Saturday, April 26, 2014

Memilih Kurikulum



Tahun ini, alhamdulillah Little Bug sudah berusia 5 tahun. Which means.... inshaaAllah tahun depan kemungkinan besar sudah bisa mulai jenjang SD. Berhubung mama adalah seseorang yang butuh banyak informasi sebelum mengambil keputusan besar, maka keputusan soal kurikulum apa yang rencananya ingin dipakai ketika SD pun sudah mulai dipikirkan dari sekarang.

Why? Toh masih lama kan ya?

Well, buat kami, menentukan kurikulum butuh pertimbangan yang agak panjang dan balik lagi ke esensi  dan tujuan dari kami melakukan homeschooling itu sendiri. Yaitu sebagai bagian dari ikhtiar supaya anak2 inshaaAllah bisa menjadi pembelajar yang:

  • ·         mandiri,

  • ·         suka belajar (apa saja) sepanjang hayat mereka (life long learner & loves learning),

  • ·         berpikiran terbuka dan kreatif,

  • ·         bisa menemukan passion & bakat mereka dan punya waktu untuk mengembangkannya...


sehingga bermanfaat untuk dirinya & masyarakat... and most importantly, mereka bisa bahagia dunia & akhirat.

Tapi sebagai orang tua, kami juga ingin ngasih “bekal” berupa jaring pengaman. Selain doa dan ikhtiar, kami ingin anak2 nantinya inshaaAllah punya ijazah atau some sort of certification. Selain buat benchmark dengan anak-anak sebaya, juga bisa membuka opsi kesempatan buat melanjutkan pendidikan di jenjang formal atau mengambil tawaran-tawaran yang memerlukan persyaratan ijazah. Kita nggak bisa meramalkan masa depan, kan?  Jadilah kami sekarang sedang mempertimbangkan mau pake kurikulum apa.

Pilihan alternatif sejauh ini ada 2: Cambridge dan kurikulum nasional (kurnas) 2013.

Cambridge kami jadikan alternatif pilihan karena mereka menawarkan sebuah kurikulum yang stabil (sudah dipakai lama sekali), ujiannya juga jelas (dinilai di Cambridge-nya sendiri dan sejauh ini belum dengar ada permasalahan dlm hal validitas, kebocoran soal, kesulitan yg gak jelas, dsb) dan terbuka buat siapa saja, termasuk anak homeschooling. Selain itu, kebetulan (sudah diatur Allah) suami tiba2 dapat review dari kolega si Hubs (yg anaknya pakai Cambridge dan kini 21thn) bahwa pendekatan yg digunakan holistik sehingga kolega tsb sangat puas dengan cara berpikir anaknya. Jadi bukan hafalan semata, melainkan aplikasi dan problem solving. Ada teman yang bilang juga kalau proses evaluasi Cambridge ya bergantung pada keseluruhan proses belajar dari awal-akhir tingkat, jadi bukan sekedar menjawab soal tapi dinilai juga proses berpikir siswa untuk mencapai jawaban tersebut. Jadi harusnya gak perlu lagi tuh sistem-kebut-semalam atau stress yg gak perlu karena takut nggak bisa jawab soal.  Oh ya, sertifikasi Cambridge ini juga dipakai/diterima di banyak negara di dunia dan di Indonesia juga bisa digunakan untuk mendaftar di beberapa PTN yg bagus. Hanya hambatannya adalah kalau mau meneruskan ke jenjang pendidikan formal SD-SMA, harus masuk ke sekolah yg pakai kurikulum yg sama, yakni sekolah internasional—biayanya jelas jauh di atas sekolah negeri atau swasta biasa. And last but not least, it’s all in English. Hmm.. mungkinkah Little Bug bisa mengikutinya? Kalau jadi pilih ini, berarti setahun ke depan harus mulai menguatkan Bhs.Inggrisnya dlm kehidupan sehari2 dan dalam berkegiatan... well, at least we’ve still got a year, hehehe!

Alternatif ke-2 adalah kurnas 2013. Per tahun lalu, diknas mulai menerapkan kur 2013 untuk kls 1 dan 4, dan katanya sih tahun2 ke depan akan pakai kurikulum ini. Materinya berupa tema-tema yang mengintegrasikan beberapa pelajaran dasar dalam tema tersebut. Jadi, dalam 1 tema sudah ada pelajaran Bhs.Indonesia, matematika, dsb.
Kedengarannya cukup menarik dan lebih sesuai untuk anak2. Buku ajaran dan buku pegangan guru juga bisa (dan sudah) di-download gratis dari internet. Setelah tanya-tanya ke bbrp teman yang anaknya pakai kur2013, responsnya cukup positif. Hanya saja, kurikulum ini masih baru... dan entah brp lama akan dipakai?

Sebenarnya, yg saya takutkan hanya kebijakan pendidikan Indonesia yg suka bergonta-ganti nggak jelas, tergantung dengan mentrinya, kabinetnya, politiknya. Takutnya nanti ada UU atau aturan ttt yg menghambat anak-anak untuk melakukan penyetaraan hasil belajar mereka, sehingga bisa menghambat mereka di kemudian hari. Atau bisa jadi kurikulumnya masih berganti-ganti, krn yg sekarangpun cukup mendadak pergantian dan pelaksanaannya. Atau bisa juga evaluasi hasil belajarnya yang “ajaib”, sehingga nggak mencerminkan dengan tepat kemampuan si anak. Tapi jauh di dalam hati (cieh) masih ingin anak punya ijazah nasional... namanya juga anak Indonesia, hidup di Indonesia..
Hmm, mungkin gak ya kedua kurikulum ini dijalankan berbarengan? That's what I'd like to find out. Karena siapa tau bisa, tanpa memberatkan anak atau memakan waktu yg terlalu banyak dari anak. So we can get the best out of both worlds....

We can’ty deny that we live in a world that needs certification of some sort. So for that matter, I’ll be looking into these 2 curriculums fro the next few months... *lots of reading to do* semoga Allah memberikan petunjukNya yg paling baik untuk kami, amiiin....

Yosh, ganbarimashouuuu!






Monday, April 14, 2014

Spring Beginnings



Yayy! Another blog post! *pat on back**it's been too long*

There are a gazillion things to write about and file folders full of photos to share. It has been eventful past months... part of our slow “adaptation” months--- around almost a year since we really considered to homeschool seriously. As I looked at the calendar, I realized it’s spring in Japan.. my favorite time of year when the sakura comes to blossom and great warmish-coolish  weather makes me just want to stay outside and bike around town or just spend the days at the park. Aaah... the memories *nostalgic mode*

 Spring is also the new school year for Japan... the sakura blossoms would be iconic with 入学式 (nyuugakushiki – school entrance ceremony). So, I’m taking this moment here to “start” (again) our more regular “school” activities. 




First, it started with a new “school” corner: bringing the ex-kotatsu table up to the 2nd floor and making it his new corner for working on his daily calendar and other mom-assigned activities. Intinya, pojok yang memang khusus buat dia mengerjakan hal-hal yang perlu meja tulis dan tempat yg lapang (baca: gak tertutup oleh mainan, buku, atau yg lainnya). Pas di depannya ada jendela, jadi kalau pagi alhamdulillah sinar mataharinya bisa masuk, supaya semangat :) (dan kalau iseng bisa lihat-lihat bentuk awan, hehehe). Lalu ternyata Baby Bug juga mau ikutan “belajar” jadi akhirnya (setelah berhasil membujuk Baby Bug untuk turun dari atas meja) masing-masing punya sisi meja, hahaha! And then we started on our new daily activity: the daily calendar binder and Iqro + hafalan surat pendek dari Al-Qur’an atau aneka doa. Untuk saat ini, itu dulu yang aku berani ingin tetapkan sebagai kegiatan yang inshaaAllah reguler. Kalau ada kegiatan lainnya seperti tema tertentu, worksheets, art n crafts, experiments, dsb, itu aku anggap sebagai “bonus” untuk awal2 ini, supaya aku gak stress dan tetap merasa kalau hari ini nggak “berlalu dengan begitu aja”. 



Yes, we’re still trying to do the fine dance of “mom assigned tasks” and “curiousity-propelled activities”, all in the coridor of PLAY. Why? Because Little Bug is still 5. His interests can go from “let’s study about chickens” to “pirates” to “making robots” to infinity in just half a day. And unless some sort of information is relevant (read: interesting) to him in some way, it’ll be me trying to persuade him to learn something—and that’s not how I want it to be. But, still I have my own targets for the homeschooling process that I want to achieve, somehow. So, bear with me while we try to figure this one out, hopefully soon :D Meanwhile, let’s just have fun and be happy :D (And hopefully I can get my act together and write blogs regularly, the pictures in the file folders are calling my name, hahaha). Yosh, ganbarimashou!

Tuesday, February 25, 2014

A pre-birthday letter to my soon-to-be 5 year old



25 February 2009
Mama ingat pada hari ini, 5 tahun lalu, udara masih dingin di Matsuyama. Iya, itu kota kelahiranmu, Nak.. kota kecil dimana dokter kandungan yang berbahasa Inggris hanya 1 di rumah sakit kecil itu—Tasaka sensei. Hari Rabu itu, Mama siap-siap dengan Papa dan Tante Seiko untuk ke RS. Sejujurnya Mama takut sekali.. karena sudah siap-siap mau lahiran normal, eeeh ternyata setelah diperiksa panggulnya maka disarankan untuk operasi saja demi keselamatan bayi dan ibu. Mama hanya bisa menyiapkan barang-barang di list keperluan melahirkan yang diberikan oleh RS dan terus berdoa.
Sampai di RS, Mama dipasangkan alat untuk mendengar detak jantung kamu. Bunyinya kencang dan cepat.. mungkin saingan sama detak jantung Mama yang saat itu cemas, takut, dan juga excited pada saat yang bersamaan. Mama ingat susternya tiba-tiba lari masuk ke kamar dan bilang kalau Mama harus segera diinfus supaya bisa diberikan obat, karena mulai muncul kontraksi--- padahal operasinya dijadwalkan untuk keesokan paginya. Malam harinya, Mama mulai puasa setelah makan malam.. Papa juga pulang setelah jam berkunjung selesai. Iya, di Jepang memang RS cukup “steril” dari penunggu yang tidak benar-benar dibutuhkan. Susternya baik-baik dan selalu siaga 24 jam. Walaupun begitu, sebenarnya Mama malam itu nggak bisa tidur..

26 February 2009
Pagi-paginya, Papa sudah datang. Mama siap-siap untuk proses operasi, jam 9 dijadwalkan tapi jam 8 sudah mulai untuk persiapannya. Mama ingat begitu masuk ruang operasi, ACnya terasa dingin sekali. Tapi rasa dingin dan gugup itu hilang ketika Mama dengar tangisan kamu, Nak.. jam 9.20 kalau nggak salah, Allah memberikan panggilan baru “Mama” untuk Mama... Mama untuk bayi kecil yang nangisnya terdengar hingga ujung lorong RS. Bayi kecil yang menangis kejer di awal-awal perjuangan Mama untuk memberikan ASI. Bayi kecil yang kepalanya bulat sempurna, mata sipit, dan kukunya selalu menghadiahkan sebuah cakaran baru setiap paginya. Bayi kecil yang pada kedua kakinya dituliskan nama mama dengan spidol hitam, supaya pas dimandikan suster nggak bakal ketuker. Bayi kecil yang sudah disiapkan namanya... doanya.. supaya inshaaAllah menjadi anugerah dari Allah yang memimpin dengan bijaksana dan menebar manfaat ke mana saja.

25 February 2014
Sore ini Bogor hujan... cuaca mendung dan langitnya sedikit mengingatkan Mama pada pemandangan dari jendela kamar RS waktu dulu.. tempat Mama selalu melihat Papa pergi pulang ke rumah hingga sosok berjaket abu-abu dan bersepeda itu sudah belok dan tak terlihat lagi. Tapi pemandangan sekarang siapa yang dapat membayangkan dulu. Ada kamu dan adikmu yang sedang tertidur lelap di dalam kamar. Dan ada Mama yang sedang berkaca-kaca membayangkan betapa cepatnya waktu berlalu.
Ya, 5 tahun benar-benar cepat, Nak! The days are long but the years fly by. Alhamdulillah, Mama nggak pernah menyesal memilih untuk selalu di rumah dengan kamu. Walaupun Mama suka mengeluh capek atau rumah berantakan, tapi Mama nggak akan pernah menyesali semua ini. Mama benar-benar bersyukur diizinkan Allah untuk tetap di rumah dan berjuang untuk membesarkan dan mendidik kamu sendiri. Mama sudah ikhlas untuk menunda semua impian Mama dalam hal karir. Mama juga selama 5 tahun ini berusaha untuk meneyimbangkan antara keinginan pribadi dan tugas sebagai seorang Mama.
Mama hanya menyesal karena Mama masih belum pandai mengatur waktu supaya semuanya bisa senang. Betapa berat membuat kamu menunggu ketika Mama masih harus menyelesaikan cucian piring atau menjemur baju. Mama juga belum pandai mengatur emosi seperti yang disarankan oleh semua artikel parenting yang Mama baca. Juga belum bisa melakukan semua ide aktivitas seru supaya kamu bermainnya tambah asyik dan punya nilai tambah pembelajarannya.
Tapi Nak, kamu tahu nggak? Kamu akan selalu punya tempat istimewa di hati Mama. Karena kamu adalah anak pertama... anak yang bersama Mama (dan Papa) belajar bagaimana berkompromi dan hidup bersama. Anak yang jadi “kelinci percobaan” ketika Mama menghadapi setiap tumbuh kembang kamu yang baru. Kamu yang sudah melihat Mama marah, senang, sedih, khawatir, dan semua emosi yang Mama nggak sadari. Kamu yang sudah ada sejak awal lika-liku perjalanan hidup Mama dalam menjadi seorang Mama. All those good times.. sad times.. hard times.. enlightining times.. thankful times... you’ve been there all along, looking up to me (and your Papa) and sometimes (lots of times) I guess I just didn’t act like a Mom should. Banyak sekali buku dan artikel tentang parenting yang Mama punya dan baca, tapi ketika sudah pada prakteknya, kadang susah sekali melakukan yang sederhana sekalipun. Maafkan Mama kalau Mama dulu masih sering marah dan membuat kamu merasa takut. Maafkan Mama yang dulu kadang terlalu sering lihat HP atau laptop sehingga kamu merasa terabaikan. Maafkan Mama yang belum bisa ber-scrapbook ria sebelum tahu-tahu laptop Mama diambil pencuri, lengkap dengan foto dan video kita yang sebagian belum sempat terback-up. I’m so sorry... I’m so sorry for not realizing this earlier... before now that you’re suddenly about to turn 5 years old, inshaaAllah tomorrow.
Mama tahu, nggak ada gunanya menyesal.  Tapi kamu benar-benar cepat sekali tumbuhnya... not my little baby anymore.. Dalam sekejap mata kamu udah jadi bocah lucu yang sudah bisa berargumen kalau ada yang tak sesuai, makannya  lahap, melakukan persuasi untuk mendapatkan Lego (lagi), dan senang bermain piano di waktu luang. Alhamdulillah, Nak... Allah yang Maha Penjaga.. Maha Melindungi.. Kalau bukan karena Allah yang jaga kamu, Allah yang mengilhami cara berpikir kamu.. akan jadi seperti apakah kamu, dengan Mama yang serba tak-sempurna ini? Mama hanya bisa membaca artikel parenting dan berusaha mendidik kamu semampu Mama... tapi sebenarnya Allah-lah yang membuat kamu menjadi anak yang hebat seperti sekarang ini.
Mama nggak bisa berhenti menangis haru mengingat 5 tahun itu sudah berlalu dengan begitu cepat... you’ve been beside me all along, dan kamu adalah guru Mama selama ini. Mama ikut tumbuh dan berkembang bersama kamu, Nak... dan Mama hanya berdoa supaya diberikan umur panjang dan kesehatan yang baik supaya bisa terus mendampingi kamu dalam tumbuh, berkembang, dan belajar tentang hidup ini. I love you so much, my little bug.. I know I’m not perfect but I really did try and still do try to be the best Mom for you. I know, sometimes I try too hard. But you’re there to teach me that I don’t need to be perfect to have fun with you. I just need to be more present in the moment with you.. be more patient.. and learn to have fun and relax a little more... not mind the housework too much...and be more simple in viewing this world and what’s truly important in life... and inshaaAllah that I will try my hardest to do, I promise you that! Alhamdulillah, Allah is teaching me about my life priorities through you... Allah is improving my skills through you.. and Allah is reminding me to become more humble through you.
Jadi saat kamu merasa kalau Mama lebih sayang adik daripada kamu... atau Mama terlalu “sibuk” untuk menikmati bermain bersamamu... tolong jangan lari dari Mama ya. Tolong ingetin Mama dan cerita sama Mama ya. Karena Mama butuh kamu.. sama seperti kamu butuh Mama. Dan suatu hari nanti saat kamu sudah bisa mengerti semua yang Mama tulis ini, maka kamu akan tahu kalau Mama (dan Papa) selalu sayang kamu.. always love you no matter what you do or what you say...  and that your Papa and I are very thankful to Allah for you and very blessed to be your parents. You’ll always have that special place and special connection as the firstborn child. My baby boy, always!

Love,
Mama
Bogor, 25 February 2014

Thursday, January 16, 2014

Snail Mail



16 Januari 2014
 
Hari ini, Little Bug dapat pengalaman baru dalam hal komunikasi: snail mail alias surat-menyurat biasa. Di zaman yg serba modern, not that I don’t want to embrace technology and it’s benefits, tapi saya ingin Little Bug tetap kenal dengan yang namanya snail mail. Ada perasaan yang berbeda ketika kita menerima sebuah surat yang ditujukan untuk diri kita, yang diantar oleh Pak Pos.
Ide ini sebenarnya mulai beberapa bulan lalu. Saya tiba-tiba teringat kalau waktu kecil, saya punya sahabat pena. Nggak berlanjut lama sih karena saya yang mood2an, tapi saya masih ingat kalau seru banget rasanya nerima surat dari seorang teman nun jauh di sana. Ya ya ya, mungkin banyak orang sekarang berpikir bahwa buat apa surat-menyurat, wong  sudah ada HP, e-mail, bahkan sykpe.. distance is no longer felt through technology. Tapi balik lagi, I want Little Bug to get that excitement of writing/makingsomething to be sent, sending it via the post office, and waiting for a reply to come to our house. Sekalian belajar tentang postal system dan benda-benda pos yang menyertainya, dan juga ada unsur fine motor skills (writing/drawing, folding) and learning about others, being the basics for empathy skills.

Karena faktor keamanan, saya akhirnya mencoba untuk melontarkan ide ini kepada teman-teman SMA saya, yang anak-anaknya ada yg seumuran Little Bug. Untuk permulaan saja.. kalau memang berlanjut, insyaaAllah bisa memperluas jaringan ke teman-teman di LN. Teteup intinya pakai koneksi kenalan demi keamanan anak2. Eh ternyata minggu lalu ada yang mau, jadi mulailah edisi sahabat pena di generasi anak-anak yg terlahir dalam balutan teknologi yg serba-instant!
Little Bug awalnya masih kikuk mau nulis/gambar apa, tapi lama2 dia mulai asyik mendikte ke saya untuk nulis berbagai hal dan juga bersemangat menggambar dan mendekor suratnya. Lalu ada latihan keterampilan melipat surat.. pengenalan alamat dan cara penulisannya.. dan field trip ke kantor pos untuk beli perangko dan mengeposkannya. Saya juga menjelaskan tentang apa itu perangko dan arti nilai angka-angka di perangko. Mungkin Little Bug belum sepenuhnya mengerti, but I believe he’ll assimilate this knowledge into his play somehow and gain more understanding about it as time goes by.




Lucunya, pas mau berangkat ke kantor pos, ehhh Pak Pos malah datang duluan membawa surat dari anaknya temen saya itu. Dah keburu sampai deh, karena dikirim pakai kilat khusus, hahaha... tapi Little Bug jadinya senenggg banget, baru kali ini dia mendapat surat yang khusus untuk dia. Isinya gambar ikan hiu kesukaannya... jadi makin semangat dia ke kantor posnya, hehehe!



Suatu saat nanti insyaaAllah Little Bug akan terampil menggunakan berbagai bentuk media komunikasi yang lebih canggih daripada surat-menyurat biasa. But at least he will know the very basic knowledge of letters and the post office and hopefully learn to appreciate the benefits of technology without forgetting where it all started :) 


Monday, January 13, 2014

A Priceless Lesson From A Free Competition

Little Bug loves Legos. I mean really loves Legos. Karena emak-bapaknya juga sih, sama2 demen mainan yang hitungannya layak dikategorikan sebagai “investasi jangka panjang” ini alias menguras kantong, hehehe ;p Masih ingat ketika di Jepang dulu, saya membeli Lego Duplo bekas dengan nominal yang lumayan, sampai ditanyain sama si Hubs, “Are you serious?!?!?”... dan alhamdulillah saya tetap kekeuh pada pendirian saya. I want my kids to play with Lego & Duplo, dan alhamdulillah Little Bug dan Baby Bird memang sampai sekarang nggak pernah bosan dengan mainan itu, hehehe...
 
Anyways, saya baru tahu kalau ada komunitas penggemar Lego di Indonesia dan juga baru tahu kalau mereka suka mengadakan kompetisi Lego/Duplo kalau ada pameran produk itu. Saya nggak tau sih penyelenggaranya siapa, apakah ada pengurus klub itu yg menyelenggarakan atau mereka hanya menyediakan media dan sisanya dilakukan oleh sponsor tempat pameran.. tapi saya pun excited ketika tahu bahwa ada lomba yang lokasinya nggak jauh dari rumah Eyang Uyutnya anak2. Jadi sambil berkunjung bisa mampir gitu.. Little Bug juga usianya sudah cukup untk ikut dan saya pikir akan menjadi pengalaman yang menarik untuk dia mengikuti lomba untuk pertama kalinya ttg suatu hal yg dia sukai.

Pada hari H, kami datang dengan semangat dan dengan pasukan lengkap Eyang untuk menjaga Baby Bird, supaya saya bisa mendampingi Little Bug ikut lomba. Judulnya sih Parent & Child competition, tapi peraturannya adalah orang tua hanya mendampingi dan membantu bila diperlukan, bukan membuatkan hasil kreasi anaknya. Setelah dijelaskan oleh panitia/juri, lomba pun dimulai! And OMG... para orang tua pendamping-lah yg sibuk ambil ini-itu, sibuk membangun karya yg seharusnya menjadi karya asli anaknya. Mereka tanpa malu atau sungkan sibuk sendiri membuatkan karya dari Lego Duplo, yang sebenarnya diperuntukkan untuk anak umur 3-6thn itu.  Anak-anaknya malah hanya dalam posisi membantu melengkapi karya orang tua. Ada anak yang nggak mau pakai salah satu komponen atau mau memasang yang lain, eh malah orang tuanya yg ngotot nggak boleh, karena nggak sesuai dengan rancangan orang tuanya. Hasil bangunannya canggih-canggih: apartemen tinggi, kapal laut besar, pesawat terbang yg sophisticated, keren2 deh pokoknya--- tapi yaa itu, yang buat siapa duluuuu? Hahaha... *tertawa getir*

Saya hanya terbengong-bengong dan pada saat itu berpikir positif pada juri—bahwa mereka pasti akan mengurangi nilai peserta yang menyalahi aturan itu dan pasti akan memberikan fair judgement  untuk peserta yang berkompetisi dengan jujur. Saya juga tetap memberikan dukungan pada Little Bug, dengan bilang “Ayo Ganbatte! Kamu pasti bisa!” dan sesekali membantunya mengambil parts Lego yang letaknya memang agak jauh, sesuai permintaan dia. Saya sambil ngobrol dengan seorang ayah yang di sebelah saya, yang sepertinya hanya dia yg sepaham dengan saya: bahwa ini ajang kreasi anak-anak, bukan orang tuanya! Kami malah ngobrol tentang homeschooling sambil menyemangati masing-masing anak, yg kebetulan juga umurnya hampir sama. Si ayah itu juga di awal lomba bilang ke anaknya “Ade mau buat apa, terserah ya” dan nggak turut dalam “hikuk-pikuk” orang tua lainnya. Saya pada saat itu juga memilih untuk fokus pada menyemangati Little Bug untuk berkreasi sesuai keinginannya.. supaya dia juga nggak terintimidasi dengan kreasi-kreasi lainnya yang “mentereng”. Saya berusaha keras untuk tidak memfokuskan perhatiannya pada kecurangan yang terjadi untuk menghidari Little Bug bertanya-tanya mengapa saya (sebagai Mamanya) tidak turut serta berbuat curang seperti papa-mama yang lainnya--- toh orang tua lain berbuat demikian, mengapa saya tidak?

Pada akhirnya, Little Bug berhasil membuat sebuah Rumah Sakit Bawah Laut, bangunan yang terdiri dari 2 lantai dan lantai atasnya bisa dibuka-tutup. Dia menaruh balok bergambar TV, dot bayi, dan pensil, sebagai lambang benda-benda yang terdapat di RS dengan fungsinya masing-masing. Dia juga membuat kura-kura tangki (karena tempurungnya dari bagian mobil tangki bensin), buaya, dan ubur-ubur laut. Selain itu, dia mengambil aksesoris kapal laut dan tandu untuk fungsi gawat darurat. Cerita itu keluar dari imajinasi dan kreatifitas anak 4 tahun 10 bulan, masyaaAllah! I was more than proud and happy to see him create and be brave & confident enough to participate in the competition. Anak yang cenderung introvert ini berani untuk tampil dan berkreasi berdampingan dengan anak-anak lain (dan orang tua yang begitulah). Dan yang terpenting, dia senang dan bangga dengan hasil karyanya sendiri... ada intrinsic reward dari kerja kerasnya itu. Dan itulah yang tak henti-hentinya saya puji.. bahwa Little Bug sudah jujur, berusaha keras, dan berani berkreasi, meskipun kali ini tidak menang perlombaan.

Tidak peduli bahwa akhirnya dia tidak terpilih sebagai pemenang, he is a winner in my eyes. And I’m not a sore loser. Ketika penjurian, karya Little Bug dan temannya tadi (yg sama sekali gak dibantu orang tuanya) nggak dilirik oleh juri. Para juri terlena dengan kemegahan karya-karya yang mentereng, padahal anak-anak nggak ada satupun yang diminta menceritakan kisah di balik kreasi mereka itu. Saya yakin kalau anak-anak ditanyai, pasti mereka akan sulit menjawab.. karena bukan hasil karya mereka sendiri. Ironisnya, hasil karya yang megah-megah itu bahkan tidak difoto-foto oleh orang tuanya... ya iyalahhh, ngapain foto-foto dan heboh terhadap hasil karya sendiri?? Unlike me, the overly-happy-and-proud-mommy that took lots of pictures of Little Bug’s creation.

Hasil karya yang menang adalah hasil karya orang tua yang berambisi untuk menang dengan menghalalkan segala cara. Mereka rela mencontohkan ke anak-anak mereka bahwa kemenangan adalah segalanya, meskipun hal itu dicapai dengan kecurangan. Lebih parahnya, kecurangan itu dilakukan tanpa malu-malu/sembunyi-sembunyi, padahal sudah dijelaskan dengan suara lantang oleh juri sebelum mulai pertandingan. Well, juri yang sama akhirnya terlena dengan karya yang “wah” itu, so.. percuma juga saya mempertanyakan “keputusan juri yang tidak dapat diganggu-gugat”.

Semuanya hanya demi hadiah sebuah Duplo set dari pihak sponsor. Anak-anak yang tidak dipercaya oleh orang tuanya sendiri akan kemampuan mereka untuk berkreasi sendiri. Anak-anak yang dilindungi dari kegagalan dan kekalahan. Anak-anak yang diajarkan bahwa kalau orang lain berbuat curang, kenapa kita nggak ikutan berbuat curang? Sayang sekali pada hari itu, kekuatan mainan Lego Duplo berupa kreativitas dan originalitas anak-anak, tidak mampu menang melawan kecurangan orang tua yang mengatas-namakan rasa cinta mereka untuk anak mereka. Tapi alhamdulillah, hari itu Little Bug mendapat pelajaran yang amat berharga tentang kejujuran, sportivitas, percaya diri, dan kerja keras. Mungkin dia belum menyadarinya, tapi hal-hal tersebut jauh lebih berharga daripada sebuah set Lego Duplo yang menjadi hadiah perlombaan itu. We’re prouf of you, Little Bug... yoku ganbatta, ne! Otsukaresamadeshita!