Thursday, March 10, 2016

Life Happens


When you homeschool, everything that happens to you as a family impacts the WHOLE family. You can plan out schedules up until the whole year, but when life happens, you just gotta adjust the best you can and go with the flow. Beberapa bulan kemarin, jadwal homeschooling kami secara mendadak harus mengalami “penyesuaian”. Ya, selain karena alasan yang umum, misalnya Little Bug, si Hubs, Baby Bird, dan saya juga akhirnya sakit berturut-turut (alhamdulillah nggak sampai rawat inap, hanya mulai dari demam tinggi, radang tenggorokan, dan paling parah Little Bug kena tyfus), yg mengharuskan kami banyak beristirahat, selain itu.... alhamdulillah, another little life insyaaAllah is happening inside me :) This little life unexpectedly made my days a bit stagnant for the past 3 months, karena harus menyesuaikan dengan mual, lemas, hilangnya nafsu makan, rasa ngantuk luar biasa, dan semi-bedrest yang menyebabkan saya harus libur nyetir dulu sampai dinyatakan aman. Praktis kegiatan saya dan anak-anak jadi lebih banyak di rumah dan saya di tempat tidur atau sofa, nggak bisa naik-turun ke ruangan yang biasa kami pakai buat bermain dan melakukan paperwork lainnya.

Panik? Ya, kalau nggak terbiasa melihat anak-anak main seharian sih iya, karena seolah-olah ada “warning” di belakang kepala saya yang berbunyi “Gimana dengan target schoolworknya Little Bug? Gimana dengan kegiatan-kegiatan Baby Bird? Akan terpenuhi kah? Akankah mereka “ketinggalan” dibandingkan anak-anak seusianya?” Yaa, kurang lebih seperti itulah. Banyak “liburnya” alias minimal schoolwork (buat Little Bug) dan sisanya main bebas di rumah. Hmm, gak jauh beda dengan sehari-hari sih.. hanya kerasa nggak maksimal aja dari bagian sayanya, padahal anak-anak mah seneng-seneng aja dan saya juga jadi diingatkan bahwa free play itu banyak sekali proses belajar yang terjadi, hanya kita nggak melihat saja :) Paling banter saya usahakan Little Bug menulis di journal hariannya, mengerjakan math worksheets buat latihan soal (karena kelas 1 SD menurut materi kurnas sedang pada bagian penjumlahan/pengurangan 2-digit, jadi mau nggak mau memang harus rajin latihan supaya lebih terbiasa dan teliti), dan sesekali mengerjakan latihan soal pelajaran lain (spt PPKN, Bhs.Indonesia, dsb) dari buku soal kelas 1 SD (cara curang saya, karena 1 buku isinya ringkasan pelajaran + latihan soal hehehe). Alhamdulillah juga target materi buat kelas 1 SD juga belum terlalu banyak, jadi bisa juga tercover sedikit banyak dari baca buku-buku cerita/ nonfiksi yang berhubungan dengan topik-topik tsb. Idealnya mah lebih banyak percobaan, arts & crafts, dkk... but hey, life happens and you just gotta do what you can til the situation is better (which at times  felt like for-e-ver, but turns out baru beberapa bulan aja kok!).

Berbeda dengan kalau mengirim anak-anak ke sekolah formal, kondisi ortu nggak akan banyak mempengaruhi.. kalau begini, saya terus terang di awal-awal sempat merasa down.. bisa nggak ya saya tetap HS anak-anak dengan kondisi seperti ini? Apakah anak-anak saya dirugikan? Dan gong-nya: Am I a bad mom for making this decision?

Lalu.. saya mencoba melihat sisi positifnya. After all, life is to be celebrated and Hubs & I are really thankful for all the little lives in our life (including the little-est that we are super-excited about)! Anak-anak sikapnya masyaaAllah, jadi jauh lebih pengertian selama beberapa bulan terakhir. Little Bug lebih banyak ngemong Baby Bird, mereka lebih akur dalam bermain (baca: porsi akur lebih banyak daripada porsi berargumen/bertengkar) dan juga lebih banyak membantu saya di rumah (walaupun ada ART yang pulang-pergi, tapi tetap mereka berusaha membantu yang kecil-kecil). Mereka maklum dengan menu makanan yang lebih sederhana dan sering beli, maklum juga kalau saya lebih sering tidur sebentar-sebentar karena mual, juga lebih sering menanyakan “Gimana keadaan Mama? Masih mual? Adik bayi baik-baik aja kan?”.

Ketika cek bulanan (bonus: cek bulanan ke dokter bisa dianggap sebagai field trip HS, hahaha), mereka kagum melihat layar USG (sekeluar dari ruang dokter, pasti ramai celotehan soal adik bayi yang ‘melambaikan tangan’ dan bergerak-gerak ‘saying hello’ ke kakak-kakaknya) dan Little Bug juga berusaha mencerna tahap-tahap perkembangan bayi dari poster-poster yang ada di luar kamar periksa. Baby Bird juga berusaha memahami apa yang terjadi dengan pengertian untuk seusianya, terutama mengapa saya harus banyak istirahat beberapa bulan kemarin (“Karena bayinya masih belum nempel ya di dalam perut Mama?”). Lalu dia juga sering tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan atau celotehan lucu, seperti, “Adik bayi mau ikut kita pergi juga ya?” (uhm, nggak bisa ditinggal juga di rumah kan hehehe) dan “Mama makan lele, berarti adik bayi nanti juga suka lele dong?” (well, I hope so! Scientists say that the eating appetite/tastes for the later born baby is affected by what the Mom eats during her pregnancy... so you can see why I was so frustrated when I lost my appetite in the 1st trimester of this pregnancy---food just didn’t look appetizing to me, even though I was hungry, hikz!).

Buat saya yang awalnya sempat down, googling berbagai blog tentang punya anak 3 dan sengaja cari yang lucu-lucu, because humor helps! Nemu website ini tentang keluarga yang punya anak 3, sounds real and it made me laugh and cry at the same time (blame the pregnancy hormones!). I like real blogs that combine humor with reality instead of preaching perfection, memudahkan untuk enjoy the ride :)
 Saya sangat bersyukur atas kehidupan ini, tapi namanya manusia biasa, pasti ada saat-saat saya merasa panik, khawatir, sedih, bersalah, gelisah, dkk... it’s only human to go through the WHOLE range of emotions (from super excited to sad) when you are expecting another little life, and if we can accept and embrace all of the feelings, insyaaAllah it will be easier to deal with the situation and be thankful for everything. In other words, you embrace the fact that life happens and you are more blessed than you will ever realize!

Every experience is humbling and teaches you something new each day. You can make plans but in the end, the important thing is that you are all happy and healthy together as a family... because every moment is special, no matter if it goes according to your original plans or not. You may not be achieving weekly/monthly targets, but other learning experiences are happening and reminds you that learning is not just textbooks and worksheets, even if you already know that it’s true but you are reminded in the realest (is that even a word?) way possible. You learn to trust your kids, trust their innate abilities, trust that they will develop accordingly under God’s care, and really trust your days in God’s plans. You learn to make the best out of everything, even if your days look like instant noodles, playdoh, and Disney Jr. Cartoons (and you definitely learn NOT to look at [read: compare yourself to] what other moms on pinterest/facebook/instagram/path/whatsapp groups/other social media are doing for their kids at this moment, haha!). You learn to see the smiles on your kids face, because they don’t expect anything but to spend time with you (even though you feel like a sloth and suddenly fall asleep during a story or a game of Candyland). You learn to enjoy each day. You learn to be as happy-go-lucky as your kids... because being happy and thankful and content is a choice, not an outcome of certain pre-meditated conditions and plans. You learn to embrace life and give yourself without losing sight of what’s important... and you learn to fight and struggle to make everything better, even though you don’t actually know what tomorrow will bring.. but you try and you pray and you trust God. That’s it.

So, that’s where we are in life right now, juggling homeschool and pregnancy and life as a whole. And I couldn’t be more thankful, alhamdulillah! :)


Saturday, January 16, 2016

The Day They Took Our Playground Away

Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

Okay, this is my “mom-rant” alias keluhan khas emak-emak. Sebelum mulai, saya ingin membuat pernyataan disclaimer dulu: saya sangat mensyukuri kota tempat tinggal saya sekarang. Saya menghargai upaya pemerintah mempercantik lingkungan kota. Saya juga menyadari bahwa kami tinggal di area perkotaan, di mana lahan terbuka hijau memang terbatas. Jadi, saya pun bersyukur atas “apa yang ada” terlepas apakah hal tsb “ideal” ataupun tidak, karena ya… “yang penting ada”. Saya juga bersyukur masih mampu membiayai anak-anak saya untuk ke playground berbayar. There. Sudah ada disclaimer yaa… jadi mari mulai menyalurkan rasa kecewa dan kehawatiran saya sebagai seorang emak HS atas semakin terbatasnya fasilitas ruang bermain outdoor bagi anak-anak. 

Jadi begini ceritanya…. Di kota tempat kami tinggal, ada sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumah. Taman itu terbuka dan gratis dan menurut saya cukup luas. Ada tempat buat duduk-duduk, ada pohon-pohon yang rindang, ada area berumput yang cukup luas, dan ada 2 buah set ayunan untuk anak-anak (yang pada prakteknya dipakai oleh bayi hingga para ABG). Sederhana tapi terdengar ideal buat main anak-anak, bukan? Meskipun kami tidak ke sana setiap hari, namun setiap kali ke sana, anak-anak selalu senang bermain ayunan atau sekedar berlari-lari di area rumputnya. Kalau hari Minggu, taman itu ramai oleh keluarga dan ada penjual makanan di sekitarnya plus penjual aneka mainan anak yang bisa dimainkan di luar ruangan, seperti gelembung sabun, bola, dsb.

Nah, beberapa bulan yang lalu, taman tersebut tiba-tiba direnovasi supaya menjadi lebih cantik. Hasilnya, memang lebih cantik. Tapi saya dan anak-anak sedih karena ayunan kami hilang, digantikan oleh trotoar/walkway cantik yang melintasi taman tersebut. Area rumput yang tadinya cukup luas terbagi menjadi petak-petak yang ditumbuhi aneka tanaman/bunga yang cantik. Area yang agak lebar pun adalah area yang dilandasi oleh semen, cocok untuk duduk-duduk atau bersepeda (asalkan tidak ada yang sedang duduk-duduk di sana). Juga ditambahkan neon box berupa huruf-huruf yang menghiasi taman tersebut dengan namanya, dilengkapi dengan areal yang cukup memadai buat ber-selfie ria.

Taman itu memang cocok buat jalan-jalan santai melintasi taman atau misalnya naik otopet/sepeda. Atau sekedar duduk-duduk di bangku yang disediakan. Cantik, memang. Tapi, kenapa ayunan kami diambil? Kenapa areal rumput luas sekarang terpotong oleh walkway yang membaginya menjadi petak-petak yang ditumbuhi tanaman yang cantik, yang “tidak boleh diinjak”? Anak-anak kalau mau main lempar-lempar bola harus lebih berhati-hati karena arealnya menjadi jauh lebih sempit. Mau lari-lari, ya masih bisa sih, asal nggak kesandung batasan2 walkway atau nabrak orang yang lagi berjalan kaki santai melintasi walkway taman. Paling sedih, kenapa areal buat nama taman lebih luas daripada areal rumputnya? Kenapa buat selfie difasilitasi, sedangkan alat bermainnya dihilangkan? I bet those neonbox letters cost more than 1 simple set of playground equipment.

Seperti yang sudah saya bilang di disclaimer, saya masih bersyukur taman tersebut ada dan tidak dijadikan menjadi tempat parkir atau apa. Saya juga mengakui, taman tersebut lebih cantik dan rapi. Tapi anak-anak kecil yang menjadi generasi penerus kota ini nggak butuh cantik dan rapi ataupun tempat selfie—mereka lebih membutuhkan ruangan terbuka lebar yang hijau sebagai tempat bermain.
Pernahkah kita menghitung berapa banyak areal playground terbuka yang gratis, yang tersedia untuk anak-anak? Kota saya, yang ironisnya memiliki banyak taman dan kebun yang cantik, kehilangan salah satu taman bermain anak-anaknya. Kalau anak-anak saya mau berlari-larian dengan bebas, pilihan terakhir saya hanyalah lapangan luas di pusat kota, yang itupun harus berbagi dengan masyarakat yang juga menggunakannya untuk bermain bola. Atau ya saya harus mengajaknya ke playground berbayar di berbagai pusat perbelanjaan. Ya, kami harus membayar per jam untuk suatu hal yang harusnya menjadi hak mereka sebagai anak-anak. Alhamdulillah kami bisa menyisihkan dana, nah buat anak-anak yang orang tuanya bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan dasar, bagaimana caranya??

Di sini, saya merasakan playground sebagai barang mewah. Hanya anak-anak yang menjadi siswa sekolah tertentu bisa menikmatinya, atau harus ke mall dulu dan bayar untuk bisa menikmatinya dengan sesekali, sesuai kemampuan orang tua. Mungkin mereka berpikir, buat apa menyediakan alat bermain gratis kalau nantinya akan dirusak? Tapi bagaimana anak-anak akan belajar merawat kalau tidak diberikan sama sekali? Apa susahnya mempekerjakan beberapa orang satpam untuk menjaga keamanan playground publik?

Mungkin mereka berpikir, anak-anak sudah bisa bermain di sekolahan. Tapi, apa kabar dengan sekolah yang tidak memiliki alat bermain yang memadai? Belum lagi jam istirahat/bermain yang terbatas.  Di sisi lain, orang tua yang libur pada akhir pekan terpaksa membawa anak-anaknya lagi-lagi ke mall, karena hanya di situlah tempat bermain anak-anak berada, baik yang gratis maupun berbayar. 

Ah, anak-anak tidak membutuhkan alat-alat playground pun sudah bisa bermain kok! Iya, memang… tapi adanya beberapa alat bermain seperti ayunan,, perosotan, panjat-panjatan, dsb bisa membuka beragam kesempatan bermain dan belajar keterampilan baru… tidak berhakkah anak-anak diberikan alat bantu untuk menambah keasyikan bermain? Sebegitu rugikah mengeluarkan uang untuk generasi cilik kita? Selama ini, ada taman untuk berlatih skateboard… ada lapangan bola umum… ada lapangan bulu tangkis… bahkan ada taman buat corat-coret graffiti—semuanya rata-rata untuk remaja ke atas. Kapankan anak-anak kecil kita akan memiliki taman bermain yang layak dan khusus untuk mereka? Haruskah mereka menjadi warga yang besar dulu untuk bisa menikmati fasilitas ruang terbuka publik? 

Anak-anak berlari bebas di sebuah taman kota yang letaknya sekitar 2 jam dari kota tempat tinggal kami

Anak-anak kecil lah yang paling membutuhkan ruang terbuka lebar untuk berlari, lompat, eksplorasi, dan bergerak tanpa larangan “awas, nabrak! Awas, nggak boleh menginjak rumput!” dan berbagai macam peringatan lainnya. Tapi sayangnya, semakin lama, ruangan terbuka untuk mereka semakin berkurang. Padahal, kurangnya waktu dan kesempatan bagi anak-anak untuk bergerak dan bermain bebas di tempat terbuka bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar, mempengaruhi rentang perhatian mereka, koordinasi motorik mereka, dst. Intinya, anak-anak butuh ruang untuk bergerak pada usia mereka yang masih kecil, bukannya menunggu mereka besar dulu!

Saya tidak mau membandingkan kondisi kota tempat tinggal saya dengan kota maupun negara lainnya, karena setiap tempat berbeda-beda kondisi lingkungannya. Namun, saya hanya merindukan sesuatu yang sederhana yang pernah saya alami sebelumnya (di 2 negara yang berbeda plus di kota tempat tinggal kami saat ini) dan kini semakin lama semakin susah dijangkau, baik secara lokasi maupun secara finansial.  


Semoga tulisan saya ini bisa menggerakkan hati kita semua untuk memikirkan nasib bermain anak-anak kita. Where there is a will, there is a way... we just have to remember that kids are our next generation, so they deserve to be thought of in the way that we think about facilitating the development of our teens and adults as part of our society. 


Wednesday, December 30, 2015

Sunat 101

Ditulis oleh Arum Budiani, 
pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

Alhamdulillah, Little Bug tanggal 25 Desember kemarin sudah disunat, yeayy! Liburan sekolah memang identik dengan sunatan, karena kebanyakan orang tua memilih waktu libur yang agak lama supaya pemulihan pascasunat bisa berjalan dengan santai, tanpa memotong waktu sekolah. Lah, kami kan homeschool, apa bedanya? Well, Little Bug ada jadwal les music yang sayang kalau harus terlewati, jadi kami memilih ketika lesnya juga libur 2 minggu hehehe J

Anyways, saya ingin berbagi beberapa tips yang menurut kami bisa membantu memperlancar prosedur sebelum, ketika, dan sesudah sunat pada anak. Sebelum proses sunat, saya mencari-cari artikel di internet soal sunat dan yang ketemu banyak malah iklan sunat, hikz.. jadilah bertekad berbagi pengalaman setelah sunat supaya ortu yang kebingungan seperti saya tidak bernasib sama hehehe J  Yang perlu diingat hanya bahwa setiap anak berbeda-beda, jadi silahkan disesuaikan dengan situasi dan kondisi keluarga & anak masing-masing ya J  


Sebelum Sunat

  •  Kami mulai sounding tentang sunat itu jauh sebelum sunat dilakukan… mungkin setahun atau 2 tahun sebelumnya. Soundingnya nggak terus-terusan, hanya pas sikon mendukung dan juga sambil meyakinkan kalau kita percaya Little Bug akan berani melakukannya saat dia siap. Nah, kapan mau sunatnya terserah si anak, makanya soundingnya mulai dari lama (saat ini Little Bug 6,5thm, kami sudah mulai sounding sejak umur 4thn an).  Kalau ada temannya yang sunat, kami beritahu juga dan kami ajak berkunjung beberapa hari setelah si anak sembuh untuk memberikan ucapan selamat sekaligus saya memperlihatkan kalau pasca sunat insyaaAllah akan baik-baik saja.


  • ·         Isi sounding pada intinya adalah memperkenalkan bahwa sunat itu ada dan harus mereka lalui. Tidak lupa kami menjelaskan kenapa sunat itu harus dilakukan, baik dari segi agama maupun kesehatan. Dan dari segi kesehatan, kami juga menjelaskan kalau lebih cepat lebih baik, karena semakin lama maka semakin rawan untuk kotoran terselip di bagian ujung alat kelaminnya meskipun kita selalu berusaha membersihkannya dengan sebaik mungkin.


  • ·         Kami pribadi memberitahu Little Bug bahwa kami berharap dia bersedia sunat sebelum umur 7 tahun, akan tetapi pemilihan waktunya terserah dia kapan dia siapnya, baik sebelum atau saat umur 7 tahun itu. Itu preferensi pribadi ya, karena kami anggap 7 tahun sudah mulai lebih banyak mendalami Islam sehingga inginnya sudah disunat sebelum atau pada usia tsb.


  • ·          Kita jelaskan prosedurnya secara sederhana, baik pengertian tentang apa yang akan dilakukan maupun perbedaan antara beberapa metode sunat. Kami memberikan 2 pilihan metode untuk Little Bug (konvensional/bedah di RS vs clamp) dan dia akhirnya memilih metode clamp setelah melihat beberapa temannya  memilih metode yang sama plus dia lebih nyaman sunat dilakukan di klinik kecil daripada di RS. Silahkan mencari info sebanyak-banyaknya mengenai berbagai metode sunat (dari internet, ke tempatnya langsung, tanya ke teman yang sudah menyunatkan anaknya, tanya dsa keluarga, dsb). Semua metode ada risikonya, plus minusnya... pilih yang paling sesuai buat keluarga dan anak, perbanyak istikhoroh supaya tenang dalam mengambil keputusan.


  • ·         Sounding disesuaikan isinya dengan sikon yang ada. Di awal-awal penjelasannya masih sederhana , makin anaknya besar maka sedikit-sedikit ditambah penjelasannya dengan yang lebih detail. Jadi pemahaman si anak dibangun sedikit demi sedikit tentang prosedur ini.


  • ·         Kami tidak berbohong mengenai rasa sakitnya. Nggak didramatisir juga (please, jangan yaaa) tapi dijelaskan apa adanya. Kami jelaskan akan sakit sebentar saat disuntik anastesi, lalu pas prosedur sunat tidak akan terasa apa-apa karena efek suntikan anastesi tadi. Sakit berikutnya ketika efek obat hilang, itupun akan terbantu oleh obat pengurang rasa sakit. Dan kami dengan lembut meyakinkan bahwa kami akan menjalankan seluruh proses bersama-sama--- dia tidak akan sendirian.


  • ·         Setelah Little Bug bersedia disunat, kami menentukan tanggal. Nah ini kami putuskan berdasarkan 2 hal: jadwal yang tersedia di tempat sunat dan jadwal yang memungkinkan si Hubs untuk cuti. Yes, little boys need their dads for this one! Kalau seperti si Hubs yang susahhhh cuti, bisa diakali dengan pilih sunat pada hari Jum’at, supaya bisa meminimalisir jumlah hari cuti. Pengalaman dengan Little Bug, yang beraduh-aduh ria itu hari pertama dan hari ke-2, selanjutnya udah mulai terbiasa pada hari ke-3. Jadi usahakan ada si ayah pada hari pertama sampai ke-3, minimal sampai hari ke-2. Untuk jadwal dari tempat sunat, semakin awal semakin baik supaya anak nggak jiper duluan kalau-kalau pasien sunat sebelumnya teriak-teriak/menangis heboh. Atau kalau dapat jadwal yang agak siang, mungkin bisa diakali dengan menunggu di mobil sampai saat gilirannya.


  • ·         Tanggal sudah oke, lalu apa lagi?  Have fun together!!!! 1-2 minggu sebelum sunat, saya sengaja ajak Little Bug jalan-jalan atau main apapun kesukaannya. Ya tentunya diatur sedemikian rupa  supaya kondisi anak-anak tetap fit sebelum sunat. Intinya, si anak dibuat happy dulu sebelum nanti pemulihan pascasunat di rumah. Dengan menghabiskan waktu bersama melakukan apa yang dia suka, kita bisa meningkatkan bonding dengan anak-anak dan itu diharapkan bisa mempermudah anak-anak untuk lebih kooperatif saat prosedur sunat maupun saat pemulihannya. Nggak perlu mahal-mahal atau jauh-jauh, yang penting menghabiskan waktu melakukan apa yang mereka suka.


  • ·         Kami juga bersama-sama menyiapkan kegiatan untuk dilakukan di rumah saat pemulihan. Kita bisa memilih mainan/games untuk dimainkan bersama, buku-buku untuk dibaca bersama, film untuk ditonton bersama, dst. Di sini juga ada bagian dari negosiasi reward pascasunat hehehe… J Sesuaikan dengan kegemaran anak dan yang kira-kira bisa mengalihkan perhatian dari rasa sakitnya. Little Bug sangat suka Lego, jadi itu yang menjadi andalan kami kemarin (dan berhasil, dari pagi sampai sore ya nguplek aja terus hehehe). Selain itu, kami pada dasarnya menerapkan pembatasan penggunaan gadget dan screen-time, tapi kami “sesuaikan” untuk hari pertama dan ke-2 pascasunat kemarin J


  • ·         Jangan lupa siapkan obat merah, cotton bud, tissue basah, tissue kering, dsb sebagai “peralatan tempur” ketika anak nantinya buang air kecil pasca sunat. Tanyakan pada dokter apa saja yang harus disiapkan, sesuai dengan metode sunat yang digunakan.



Saat Hari-H Sunat

  • ·         Apapun yang terjadi, pasang muka tenang dan senyum! Kalau kecemasan di hati kita berlebihan, itu akan dirasakan oleh anak-anak, trust me! Anak-anak butuh didampingi mama-papa yang tenang dan berpikir positif terhadap Allah. Kalau mama-papanya cemas berlebihan, bagaimana anak akan bisa tenang mengandalkan kita untuk mendampinginya melalui seluruh prosedur sunat?


  • ·         Kalau anak merasa cemas, dengarkan dia dan katakan kalau wajar merasa cemas sebelum tindakan medis apapun. Kita juga bisa jujur dengan anak kalau kita juga ikut merasa cemas menanti prosedur sunat, lalu secara lembut mengingatkan kalau Allah selalu bersama dengan kita dan yakinkan kalau kita akan melalui ini bersama-sama sebagai sebuah tim.


  • ·         Ini mungkin terdengar seperti pesan sponsor, tapi memang sebaiknya yang mengantar sunat adalah orang-orang terdekat saja, jangan 1 RT, hehe ;p Takutnya semakin banyak pengantar malah semakin besar tekanannya… dan semakin rame di tempat sunat haha! Eyang-om-tante-pakde-bude-sepupu-tetangga-dst bisa diarahkan untuk menemui di rumah saja setelah selesai prosedur sunatnya. Kehebohannya di rumah aja ya, supaya nggak nambah deg-degan sebelum masuk ruang sunat hehehe J


  • ·         Bawa bekal makanan ringan+ minuman yang disukai anak. Obat bius memiliki masa berlaku dan obat pereda nyeri sebaiknya diberikan beberapa saat sebelum efek bius benar-benar habis. Tanyakan hal ini kepada dokter yang menjalankan operasi, jangan lupa! Mananan dan minuman berfungsi agar anak bisa makan & minum sebelum mengkonsumsi obat pereda nyeri.


  • ·         Dampingi dan pandu anak selama prosedur sunat. Jelaskan dengan nada tenang dan secara sederhana apa yang akan dokter/perawat lakukan step-by-step sesaat sebelum dilakukan supaya anak nggak merasa bingung/kaget. Dan ingatkan kembali bahwa dia akan disuntik obat bius sehingga nggak akan terasa apa-apa ketika prosedur sunat dilakukan. Pengalaman kemarin, Little Bug menjerit-jerit saat disuntik anastesi… selebihnya bisa tenang karena sudah baal, hehehe! Kalau anak jejeritan dan menangis meronta, jangan ikut panik! Tetap berusaha tenangkan dan yakinkan klo kita ada di sampingnya. Just hang in there, your kid needs you more than ever to stay calm… so he can stay calm!


  • ·         Last but not least, batasi foto-foto saat prosedur sunat. It’s a very personal procedure and your kid needs you more than the photos. ‘Nuff said.



Setelah Sunat

  • ·        Ingat bekal makanan/minuman yg dibawa? Makan dan minum supaya anak bisa minum obat pereda nyeri beberapa saat SEBELUM efek obat bius hilang. Lumayan bisa mengurangi drama di awal-awal masa pemulihan.


  • ·         Papa/Mama statusnya on stand-by pas hari pertama abis sunat. Kalau Little Bug apa-apa maunya dengan papanya, jadi si Mama urus-urus yang lain hehe. Kalau para ayah mengeluh capek, kita ingatkan dengan lembut kalau sunat hanya sekali seumur hidup (well, dikalikan dengan jumlah anak laki-laki yang dimiliki ya) dan ini saatnya mereka memanjakan si anak jadi dinikmati aja hehehe!


  • ·         Ingat semua kegiatan yg disiapkan sebelum sunat sebagai aktivitas pascasunat? Bring them on! Mulailah dengan kegiatan yang paling bisa mengalihkan perhatian anak dari rasa sakitnya. Kemarin kami menyediakan beberapa film dan games di tab pas awal-awal, karena itu yang lumayan ampuh. Selain itu, bermain Lego juga ampuh menyerap perhatiannya untuk waktu yang cukup lama, hehe J Sesuaikan dengan kesukaan masing-masing anak ya J

Little Bug main Lego kesukaannya pascasunat, bisa seharian! Caption kecil: Little Bug apa-apa maunya sama si Hubs, dari bangun tidur sampai tidur lagi :)


  • ·         Kami pribadi belum merencanakan kapan atau dalam bentuk apa syukuran sunatnya. Fokus di pemulihan dulu supaya perhatiannya nggak terpecah… anak-anak lebih butuh kehadiran kita dan keluarga terdekat di saat pemulihan daripada perayaan dengan banyak orang-orang yang belum tentu ia kenal baik J


  • ·         Kalau saran untuk makan & istirahat yang cukup mah udah umum ya. Yang penting kita juga jangan overly strict atau galak atau protektif dengan anak selama masa pemulihan. Usahakan tetap menciptakan suasana yang positif dan semangat untuk sembuh sehingga bisa cepat pulih lukanya. Anak dibuat se-happy mungkin meski sedang bergelut dengan rasa nyeri… yakinkan dia kalau insyaaAllah dia bisa melewatinya dan kita yang menjadi penyemangat no.1, bukan pihak yang menakut-nakuti dengan segala macam ancaman dan scenario menyeramkan J


Special notes:

·         Orang bilang, sunatan adalah “hajatnya anak laki-laki”. Bagi saya, pengertian akan maknanya “hajat anak laki-laki” tersebut bukan pada besarnya perayaannya, tapi lebih kepada besarnya perhatian kita kepada si anak laki-laki kesayangan sebelum, pada saat, dan sesudah prosedur sunat tsb. The greatest gift we can give is our attention and our presence, not presents. Untuk Little Bug, dia bisa menghabiskan waktu banyak dengan papanya yang khusus cuti untuk hari sunatnya dan setiap malam dikipasin manual (ala tukang sate) sampai dia tertidur pulas (padahal dah pake AC hahaha). Saya juga bisa menghabiskan waktu dengannya sebelum sunat, mengajaknya seharian jalan-jalan ke taman yang sangat ia sukai dan makan apa yang dia gemari. Eyang-eyangnya pada datang ke rumah dan memberikan perhatian secara bergantian. Kami merasa semakin dekat dan kompak sebagai sebuah keluarga yang telah melewati proses ini bersama. Itulah makna yang sesungguhnya, “hajat” yang paling penting J

Semoga pengalaman dan hikmah yang kami ambil dari pengalaman sunat Little Bug bisa membantu ya J  Stay calm and enjoy the once in a lifetime process as a family J



Tuesday, December 22, 2015

Confessions of a real, imperfect Mom

The mothering world out there is harsh. Yep, no kiddin! Dengan tanggung jawab membesarkan seorang anak (atau 2, 3, bahkan lebih), tekanan untuk menjadi “the ultimate supermom” itu sangatlah nyata. Seolah-olah your existence will be graded on how your kids will turn out. Sejak masih mengandung, kita sudah dibombardir dengan berbagai macam pilihan buat si baby setelah dia lahir nantinya: cloth diaper or disposable, breastmilk or formula, organic food or ordinary available groceries, co-sleeping or independent sleeping, ….. the list goes on and on and on and on. And then comes social media with the pictures and statuses of Moms who make all their kids meals from scratch from their own organic garden, make their toys from all recyclables, have the clean house like from the magazine pages,  and all the “ideal” things we all want for ourselves and our children. After all, our kids are top priority, so we want only the best for them, right?

The thing is, the pressure is so intense to be the ultimate super-duper mom that sometimes we lose ourselves in the beautiful journey of motherhood. We think that being a mom is another chore to cross off our daily list. But it's not. 

You forget that being a mom is a lifelong BLESSING. And your kids LOVE YOU for who you are, not for what others think about you.

 You can be so busy in trying to create the “Perfect and Ideal” that you lose sight of what’s important: loving you for who you are and being happy just being together with your children. 

Don’t get me wrong, we all have ideals and goals to strive towards. But don’t treat motherhood as if it were a black and white TV show. The episodes of motherhood are far from black and white, right or wrong. Apart from the religious and moral rules that we follow, the rest is an infinite number of pixels and colors that make your journey the ultimate blessing that God gave you. Each and every mother’s journey and struggle is her own. You are not one to judge them because you will never know her whole story. Remember, mothers are humans that make mistakes. Mothers are also lifelong learners that do their best within a given circumstance, so we should treat each other like that. Spread knowledge without judgement, because each mom will make decisions based on what’s feasible for her family, which sometimes might just be the best of the worst choices that she has.

So for all fellow moms out there…
Stop pressuring yourself because you are not perfect! Anak-anak akan belajar bahwa menjadi seorang manusia tidaklah harus sempurna.. yang penting adalah kita tidak pernah berhenti berusaha  untuk melakukan yang terbaik yang kita bisa. Bacalah banyak ilmu soal parenting dan pilihlah yang kira-kira cocok buat keluarga dan situasi yang dijalani. Take baby steps with your kids because your journey is not for them, but with them. Jelaskan ke anak-anak (dengan sederhana) bagaimana kita berusaha menjadi lebih baik sedikit demi sedikit. It’s okay to let them know if you make mistakes.. minta maaf dan beri tahu upaya kita untuk belajar dari kesalahan itu. Dengan demikian, kita memberikan contoh nyata bahwa it’s perfectly human to make mistakes, dan yang penting terus berusaha belajar menjadi lebih baik. 

Nikmatilah waktu makan dengan anak-anak, apapun makanannya. Nikmatilah waktu bermain dengan anak-anak, apapun mainannya. Nikmatilah waktu dengan anak-anak, titik. Be happy just being with them, apapun momennya.

And be happy being you, a mom. Take time to take care of yourself. Eat chocolate when the kids are sleeping. Watch cartoons with them in your pijamas from time to time. Have ice cream for breakfast as a special treat. You make your own happiness, not others. Never stop learning, never stop loving. 


Happy Indonesian Mother’s Day. Be happy, Moms… enjoy your blessing!

Thursday, December 03, 2015

Ideal vs. Real


3 Desember 2015

Hallo semuanya, lama tak bersua J Tak terasa sudah menjelang akhir tahun 2015 dan juga akhir semester 1 untuk kelas 1 SD (bagi yang menggunakan sistem semester). 6 bulan pertama bagi kami dalam jenjang formal kelas 1 SD itu banyak sekali penyesuaian, perjuangan, dan juga penemuan—dan proses ini masih berlanjut ya, hehehe… I just thought I’d write to tell you how it has really been. Bukan mau menakut-nakuti dan bukan juga mau mengumbar aib pribadi, postingan ini lebih kepada pengingat buat diri saya sendiri untuk terus berjuang dan terus bersyukur atas apa yang ada.
Coming in to this homeschooling thing, I had a lot of ideals. Don’t get me wrong—I still do. Hanya saja, saya belajar untuk lebih luwes untuk menyesuaikan antara “the ideal” vs. “the real”… sama-sama beakhiran “-eal”, tapi huruf depannya beda haha.

Pada umumnya, awal tahun ajaran itu sudah membayangkan akan ini-itu dengan jadwal rapi setiap harinya. Think again! Life happens. Bisa jadi pagi itu Baby Bird bangun tidur disertai tantrum selama 30 menit. Atau mendadak si Hubs dinas ke Jakarta dan kami menemani perjalanan ke sana supaya nggak kena 3-in-1. Atau ada pameran keren yang hanya hari itu saja padahal jaraknya lumayan sehingga jadinya pergi seharian. Atau Little Bug butuh waktu extra untuk membahas suatu materi tertentu sehingga yang lain jadi tergeser. Atau ada yang sakit. Atau hal-hal lain yang sifatnya di luar dugaan. Yep, life happens. What I learned: just enjoy and focus on the time being together. Little Bug pernah nyeletuk, “Yang penting kita bareng-bareng kan, Ma?” J

Belajar memang nggak kenal tempat dan waktu. Teorinya begitu tapi kadang masih merasa dikejar-kejar oleh materi yang belum tercover. Face it, sebagian besar dari kita adalah produk sekolah formal selama 12+ years yang penuh dengan target-target capaian materi kurikulum. Dan meskipun kami memliih untuk mengikuti aturan pemerintah mengenai sekolahrumah (that’s what they call it), mengelola waktu supaya bisa tercapai ideal “belajar apa saja di mana saja kapan saja dengan siapa saja” dan juga memenuhi persyaratan negara… butuh banyak legowo nya. Anak-anak nggak akan sadar dengan tekanan tersebut kecuali kalau kita turut menekan mereka… jadi jangan!  Cukup mereka tahu setahun ke depan ada topik-topik apa saja yang akan dibahas. Selebihnya biar kita yang fasilitasi dengan metode yang paling cocok dengan anak-anak. Focus on the positive. Focus on the excitement of learning something new. Jelaskan kenapa hal tersebut penting/relevan untuk dipelajari. Focus on fun field trips that you can go on or intriguing projects you can do. Dan selalu kaitkan dengan kehidupan sehari-hari setiap ada kesempatan.



Kita sebagai fasilitator yang harus kerja keras mengawasi waktu, supaya tetap fleksibel untuk memenuhi keingintahuan mereka tapi di sisi lain juga nggak lupa waktu. Enaknya homeschool ya anak didiknya hanya anak-anak kita aja, jadi kalau butuh menyesuaikan waktu akan lebih mudah diakali. Kita punya sepanjang hari, which is a lot!Kita sebagai orang tua pelan-pelan bisa belajar untuk legowo dan enjoy dengan proses belajar yang terjadi meskipun tidak sesuai jadwal, tidak sesuai rencana awal, atau bahkan "ketinggalan" menurut kita... insyaaAllah there is room for flexibility and time for catching up.. anaknya cuma anak kita aja kan, bukan sekelas isi 40? Hehehe... :)  Plus kita nggak harus stuck di 1 metode saja—we can facilitate the learning process however we want. Misalnya ketika belajar soal rukun Iman, saya membacakan cerita tentang malaikat sebelum Little Bug tidur. Contoh lain, saya membahas materi soal bangun ruang matematika melalui kegiatan bermain balok kayu di sore hari. Atau perubahan bentuk benda dan karakteristik benda melalui sensory play jelly beku saat akhir pekan. Lama-lama Little Bug juga bisa belajar bahwa dalam sehari itu ada alokasi waktu yang bisa dia gunakan dengan bebas dan juga ada waktu untuk menyelesaikan hal-hal yang diperlukan. 

Real life is like that. Ideally, they are free to do whatever they want the whole day, seperti saat mereka masih balita (siapa sih yang nggak mau? Haha). But in reality, the older you get, the more obligations to finish before you can do what you want… that’s when you learn to prioritize, etc. Dalam hal ini, mulai jenjang kelas 1 ini, Little Bug ada paperwork/kegiatan terstruktur sesuai kurikulum nasional di luar waktu bebasnya untuk belajar/bermain yang lain. Supaya bisa legowo? Make those obligations as fun or enjoyable as you can using creative ways. Find meaning in them and do your best to enjoy fulfilling them. Jangan berpikiran bahwa kewajiban tersebut nggak ada gunanya dan kita terpaksa melakukannya. Perception is important… jadi tugas kita sebagai orang tua untuk memfasilitasi supaya persepsi anak-anak tetap positif. Some things is life you may not like but you just gotta tough it out. But who says you can’t find enjoyable ways to do them? Hehe ;)

Ketika menemui tantangan atau kesulitan, saya selalu ingatkan Little Bug mengenai konsep growth mindset – bahwa otak dia adalah otot yang sedang dilatih, makin sering dilatih makin terampil. Cara melatih otak ya dengan berbagai tantangan atau kesulitan. Misalnya dalam hal menulis rapi: dia sedang melatih otaknya untuk mengkoordinasi otot-otot di tangan supaya bisa menulis dengan rapi dan terbaca. Saya sering menyemangati dengan kata-kata “it gets easier the more you do it” meskipun dia tampak nggak percaya, hehe ;p You can read more about the growth mindset here.


Last but definitely not least, don’t forget to think positive towards Allah in all of your days. Your day might not start out the way you planned it, or it might not turn out the way you planned it, but it sure is the way Allah planned it for you, and He is the best of all planners. Don’t lose your ideals as long as you can balance it with the real…. Just do your best and be thankful for each day, because life can be messy at times but it’s always a blessing to be alive and living it together with your family!

Saturday, August 22, 2015

Film “Inside Out”: Getting in touch with our own Emotional Headquarters

(Picture from Wikipedia)


Ditulis oleh: Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

*warning: may contain spoilers*

Akhirnya... film “Inside Out” yang ditunggu-tunggu ini, diputar di bioskop di sini! Jarang-jarang saya benar-benar suka dengan suatu film..tapi ini adalah film yang sangat sangat berkesan buat saya dan anak-anak. Nah saya akan sharing tentang insight  apa saja yang bisa diambil dari film ini. Namanya emakHS, pastilah nggak lepas dari mencari “teachable moments” atau learning opportunities, dan hal itu termasuk dengan film ini, hehehe! Nah, berhubung film ini bener-bener membahas soal emosi, maka menurut saya, film ini WAJIB DITONTON buat para orang tua, eyang, om-tante, guru, pengasuh, dan orang-orang dewasa lainnya yang sehari-harinya akan berinteraksi dengan anak-anak/pra-remaja/remaja. Bisa jadi kita juga bisa menyembuhkan diri sendiri setelah menonton film ini, hehehe ;p

Okay, selama nonton film ini (bahkan sebelum atau setelahnya), silahkan memikirkan insight-insight berikut...

1. Film ini sebagai alat bantu untuk memvisualisasikan berbagai emosi dasar manusia dalam bentuk yang konkrit, ketika menjelaskan ke anak-anak soal emosi-emosi tersebut.
Kelima tokoh emosi memiliki ciri-ciri yang mendukung gambaran emosi tersebut, misalnya Anger yang berwarna merah dan kadang berapi-api, Sadness yang “blue” dan selalu melankolis, dan Fear yang digambarkan sebagai karakter kurus kecil yang selalu ketakutan.  Labeling emosi itu adalah dasar dari proses pembelajaran tentang manajemen emosi, dan membutuhkan proses yang lamaaaaa... jadi alat bantu apapun sangat bermanfaat, apalagi kalau semenyenangkan film ini, hehehe!

2. Film ini memberikan gambaran secara sederhana, menarik, dan cukup mudah dipahami  mengenai berbagai macam dinamika emosi yang terjadi dalam otak kita ketika menghadapi suatu kejadian tertentu serta tentang cara kerja ingatan.
Meskipun terdapat beberapa hal yang tidak sepenuhnya akurat secara ilmiah, seperti yang tercantum dalam artikel ini dan ini, namun film ini bagi saya bisa jauh lebih mudah daripada saat kuliah saya mempelajarinya dalam mata kuliah psikologi faal dan psikologi umum (atau kognitif ya... lupa)!

3.  Film ini berisi pembelajaran soal emosi dasar manusia untuk seluruh keluarga.
Menurut saya, anak usia SD sudah mulai bisa mengerti isi pesan yang terkandung dalam film ini. Meskipun demikian, anak-anak balita seperti Baby Bird (yang sekarang berusia 3.4 thn) mungkin hanya akan melihat kalau karakter emosinya lucu-lucu dan bisa sekalian melatih mereka membedakan nama-nama tokoh emosi tersebut J
Nah, kenapa saya sampai bilang WAJIB tonton buat para orang tua dkk? Karena pendidikan tentang manajemen emosi itu adalah suatu area yang saya lihat masih belum banyak disadari pentingnya di Indonesia. Yang dikoar-koar adalah calistuuuuuuuuung *ampe monyong bilangnya* melulu.. Nah, kalau anak-anaknya di sekolah nanti misalnya pada suatu ketika jadi malas belajar, tawuran gara-gara hal sepele, ada kejadian bullying, dsb dsb itu.. baru deh kebakaran jenggot memikirkan soal penyebabnya, yang mana bisa saja salah satunya adalah pendidikan manajemen emosi yang terlupakan. Ya, menurut saya, ini warning sign yang udah kelap-kelip di dashboard kita, menuntut untuk ditindaklanjuti. Sebab, pendidikan soal manajemen emosi itu dimulai sejak dini dan berlangsung lamaaa sekali, bukan proses yang menghasilkan dalam waktu cepat melainkan akan menjadi apa ya... akan mengiringi dan menjadi support-system perkembangan anak-anak hingga mereka dewasa. Dewasa pun masih harus berjuang mengendalikan berbagai emosi... apa jadinya kalau sejak anak-anak tidak dimulai?

4. Semua emosi itu adalah anugerah dari Allah SWT buat manusia, untuk membantu otak dan hati dalam menentukan sikap dan tindakan kita dalam hidup ini.
Tentunya semua yang dianugerahkan Allah itu tentunya tidak ada yang sia-sia, seperti yang di akhir film terjawab pertanyaan dari si Joy (karakter emosi bahagia), “Kenapa sih harus ada Sadness (karakter emosi sedih)? Apa sih tugasnya dia? Karena harusnya manusia itu selalu bahagia...? Saya nggak mau Riley (anak perempuan yg menjadi tokoh utama film ini) untuk merasa sedih.” Si Joy bertanya demikian, karena pada awal film, dijelaskan tuh apa tugas dari masing-masing emosi, seperti: Anger (marah) yang berguna untuk menyalurkan agresi dan membela diri, Fear (takut) bertugas untuk melindungi Riley dari bahaya, dan Disgust (jijik) bertugas untuk melindungi Riley dari situasi yang bisa membuat dia dipermalukan atau menjadi sakit. Tapi Joy tidak habis pikir, buat apa ada Sadness, karena hanya membuat Riley sedih... padahal Joy adalah pengendali utama dari geng emosi tsb, karena pada dasarnya Riley kan gadis yang hampir selalu bahagia.. begitu pikirnya. Oleh karena itu, dari awal film, Joy selalu berusaha menjauhkan Sadness dari papan kontrol pikiran Riley di Headquarters (ruang pusat kendali). Pun Sadness dapat “giliran” di papan kontrol, Joy selalu berusaha agar ia cepat-cepat menyelesaikan tugasnya.

5. It’s okay to be (temporarily) sad; it’s not okay to deny your sadness.
Dalam film ini, kekacauan terjadi ketika Joy melarang Sadness menyentuh memory orb (bongkahan peristiwa yang akan masuk ke dalam ingatan Riley, dilambangkan dengan bola-bola memori) milik Riley, karena dia menginginkan memori-memori inti milik Riley berupa memori yang bahagia semuanya. Akibatnya, Joy dan Sadness tersedot masuk ke alam memori si Riley dan jadilah control panel di Headquarters tinggal dikendalikan oleh Anger, Fear, dan Disgust—cara kreatif dari Pixar untuk menggambarkan depresi ringan yang dialami Riley dalam kondisinya saat itu.
Karena Riley tidak menunjukkan kesedihannya, maka dia juga tidak mendapat bantuan dari siapapun mengenai perasaan-perasaan yang dia hadapi, sehingga lama-lama dia menjadi terputus dengan papan kendali perilakunya (yang tidak bisa dikendalikan pula oleh Anger, Fear, maupun Disgust). “Pulau-pulau kepribadian” dari Riley juga mulai hancur satu-per-satu seiring dengan depresi yang dia alami: hancurnya “pulau kekonyolan”, “pulau persabahatan”, “pulau kejujuran”, dan yang paling dramatis (dan bikin mau nangis emak ini) ketika robohnya “Pulau keluarga”.

6. Peran dari Sadness adalah untuk mengirimkan sinyal ke orang lain, bahwa kita butuh bantuan.
Joy akhirnya mengetahui peran sesungguhnya dari Sadness setelah menyadari bahwa memori bisa saja berubah dari yang awalnya sedih menjadi bahagia kembali, setelah kesedihan tersebut dihadapi dan diatasi dengan bantuan dari orang lain. Jadi alih-alih menafikan rasa sedih, malah rasa sedih itu seharusnya  diterima dan dihadapi, supaya bisa merasa bahagia kembali.
Jadi kalau anak menangis karena sedih, kita jangan memarahi mereka karenanya... namanya juga manusia, maka anak berhak merasakan semua jenis emosi, jangan hanya positifnya saja yang diakui tapi juga negatifnya. Tinggal kita pelan-pelan mengajarkan bagaimana cara menyalurkan emosi tsb dengan cara yang dapat diterima, sesuai dengan usia mereka.

7. Sesuatu hal akan diingat apabila berkesan/relevan/menyenangkan.
Pekerja kebersihan dalam alam penyimpanan memori Riley berkata kepada Joy, "If Riley doesn't care about a memory, it fades...". Nah... ada pembersihan bongkah-bongkah memori yang sudah tidak diperlukan atau dipedulikan lagi oleh Riley, disedot pakai vaccum cleaner untuk kemudian dibuang ke tempat pembuangan memori. Kalau sebuah ingatan nggak digunakan kembali di kemudian hari, maka lama-lama ingatan itu akan hilang, seperti pepatah  use it or lose it”. Jadinya kita sebagai orang tua juga bisa merenung, sudahkah kita membuat kenangan yang berkesan buat anak-anak? Kesannya bukan di kita, tapi di anak-anak... dan ini menjadi reminder buat kami ketika akan merencanakan kegiatan/liburan keluarga dan juga buat sebagai bahan obrolan sehari-hari dengan anak-anak. Selain itu, kaitannya dengan belajar adalah, anak-anak akan mengingat hal-hal yang bermanfaat/relevan/menyenangkan menurut mereka. Sudahkah kita membuat proses belajar mereka demikian? *namanya juga emak HS, pasti ujung2nya refleksi ke kegiatan “belajar” keluarga sehari-hari hehehe*

8. Anak-anak memandang dunia dari kacamata anak-anak.
Ini adalah reminder buat kita para orang tua, bahwa bisa saja sesuatu yang menurut orang tua itu nggak masalah, bisa jadi masalah buat anak-anak. Seperti dalam film, kepindahan keluarga Riley ke tempat tinggal baru yang jauh itu sebenarnya membuat Riley merasakan berbagai emosi negatif seperti sedih, takut, dan marah. Akan tetapi, Riley mendapat kesan dari orang tuanya (dan juga didorong oleh Joy) bahwa mereka ingin agar dia bahagia dengan kepindahan tersebut...sehingga dia berusaha memaksakan diri untuk senang dan menutupi perasaan sedihnya. Jadi, sebagai orang tua, jangan lupa kalau cara canak-anak memandang dunia itu bisa jadi berbeda dengan apa yang kita pikirkan... yuk, kita coba untuk lebih sering mengobrol tanpa menghakimi... dan berusaha untuk memahami cara berpikir anak-anak kita :)

9. All feelings are okay, all behavior isn’t.
Orang tua Riley selama durasi film tetap teguh dengan batasan yang tegas untuk perilaku yang tidak sopan atau yang tidak dapat diterima. Mereka menegur perilakunya, bukan perasaannya. Dan ketika Riley belum mau bercerita, mereka juga tidak memaksanya untuk bercerita, namun meyakinkannya kalau mereka akan ada di sana kalau dia sudah mau bercerita pada mereka. Selain itu, mereka juga tidak langsung memarahi Riley ketika dia kembali ke rumah habis seharian dicari-cari oleh mereka... ketika Riley menangis dan bilang kalau dia rindu dengan rumah mereka yang lama, mereka bukannya memarahinya tapi justru mendengarkan dan berusaha mengerti perasaannya. Sudahkah kita bisa seperti itu?

10. Life changes, but family sticks together, no matter what.
Terakhir, kita bisa lihat Riley dan keluarganya beradaptasi dengan kehidupan mereka yang baru. Apapun yang terjadi, mereka sadar bahwa keluarga lah yang utama dan harus menjadi tim yang solid. Keluarga adalah sebuah tim yang saling membantu dan membutuhkan dukungan satu sama lainnya. Kita juga harus menyadari bahwa dinamika keluarga akan terus berkembang seiring dengan perkembangan usia anak-anak (dan kita juga)... jadi harus senantiasa berusaha menjaga agak komunikasi tetap terbuka dan hangat, agar bisa melalui suka dan duka bersama-sama.

Semoga insight-insight di atas bisa memperkaya manfaat dari menonton film ini :)

                                           

Friday, August 07, 2015

Opening doors

Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com dan FB page "Our Learning Family"

Sewaktu kami memutuskan untuk memilih alternatif pendidikan anak-anak berupa homeschool, pada awalnya kami membayangkan kalau kami akan bisa menjalani kegiatan belajar yang lebih santai, sesuai dengan minat anak, tanpa terikat dengan segala hikuk-pikuk pendidikan formal pada umumnya. Lalu... kami dibangunkan dari mimpi yang ideal itu dengan kabar bahwa ada peraturan mendikbud no.129 thn. 2014 mengenai "sekolahrumah" alias homeschool ini. Jegerrr!

Reaksi teman-teman HS terhadap permen tsb sepertinya sangat beragam, berhubung kami tidak terikat komunitas manapun, jadi mau nggak mau harus menentukan sikap dan bergerak mencari  informasi sendiri.

Kami pada dasarnya menyambut baik adanya peraturan ini, krn meneguhkan status anak-anak yang berHS ria. Tapi memang di sisi lain, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh keluarga HS, yang bukan tidak mungkin, kurang sejalan dengan visi misi maupun kegiatan keluarga HS yang sangat beragam.

Kalau keluarga kami sendiri... kami memang menginginkan anak-anak untuk kelak memiliki ijazah nasional maupun internasional. Kenapa? Karena kami ingin membuka pintu sebanyak-banyaknya buat anak-anak kami kelak ketika mereka menyusuri perjalanan hidup mereka sendiri. Jangan sampai nantinya mereka terhalang oleh persyaratan administrasi ketika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yg lebih tinggi.. atau siapa tau mau ambil beasiswa baik dalam/luar negri.. atau apapun yang membutuhkan ijazah resmi... just because we (as their parents) didn't take the necessary steps to ensure they can get it when the time comes.

Jangan salah.. we do not want to "teach to the test"--- justru salah satu alasan kami HS adalah untuk menghidari konsep belajar hanya demi nilai! Bukan lantas ijazah ini jadi satu2nya tujuan dalam HS kami ya... tapi kami lebih memandangnya sebagai tantangan.. bagaimana kita bisa menyelaraskan antara keinginan untuk nantinya mendapatkan ijazah ini dengan semangat untuk terus belajar seumur hidup dan mengejar apa yang diminati.

Okay, selesai urusan paradigma... dengan kaca mata positive thinking, saya lalu mendatangi disdik di tempat tinggal kami. Alhamdulillah diterima dengan baik, lalu saya berdiskusi panjang lebar mengenai implikasi permen ini, serta apa yg menjadi hak dan kewajiban saya sbg orang tua. Nah, sampai saya menulis ini, setahu saya belum ada petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan permen 129 itu. Jadi masih banyak area abu-abu... tapi yg bisa saya pahami dari diskusi pada hari itu adalah (semoga nggak salah):

1. Kita wajib mendaftarkan anak kita yg HS ke disdik setempat, dengan membawa fotokopi identitas diri dari orang tua dan anak, surat pernyataan dari orang tua yg menyatakan akan bertanggung jawab untuk menjalankan pendidikan di rumah, klo si anak sudah di atas 13thn maka dia juga harus bikin surat pernyataan bersedia menjalani pendidikan hs, dan dokumen program sekolahrumah yg sekurang-kurangnya mencantumkan rencana pembelajaran.

Format dan ketentuan semua dokumen itu belum ada, jadi saya buat sederhana namun terkesan resmi. Saat ini masih berkutat di rencana pembelajaran (saya hanya buat rencana untuk tahun ajaran ini saja), jadi belum balik lagi ke disdik buat daftar secara resmi (jadi belum tau juga tanggapan mereka akan seperti apa thd dokumen2 yg saya buat ini). Tunggu tanggal mainnya yaa!

2. Kalau sudah terdaftar, karena juknis belum ada, jadi disdik juga belum ada peraturan yg mengatur hak/kewajiban mereka ke kita, dan sebaliknya. Jadi untuk saat ini sifatnya supaya saling tahu saja dan sebagai awal partnership kita dengan mereka. Nah, waktu itu sempet ada pembicaraan mengenai NISN (nomor induk siswa nasional) buat anak HS yg terdaftar, tapi saya lupa bagaimana dan sepertinya masih belum jelas ketentuannya. Nanti insyaaAllah saya akan tanya lagi pas ke disdik. Logikanya sih klo terdaftar berarti akan dapat NISN atau at least sudah terdaftar dalam sistem.. jadi kalau ada apa-apa sudah ada administrasinya.

3. Kurikulum yg dipakai mengacu kpd kurnas. Plus harus mengajarkan Agama, PPKn dan Bhs Indonesia di luar pelajaran lainnya.
Nah, buat kami yang ingin memakai kurikulum Cambridge, ini jadi tantangan karena tadinya berniat ngebut drilling soal ketika kls 5/6 aja buat ujian paket A, nah jadinya kan gak bisa sesederhana itu. Kesan pertama: wah jadi banyak dong pelajarannya! Tapi kalau mau positive thinking, kita bisa cari cara supaya pelajaran kurnas ini bisa dibuat semenarik mungkin dan diselaraskan dengan kegiatan belajar yg lain (yang sesuai dengan visi misi dan metode yg kita gunakan). Dan dari sepanjang hari, paling yg dipakai untuk belajar materi kurnas itu berapa lama sih.. nggak harus sepanjang hari kan..?
Plus.. pelajaran bahwa in life, there are just some things you just have to do even though you don't like it.. but it doesn't mean that your life will be taken over by it. Pinter-pinternya kita aja mengaturnya. Toh yang penting kontennya aja yg sesuai kurnas.. metode pengajarannya? Terserah kita! (dan nggak perlu dilaporkan, hehehe)

4. Evaluasi dilakukan oleh pendidik (orang tua), lembaga informal/nonformal, dan/atau pemerintah. Nah ini masih agak abu-abu bagi saya, tapi menurut ibu kabid yang berdiskusi dengan saya, jadinya kita melakukan evaluasi secara berkala (semesteran) bekerja sama dengan PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat) setempat. Nah teknis evaluasinya itu tergantung PKBM yg kita gandeng, dan nantinya evaluasi tsb akan dituangkan dalam raport yg dikeluarkan oleh PKBM. 
Nilai-nilai raport itu kalau nggak salah menjadi salah satu syarat nantinya ujian kesetaraan (paket A,B,C) dan menjadi salah satu dokumen pendukung jika nantinya berniat melanjutkan ke jenjang pendidikan formal selanjutnya, meskipun ijazah paket belum keluar (sementara bisa pakai surat keterangan lulus ujian, yg juga nantinya diterbitkan oleh PKBM tsb berdasarkan hasil ujian si anak). Ini khusus buat yg sudah mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yg lebih tinggi. Klo yg belum ya raport buat pegangan aja kalau sewaktu-waktu dibutuhkan hehehe :)

Okay, dengan berbekal poin-poin di atas, saya akhirnya meminta rekomendasi disdik untuk PKBM setempat yang track recordnya sudah terbukti baik. Sebenarnya bisa googling juga sih, tapi pastikan PKBM yg dituju sudah terdaftar dan memiliki NILEM (nomor induk lembaga atau apa gitu ya). Langkah selanjutnya adalah untuk berdiskusi dengan pengelola PKBM, membicarakan teknis partnership kami dengan mereka. Syukur-syukur mereka juga sudah mengetahui soal permen sekolahrumah, jadi akan lebih memudahkan pengaturan partnership ini sesuai dengan ketentuan yg diminta oleh si permen tsb.

Hosh-hosh.. panjang juga ya tulisan ini.. begitu pula perjuangan ini hehehe! Hikmah yang dapat saya ambil adalah melatih keberanian dan mendorong saya untuk asertif dalam mengurus kebutuhan pendidikan anak-anak. Nggak usah nunggu yang lain bergerak, jadilah penggerak kalau memang tujuannya baik, insyaaAllah :)

Semoga sharing pengalaman saya ini bisa bermanfaat :)

Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com dan FB page "Our Learning Family"