan lupa! Mananan dan minuman berfungsi agar anak bisa makan & minum sebelum mengkonsumsi obat pereda nyeri.


  • ·         Dampingi dan pandu anak selama prosedur sunat. Jelaskan dengan nada tenang dan secara sederhana apa yang akan dokter/perawat lakukan step-by-step sesaat sebelum dilakukan supaya anak nggak merasa bingung/kaget. Dan ingatkan kembali bahwa dia akan disuntik obat bius sehingga nggak akan terasa apa-apa ketika prosedur sunat dilakukan. Pengalaman kemarin, Little Bug menjerit-jerit saat disuntik anastesi… selebihnya bisa tenang karena sudah baal, hehehe! Kalau anak jejeritan dan menangis meronta, jangan ikut panik! Tetap berusaha tenangkan dan yakinkan klo kita ada di sampingnya. Just hang in there, your kid needs you more than ever to stay calm… so he can stay calm!


  • ·         Last but not least, batasi foto-foto saat prosedur sunat. It’s a very personal procedure and your kid needs you more than the photos. ‘Nuff said.



Setelah Sunat

  • ·        Ingat bekal makanan/minuman yg dibawa? Makan dan minum supaya anak bisa minum obat pereda nyeri beberapa saat SEBELUM efek obat bius hilang. Lumayan bisa mengurangi drama di awal-awal masa pemulihan.


  • ·         Papa/Mama statusnya on stand-by pas hari pertama abis sunat. Kalau Little Bug apa-apa maunya dengan papanya, jadi si Mama urus-urus yang lain hehe. Kalau para ayah mengeluh capek, kita ingatkan dengan lembut kalau sunat hanya sekali seumur hidup (well, dikalikan dengan jumlah anak laki-laki yang dimiliki ya) dan ini saatnya mereka memanjakan si anak jadi dinikmati aja hehehe!


  • ·         Ingat semua kegiatan yg disiapkan sebelum sunat sebagai aktivitas pascasunat? Bring them on! Mulailah dengan kegiatan yang paling bisa mengalihkan perhatian anak dari rasa sakitnya. Kemarin kami menyediakan beberapa film dan games di tab pas awal-awal, karena itu yang lumayan ampuh. Selain itu, bermain Lego juga ampuh menyerap perhatiannya untuk waktu yang cukup lama, hehe J Sesuaikan dengan kesukaan masing-masing anak ya J

Little Bug main Lego kesukaannya pascasunat, bisa seharian! Caption kecil: Little Bug apa-apa maunya sama si Hubs, dari bangun tidur sampai tidur lagi :)


  • ·         Kami pribadi belum merencanakan kapan atau dalam bentuk apa syukuran sunatnya. Fokus di pemulihan dulu supaya perhatiannya nggak terpecah… anak-anak lebih butuh kehadiran kita dan keluarga terdekat di saat pemulihan daripada perayaan dengan banyak orang-orang yang belum tentu ia kenal baik J


  • ·         Kalau saran untuk makan & istirahat yang cukup mah udah umum ya. Yang penting kita juga jangan overly strict atau galak atau protektif dengan anak selama masa pemulihan. Usahakan tetap menciptakan suasana yang positif dan semangat untuk sembuh sehingga bisa cepat pulih lukanya. Anak dibuat se-happy mungkin meski sedang bergelut dengan rasa nyeri… yakinkan dia kalau insyaaAllah dia bisa melewatinya dan kita yang menjadi penyemangat no.1, bukan pihak yang menakut-nakuti dengan segala macam ancaman dan scenario menyeramkan J


Special notes:

·         Orang bilang, sunatan adalah “hajatnya anak laki-laki”. Bagi saya, pengertian akan maknanya “hajat anak laki-laki” tersebut bukan pada besarnya perayaannya, tapi lebih kepada besarnya perhatian kita kepada si anak laki-laki kesayangan sebelum, pada saat, dan sesudah prosedur sunat tsb. The greatest gift we can give is our attention and our presence, not presents. Untuk Little Bug, dia bisa menghabiskan waktu banyak dengan papanya yang khusus cuti untuk hari sunatnya dan setiap malam dikipasin manual (ala tukang sate) sampai dia tertidur pulas (padahal dah pake AC hahaha). Saya juga bisa menghabiskan waktu dengannya sebelum sunat, mengajaknya seharian jalan-jalan ke taman yang sangat ia sukai dan makan apa yang dia gemari. Eyang-eyangnya pada datang ke rumah dan memberikan perhatian secara bergantian. Kami merasa semakin dekat dan kompak sebagai sebuah keluarga yang telah melewati proses ini bersama. Itulah makna yang sesungguhnya, “hajat” yang paling penting J

Semoga pengalaman dan hikmah yang kami ambil dari pengalaman sunat Little Bug bisa membantu ya J  Stay calm and enjoy the once in a lifetime process as a family J



Saturday, August 22, 2015

Film “Inside Out”: Getting in touch with our own Emotional Headquarters

(Picture from Wikipedia)


Ditulis oleh: Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

*warning: may contain spoilers*

Akhirnya... film “Inside Out” yang ditunggu-tunggu ini, diputar di bioskop di sini! Jarang-jarang saya benar-benar suka dengan suatu film..tapi ini adalah film yang sangat sangat berkesan buat saya dan anak-anak. Nah saya akan sharing tentang insight  apa saja yang bisa diambil dari film ini. Namanya emakHS, pastilah nggak lepas dari mencari “teachable moments” atau learning opportunities, dan hal itu termasuk dengan film ini, hehehe! Nah, berhubung film ini bener-bener membahas soal emosi, maka menurut saya, film ini WAJIB DITONTON buat para orang tua, eyang, om-tante, guru, pengasuh, dan orang-orang dewasa lainnya yang sehari-harinya akan berinteraksi dengan anak-anak/pra-remaja/remaja. Bisa jadi kita juga bisa menyembuhkan diri sendiri setelah menonton film ini, hehehe ;p

Okay, selama nonton film ini (bahkan sebelum atau setelahnya), silahkan memikirkan insight-insight berikut...

1. Film ini sebagai alat bantu untuk memvisualisasikan berbagai emosi dasar manusia dalam bentuk yang konkrit, ketika menjelaskan ke anak-anak soal emosi-emosi tersebut.
Kelima tokoh emosi memiliki ciri-ciri yang mendukung gambaran emosi tersebut, misalnya Anger yang berwarna merah dan kadang berapi-api, Sadness yang “blue” dan selalu melankolis, dan Fear yang digambarkan sebagai karakter kurus kecil yang selalu ketakutan.  Labeling emosi itu adalah dasar dari proses pembelajaran tentang manajemen emosi, dan membutuhkan proses yang lamaaaaa... jadi alat bantu apapun sangat bermanfaat, apalagi kalau semenyenangkan film ini, hehehe!

2. Film ini memberikan gambaran secara sederhana, menarik, dan cukup mudah dipahami  mengenai berbagai macam dinamika emosi yang terjadi dalam otak kita ketika menghadapi suatu kejadian tertentu serta tentang cara kerja ingatan.
Meskipun terdapat beberapa hal yang tidak sepenuhnya akurat secara ilmiah, seperti yang tercantum dalam artikel ini dan ini, namun film ini bagi saya bisa jauh lebih mudah daripada saat kuliah saya mempelajarinya dalam mata kuliah psikologi faal dan psikologi umum (atau kognitif ya... lupa)!

3.  Film ini berisi pembelajaran soal emosi dasar manusia untuk seluruh keluarga.
Menurut saya, anak usia SD sudah mulai bisa mengerti isi pesan yang terkandung dalam film ini. Meskipun demikian, anak-anak balita seperti Baby Bird (yang sekarang berusia 3.4 thn) mungkin hanya akan melihat kalau karakter emosinya lucu-lucu dan bisa sekalian melatih mereka membedakan nama-nama tokoh emosi tersebut J
Nah, kenapa saya sampai bilang WAJIB tonton buat para orang tua dkk? Karena pendidikan tentang manajemen emosi itu adalah suatu area yang saya lihat masih belum banyak disadari pentingnya di Indonesia. Yang dikoar-koar adalah calistuuuuuuuuung *ampe monyong bilangnya* melulu.. Nah, kalau anak-anaknya di sekolah nanti misalnya pada suatu ketika jadi malas belajar, tawuran gara-gara hal sepele, ada kejadian bullying, dsb dsb itu.. baru deh kebakaran jenggot memikirkan soal penyebabnya, yang mana bisa saja salah satunya adalah pendidikan manajemen emosi yang terlupakan. Ya, menurut saya, ini warning sign yang udah kelap-kelip di dashboard kita, menuntut untuk ditindaklanjuti. Sebab, pendidikan soal manajemen emosi itu dimulai sejak dini dan berlangsung lamaaa sekali, bukan proses yang menghasilkan dalam waktu cepat melainkan akan menjadi apa ya... akan mengiringi dan menjadi support-system perkembangan anak-anak hingga mereka dewasa. Dewasa pun masih harus berjuang mengendalikan berbagai emosi... apa jadinya kalau sejak anak-anak tidak dimulai?

4. Semua emosi itu adalah anugerah dari Allah SWT buat manusia, untuk membantu otak dan hati dalam menentukan sikap dan tindakan kita dalam hidup ini.
Tentunya semua yang dianugerahkan Allah itu tentunya tidak ada yang sia-sia, seperti yang di akhir film terjawab pertanyaan dari si Joy (karakter emosi bahagia), “Kenapa sih harus ada Sadness (karakter emosi sedih)? Apa sih tugasnya dia? Karena harusnya manusia itu selalu bahagia...? Saya nggak mau Riley (anak perempuan yg menjadi tokoh utama film ini) untuk merasa sedih.” Si Joy bertanya demikian, karena pada awal film, dijelaskan tuh apa tugas dari masing-masing emosi, seperti: Anger (marah) yang berguna untuk menyalurkan agresi dan membela diri, Fear (takut) bertugas untuk melindungi Riley dari bahaya, dan Disgust (jijik) bertugas untuk melindungi Riley dari situasi yang bisa membuat dia dipermalukan atau menjadi sakit. Tapi Joy tidak habis pikir, buat apa ada Sadness, karena hanya membuat Riley sedih... padahal Joy adalah pengendali utama dari geng emosi tsb, karena pada dasarnya Riley kan gadis yang hampir selalu bahagia.. begitu pikirnya. Oleh karena itu, dari awal film, Joy selalu berusaha menjauhkan Sadness dari papan kontrol pikiran Riley di Headquarters (ruang pusat kendali). Pun Sadness dapat “giliran” di papan kontrol, Joy selalu berusaha agar ia cepat-cepat menyelesaikan tugasnya.

5. It’s okay to be (temporarily) sad; it’s not okay to deny your sadness.
Dalam film ini, kekacauan terjadi ketika Joy melarang Sadness menyentuh memory orb (bongkahan peristiwa yang akan masuk ke dalam ingatan Riley, dilambangkan dengan bola-bola memori) milik Riley, karena dia menginginkan memori-memori inti milik Riley berupa memori yang bahagia semuanya. Akibatnya, Joy dan Sadness tersedot masuk ke alam memori si Riley dan jadilah control panel di Headquarters tinggal dikendalikan oleh Anger, Fear, dan Disgust—cara kreatif dari Pixar untuk menggambarkan depresi ringan yang dialami Riley dalam kondisinya saat itu.
Karena Riley tidak menunjukkan kesedihannya, maka dia juga tidak mendapat bantuan dari siapapun mengenai perasaan-perasaan yang dia hadapi, sehingga lama-lama dia menjadi terputus dengan papan kendali perilakunya (yang tidak bisa dikendalikan pula oleh Anger, Fear, maupun Disgust). “Pulau-pulau kepribadian” dari Riley juga mulai hancur satu-per-satu seiring dengan depresi yang dia alami: hancurnya “pulau kekonyolan”, “pulau persabahatan”, “pulau kejujuran”, dan yang paling dramatis (dan bikin mau nangis emak ini) ketika robohnya “Pulau keluarga”.

6. Peran dari Sadness adalah untuk mengirimkan sinyal ke orang lain, bahwa kita butuh bantuan.
Joy akhirnya mengetahui peran sesungguhnya dari Sadness setelah menyadari bahwa memori bisa saja berubah dari yang awalnya sedih menjadi bahagia kembali, setelah kesedihan tersebut dihadapi dan diatasi dengan bantuan dari orang lain. Jadi alih-alih menafikan rasa sedih, malah rasa sedih itu seharusnya  diterima dan dihadapi, supaya bisa merasa bahagia kembali.
Jadi kalau anak menangis karena sedih, kita jangan memarahi mereka karenanya... namanya juga manusia, maka anak berhak merasakan semua jenis emosi, jangan hanya positifnya saja yang diakui tapi juga negatifnya. Tinggal kita pelan-pelan mengajarkan bagaimana cara menyalurkan emosi tsb dengan cara yang dapat diterima, sesuai dengan usia mereka.

7. Sesuatu hal akan diingat apabila berkesan/relevan/menyenangkan.
Pekerja kebersihan dalam alam penyimpanan memori Riley berkata kepada Joy, "If Riley doesn't care about a memory, it fades...". Nah... ada pembersihan bongkah-bongkah memori yang sudah tidak diperlukan atau dipedulikan lagi oleh Riley, disedot pakai vaccum cleaner untuk kemudian dibuang ke tempat pembuangan memori. Kalau sebuah ingatan nggak digunakan kembali di kemudian hari, maka lama-lama ingatan itu akan hilang, seperti pepatah  use it or lose it”. Jadinya kita sebagai orang tua juga bisa merenung, sudahkah kita membuat kenangan yang berkesan buat anak-anak? Kesannya bukan di kita, tapi di anak-anak... dan ini menjadi reminder buat kami ketika akan merencanakan kegiatan/liburan keluarga dan juga buat sebagai bahan obrolan sehari-hari dengan anak-anak. Selain itu, kaitannya dengan belajar adalah, anak-anak akan mengingat hal-hal yang bermanfaat/relevan/menyenangkan menurut mereka. Sudahkah kita membuat proses belajar mereka demikian? *namanya juga emak HS, pasti ujung2nya refleksi ke kegiatan “belajar” keluarga sehari-hari hehehe*

8. Anak-anak memandang dunia dari kacamata anak-anak.
Ini adalah reminder buat kita para orang tua, bahwa bisa saja sesuatu yang menurut orang tua itu nggak masalah, bisa jadi masalah buat anak-anak. Seperti dalam film, kepindahan keluarga Riley ke tempat tinggal baru yang jauh itu sebenarnya membuat Riley merasakan berbagai emosi negatif seperti sedih, takut, dan marah. Akan tetapi, Riley mendapat kesan dari orang tuanya (dan juga didorong oleh Joy) bahwa mereka ingin agar dia bahagia dengan kepindahan tersebut...sehingga dia berusaha memaksakan diri untuk senang dan menutupi perasaan sedihnya. Jadi, sebagai orang tua, jangan lupa kalau cara canak-anak memandang dunia itu bisa jadi berbeda dengan apa yang kita pikirkan... yuk, kita coba untuk lebih sering mengobrol tanpa menghakimi... dan berusaha untuk memahami cara berpikir anak-anak kita :)

9. All feelings are okay, all behavior isn’t.
Orang tua Riley selama durasi film tetap teguh dengan batasan yang tegas untuk perilaku yang tidak sopan atau yang tidak dapat diterima. Mereka menegur perilakunya, bukan perasaannya. Dan ketika Riley belum mau bercerita, mereka juga tidak memaksanya untuk bercerita, namun meyakinkannya kalau mereka akan ada di sana kalau dia sudah mau bercerita pada mereka. Selain itu, mereka juga tidak langsung memarahi Riley ketika dia kembali ke rumah habis seharian dicari-cari oleh mereka... ketika Riley menangis dan bilang kalau dia rindu dengan rumah mereka yang lama, mereka bukannya memarahinya tapi justru mendengarkan dan berusaha mengerti perasaannya. Sudahkah kita bisa seperti itu?

10. Life changes, but family sticks together, no matter what.
Terakhir, kita bisa lihat Riley dan keluarganya beradaptasi dengan kehidupan mereka yang baru. Apapun yang terjadi, mereka sadar bahwa keluarga lah yang utama dan harus menjadi tim yang solid. Keluarga adalah sebuah tim yang saling membantu dan membutuhkan dukungan satu sama lainnya. Kita juga harus menyadari bahwa dinamika keluarga akan terus berkembang seiring dengan perkembangan usia anak-anak (dan kita juga)... jadi harus senantiasa berusaha menjaga agak komunikasi tetap terbuka dan hangat, agar bisa melalui suka dan duka bersama-sama.

Semoga insight-insight di atas bisa memperkaya manfaat dari menonton film ini :)