Monday, December 22, 2014

Hopsctoch Learning

In homeschooling, you can find ways to combine various learning elements, like what we did with hopscotch and early math skills. Semuanya berawal dari permainan hopscotch atau engklek yg klasik itu. Terakhir kali saya main engklek adalah waktu kelas 6 SD kayaknya, sebelum bel masuk kelas hehehe... waktu itu raasanya seruuu, walaupun pas main dengan anak-anak terus terang saya agak lupa aturan mainnya. Jadi, bikin sendiri deh aturannya, hehehe!

Ide awal adalah bahwa main engklek itu sebenarnya merupakan olah motorik kasar yang seru. Although my kids are oftenly jumping, hopping, and running all over the house, hopsctoch provides an added goal for them: they have to learn to coordinate their hops and feet in order to land where they should land. Strategi, koordinasi kaki mana yg loncat dan mana yang dipakai buat mendarat, plus menyebutkan angka-angka yang tertera di kotak yang diloncati (sembari loncat)--- voila! Alhamdulillah dapat deh ide untuk mengubah isi dari kotak-kotak engklek itu, jadi belajar secara kinestetik.




Awalnya saya pakai angka 1-10, lalu saya modifikasi lagi bentuk dan jumlah kotak-kotaknya jadi 1-12. Lalu pada lain kesempatan saya campur angka dengan bentuk matematika dasar (segitiga, kotak, dkk), terus iseng sayang mulai kasih angka dengan pola penambahan jumlah tertentu (skip counting). Little Bug awalnya nggak ngeh, kenapa saya nulisnya 2,4,6,.. lalu saya ajak berpikir, kira-kira angka-angka tsb selisihnya berapa satu dgn yg lain sebelum/setelahnya (dia memang sudah bisa konsep berhitung tambah/kurang sederhana dari kegiatan bermain lainnya). Setelah dia ngeh kalau masing-masing angka berselisih 2, saya ajak bersama-sama hitung berapa angka yg harus saya tulis di kotak selanjutnya dan juga kasih dia kesempatan buat nulis sendiri di kotaknya. Baru deh dia menguatkan pemahamannya saat loncat-loncat sambil nyebut angka-angkanya (lama-lama makin hafal deh!)



 Permainan ini bisa disesuaikan dengan konsep yang sedang dipelajari atau yg ingin dikuatkan: angka, huruf, bentuk, vocab, dsb. Seru karena anak belajar sembari bergerak dan bermain, plus semakin seru lagi kalau kita juga ikutan (seperti iklan susu berkalsium tinggi itu tuh, supaya tetep awet muda dan bebas encok hahaha)! The only limit to your hopscotch game is how much chalk you have and the area of your driveway/road you are using :D Happy playing!

Friday, December 19, 2014

Gender-free Play

Okay, this is probably a sensitive issue. Di masyarakat kita, stereotipe tentang apa yang pantas dan tidak pantas dimainkan oleh anak-anak kecil berdasarkan jenis kelamin mereka, saya rasa masih lumayan kuat. But we try to make a safe, gender-free play area at our house. Semenjak Baby Bird belum lahir, Little Bug sudah punya 1 set permainan masak-masakan plus celemek. Aneka stuffed-toys atau boneka juga ada, meskipun waktu itu belum ada boneka berbentuk bayi yah, belum nemu yang gender-neutral. Waktu awal-awal beli mainan masak-masakan, si Hubs bereaksi seperti para ayah pemula pada umumnya: “kok anak cowok main masak-masakan??” Dan begitu pula ketika Baby Bird sudah cukup besar untuk memilih mainannya sendiri di ruang main, “nggak apa-apa tuh Baby Bird main mobil-mobilan?” Dan jawaban saya dari dulu sampai sekarang tetap sama: insyaaAllah nggak apa-apa.


 

Insight dari buku “It’s OK not to share” dari Heather Shumaker, “play that crosses gender roles is creative and harmless. It won’t change who they are.” Jadi kacamata kita sebagai orang tua hendaknya melihat aktivitas bermain tersebut sebagai suatu proses anak yang sedang bermain dan mengeksplorasi berbagai macam peran dan kegiatan. Jangan disangkut-pautkan dengan jenis kelamin atau identitas diri sebagai laki-laki/perempuan—that is a whole different issue! Well, anak-anak memang belajar dari bermain kan? Anak tertarik pada masak-masakan, karena dia melihat kegiatan masak di rumah, suka diajak makan ke restoran untuk nyobain beragam jenis masakan baru, ataupun karena dia ingin mencoba untuk melakukannya sendiri (dengan cara yang aman untuk usianya). Main boneka? Anak-anak kita suatu saat nanti insyaaAllah akan menjadi orang tua juga kan? Bermain peran yang berbeda-beda juga membantu tumbuhnya empati pada anak. Yes, being able to imagine yourself in someone else’s shoes..  bagiamana perasaan mereka, kegiatan mereka, dan apa saja tantangan yang mungkin mereka akan hadapi.. it all starts from empathy. Dan buat yang punya anak kecil, udah pasti tau kalau mengajarkan empati ini butuh waktu dan proses yang lamaaaaa dan susah-susah gampang. *that’s why I don’t fuss over calistung at this early age, because soft skills like empathy dkk nggak mungkin dipelajari secara singkat*

 Ketika bermain bebas, anak harus merasa aman untuk mencoba hal-hal baru. Ya, mungkin saja termasuk bermain yang “tidak sesuai” dengan gender-role secara umum di masyarakat. Tapi, bukan lantas kita bisa langsung men-cap kalau anak perempuan yang main dengan perkakas rumah tangga akan menjadi tukang bangunan ataupun anak cowok yang mencoba sepatu hak tinggi mamanya akan menjadi cross-dresser saat dewasa nanti! Coba untuk melihat dari sudut pandang anak-anak: mereka berhak untuk mencoba hal-hal yang baru ataupun menarik buat mereka. Si anak cowok bisa kita ajak untuk diskusi tentang capeknya berjalan dalam high heels, mengajak dia berempati kenapa mama meminta dia untuk jalan sendiri instead of  digendong saat mama pakai high heels ke acara kondangan. Atau dia bisa merasa lebih tinggi (badannya) untuk sesaat dan diajak diskusi tentang makanan bergizi supaya tumbuh besar, sehat, dan juga lebih tinggi, hehehe :) Si anak cewek suatu saat akan hidup mandiri dan bisa mendandani rumahnya secara mandiri, ataupun ketika manggil tukang bangunan akan bisa jadi mandor yang cermat... dan siapa tau akan jadi arsitek yang berbakat!

Shumaker juga menohok saya pribadi dengan quote: A child’s play is not the problem. It’s our reaction to it. Kalau kita bereaksi terlalu ekstrim terhadap ide bermain anak-anak (selama tidak menyalahi norma moral dan sosial ya), takutnya mereka akan berpikir bahwa kegiatan tersebut buruk:
  • “Eeeh, masa’ anak cowok masak-masakan?” --> nanti gimana mau masak untuk diri sendiri kalau sudah tidak tinggal di rumah? Atau bantu di saat ada anggota keluarga yang sakit dan butuh makanan saat itu juga? 
  • “Anak cewek masa’ main mobil-mobilan?” --> lha, kita suka ajak anak-anak naik mobil kan? Wajar kalau mereka mau bermain mobil-mobilan. Nanti anak cewek ini kalau sudah bisa nyetir sendiri juga harus bisa merawat keamanan mobilnya sendiri :)
  • “Anak cowok kok main boneka?” --> punya anak cowok yang bisa bantu ngemong adiknya itu suatu berkah banget lhooo... apalagi kalau nantinya jadi ayah yang involved dalam pengasuhan anaknya. Juga bisa jadi sarana anak-anak untuk memahami hadirnya adik baru dan perasaan-perasaan sulit (spt rasa iri, ketakutan nggak disayang lagi, dsb) yang menyertainya. 
  • "Anak cewek kok bawa pedang?” --> well, girls can be tough too! Mereka bisa belajar kapan untuk menjadi lemah lembut dan juga kapan harus tough ketika situasi tidak kondusif. Bisa juga jadi trigger diskusi bahwa membela kebenaran bisa dilakukan selain dengan cara perlawanan fisik. 
  • “Masa’ pilih warna itu? Kan itu warna cewek/cowok...” --> colors are for everyone.


Jadi intinya jaga reaksi kita terhadap kegiatan bermain anak-anak. Berikanlah komentar yang non-judgemental dan apa adanya, sesuai dengan apa yang kita lihat. Misalnya:
·         Oh, kakak lagi main dengan boneka hari ini.
·         Oh, mama bisa lihat kalau kamu lagi nyoba sepatu mama ya?
·         Ade lagi bantu memperbaiki pintu rumah.
·         Wah, lagi masak apa siang ini?
·         Ade kuat ya, bisa manjat pohon sampai tinggi!

Semakin kita berbaik sangka dengan kegiatan anak-anak, maka akan semakin memudahkan anak untuk terbuka dan merasa aman bin nyaman mengekspresikan perasaan kepada kita (which is, the foundation of open communication as our kids grow older). Jadikan kesempatan ini untuk menggali cerita atau alasan di balik pilihan bermain mereka. Don’t assume, just ask! Jalan berpikir anak-anak itu bisa lebih sederhana—sekaligus bisa jadi lebih imajinatif dari yang kita duga! Kalau ada komentar-komentar yang sepertinya menyakiti perasaan si anak, kita sebagai orang tua bisa bantu menjadi fasilitator mereka dalam mediasi konflik seperti halnya konflik lainnya. “Mama/papa takut kalau kata-kata orang itu bikin ade sedih. Apa iya?” Lalu bantu anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka. Melalui bermain ini kita sebagai orang tua dapat menjadi dekat dengan anak-anak, memahami cara mereka memanadang dunia, berempati dengan mereka, dan yang paling penting bisa menanamkan family values kepada mereka. Happy playing!

Wednesday, December 10, 2014

Child-Led & Meaningful Learning in Our Homeschool


Memasuki sekitar 1,5 tahun sejak kami memutuskan untuk ber-homeschool-ria, alhamdulillah sedikit demi sedikit ada hikmah untuk terus memperbaiki kegiatan keseharian kami. Salah satu yang utama adalah untuk benar-benar memaknai meaningful learning buat anak-anak. Pada awal-awal hs, saya masih public-school-minded dan punya bayangan kalau nanti di rumah kita akan bahas tema-tema tertentu setiap bulan, yang saya berusaha tentukan sebelumnya (dengan sebisa mungkin memikirkan apa yg akan dia sukai). Tapi pada prakteknya di lapangan, with our kids, it just doesn’t work that way dan terus terang, saya juga time-managementnya belum sehebat itu--- nyiapin tema-tema per bulan dengan segala tetek bengeknya. Yes, I don’t get all things done, segini masih dibantu part-time dengan ART. Who says homeschool moms have it all under control? Nope, not me (maybe someone else, but not me, hahaha). Hopefully one day, but now I’m just doing my best (and that’s what’s important).


Alhamdulillah, Little Bug punya rasa ingin tahu yang besar dan sering berganti-ganti. Walaupun dia anaknya termasuk nurut dan nggak masalah kalau diajak berkegiatan atau belajar tentang suatu tema tertentu, tapiiiii..... lama-lama terlihat bedanya kalau tema itu datangnya dari saya dengan kalau tema adalah permintaan dia sendiri. Keduanya sama-sama dilakukan, tapi semangat dan fokusnya lebih tahan lama yang kalau dia sendiri yang minta/menginisiasi kegiatan atau ide atau diskusi atau apalah itu—walaupun, ya masih sering berganti-ganti dan loncat dari satu ke yang lain dalam waktu yang singkat (seperti kutu loncat hehehe). Nevertheless, I think this is a process (emaknya belajar sabar dan asertif dan kreatif dan -tif- tif yg lainnya) ... lama-lama insyaaAllah akan bisa lebih lama dan mendalam fokusnya sesuai umur yang bertambah (according to theory).

You might think, well this is obvious, right? Child-led activities are more engaging? Probably, but definitely easier said than done, especially with the level of freedom and uncertainty of results in homeschool. The process of somewhat loosening your control over their learning process feels scary—at least, that’s how I feel. Padahal, I’m a believer of kids as natural learners.. and of Allah Yang Maha Luas Ilmu-Nya as the guardian of my kids’ learning. Tapiiii tetep aja rasanya hmm deg deg syur gitu.. (i’m sorry, i just don’t want to use the word “galau”). Mungkin aja, mungkin lho ya... karena kita semasa sekolah dulu terbiasa diatur belajarnya, teruuus sampai lulus SMA. Makanya saya nggak sabar lulus SMA karena ingin nentuin mau belajar apa setelah itu, something that I was really interested in and that control over my educational choice felt good (err, meskipun untuk diterima masuk di perguruan tinggi jurusan ttt juga ada test-nya, but the choosing itself was liberating).  I’m not saying that I didn’t like school or didn’t do well in school (alhamdulillah), but being a parent who chooses to homeschool (resulting in the freedom to manage your child’s education) and trying to make educating your kids actually work (without you losing your sanity and sending them to public school) is seriously easier thought than done.  Enter all the “what if....?” questions that arise from fears:
·         what if my child isn’t “learning” anything?  
·         What if my child falls behind from others his own age?
·         What if my child doesn’t know what he should know at his age?
·         What if i’m wasting my child’s time at home?
·         What if he’s better off at public school?
·         What if I made the wrong decision? --> sodara-sodara, ini “gong”-nya!

Yup, put it out there, all those fears and worries that a homeschool mom might have (at least, I do). Tapi buat saya, adalah tanggung jawab dan konsekuensi saya sepenuhnya ketika sudah membuat keputusan untuk homeschool ini: saya nggak boleh “galau”. Yes, I do have worries and fears, but I will choose to use them as a driving force to get me through this process dengan pemikiran yang positif dan terbuka untuk perbaikan, dengan sumber kekuatan utama dari: doa dan usaha. I don’t want my kids to see their mom confused and not rock-solid with this choice. I have fears/worries, but I want to teach them that those fears/worries can be used to drive you to do better and to evaluate and make changes as necessary, bukan jadi alasan buat mundur teratur. (See? This is me self-talking my way throughout my worries, hahaha)    

I’ve found out that this big homeschool thing is a learning process together with your kids... gimana bersama-sama bernegosiasi untuk merencanakan kegiatan dan menyeimbangkan antara batasan input dari orang tua dan input dari anak. Kata kuncinya adalah seimbang: child-led interests and parent-support. Kalau dengan Little Bug, saya idealnya punya target tujuan-tujuan tertentu tentang kemampuan yang saya ingin dia kuasai... materinya, sebisa mungkin berkaitan dengan hal yang sedang menjadi minat Little Bug. So, I work around his interests and try to get my goals done via activities that are related to his interests at that time.What good is a cool craft idea from Pinterest if your kids just aren’t interested? (Mungkin emaknya yg pingin hehehe ;p) Jadi bekerjanya lebih baik dari minat anak dulu baru nyari kegiatan yg bisa dilakukan bersama-sama. Supaya emak gak gigit jari dan ngelanjutin craft sendiri sampai selesai, hahaha :D

Untuk aktivitas yg berasal dari saya (I have goals too, biasanya berkaitan dgn public school standards that I want to achieve ataupun tujuan2 HS keluarga kami secara pribadi), the one question I ask is:
Will their learning be meaningful?

Which brings me to my second point, how I try to make learning meaningful for them. I try to let Little Bug know why he has to learn something—I give him the “big picture” to show him why. Untuk saat ini karena masih TK, jadi blm ada patokan mata pelajaran tertentu seperti nantinya di SD dst. Jadi saya kembalikan lagi ke perencanaan tujuan hs keluarga kami. Misalnya dalam hal belajar ngaji. Little Bug kadang males-malesan belajar iqro-nya, walaupun ya tetep dibaca (tapi girang banget pas libur iqro, hadeuh). Jadi, I gave him “the talk” about why he needs to learn to read the Holy Qur’an (dan artinya) in the simpelest yet serious way possible (without bringing up the fires of hell—too young for this age). And I compared his iqro book to the Qur’an, dijejerin depan dia. Nah, mulai deh dia ngeh dan jadi lebih semangat ketika bisa sedikit-sedikit membaca ayat Al Qur’an yang ada dalam beberapa surat juz amma. Ketika dia belajar mengenai tanda panjang-pendeknya suatu huruf dibaca, setelah itu saya menunjukkan bahwa tanda-tanda yang dia barusan belajar baca itu ada lho di dalam Al Qur’an... apalagi ketika dia bisa baca beberapa bagian tertentu—bukan main rasa senangnya dia! Sederhana tapi bermakna. Tetep siih kadang aja malesnya, tapi ngingetinnya cukup dengan mengangkat keberhasilan dia yang sebelumnya.



Meaningful learning menurut juga berfungsi sebagai “rem penahan” buat ambisi dan ketakutan orang tua. Semua anggapan orang tua masing-masing bahwa anaknya harus belajar A-Z sewaktu umur sekian, semua “prestasi” anak yang dia tunjukkan (“eh anakku udah hafal ini itu, udah bisa ini itu”)—back to the question, apakah itu bermakna buat anak itu? (bukan buat ortu/eyang/dst). Kids are sponges, menyerap informasi yang diberikan... tapi seberapa lama informasi itu akan terserap dan dianggap berguna kalau nggak dihubungkan dengan apa yang dialaminya sehari-hari? Itulah tugas kita sebagai orang tua, sebagai jembatan penghubung dan pendukung.

Misalnya, belajar menulis akan jadi bermakna ketika dia diajak menulis buku harian atau surat untuk kerabat yang jauh. Belajar membaca akan bermakna ketika dia bisa membaca sendiri buku cerita yang dulunya selalu harus dibacakan mama papanya. Belajar berhitung jadi bermakna ketika dia bisa melihat apa yang dia hitung, misalnya jumlah mobil-mobilan yang dibawa ke rumah eyang supaya nantinya nggak ada yang ketinggalan. Itu baru yang dasarnya... belum yang kompleksnya seperti belajar tentang sejarah, hewan-hewan, dsb. Belum soal belajar life skills seperti masak, nyuci, dsb. Di sini menurut saya, orang tua punya peran besar untuk meng-expose anak dengan beragam pengalaman sesuai umurnya. Semakin banyak exposure, maka anak dan ortu semakin punya banyak perbendaharaan reference yang bisa kita gunakan untuk membuat kegiatan belajar anak-anak lebih meaningful plus dengan sendirinya bisa membantu menjawab bagian “why?” si anak itu harus mempelajarinya. Ya tetap harus melihat umur, tapi anak-anak itu masyaaAllah nggak terduga kemampuan otaknya (that’s why I said, Allah is the guardian of our learning).


 Misalnya, bulan kemarin kami mengajak anak-anak ke Museum Nasional untuk Festival Dongeng Indonesia 2014. Sewaktu saya ikut workshop, anak-anak diajak keliling melihat sebagian kecil museum sama Si Hubs, di antaranya melihat prasasti-prasasti batu secara sekilas. Beberapa minggu kemudian, saya berniat melukis batu sambil lihatin anak-anak main sepeda di garasi (ceritanya mau bikin story stones) tapi anak-anak lihat alat lukis langsung take over dengan melukis batu jadi warna-warni. Tiba-tiba dengan santainya sambil melukis batu, Little Bug bilang, “Mama, kita seperti orang-orang jaman dulu yah yang gambar di atas batu”—err, what?!? MasyaaAllah, I did not expect that! Exposure yang sederhana bisa bermakna ketika dihubungkan dengan kegiatan sehari-hari. Jadilah diskusi singkat tentang media tulis (kertas dkk) dan merembet ke urusan kenapa nggak boleh boros kertas plus soal aturan tempat corat-coret.

Dari kejadian itu, saya secara pribadi jadi bisa berusaha lebih tenang untuk lebih mengendorkan kontrol saya atas materi pembelajaran anak-anak. Lebih bersemangat untuk terus fine-tuning dinamika kerjasama antara saya dan anak-anak dalam proses homeschooling ini, apalagi saat menjelang hs untuk jenjang SD insyaaAllah tahun depan nanti (yang sudah mulai ada materi belajar tertentu di luar minat belajar pribadi). Meaningful learning ini yang jadi “pelumas”nya supaya meminimalisir friksi antara keinginan saya dengan keinginan anak-anak. Saya ingin memfasilitasi minat anak-anak tanpa mengorbankan tujuan hs yg ingin saya capai. Saya juga nggak mau anak-anak punya sikap dan asosiasi yang negatif terhadap kata “belajar” itu sendiri, as if “belajar” itu adalah sebuah tugas berat tanpa makna dan tanpa guna. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat saya di kala lupa dan memberikan manfaat buat keluarga lain yang sedang berjuang di jalan ini :) 

 

Sunday, November 09, 2014

Mom's day out

As I'm writing this, I'm standing inside a commuter train, on my way home. Wait, something's missing: my kids and hubby.

Yes, today was my day out and about wihout the kiddos or hubby. Sebenarnya nggak berencana pergi juga, tapi ada book fair di Jakarta that was just too good to pass up. Dan sayangnya book fair seperti ini nggak child-friendly: huge crowds and small spaces. Jadilah dengan niat nyari buku murah buat anak2, saya berangkat sendiri naik kereta dan busway. Anak2 sama si Hubs dan pasukan Eyang.

This is my 1st time going to Jakarta alone without carrying Baby Bird in one arm and  holding Little Bug's hand in the other. No diapers or a change of clothes in my waist pouch. No keeping an eye on where the kids are or telling them about what we are seeing along the way. Just me, myself, and I.

5 minutes later, i missed them. Small kiddos reminded me of them and I automatically looked up from the book I was reading everytime I heard a kid cry. Although I was enjoying my trip alone, but the feeling of enjoyment was different. I guess this is what people mean when they say that motherhood changes you forever. No experience will ever be complete without the "whole package", meskipun dilengkapi pula dengan segala "kerempongannya". But now I know, that is where the real happiness is.

So, I stand here on this train, full of gratitude. Thankful that I have a family and a home to come home to. Thankful that I was able to spend some time alone enjoying what I like to do while bringing benefit too (although, not a benefit for the wallet, huhuhu). And thankful that some time away from the kids and hubby can fill my cup-- coz you can't parent on an empty cup. Knowing how full your cup is and letting yourself to actually fill it when empty--now that is the important part!

So, for all you real moms out there: don't forget to take care of you. Because being a mom is a tough job but it's also a lifetime blessing to be thankful for.

Friday, November 07, 2014

Ijazah & Ibu Rumah Tangga



Waktu saya dulu memutuskan untuk berhenti bekerja setelah Little Bug lahir, si Hubs bertanya kepada saya: “Nggak apa-apa tuh kamu berhenti bekerja? Ijazahnya nggak sayang? Nanti kalau kamu mau lanjut sekolah lagi juga nggak apa-apa kok...” Dan saya dengan (se)tenang (mungkin) menjawab “insyaaAllah nggak apa-apa.” Tetap pada pendirian saya. Pun ada tawaran pekerjaan sampingan nantinya, yang saya terima haruslah yang bisa dikerjakan dari rumah, part-time, atau sifatnya insidentil saja. Sekolah lagi? Hmm... untuk saat ini, menjadi seorang ibu dan full-time home manager saja adalah sekolah lanjutan bagi saya, dengan ujiannya yang tak menentu materinya, praktek langsung setiap saat, dan tak pernah berakhir hingga akhir hayat.

Oh ya, ijazah. Bagi saya, ijazah adalah tanda kesetaraan. Bahwa kita telah bekerja keras dan jujur untuk menyelesaikan sebuah bagian/tingkat pendidikan formal tertentu, dengan pola pikir yang dibentuk sebagai hasil dari ilmu yang didapat. Ya, ijazah S1 saya harusnya mencerminkan bahwa saya memiliki pola pikir dan attitude yang mencerminkan seseorang yang telah lulus dari universitas. Jadi kalau dikomentarin “sayang amat ijazahnya nganggur karena ujung-ujungnya di rumah saja”—saya amat sangat tidak setuju. Kenapa? Karena pola pikir dan attitude seharusnya nggak akan pernah “nganggur” ketika kita meletakkan ijazah itu di rumah saja. Keinginan untuk belajar ilmu dan informasi terkini tetap bisa berlangsung dari rumah, apalagi dengan adanya internet yang memudahkan belajar di mana saja dan kapan saja dengan siapa saja yang bersedia berbagi ilmunya, dari yang berbayar maupun yang free. Belum lagi banyaknya seminar, workshop, atau training insidentil yang bisa diikuti. Belajar maupun menebar manfaat tidak harus berhenti di persoalan ijazah ataupun status sebagai ibu rumah tangga.

Kesadaran bahwa menjadi orang tua itu butuh ilmu parenting yang dipadukan se-harmonis mungkin dengan praktek di lapangan dan disesuaikan dengan sifat dan keunikan tiap anak plus kondisi keluarga, itu juga merupakan pengejawantahan dari pola pikir yang dilambangkan oleh si ijazah tadi. Hanya nggak pake apresiasi resmi dari pihak luar. Nggak ada jabatan resmi atau gelar lanjutan buat pembelajaran seumur hidup ini. Oh ada deng gelarnya, saya menyebutnya “M.om” atau “M.ama”, ujiannya nanti di akhirat, langsung sama Allah. Well, that goes for everybody, not just for us stay-at-home-moms.
But anyways, intinya jangan anggap pendidikan itu hanya demi ijazah, dan ijazah itu hanya demi pekerjaan (di kantoran). Kalau begitu, then we’d be stuck at square one: “ijazah nganggur kalau ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga”.  Menjadi ibu rumah tangga itu adalah sebuah pilihan pekerjaan, dan nggak semua orang beruntung untuk menjadikannya sebagai pekerjaan yang utama atau satu-satunya. Dan pilihan ini juga bukan solusi untuk ongkang-ongkang kaki menikmati uang suami. Being a stay-at-home-mom is HARD WORK. It’s work that never ends—or as I prefer to look at it, a blessing  that never ends. A blessing because you can make this decision and you can adjust your life to it however you need to—and you will find ways to adjust even though it might not be an easy task to do.

So, don’t be afraid of that one piece of paper. Cara menghargai ijazah adalah dengan mencerminkan pola pikir, sikap, dan integritas yang sesuai dengan si ijazah tadi. Sekolah lagi, monggo. Bekerja formal, silahkan. Menebar manfaat dari rumah, ya sama baiknya. Dan yang paling penting: ingatlah kalau rezeki dari Allah, bukan dari ijazah :) Ijazah can open up opportunities, but it shouldn't be an obstacle to create them. Jum'at barokah buat semuanya! :)

Friday, October 17, 2014

Do what you love and love what you do.


As I write this, I’m in the middle of a translation project. Sebenarnya bukan proyek terjemahan yang pertama, namun dengan yang ini, terasa berbeda. Kenapa? Karena... bahan yang diterjemahkan adalah tentang pendidikan, khususnya mengenai kegiatan belajar yang berkaitan dengan kurikulum  Common Core dan fokus pada STEM (science, technology, engineering, and math) di kelas. Wow, alhamdulillah! Jadi, meskipun bahannya tidak terlalu banyak (secara hitungan halaman tidak seberapa) namun ilmu yang didapat tak ternilai sebagai masukan bagi kami yang ber-homeschool ria.

Yes, I think this is what the above quote is implying. Ketika kita melakukan sesuatu yang kita minati dan dibayar pula, syukur alhamdulillah, nikmatnya seperti ini. Walaupun ada tuntutan profesionalitas dan deadline, namun mengerjakannya tak dihantui perasaan atau beban yang berat. Malah semangat nyicil kerjaannya, apalagi buat saya di sela-sela kerjaan rumah (ART part-time kami hanya urus yang basic cleaning saja dan tidak memasak buat kami) dan kegiatan anak-anak, hehehe!

Sebenarnya selain soal pendidikan, saya juga hobi masak... tapi dengan memasak, rasanya berbeda. Saya pernah beberapa kali menerima pesanan, dan tanpa mengurangi profesionalitas pengerjaan pesanan, saya sadar kalau saya belum bisa menikmati proses menjual kue secara partai banyak. It takes the “joy” from cooking away bit by bit... mungkin kalau pesanan yang sedikit-sedikit bisa, tapi waktunya saat ini memang belum memungkinkan (someday... insyaaAllah). Nah, analisis seperti inilah yang butuh waktu dan pengalaman.. karena ya rupanya tidak cukup hanya sekedar label “hobi” atau “minat” atau “bakat”, we have to try and feel the difference.

Alangkah indahnya apabila kelak insyaaAllah kalau anak-anak sudah besar, mereka bisa merasakan hal ini juga. Doing something they love, being good at it, and getting paid for it, too! It will take time and trial & errors... lots and lots of room for learning, there! Semoga dengan kami berhomeschool ria, mereka akan punya lebih banyak “waktu luang” untuk mencari tahu apa sih yang mereka benar-benar sukai... dan mengembangkan kemampuannya di bidang itu... going down that path of self-discovery and embracing the process... because that’s what part of growing up is supposed to be, right? And because I want them to be happy (dunia & akhirat).. that’s all... :)


Saturday, August 30, 2014

Life long learning

Tadi pagi, saya mendampingi Little Bug latihan keyboard. Sejak sementara dialihkan ke les privat sembari nunggu guru kelasnya recovery, progress-nya Little Bug memang terasa agak lebih cepat. Biasanya main lagu berdasarkan repetisi & pendengaran not (sembari belajar baca) dan agak pelan, ini jadi cepat karena fokusnya secara individual. Biasanya 1 lagu untuk beberapa kali pertemuan, ini bisa 2-3 lagu dipelajari setiap sesi les, meskipun hanya 30 menit saja.
Nah tadi waktu berlatih lagu baru, saya rada2 lupa bin keder baca not baloknya, Little Bug juga lupa melodi lagunya. Udah bukan di kunci C saja, tapi ada kunci G dan sekarang kunci F, tangan kanan dan kiri. *help me* Jadilah saya mencari tahu bersama-sama dengan dia.. nyoba-nyoba, trial and error. Alhamdulillah akhirnya bisa dimainkan, dan saya baru ngeh.. proses bingung dan cari tahu tadi beserta trial and error yang terjadi sebenarnya merupakan contoh yang baik untuk Little Bug. Bahwa kita belajar sepanjang hayat. Bahwa ilmu Allah itu sangat luas. Bahwa kita nggak harus tahu semuanya... apalagi gak usah sok tahu. It's okay to not know... and it's okay to make mistakes and try again. Dan bahwa seorang emak hs nggak harus bisa semua-mua-nya... karena bisa dipelajari sama-sama :-) 

Sunday, August 24, 2014

Di Balik Lajunya Kereta Api



24 Agustus 2014

Tak kenal maka tak sayang. Peribahasa itu sepertinya sudah melekat di ingatan saya sejak jaman SD dulu, tapi anehnya, baru sekarang-sekarang ini setelah ber-homeschool ria saya bisa menghayati maknanya. Ya, seperti yang saya tuliskan pada entry blog yang lalu, keputusan kami untuk ber-homeschool lama-lama semakin banyak kepingan-kepingan puzzle yang mulai terlihat gambaran besarnya. Salah satu kepingan puzzle itu hadir kembali ketika kunjungan ke Stasiun Besar Bogor tadi pagi hingga siang. 




Awal mulanya adalah Little Bug yang ingin belajar tentang kereta api jenis Argo. Mungkin perjalanan kami beberapa bulan lalu ke Jawa Tengah (dengan menggunakan kereta Argo) memberikan kesan yang mendalam sehingga dia mau belajar lebih lanjut tentang hal tersebut. Kalau dipikir-pikir, alat transportasi jenis kereta api itu iconic dengan dunia anak-anak, dari lirik lagu “Naik Kereta Api” hingga daya tarik luar biasa tiap kali melihat kereta melintas di jalan raya. Berhubung di Bogor sendiri ada stasiun besar, jadi saya pikir cukuplah untuk saat ini kunjungan ke sana sebagai perkenalan akan dunia perkeretaapian.

Tujuan saya sederhana: mengenalkan kepada Little Bug bahwa kereta itu nggak jalan sendiri—ada support system terpadu supaya kereta bisa jalan dengan aman, lancar, dan nyaman. Tapi untuk melihat support system itu dari “balik layar” juga nggak bisa sembarangan nyelonong begitu aja. Alhamdulillah Allah yang Maha Pengatur memudahkan saya untuk pergi mengurus izin ke kantor PT KAI DAOP 1 Jakarta di stasiun Cikini, berdua dengan Baby Bird naik kereta. Setelah izin diperoleh, tinggal koordinasi dengan pihak Stasiun Besar Bogor, dalam hal ini kami langsung dibantu oleh Pak Wakil Kepala Stasiun Bogor, Pak Herry. Berhubung kunjungan ini atas nama Klub Hijau (klub-nya anak-anak homeschool di Bogor), jadilah saya ngajak para bocah dari temen-temen SMA yang seumuran, the more the merrier, ceritanya.  Kami semua masuk via pintu belakang stasiun, diterima langsung oleh Pak Herry. Selanjutnya, ada petugas keamanan stasiun yang mengantarkan kami keliling ke: ruang informasi, kabin masinis, ruang sinyal, dan area keluar/masuk stasiun (tempat tiket elektronik itu).






 Awalnya agak terasa kikuk, karena kata Pak Herry, baru kali ini ada kelompok (dalam hal ini, emaknya hahaha) yang minta kunjungan khusus untuk lingkungan stasiun saja, tanpa naik kereta—karena biasanya kunjungan ke stasiun KA itu intinya adalah pada perjalanan naik keretanya, hehehe J Jadi mungkin para petugas di sana juga baru kali ini menerima segerombolan bocah umur 4-8 thn yang melihat-lihat seperti apa sih pekerjaan mereka? Kalau dipikir-pikir, seperti sidak atau ujian dadakan aja, ditanya-tanya ini itu sama bocah & sama emak/bapaknya bocah, hehehe :P Tapi seperti yang dijelaskan petugas di ruang informasi, para petugas di stasiun itu harus bisa semua posisi, karena dirotasikan dan ada juga masa magang-nya di luar masa pendidikannya. Di ruang informasi itu, yang menarik ada perangkat internet untuk update app tentang posisi kereta commuter line, ada tempelan poster besar berisi berbagai sandi perkeretaapian (dari dulu aja nggak hafal semaphor, apalagi kalau suruh ngafalin sandi KA yg bejibun yak?), telfon model dulu, dan ada genta juga!

 Nah, genta itu adalah alat komunikasi penanda kereta diberangkatkan dari 1 stasiun menuju stasiun berikutnya, yang mengeluarkan bunyi “ting-tong” seperti jam dinding yang tua itu. Diputar handle-nya secara manual lalu memiliki mekanisme yang (kalau gak salah) bekerja dengan menggunakan elektromagnet, pokoknya berasal dari jaman dulu deh sebelum ada HT! Pertama kali menemukan genta adalah ketika kami bertujuan kembalik ke Jakarta dari Solo dengan menggunakan KA Argo Lawu... sambil nunggu kereta datang di Solo Balapan, kami mendengar suara seperti dentang jam... kami lacak suaranya ke sebelah ruang informasi di stasiun Solo Balapan, dan di sanalah kami dijelaskan secara singkat mengenai alat bernama genta itu. Kalau di jalur arah Jawa Tengah & Timur masih menggunakan genta, sedangkan ke arah Jawa Barat & Jabotabek sudah nggak pakai lagi, sudah menggunakan perangkat elektronik semua. Kebetulan genta yang di stasiun Bogor tadi sedang rusak, jadi sementara ini pakai HT saja kalau memberangkatkan kereta yang ke arah Sukabumi.                

Dari ruang informasi, kami diantar menyebrang rel untuk naik ke rangkaian kereta commuter line yang masih menunggu waktu keberangkatan. Kami diminta menunggu masinis KA tersebut datang... eh, ternyata, nggak boleh sembarangan tuker-tuker masinis lho! Yang boleh masuk kabin masinis suatu rangkaian KA itu ya hanya masinis yang bertugas untuk rangkaian tersebut (pada hari itu). Inilah standar keamanan yang ketat, alhamdulillah kami dapat izin untuk masuk sebentar ke ruang kabin masinis untuk diberikan penjelasan singkat tentang cara “jalan”nya KA. O iya ya, kereta nggak bisa belok, hanya bisa maju & berhenti.... sisanya mengikuti rel... ada tuas “tenaga” (tadi pakai istilah “gas”, padahal kereta nggak pakai bensin toh? Hehehe) dan  tuas rem, dengan kecepatan maksimum kereta 70km/jam kalau pas jam sepi dengan berbagai ketentuan khusus lainnya sepanjang jalur KA dari Bogor-Jakarta. Komunikasi dengan stasiun lain menggunakan HT dan selalu ada minimal 2 masinis di setiap rangkaian KA yang berjalan. Tadi nggak sempat nanya-nanya tentang prosedur pendidikan/pelatihan untuk jadi masinis, tapi yang saya bayangkan, pastinya sangat berat untuk menjalankan rangkaian kereta dengan banyak gerbong dari sebuah kabin masinis yang sempit.. masyaaAllah! Sayangnya, masinis tadi cerita kalau masih saja ada yang melempari KA dengan batu, makanya tetap ada pelindung kaca seperti teralis dipasang di kaca kabin masinis. Sedih ya?

Kami nggak berlama-lama di kabun masinis karena tidak ingin sampai mengganggu jadwal keberangkatan kereta.  Dari sana alhamdulillah kami cukup beruntung untuk diajak berkenalan dengan petugas yang paling besar tanggung jawabnya: petugas pengatur sinyal! Seperti halnya bandara memiliki control tower, maka stasiun KA juga memiliki menara sinyal. Dengan jendela-jendela besar sepanjang sisi dinding, ruangan itu selalu terkunci rapat. Kebetulan stasiun KA saat itu sedang kosong dan lengang setelah semua KA saat itu sudah diberangkatkan, jadi kami diperbolehkan berkunjung sebentar (kalau lagi ramai/sibuk, nggak akan boleh! Bahaya!). Di sana, Bapak yang sedang bertugas tadi tidak boleh ditemani siapa-siapa pada saat bertugas. Makanan dipesan ke ruangan, sholat & keperluan ke kamar kecil pun sudah diatur kapan saat-saat yang cukup “lengang” untuk sejenak melakukannya. Beliau bertugas untuk mengatur keberangkatan & kedatangan KA, membuka & menutup jalur rel yang dari maupun menuju stasiun Bogor (lupa sampai mana tadi wilayah pengaturannya, kalau nggak salah sampai Depok deh).  Di sana, kami dijelaskan kalau petugas pengatur sinyal KA nggak boleh seenaknya bertindak, semuanya harus sesuai peraturan (dan terlihat setumpuk buku aturan di samping meja itu). Kalau ada kereta mogok, atau kawat aliran listrik yang bermasalah, semuanya sudah ada step-by-step SOP-nya. Bapak inilah yang paling berat & besar tanggung jawabnya, karena beliau yang menentukan tindakan yang akan dilakukan. Dan nggak semudah seperti menderek mobil yang mogok atau memencet tombol untuk membetulkan sinyal yang rusak. Sekali lagi, semua ada SOPnya untuk menjaga keamanan semua pihak.         

Di sinilah, kepingan puzzle itu muncul... jleb! Saya yang terkadang pernah mengeluh dengan mudahnya terhadap kereta yang bermasalah, jadwal yang telat, dsb... ternyata si Bapak ini (dan para petugas pengatur sinyal lainnya) yang bertanggung jawab menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk menyelesaikannya dan harus sesuai SOP, nggak boleh salah. Bapak yang berusaha melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya, nggak boleh ngantuk, nggak boleh salah, harus selalu tepat dan terjaga. Bapak yang bekerja begitu keras jauh di balik layar, jauh dari sorotan siapapun... begitu pula dengan petugas yang lainnya, yang tugasnya nggak kalah penting... nggak pantaslah saya yang hanya penumpang ini mengeluh seenaknya.
          
Ya, para penumpang pasti ingin sampai dengan tepat waktu dan aman, lancar dan nyaman. Tapi semua itu nggak akan tercapai tanpa kerja tim yang baik antar semua petugas di stasiun. Belum lagi faktor perawatan, peremajaan, dsb, yang mungkin saja berhubungan dengan kebijakan dan pendanaan dari pusat. Ada pepatah, don’t shoot the messenger. Jangan marah kepada si penyampai berita yang tak berkenan di hati kita. Mungkin begitu pula dengan para petugas KA.. ketika ada masalah, belum tentu salah mereka.. dan kita baiknya berpikiran positif terhadap mereka, dengan mengingat kalau semuanya berusaha keras memperbaikinya semampu mereka (dengan sesegera mungkin). Siapa sih yang mau kalau perjalanan kereta itu terlambat atau bermasalah? Siapa sih yang tak ingin memiliki pelayanan KA yang nyaman, modern, dan memadai? Ya, memang kita mesti bersabar dengan kondisi yang ada.. dan juga bersyukur atas semua kemajuan yang telah dicapai. Belum sempurna, tapi yang penting sedang dalam proses menuju ke arah yang lebih baik, terus begitu... tugas kitalah untuk mendoakan, saling menyemangati, dan juga mengajak untuk mendukung proses tersebut, karena kita juga punya kewajiban yang melekat pada hak  kita sebagai penerima layanan KA yang baik.
               
 Jadi pelajaran kami hari ini... adalah kembali diingatkan untuk menghargai kerja keras para penyedia jasa publik kita. Tak kenal maka tak sayang, dan saya di sini hanya berusaha bercerita pengalaman kami tadi, agar semakin banyak masyarakat yang sadar akan kerja keras para petugas KA. Dan mulai dari anak-anak kitalah tempat terbaik untuk membudidayakan sikap positif dan apresiasi terhadap kerja keras seluruh elemen support system KA tersebut :)

Tetap semangat, terus maju menjadi semakin baik dari hari ke hari! “Ayo kawanku lekas naik... keretaku tak berhenti lama!”