Tuesday, May 06, 2014

Pendidikan Keterampilan Pengelolaan Emosi yang Terabaikan



“Fish swim, birds fly and people feel.”
– Haim Ginott, child pyschologist, author of Between Parent and Child.

Akhir-akhir ini, sepertinya saya banyak membaca berita tentang kekerasan pada anak. Lebih tragisnya lagi, beberapa dilakukan oleh anak yang lebih besar/tua kepada anak yang lebih kecil/muda, pada usia yang terbilang belum dewasa.  Sebagai seorang ibu, saya nggak kebayang bagaimana perasaan ibu dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan tersebut. Kekerasan yang seharusnya nggak perlu terjadi.  Saya merasa harus menulis ini, walaupun saya bukan seorang pakar pendidikan anak atau seorang psikolog. Saya menulis ini sebagai seorang ibu yang nggak pernah berhenti belajar (dan membaca) dan memperbaiki diri, terutama dalam keseharian saya dengan anak-anak. Ya, mereka memang masih kecil, tapi proses pendidikan mengenai emosi dan cara menyalurkannya sudah berlangsung sejak mereka bisa menangis.

Saya termasuk seorang mama yang pada awalnya merasa tidak nyaman mendengar anak-anak menangis dan rewel. Tapi setelah membaca dan berusaha menerapkan prinsip-prinsip positive discipline/peaceful parenting, saya belajar untuk menerima semua emosi anak, termasuk yang negatif. Ini tidak mudah untuk dilakukan, bahkan butuh waktu lama... termasuk saya, masih terus berlatih sejak 3 tahun lalu ketika Little Bug mulai tantrum-mania hingga sekarang menghadapi duo bocah yang sudah mulai berantem untuk 1001 alasan.

Siapa sih yang tega mendengar anak menangis meraung-raung, tantrum selama lebih dari 30 menit? Boro-boro 30 menit, didikan dan harapan masyarakat kita pada umumnya adalah anak nggak boleh menangis. Rengek dikit sudah di-shush-kan atau dituruti kemauannnya. Apalagi menangis karena alasan yang tampak sepele, biasanya akan ditanggapi dengan kata-kata “Gitu aja kok nangis? Kamu kan udah besar! Nggak baik ah nangis! Cowok nggak boleh nangis! Nggak boleh cengeng!” Padahal, yang perlu ditanggapi bukanlah tangisan itu semata melainkan perasaan yang ada di balik tangisan atau rengekan itu! Karena di dalam dunia anak-anak, nggak ada perasaan yang sepele. “When it comes to young children, feelings are their world” (Shumaker, 2012). Perasaan yang mendorong terjadinya rengekan, tangisan, pukulan, tendangan, atau keluarnya teriakan keras itu.

In reality, life isn’t all sunshine and rainbows. Nggak melulu senang, ada kala sedih dan kesal. Terkadang kita nggak mendapat apa yang kita inginkan, nggak semua rencana berjalan sesuai rencana, dan berbagai hal yang membuat kita merasa sedih, kecewa, takut, marah, atau campur aduk semuanya. Begitu pula dengan anak-anak--- mereka bukan dewasa mini, mereka adalah anak-anak yang perlu diajarkan keterampilan untuk menghadapi semua emosi negatif yang timbul di dalam diri mereka. Itulah tugas penting kita sebagai orang tua, pengasuh, dan guru. Dan untuk mengajarkan keterampilan menyalurkan perasaan ini juga butuh waktu yang nggak sedikit, nggak secepat mengajarkan calistung. Proses yang panjang dan dimulai sejak dini, dengan kita sebagai contoh teladan. Nah lho! Kapan terakhir kali kita marah tanpa meluap-luap ke anak? Apakah kita sendiri sudah bisa mengungkapkan emosi negatif dengan tepat?

All feelings are OK. All behavior isn’t.” (Shumaker, 2012). Ketika anak merasakan emosi negatif, pertama kita harus membantu anak mengidentifikasi dan me-label emosi yang dirasakan. Dengan anak yang paling kecil, hal ini bisa menjadi saat yang tepat untuk mengajarkan berbagai label emosi ketika si anak mengalaminya, misal dengan bilang, “Ade marah karena nggak dibelikan mainan... Ade sedih karena Eyang harus pulang... dsb” . Anak yang lebih besar juga bisa dibantu untuk mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata.

Kedua, sebagai orang tua/pengasuh/guru, kita harus menunjukkan ke anak bahwa kita menerima (accept) dan menghargai (value) bahwa anak kita sedang merasa demikian. It’s OK not to be happy all the time (Shumaker, 2012). Kita harus memberikan waktu untuk anak untuk merasakan sedih ketika mereka sedih, marah ketika marah, dsb. Dan kita harus mendukungnya di kala sedang down, bahwa perasaan ini akan datang dan pergi, tinggal bagaimana kita akan menghadapinya. Anak akan merasa bahwa dia dihargai dan didengarkan, bahwa perasaannya nggak disepelekan, dan kita menjadi sumber yang dipercaya untuk bercerita tentang permasalahan yang sedang dihadapi.

Ketiga, kita dapat menunjukkan perilaku yang dapat diterima untuk menyalurkan perasaan tersebut sekaligus menunjukkan batasan perilaku apa yang tidak dibolehkan. Jadi, anak bisa mengekspresikan emosi tanpa menyakiti diri sendiri, orang lain atau merusak benda lain.Misalnya ketika anak merasa marah dan ingin memukul, arahkan pada bantal atau kasur, bukan pada orang, sambil berkata “Ade pukul bantal aja ya, bukan pukul Mama” atau “Kakak kalau mau teriak bisa ke dalam bantal atau di kamar dengan pintu tertutup ya, supaya nggak bikin sakit telinga orang lain”. Atau misalnya anak tantrum, biarkan dia tantrum di area yang aman (misalnya di kamar atau area yang sepi), yang dia tidak dapat melukai dirinya sendiri ataupun orang/benda lain di sekitarnya. Kalau mau menangis, dibiarkan menangis, bahkan untuk anak laki-laki, karena menangis adalah bagian dari meluapkan emosi. Kuncinya adalah membiarkan anak itu meluapkan emosi terlebih dahulu supaya merasa lega. Baru setelah tenang bisa diajak diskusi dan diajak mencari solusi bersama.

Untuk ke depannya atau pencegahannya, anak bisa diajak membuat daftar hal-hal yg dapat dia lakukan untuk kembali tenang ketika mengalami emosi negatif. Kami membuat sebuah area bernama “pojokan tenang” di rumah yang ada papan dengan tempelan list ide tersebut sebagai pengingat ketika sedang marah. Little Bug juga menempelkan gambar-gambar yang membuat dia senang, seperti gambar Lego kesukaannya, hahaha!

Kenapa penting sekali untuk menerima seluruh emosi anak (yg positif dan negatif) dan mengajarkan cara menyalurkan yg bisa diterima? Karena perasaan negatif tersebut tidak akan hilang begitu saja: dengan dipendam, diabaikan, atau disepelekan lama-lama malah bisa bisa meluap tak terkendali, hingga takutnya menyakiti diri sendiri dan/atau orang lain. Penyebab yang tampak sepele bisa memicu keluarnya luapan emosi yang sudah lama terpendam. Jatuhnya gorengan senilai Rp1000 bisa memicu pemukulan yang mengakibatkan kematian, astagfirullah! :( 

Sebagai seorang mama, menurut saya pembelajaran keterampilan emosi ini yang paling berat, sulit, dan lama. Nggak ada jalan pintas, kita harus menjalani prosesnya. Yang paling penting, kita tidak boleh tutup mata terhadap aspek perkembangan sosioemosional ini, apalagi dibutakan oleh prestasi akademis yang mungkin menutupi ketimpangan dalam keterampilan pengelolaan emosi.  Dengan tiap anak pasti cara dan kiat coping emosi berbeda-beda, tapi tujuannya sama: agar anak-anak bisa memiliki keterampilan untuk menghadapi keseluruhan ragam emosi yang akan dialaminya dalam hidup.  Dengan membantu anak-anak menghadapi emosi mereka, maka kita akan membantu anak-anak untuk lebih terampil mengendalikan perilaku mereka sendiri, bahkan ketika kita tidak mengawasi mereka. Tentunya dengan tidak mengesampingkan aspek pendidikan keagamaan, pendidikan keterampilan emosi adalah bekal yang akan awet seumur hidup mereka, apapun yang mereka hadapi kelak dalam hidup. 

Bacaan referensi:
Shumaker, Heather. 2012. It's OK NOT to Share and Other Renegade Rules for Raising Competent and Compassionate Kids. USA: Penguin Group
Markam, DR. Laura. 2012. Peaceful Parent, Happy Kids. USA: Penguin Group.
website: Janet Lansbury, Aha!Parenting.com

Saturday, April 26, 2014

Memilih Kurikulum



Tahun ini, alhamdulillah Little Bug sudah berusia 5 tahun. Which means.... inshaaAllah tahun depan kemungkinan besar sudah bisa mulai jenjang SD. Berhubung mama adalah seseorang yang butuh banyak informasi sebelum mengambil keputusan besar, maka keputusan soal kurikulum apa yang rencananya ingin dipakai ketika SD pun sudah mulai dipikirkan dari sekarang.

Why? Toh masih lama kan ya?

Well, buat kami, menentukan kurikulum butuh pertimbangan yang agak panjang dan balik lagi ke esensi  dan tujuan dari kami melakukan homeschooling itu sendiri. Yaitu sebagai bagian dari ikhtiar supaya anak2 inshaaAllah bisa menjadi pembelajar yang:

  • ·         mandiri,

  • ·         suka belajar (apa saja) sepanjang hayat mereka (life long learner & loves learning),

  • ·         berpikiran terbuka dan kreatif,

  • ·         bisa menemukan passion & bakat mereka dan punya waktu untuk mengembangkannya...


sehingga bermanfaat untuk dirinya & masyarakat... and most importantly, mereka bisa bahagia dunia & akhirat.

Tapi sebagai orang tua, kami juga ingin ngasih “bekal” berupa jaring pengaman. Selain doa dan ikhtiar, kami ingin anak2 nantinya inshaaAllah punya ijazah atau some sort of certification. Selain buat benchmark dengan anak-anak sebaya, juga bisa membuka opsi kesempatan buat melanjutkan pendidikan di jenjang formal atau mengambil tawaran-tawaran yang memerlukan persyaratan ijazah. Kita nggak bisa meramalkan masa depan, kan?  Jadilah kami sekarang sedang mempertimbangkan mau pake kurikulum apa.

Pilihan alternatif sejauh ini ada 2: Cambridge dan kurikulum nasional (kurnas) 2013.

Cambridge kami jadikan alternatif pilihan karena mereka menawarkan sebuah kurikulum yang stabil (sudah dipakai lama sekali), ujiannya juga jelas (dinilai di Cambridge-nya sendiri dan sejauh ini belum dengar ada permasalahan dlm hal validitas, kebocoran soal, kesulitan yg gak jelas, dsb) dan terbuka buat siapa saja, termasuk anak homeschooling. Selain itu, kebetulan (sudah diatur Allah) suami tiba2 dapat review dari kolega si Hubs (yg anaknya pakai Cambridge dan kini 21thn) bahwa pendekatan yg digunakan holistik sehingga kolega tsb sangat puas dengan cara berpikir anaknya. Jadi bukan hafalan semata, melainkan aplikasi dan problem solving. Ada teman yang bilang juga kalau proses evaluasi Cambridge ya bergantung pada keseluruhan proses belajar dari awal-akhir tingkat, jadi bukan sekedar menjawab soal tapi dinilai juga proses berpikir siswa untuk mencapai jawaban tersebut. Jadi harusnya gak perlu lagi tuh sistem-kebut-semalam atau stress yg gak perlu karena takut nggak bisa jawab soal.  Oh ya, sertifikasi Cambridge ini juga dipakai/diterima di banyak negara di dunia dan di Indonesia juga bisa digunakan untuk mendaftar di beberapa PTN yg bagus. Hanya hambatannya adalah kalau mau meneruskan ke jenjang pendidikan formal SD-SMA, harus masuk ke sekolah yg pakai kurikulum yg sama, yakni sekolah internasional—biayanya jelas jauh di atas sekolah negeri atau swasta biasa. And last but not least, it’s all in English. Hmm.. mungkinkah Little Bug bisa mengikutinya? Kalau jadi pilih ini, berarti setahun ke depan harus mulai menguatkan Bhs.Inggrisnya dlm kehidupan sehari2 dan dalam berkegiatan... well, at least we’ve still got a year, hehehe!

Alternatif ke-2 adalah kurnas 2013. Per tahun lalu, diknas mulai menerapkan kur 2013 untuk kls 1 dan 4, dan katanya sih tahun2 ke depan akan pakai kurikulum ini. Materinya berupa tema-tema yang mengintegrasikan beberapa pelajaran dasar dalam tema tersebut. Jadi, dalam 1 tema sudah ada pelajaran Bhs.Indonesia, matematika, dsb.
Kedengarannya cukup menarik dan lebih sesuai untuk anak2. Buku ajaran dan buku pegangan guru juga bisa (dan sudah) di-download gratis dari internet. Setelah tanya-tanya ke bbrp teman yang anaknya pakai kur2013, responsnya cukup positif. Hanya saja, kurikulum ini masih baru... dan entah brp lama akan dipakai?

Sebenarnya, yg saya takutkan hanya kebijakan pendidikan Indonesia yg suka bergonta-ganti nggak jelas, tergantung dengan mentrinya, kabinetnya, politiknya. Takutnya nanti ada UU atau aturan ttt yg menghambat anak-anak untuk melakukan penyetaraan hasil belajar mereka, sehingga bisa menghambat mereka di kemudian hari. Atau bisa jadi kurikulumnya masih berganti-ganti, krn yg sekarangpun cukup mendadak pergantian dan pelaksanaannya. Atau bisa juga evaluasi hasil belajarnya yang “ajaib”, sehingga nggak mencerminkan dengan tepat kemampuan si anak. Tapi jauh di dalam hati (cieh) masih ingin anak punya ijazah nasional... namanya juga anak Indonesia, hidup di Indonesia..
Hmm, mungkin gak ya kedua kurikulum ini dijalankan berbarengan? That's what I'd like to find out. Karena siapa tau bisa, tanpa memberatkan anak atau memakan waktu yg terlalu banyak dari anak. So we can get the best out of both worlds....

We can’ty deny that we live in a world that needs certification of some sort. So for that matter, I’ll be looking into these 2 curriculums fro the next few months... *lots of reading to do* semoga Allah memberikan petunjukNya yg paling baik untuk kami, amiiin....

Yosh, ganbarimashouuuu!






Monday, April 14, 2014

Spring Beginnings



Yayy! Another blog post! *pat on back**it's been too long*

There are a gazillion things to write about and file folders full of photos to share. It has been eventful past months... part of our slow “adaptation” months--- around almost a year since we really considered to homeschool seriously. As I looked at the calendar, I realized it’s spring in Japan.. my favorite time of year when the sakura comes to blossom and great warmish-coolish  weather makes me just want to stay outside and bike around town or just spend the days at the park. Aaah... the memories *nostalgic mode*

 Spring is also the new school year for Japan... the sakura blossoms would be iconic with 入学(nyuugakushiki – school entrance ceremony). So, I’m taking this moment here to “start” (again) our more regular “school” activities. 




First, it started with a new “school” corner: bringing the ex-kotatsu table up to the 2nd floor and making it his new corner for working on his daily calendar and other mom-assigned activities. Intinya, pojok yang memang khusus buat dia mengerjakan hal-hal yang perlu meja tulis dan tempat yg lapang (baca: gak tertutup oleh mainan, buku, atau yg lainnya). Pas di depannya ada jendela, jadi kalau pagi alhamdulillah sinar mataharinya bisa masuk, supaya semangat :) (dan kalau iseng bisa lihat-lihat bentuk awan, hehehe). Lalu ternyata Baby Bug juga mau ikutan “belajar” jadi akhirnya (setelah berhasil membujuk Baby Bug untuk turun dari atas meja) masing-masing punya sisi meja, hahaha! And then we started on our new daily activity: the daily calendar binder and Iqro + hafalan surat pendek dari Al-Qur’an atau aneka doa. Untuk saat ini, itu dulu yang aku berani ingin tetapkan sebagai kegiatan yang inshaaAllah reguler. Kalau ada kegiatan lainnya seperti tema tertentu, worksheets, art n crafts, experiments, dsb, itu aku anggap sebagai “bonus” untuk awal2 ini, supaya aku gak stress dan tetap merasa kalau hari ini nggak “berlalu dengan begitu aja”. 



Yes, we’re still trying to do the fine dance of “mom assigned tasks” and “curiousity-propelled activities”, all in the coridor of PLAY. Why? Because Little Bug is still 5. His interests can go from “let’s study about chickens” to “pirates” to “making robots” to infinity in just half a day. And unless some sort of information is relevant (read: interesting) to him in some way, it’ll be me trying to persuade him to learn something—and that’s not how I want it to be. But, still I have my own targets for the homeschooling process that I want to achieve, somehow. So, bear with me while we try to figure this one out, hopefully soon :D Meanwhile, let’s just have fun and be happy :D (And hopefully I can get my act together and write blogs regularly, the pictures in the file folders are calling my name, hahaha). Yosh, ganbarimashou!

Tuesday, February 25, 2014

A pre-birthday letter to my soon-to-be 5 year old



25 February 2009
Mama ingat pada hari ini, 5 tahun lalu, udara masih dingin di Matsuyama. Iya, itu kota kelahiranmu, Nak.. kota kecil dimana dokter kandungan yang berbahasa Inggris hanya 1 di rumah sakit kecil itu—Tasaka sensei. Hari Rabu itu, Mama siap-siap dengan Papa dan Tante Seiko untuk ke RS. Sejujurnya Mama takut sekali.. karena sudah siap-siap mau lahiran normal, eeeh ternyata setelah diperiksa panggulnya maka disarankan untuk operasi saja demi keselamatan bayi dan ibu. Mama hanya bisa menyiapkan barang-barang di list keperluan melahirkan yang diberikan oleh RS dan terus berdoa.
Sampai di RS, Mama dipasangkan alat untuk mendengar detak jantung kamu. Bunyinya kencang dan cepat.. mungkin saingan sama detak jantung Mama yang saat itu cemas, takut, dan juga excited pada saat yang bersamaan. Mama ingat susternya tiba-tiba lari masuk ke kamar dan bilang kalau Mama harus segera diinfus supaya bisa diberikan obat, karena mulai muncul kontraksi--- padahal operasinya dijadwalkan untuk keesokan paginya. Malam harinya, Mama mulai puasa setelah makan malam.. Papa juga pulang setelah jam berkunjung selesai. Iya, di Jepang memang RS cukup “steril” dari penunggu yang tidak benar-benar dibutuhkan. Susternya baik-baik dan selalu siaga 24 jam. Walaupun begitu, sebenarnya Mama malam itu nggak bisa tidur..

26 February 2009
Pagi-paginya, Papa sudah datang. Mama siap-siap untuk proses operasi, jam 9 dijadwalkan tapi jam 8 sudah mulai untuk persiapannya. Mama ingat begitu masuk ruang operasi, ACnya terasa dingin sekali. Tapi rasa dingin dan gugup itu hilang ketika Mama dengar tangisan kamu, Nak.. jam 9.20 kalau nggak salah, Allah memberikan panggilan baru “Mama” untuk Mama... Mama untuk bayi kecil yang nangisnya terdengar hingga ujung lorong RS. Bayi kecil yang menangis kejer di awal-awal perjuangan Mama untuk memberikan ASI. Bayi kecil yang kepalanya bulat sempurna, mata sipit, dan kukunya selalu menghadiahkan sebuah cakaran baru setiap paginya. Bayi kecil yang pada kedua kakinya dituliskan nama mama dengan spidol hitam, supaya pas dimandikan suster nggak bakal ketuker. Bayi kecil yang sudah disiapkan namanya... doanya.. supaya inshaaAllah menjadi anugerah dari Allah yang memimpin dengan bijaksana dan menebar manfaat ke mana saja.

25 February 2014
Sore ini Bogor hujan... cuaca mendung dan langitnya sedikit mengingatkan Mama pada pemandangan dari jendela kamar RS waktu dulu.. tempat Mama selalu melihat Papa pergi pulang ke rumah hingga sosok berjaket abu-abu dan bersepeda itu sudah belok dan tak terlihat lagi. Tapi pemandangan sekarang siapa yang dapat membayangkan dulu. Ada kamu dan adikmu yang sedang tertidur lelap di dalam kamar. Dan ada Mama yang sedang berkaca-kaca membayangkan betapa cepatnya waktu berlalu.
Ya, 5 tahun benar-benar cepat, Nak! The days are long but the years fly by. Alhamdulillah, Mama nggak pernah menyesal memilih untuk selalu di rumah dengan kamu. Walaupun Mama suka mengeluh capek atau rumah berantakan, tapi Mama nggak akan pernah menyesali semua ini. Mama benar-benar bersyukur diizinkan Allah untuk tetap di rumah dan berjuang untuk membesarkan dan mendidik kamu sendiri. Mama sudah ikhlas untuk menunda semua impian Mama dalam hal karir. Mama juga selama 5 tahun ini berusaha untuk meneyimbangkan antara keinginan pribadi dan tugas sebagai seorang Mama.
Mama hanya menyesal karena Mama masih belum pandai mengatur waktu supaya semuanya bisa senang. Betapa berat membuat kamu menunggu ketika Mama masih harus menyelesaikan cucian piring atau menjemur baju. Mama juga belum pandai mengatur emosi seperti yang disarankan oleh semua artikel parenting yang Mama baca. Juga belum bisa melakukan semua ide aktivitas seru supaya kamu bermainnya tambah asyik dan punya nilai tambah pembelajarannya.
Tapi Nak, kamu tahu nggak? Kamu akan selalu punya tempat istimewa di hati Mama. Karena kamu adalah anak pertama... anak yang bersama Mama (dan Papa) belajar bagaimana berkompromi dan hidup bersama. Anak yang jadi “kelinci percobaan” ketika Mama menghadapi setiap tumbuh kembang kamu yang baru. Kamu yang sudah melihat Mama marah, senang, sedih, khawatir, dan semua emosi yang Mama nggak sadari. Kamu yang sudah ada sejak awal lika-liku perjalanan hidup Mama dalam menjadi seorang Mama. All those good times.. sad times.. hard times.. enlightining times.. thankful times... you’ve been there all along, looking up to me (and your Papa) and sometimes (lots of times) I guess I just didn’t act like a Mom should. Banyak sekali buku dan artikel tentang parenting yang Mama punya dan baca, tapi ketika sudah pada prakteknya, kadang susah sekali melakukan yang sederhana sekalipun. Maafkan Mama kalau Mama dulu masih sering marah dan membuat kamu merasa takut. Maafkan Mama yang dulu kadang terlalu sering lihat HP atau laptop sehingga kamu merasa terabaikan. Maafkan Mama yang belum bisa ber-scrapbook ria sebelum tahu-tahu laptop Mama diambil pencuri, lengkap dengan foto dan video kita yang sebagian belum sempat terback-up. I’m so sorry... I’m so sorry for not realizing this earlier... before now that you’re suddenly about to turn 5 years old, inshaaAllah tomorrow.
Mama tahu, nggak ada gunanya menyesal.  Tapi kamu benar-benar cepat sekali tumbuhnya... not my little baby anymore.. Dalam sekejap mata kamu udah jadi bocah lucu yang sudah bisa berargumen kalau ada yang tak sesuai, makannya  lahap, melakukan persuasi untuk mendapatkan Lego (lagi), dan senang bermain piano di waktu luang. Alhamdulillah, Nak... Allah yang Maha Penjaga.. Maha Melindungi.. Kalau bukan karena Allah yang jaga kamu, Allah yang mengilhami cara berpikir kamu.. akan jadi seperti apakah kamu, dengan Mama yang serba tak-sempurna ini? Mama hanya bisa membaca artikel parenting dan berusaha mendidik kamu semampu Mama... tapi sebenarnya Allah-lah yang membuat kamu menjadi anak yang hebat seperti sekarang ini.
Mama nggak bisa berhenti menangis haru mengingat 5 tahun itu sudah berlalu dengan begitu cepat... you’ve been beside me all along, dan kamu adalah guru Mama selama ini. Mama ikut tumbuh dan berkembang bersama kamu, Nak... dan Mama hanya berdoa supaya diberikan umur panjang dan kesehatan yang baik supaya bisa terus mendampingi kamu dalam tumbuh, berkembang, dan belajar tentang hidup ini. I love you so much, my little bug.. I know I’m not perfect but I really did try and still do try to be the best Mom for you. I know, sometimes I try too hard. But you’re there to teach me that I don’t need to be perfect to have fun with you. I just need to be more present in the moment with you.. be more patient.. and learn to have fun and relax a little more... not mind the housework too much...and be more simple in viewing this world and what’s truly important in life... and inshaaAllah that I will try my hardest to do, I promise you that! Alhamdulillah, Allah is teaching me about my life priorities through you... Allah is improving my skills through you.. and Allah is reminding me to become more humble through you.
Jadi saat kamu merasa kalau Mama lebih sayang adik daripada kamu... atau Mama terlalu “sibuk” untuk menikmati bermain bersamamu... tolong jangan lari dari Mama ya. Tolong ingetin Mama dan cerita sama Mama ya. Karena Mama butuh kamu.. sama seperti kamu butuh Mama. Dan suatu hari nanti saat kamu sudah bisa mengerti semua yang Mama tulis ini, maka kamu akan tahu kalau Mama (dan Papa) selalu sayang kamu.. always love you no matter what you do or what you say...  and that your Papa and I are very thankful to Allah for you and very blessed to be your parents. You’ll always have that special place and special connection as the firstborn child. My baby boy, always!

Love,
Mama
Bogor, 25 February 2014