Thursday, March 10, 2016
Life Happens
Saturday, January 16, 2016
The Day They Took Our Playground Away
![]() |
| Anak-anak berlari bebas di sebuah taman kota yang letaknya sekitar 2 jam dari kota tempat tinggal kami |
Anak-anak kecil lah yang paling membutuhkan ruang terbuka lebar untuk berlari, lompat, eksplorasi, dan bergerak tanpa larangan “awas, nabrak! Awas, nggak boleh menginjak rumput!” dan berbagai macam peringatan lainnya. Tapi sayangnya, semakin lama, ruangan terbuka untuk mereka semakin berkurang. Padahal, kurangnya waktu dan kesempatan bagi anak-anak untuk bergerak dan bermain bebas di tempat terbuka bisa mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar, mempengaruhi rentang perhatian mereka, koordinasi motorik mereka, dst. Intinya, anak-anak butuh ruang untuk bergerak pada usia mereka yang masih kecil, bukannya menunggu mereka besar dulu!
Wednesday, December 30, 2015
Sunat 101
- Kami mulai sounding tentang sunat itu jauh sebelum sunat dilakukan… mungkin setahun atau 2 tahun sebelumnya. Soundingnya nggak terus-terusan, hanya pas sikon mendukung dan juga sambil meyakinkan kalau kita percaya Little Bug akan berani melakukannya saat dia siap. Nah, kapan mau sunatnya terserah si anak, makanya soundingnya mulai dari lama (saat ini Little Bug 6,5thm, kami sudah mulai sounding sejak umur 4thn an). Kalau ada temannya yang sunat, kami beritahu juga dan kami ajak berkunjung beberapa hari setelah si anak sembuh untuk memberikan ucapan selamat sekaligus saya memperlihatkan kalau pasca sunat insyaaAllah akan baik-baik saja.
- · Isi sounding pada intinya adalah memperkenalkan bahwa sunat itu ada dan harus mereka lalui. Tidak lupa kami menjelaskan kenapa sunat itu harus dilakukan, baik dari segi agama maupun kesehatan. Dan dari segi kesehatan, kami juga menjelaskan kalau lebih cepat lebih baik, karena semakin lama maka semakin rawan untuk kotoran terselip di bagian ujung alat kelaminnya meskipun kita selalu berusaha membersihkannya dengan sebaik mungkin.
- · Kami pribadi memberitahu Little Bug bahwa kami berharap dia bersedia sunat sebelum umur 7 tahun, akan tetapi pemilihan waktunya terserah dia kapan dia siapnya, baik sebelum atau saat umur 7 tahun itu. Itu preferensi pribadi ya, karena kami anggap 7 tahun sudah mulai lebih banyak mendalami Islam sehingga inginnya sudah disunat sebelum atau pada usia tsb.
- · Kita jelaskan prosedurnya secara sederhana, baik pengertian tentang apa yang akan dilakukan maupun perbedaan antara beberapa metode sunat. Kami memberikan 2 pilihan metode untuk Little Bug (konvensional/bedah di RS vs clamp) dan dia akhirnya memilih metode clamp setelah melihat beberapa temannya memilih metode yang sama plus dia lebih nyaman sunat dilakukan di klinik kecil daripada di RS. Silahkan mencari info sebanyak-banyaknya mengenai berbagai metode sunat (dari internet, ke tempatnya langsung, tanya ke teman yang sudah menyunatkan anaknya, tanya dsa keluarga, dsb). Semua metode ada risikonya, plus minusnya... pilih yang paling sesuai buat keluarga dan anak, perbanyak istikhoroh supaya tenang dalam mengambil keputusan.
- · Sounding disesuaikan isinya dengan sikon yang ada. Di awal-awal penjelasannya masih sederhana , makin anaknya besar maka sedikit-sedikit ditambah penjelasannya dengan yang lebih detail. Jadi pemahaman si anak dibangun sedikit demi sedikit tentang prosedur ini.
- · Kami tidak berbohong mengenai rasa sakitnya. Nggak didramatisir juga (please, jangan yaaa) tapi dijelaskan apa adanya. Kami jelaskan akan sakit sebentar saat disuntik anastesi, lalu pas prosedur sunat tidak akan terasa apa-apa karena efek suntikan anastesi tadi. Sakit berikutnya ketika efek obat hilang, itupun akan terbantu oleh obat pengurang rasa sakit. Dan kami dengan lembut meyakinkan bahwa kami akan menjalankan seluruh proses bersama-sama--- dia tidak akan sendirian.
- · Setelah Little Bug bersedia disunat, kami menentukan tanggal. Nah ini kami putuskan berdasarkan 2 hal: jadwal yang tersedia di tempat sunat dan jadwal yang memungkinkan si Hubs untuk cuti. Yes, little boys need their dads for this one! Kalau seperti si Hubs yang susahhhh cuti, bisa diakali dengan pilih sunat pada hari Jum’at, supaya bisa meminimalisir jumlah hari cuti. Pengalaman dengan Little Bug, yang beraduh-aduh ria itu hari pertama dan hari ke-2, selanjutnya udah mulai terbiasa pada hari ke-3. Jadi usahakan ada si ayah pada hari pertama sampai ke-3, minimal sampai hari ke-2. Untuk jadwal dari tempat sunat, semakin awal semakin baik supaya anak nggak jiper duluan kalau-kalau pasien sunat sebelumnya teriak-teriak/menangis heboh. Atau kalau dapat jadwal yang agak siang, mungkin bisa diakali dengan menunggu di mobil sampai saat gilirannya.
- · Tanggal sudah oke, lalu apa lagi? Have fun together!!!! 1-2 minggu sebelum sunat, saya sengaja ajak Little Bug jalan-jalan atau main apapun kesukaannya. Ya tentunya diatur sedemikian rupa supaya kondisi anak-anak tetap fit sebelum sunat. Intinya, si anak dibuat happy dulu sebelum nanti pemulihan pascasunat di rumah. Dengan menghabiskan waktu bersama melakukan apa yang dia suka, kita bisa meningkatkan bonding dengan anak-anak dan itu diharapkan bisa mempermudah anak-anak untuk lebih kooperatif saat prosedur sunat maupun saat pemulihannya. Nggak perlu mahal-mahal atau jauh-jauh, yang penting menghabiskan waktu melakukan apa yang mereka suka.
- · Kami juga bersama-sama menyiapkan kegiatan untuk dilakukan di rumah saat pemulihan. Kita bisa memilih mainan/games untuk dimainkan bersama, buku-buku untuk dibaca bersama, film untuk ditonton bersama, dst. Di sini juga ada bagian dari negosiasi reward pascasunat hehehe… J Sesuaikan dengan kegemaran anak dan yang kira-kira bisa mengalihkan perhatian dari rasa sakitnya. Little Bug sangat suka Lego, jadi itu yang menjadi andalan kami kemarin (dan berhasil, dari pagi sampai sore ya nguplek aja terus hehehe). Selain itu, kami pada dasarnya menerapkan pembatasan penggunaan gadget dan screen-time, tapi kami “sesuaikan” untuk hari pertama dan ke-2 pascasunat kemarin J
- · Jangan lupa siapkan obat merah, cotton bud, tissue basah, tissue kering, dsb sebagai “peralatan tempur” ketika anak nantinya buang air kecil pasca sunat. Tanyakan pada dokter apa saja yang harus disiapkan, sesuai dengan metode sunat yang digunakan.
- · Apapun yang terjadi, pasang muka tenang dan senyum! Kalau kecemasan di hati kita berlebihan, itu akan dirasakan oleh anak-anak, trust me! Anak-anak butuh didampingi mama-papa yang tenang dan berpikir positif terhadap Allah. Kalau mama-papanya cemas berlebihan, bagaimana anak akan bisa tenang mengandalkan kita untuk mendampinginya melalui seluruh prosedur sunat?
- · Kalau anak merasa cemas, dengarkan dia dan katakan kalau wajar merasa cemas sebelum tindakan medis apapun. Kita juga bisa jujur dengan anak kalau kita juga ikut merasa cemas menanti prosedur sunat, lalu secara lembut mengingatkan kalau Allah selalu bersama dengan kita dan yakinkan kalau kita akan melalui ini bersama-sama sebagai sebuah tim.
- · Ini mungkin terdengar seperti pesan sponsor, tapi memang sebaiknya yang mengantar sunat adalah orang-orang terdekat saja, jangan 1 RT, hehe ;p Takutnya semakin banyak pengantar malah semakin besar tekanannya… dan semakin rame di tempat sunat haha! Eyang-om-tante-pakde-bude-sepupu-tetangga-dst bisa diarahkan untuk menemui di rumah saja setelah selesai prosedur sunatnya. Kehebohannya di rumah aja ya, supaya nggak nambah deg-degan sebelum masuk ruang sunat hehehe J
- · Bawa bekal makanan ringan+ minuman yang disukai anak. Obat bius memiliki masa berlaku dan obat pereda nyeri sebaiknya diberikan beberapa saat sebelum efek bius benar-benar habis. Tanyakan hal ini kepada dokter yang menjalankan operasi, jangan lupa! Mananan dan minuman berfungsi agar anak bisa makan & minum sebelum mengkonsumsi obat pereda nyeri.
- · Dampingi dan pandu anak selama prosedur sunat. Jelaskan dengan nada tenang dan secara sederhana apa yang akan dokter/perawat lakukan step-by-step sesaat sebelum dilakukan supaya anak nggak merasa bingung/kaget. Dan ingatkan kembali bahwa dia akan disuntik obat bius sehingga nggak akan terasa apa-apa ketika prosedur sunat dilakukan. Pengalaman kemarin, Little Bug menjerit-jerit saat disuntik anastesi… selebihnya bisa tenang karena sudah baal, hehehe! Kalau anak jejeritan dan menangis meronta, jangan ikut panik! Tetap berusaha tenangkan dan yakinkan klo kita ada di sampingnya. Just hang in there, your kid needs you more than ever to stay calm… so he can stay calm!
- · Last but not least, batasi foto-foto saat prosedur sunat. It’s a very personal procedure and your kid needs you more than the photos. ‘Nuff said.
- · Ingat bekal makanan/minuman yg dibawa? Makan dan minum supaya anak bisa minum obat pereda nyeri beberapa saat SEBELUM efek obat bius hilang. Lumayan bisa mengurangi drama di awal-awal masa pemulihan.
- · Papa/Mama statusnya on stand-by pas hari pertama abis sunat. Kalau Little Bug apa-apa maunya dengan papanya, jadi si Mama urus-urus yang lain hehe. Kalau para ayah mengeluh capek, kita ingatkan dengan lembut kalau sunat hanya sekali seumur hidup (well, dikalikan dengan jumlah anak laki-laki yang dimiliki ya) dan ini saatnya mereka memanjakan si anak jadi dinikmati aja hehehe!
- · Ingat semua kegiatan yg disiapkan sebelum sunat sebagai aktivitas pascasunat? Bring them on! Mulailah dengan kegiatan yang paling bisa mengalihkan perhatian anak dari rasa sakitnya. Kemarin kami menyediakan beberapa film dan games di tab pas awal-awal, karena itu yang lumayan ampuh. Selain itu, bermain Lego juga ampuh menyerap perhatiannya untuk waktu yang cukup lama, hehe J Sesuaikan dengan kesukaan masing-masing anak ya J
![]() |
| Little Bug main Lego kesukaannya pascasunat, bisa seharian! Caption kecil: Little Bug apa-apa maunya sama si Hubs, dari bangun tidur sampai tidur lagi :) |
- · Kami pribadi belum merencanakan kapan atau dalam bentuk apa syukuran sunatnya. Fokus di pemulihan dulu supaya perhatiannya nggak terpecah… anak-anak lebih butuh kehadiran kita dan keluarga terdekat di saat pemulihan daripada perayaan dengan banyak orang-orang yang belum tentu ia kenal baik J
- · Kalau saran untuk makan & istirahat yang cukup mah udah umum ya. Yang penting kita juga jangan overly strict atau galak atau protektif dengan anak selama masa pemulihan. Usahakan tetap menciptakan suasana yang positif dan semangat untuk sembuh sehingga bisa cepat pulih lukanya. Anak dibuat se-happy mungkin meski sedang bergelut dengan rasa nyeri… yakinkan dia kalau insyaaAllah dia bisa melewatinya dan kita yang menjadi penyemangat no.1, bukan pihak yang menakut-nakuti dengan segala macam ancaman dan scenario menyeramkan J
Tuesday, December 22, 2015
Confessions of a real, imperfect Mom
Thursday, December 03, 2015
Ideal vs. Real
Saturday, August 22, 2015
Film “Inside Out”: Getting in touch with our own Emotional Headquarters
![]() |
| (Picture from Wikipedia) |
Friday, August 07, 2015
Opening doors
Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com dan FB page "Our Learning Family"
Sewaktu kami memutuskan untuk memilih alternatif pendidikan anak-anak berupa homeschool, pada awalnya kami membayangkan kalau kami akan bisa menjalani kegiatan belajar yang lebih santai, sesuai dengan minat anak, tanpa terikat dengan segala hikuk-pikuk pendidikan formal pada umumnya. Lalu... kami dibangunkan dari mimpi yang ideal itu dengan kabar bahwa ada peraturan mendikbud no.129 thn. 2014 mengenai "sekolahrumah" alias homeschool ini. Jegerrr!
Reaksi teman-teman HS terhadap permen tsb sepertinya sangat beragam, berhubung kami tidak terikat komunitas manapun, jadi mau nggak mau harus menentukan sikap dan bergerak mencari informasi sendiri.
Kami pada dasarnya menyambut baik adanya peraturan ini, krn meneguhkan status anak-anak yang berHS ria. Tapi memang di sisi lain, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh keluarga HS, yang bukan tidak mungkin, kurang sejalan dengan visi misi maupun kegiatan keluarga HS yang sangat beragam.
Kalau keluarga kami sendiri... kami memang menginginkan anak-anak untuk kelak memiliki ijazah nasional maupun internasional. Kenapa? Karena kami ingin membuka pintu sebanyak-banyaknya buat anak-anak kami kelak ketika mereka menyusuri perjalanan hidup mereka sendiri. Jangan sampai nantinya mereka terhalang oleh persyaratan administrasi ketika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yg lebih tinggi.. atau siapa tau mau ambil beasiswa baik dalam/luar negri.. atau apapun yang membutuhkan ijazah resmi... just because we (as their parents) didn't take the necessary steps to ensure they can get it when the time comes.
Jangan salah.. we do not want to "teach to the test"--- justru salah satu alasan kami HS adalah untuk menghidari konsep belajar hanya demi nilai! Bukan lantas ijazah ini jadi satu2nya tujuan dalam HS kami ya... tapi kami lebih memandangnya sebagai tantangan.. bagaimana kita bisa menyelaraskan antara keinginan untuk nantinya mendapatkan ijazah ini dengan semangat untuk terus belajar seumur hidup dan mengejar apa yang diminati.
Okay, selesai urusan paradigma... dengan kaca mata positive thinking, saya lalu mendatangi disdik di tempat tinggal kami. Alhamdulillah diterima dengan baik, lalu saya berdiskusi panjang lebar mengenai implikasi permen ini, serta apa yg menjadi hak dan kewajiban saya sbg orang tua. Nah, sampai saya menulis ini, setahu saya belum ada petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan permen 129 itu. Jadi masih banyak area abu-abu... tapi yg bisa saya pahami dari diskusi pada hari itu adalah (semoga nggak salah):
1. Kita wajib mendaftarkan anak kita yg HS ke disdik setempat, dengan membawa fotokopi identitas diri dari orang tua dan anak, surat pernyataan dari orang tua yg menyatakan akan bertanggung jawab untuk menjalankan pendidikan di rumah, klo si anak sudah di atas 13thn maka dia juga harus bikin surat pernyataan bersedia menjalani pendidikan hs, dan dokumen program sekolahrumah yg sekurang-kurangnya mencantumkan rencana pembelajaran.
Format dan ketentuan semua dokumen itu belum ada, jadi saya buat sederhana namun terkesan resmi. Saat ini masih berkutat di rencana pembelajaran (saya hanya buat rencana untuk tahun ajaran ini saja), jadi belum balik lagi ke disdik buat daftar secara resmi (jadi belum tau juga tanggapan mereka akan seperti apa thd dokumen2 yg saya buat ini). Tunggu tanggal mainnya yaa!
2. Kalau sudah terdaftar, karena juknis belum ada, jadi disdik juga belum ada peraturan yg mengatur hak/kewajiban mereka ke kita, dan sebaliknya. Jadi untuk saat ini sifatnya supaya saling tahu saja dan sebagai awal partnership kita dengan mereka. Nah, waktu itu sempet ada pembicaraan mengenai NISN (nomor induk siswa nasional) buat anak HS yg terdaftar, tapi saya lupa bagaimana dan sepertinya masih belum jelas ketentuannya. Nanti insyaaAllah saya akan tanya lagi pas ke disdik. Logikanya sih klo terdaftar berarti akan dapat NISN atau at least sudah terdaftar dalam sistem.. jadi kalau ada apa-apa sudah ada administrasinya.
3. Kurikulum yg dipakai mengacu kpd kurnas. Plus harus mengajarkan Agama, PPKn dan Bhs Indonesia di luar pelajaran lainnya.
Nah, buat kami yang ingin memakai kurikulum Cambridge, ini jadi tantangan karena tadinya berniat ngebut drilling soal ketika kls 5/6 aja buat ujian paket A, nah jadinya kan gak bisa sesederhana itu. Kesan pertama: wah jadi banyak dong pelajarannya! Tapi kalau mau positive thinking, kita bisa cari cara supaya pelajaran kurnas ini bisa dibuat semenarik mungkin dan diselaraskan dengan kegiatan belajar yg lain (yang sesuai dengan visi misi dan metode yg kita gunakan). Dan dari sepanjang hari, paling yg dipakai untuk belajar materi kurnas itu berapa lama sih.. nggak harus sepanjang hari kan..?
Plus.. pelajaran bahwa in life, there are just some things you just have to do even though you don't like it.. but it doesn't mean that your life will be taken over by it. Pinter-pinternya kita aja mengaturnya. Toh yang penting kontennya aja yg sesuai kurnas.. metode pengajarannya? Terserah kita! (dan nggak perlu dilaporkan, hehehe)
4. Evaluasi dilakukan oleh pendidik (orang tua), lembaga informal/nonformal, dan/atau pemerintah. Nah ini masih agak abu-abu bagi saya, tapi menurut ibu kabid yang berdiskusi dengan saya, jadinya kita melakukan evaluasi secara berkala (semesteran) bekerja sama dengan PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat) setempat. Nah teknis evaluasinya itu tergantung PKBM yg kita gandeng, dan nantinya evaluasi tsb akan dituangkan dalam raport yg dikeluarkan oleh PKBM.
Nilai-nilai raport itu kalau nggak salah menjadi salah satu syarat nantinya ujian kesetaraan (paket A,B,C) dan menjadi salah satu dokumen pendukung jika nantinya berniat melanjutkan ke jenjang pendidikan formal selanjutnya, meskipun ijazah paket belum keluar (sementara bisa pakai surat keterangan lulus ujian, yg juga nantinya diterbitkan oleh PKBM tsb berdasarkan hasil ujian si anak). Ini khusus buat yg sudah mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yg lebih tinggi. Klo yg belum ya raport buat pegangan aja kalau sewaktu-waktu dibutuhkan hehehe :)
Okay, dengan berbekal poin-poin di atas, saya akhirnya meminta rekomendasi disdik untuk PKBM setempat yang track recordnya sudah terbukti baik. Sebenarnya bisa googling juga sih, tapi pastikan PKBM yg dituju sudah terdaftar dan memiliki NILEM (nomor induk lembaga atau apa gitu ya). Langkah selanjutnya adalah untuk berdiskusi dengan pengelola PKBM, membicarakan teknis partnership kami dengan mereka. Syukur-syukur mereka juga sudah mengetahui soal permen sekolahrumah, jadi akan lebih memudahkan pengaturan partnership ini sesuai dengan ketentuan yg diminta oleh si permen tsb.
Hosh-hosh.. panjang juga ya tulisan ini.. begitu pula perjuangan ini hehehe! Hikmah yang dapat saya ambil adalah melatih keberanian dan mendorong saya untuk asertif dalam mengurus kebutuhan pendidikan anak-anak. Nggak usah nunggu yang lain bergerak, jadilah penggerak kalau memang tujuannya baik, insyaaAllah :)
Semoga sharing pengalaman saya ini bisa bermanfaat :)
Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com dan FB page "Our Learning Family"



