Friday, May 22, 2015

Tolong jangan bilang anakku “pintar”….



Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama. Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset.  Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006). Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak: satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”) dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual. Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama.  Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.
Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah?? 

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb, sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya. Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

Dweck sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”
Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka. Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya. Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.

Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:
a.       Fixed mindset (FM)mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.
b.      Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus!  Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”
c.       Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM. GM akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”
d.      FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”
e.      FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).
f.        FM percaya kalau tes mengukur kemampuan. GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.
g.       Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.
h.      Guru dengan FM memiliki semua jawaban. Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.
i.         Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya. 

Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi menang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”--- masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil. Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”. Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya.  

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com

Referensi:
1.       Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.
2.       Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Kids: The Inverse Power of Praise. http://nymag.com/news/features/27840/#
3.       Teaching To Promote A Growth Mindset. Center For Research on Girls at Laurel School.

Tuesday, April 21, 2015

Grup sosmed para Kartini

Ketika itu, Kartini yang asli menulis curahan hatinya dalam surat-surat, yang kemudian dibukukan menjadi buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.  Fast forward ke saat ini, saya mengenal sekelompok Kartini masa kini yang mencurahkan pemikiran mereka melalui sebuah grup sosmed. Grup ini lama-lama menjadi sebuah support group bagi anggotanya, Kartini masa kini yang berjuang dengan tantangan kehidupan sehari-hari.

Para Kartini muda ini beragam profesinya, ada yang menjadi dokter, pemilik usaha online, pendidik, PNS, mahasiswa jenjang lanjutan, manager, bekerja di media, di perusahaan swasta, pengrajin kue, konsultan independen, dan ada yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Ada yang sudah menikah dan ada yang belum, ada pula yang menjalani hubungan jarak jauh dengan pasangannya. Ada yang belum memiliki anak dan ada yang baru saja melahirkan anak ke-4nya. Para Kartini yang beragam, namun memiliki sebuah persamaan: semuanya memiliki pilihan hidup masing-masing beserta konsekuensinya. Everyone is fighting their own battles beyond the boundaries of the LCD monitor of their smartphone.

Namun demikian, semuanya saling menghormati pilihan masing-masing. Mereka saling bertukar informasi, dari tips mengasuh anak sampai rekomendasi merek payung lipat yang tahan banting. Ide resep masakan, isu pendidikan, tips dandan, curhat mengenai sebagian perilaku para suami yang entah kenapa nggak bisa dipahami para istri (haha!), rekomendasi toko/tempat liburan/produk/film bagus, info diskonan (emak-emak banget), sampai curhatan demi mempertahankan kewarasan masing-masing--- semua diterima dengan terbuka. Setiap Kartini memiliki kesempatan untuk memberikan pendapat dan berbagi pengalaman---tanpa memaksakan kehendaknya kepada yang mengajukan pertanyaan di awal diskusi. Tanpa men-judge.

This is my perception of the modern-day Kartini. Women who consciously make their own life choices and take responsibility for them, some good and others that require a grain of salt and a bite-the-bullet-and-get-on-with-it attitude. It's not just about getting an education and putting that degree in a paid job. It's about educating yourself so you can make the best decisions with your given situation. It's about learning to be a wise woman who is empathic and doesn't give in to prejudice or negative stereotypes. It's about being supportive and being a good friend, encouraging them to be a better person within their own abilities and also learning to accept advice form others. It's about the journey of living life to the fullest and being thankful for what you have (and don't have).. it's about trying to be better each day... and trying again the next. Confidence, support, compassion, empathy, and courage.

So to all women, Happy Kartini Day! May we all be wise and smart women who will make the world a better place, starting from our own families and surroundings. Dan semoga semakin banyak support group yang hadir dalam kehidupan para Kartini masa kini... let's all start judging less and supporting more towards our women-friends, you never know what battle they are fighting behind their smile. Thank you to my group, you all know who you are! :)



Sunday, March 22, 2015

The Essentials

Little Bug took part in his 1st ever piano competition today. Yes, he's just turned 6, the baby of the competition and he smallest too, hahaha...

No, i'm not some super-ambitious tiger mom with the eye on the trophy. But yes, I am the mom who wants her son to learn about intrinsic motivation from an early age. I want Little Bug to start learning about personal goals... personal targets.. and benchmarking against his own previous achievements. Well, not that he has been in a competition before, but he sure has come a long way from the basic do-re-mi.  Heck, just last month I wasn't even sure if he could be able to finish learning the song for the competition, hehehe!

The song was a piece titled "March" by Dimitri Shostakovich. We chose a piece that was upbeat and goes along with his age: young and bubbly. I asked his teacher for a piece that wasn't too easy or too hard, but with enough challenge to scaffold his piano playing abilities. Alhamdulillah, he rose to the challenge and persevered, although i had to give him a pretty serious encouragement midway during his 2-month practice before the competition.

I told him... that what really mattered was his perseverance in practicing. His confidence in playing. His courage to take part in the competition, even though he barely made the minimum age requirement and had no previous experience. His endurance through the hard parts of the song. And mostly, it's not about winning, but about challenging your own self and striving to be better than before. Winning is just a bonus... but that's not the heart of the reason behind competing...it's against yourself and your own previous achievements, others are just inspiration.

So, now as I'm writing this, we're still in the concert hall, listening to other piano geniuses displaying their hard work. The trophies are lined up... and thankfully Little Bug performed with more ability than before. He slipped up a bit but didn't stop,just calmy fixed it and continued with his song, finishing with a lift of his small captain's hat and a big grin on his cheerful face. I'm thankful Little Bug can be a part of this.. i hope he'll be inspired.. and be humbled, always.

Friday, March 20, 2015

Not what, but how...

A couple of weeks ago, we went to Kidzania for Little Bug's birthday present. One of the professions he chose to do was a package courier, working together in a team of 3 kids along with 2 older, maybe 7 or 8 year olds. They were given a destination for the delivery--a tenant somewhere within the Kidzania town area. As they rushed off pushing their delivery carts, I followed a bit behind and casually asked where they were headed. They told me their destination and i just followed, eager to see how fast they would make the delivery (of course, i knew the destination already). For about 5-10 minutes, the were scurrying around the town streets, looking around for the destination. I couldn't help asking the older kids if they knew where to go, and they just laughed and said so innocenltly, "no". OMG.

They were probably in 2nd grade or so.. but they didn't realize that they had a problem---a challenge to solve. And they were doing nothing about it, just giggling and running around. Not wanting to waste precious time (if you've been to Kidzania, you know what i'm talking about) and just feeling bad for Little Bug running around in circles and not being heard by them, i told them to go back to the delivery "office" and to ask again about the location. The guy repeated his instructions and also gave them explicit directions, again, on how to get there. Finally!

So, this was an eye opener for me... these older kids should've had some sense of "real world" problem solving and initiative, but they were completely "blank" and just plain unaware of their situation. Why??
For any reason, i realized that the "what" breadth of facts that a kid knows just won't matter at all if they're equally clueless on what to do with what information they have, no matter the amount. And without an inquisitive atitude, how can they overcome problems/challenges, no matter how simple?

So with that experience, I started to emphasize a more explicit problem-solving approach with Little Bug in our daily lives. If he asks something, i start to ask him "how would you find the answer to that question, without asking me? What resources could you use? How would you use them?"

Before this, I would just usually ask him, "What do you think?" So he can think creatively and then I would comment on his answer. Now, it's more step-by-step and I try to get his understanding of thw challenges or problem he is facing.

Kids nowadays have Google search, books, and all sorts of sources of information at their fingertips. We just have to make sure they can see the problem or challenge that they face, especially when it's right under their nose.

Thursday, January 29, 2015

Learn through play: Lego zipline



29 Januari  2015

Hallo semuanya... apa kabar? A LOT of things going on for our family for the past few weeks. Let’s just say, we’re gearing up for more play-based learning, dengan bayang-bayang homeschooling untuk jenjang SD yang insyaaAllah semakin mendekat. But with a few big decisions and crossroads that we’re currently facing, that’s not a reason to stop playing (or should I say, learning?)

The latest toy that Little Bug is playing with is a zipline (or flying fox, you might call it) that he made from Lego. I got this idea from here but I only gave him a short glimpse of what the model looked like and then he had to make his own “vehicle” for the zipline. Btw, he has been on the flying fox things a few times before, so he can recall on his experiences on how the whole zipline thingy works.

This activity is packed with STEM (science, technology, engineering, and math) learning points and also not short on creativity, language arts, and just plain fun, even for Baby Bird (who is just under 3yo right now)!

First, Little Bug had to think about how the “vehicles” would be designed so that they would run smoothly on the zipline. An important part of the vehicle design was about how the thread for the zipline would be attached to the vehicle. Because I didn’t set any limits or give any instructions on this activity, Little Bug expanded the activity into making more than 1 vehicle for the zipline à which he then had another problem to solve: how to switch between vehicles easily? He also made up a story about the zipline being in an amusement park, so he made a ticket booth and a fun ship ride to go with it. 



Having a ticket booth, I asked him about pricing the rides. So he made a sign with the prices (practicing his own handwriting but without any corrections yet from me) , along with a made up math-story problem about a minifig that wanted to go on the ride with only x amount of money and y amount of change that he would get from the ticket booth. Just like what he sees in real-life money transactions.

After all the set up on the Lego parts, I taught him how to make a simple knot. Being in a modern-day world with velcro and slip-on shoes, he hasn’t had a lot of practice in tying knots & bows. It took perseverance but alhamdulillah, he finally learned how to make his own knots.

Then we tried a few combinations of places to tie the knots, experimenting with angles, slopes, and string tension. I also added info about gravity and friction, and FYI, I barely passed my physics in grade school, so we’re just talking about simple basic concepts here.

All that aside, we just had fun playing! Little Bug (and Baby Bird) played with this for 2 days in a row, just creating and adjusting. It was fun to watch the Lego minifigs slide down the line (or not, in some cases), and even some fell apart upon impact!



As a facilitator, all I did was just provoke with “I wonder why?” type questions and I was his cheerleader for not giving up and wanting to find out more about how things work. He needs work in that area...  I’ll be worried if everytime he encounters a problem/something surprising happens, he won’t want to ask “why? What caused it? How can I find out about this?” and just shrug it off, shift his attention to something else. This sort of attitude takes a lot of time and hands-on activities to nurture, and this is what will fuel him to keep on pursuing his passion/interests/goals/dreams in the future. I believe that all kids have a huge amount of curiousity within them, but it’s our job to make sure that curiousity will keep living and driving them in the right direction. We have to give them plenty of time to just play and learn to their heart’s delight along with a fresh view on life around them... not weigh them down with spoon-fed fact learning/memorization, a schedule that’s too packed, and a boring view of life. Again, this is what I call part of the “fine art” of educating your kids... you can only fine-tune your “dance” with your kids—your goals and theirs—so that it’s a win-win and happy solution for everyone.  Happy playing!

Monday, December 22, 2014

Hopsctoch Learning

In homeschooling, you can find ways to combine various learning elements, like what we did with hopscotch and early math skills. Semuanya berawal dari permainan hopscotch atau engklek yg klasik itu. Terakhir kali saya main engklek adalah waktu kelas 6 SD kayaknya, sebelum bel masuk kelas hehehe... waktu itu raasanya seruuu, walaupun pas main dengan anak-anak terus terang saya agak lupa aturan mainnya. Jadi, bikin sendiri deh aturannya, hehehe!

Ide awal adalah bahwa main engklek itu sebenarnya merupakan olah motorik kasar yang seru. Although my kids are oftenly jumping, hopping, and running all over the house, hopsctoch provides an added goal for them: they have to learn to coordinate their hops and feet in order to land where they should land. Strategi, koordinasi kaki mana yg loncat dan mana yang dipakai buat mendarat, plus menyebutkan angka-angka yang tertera di kotak yang diloncati (sembari loncat)--- voila! Alhamdulillah dapat deh ide untuk mengubah isi dari kotak-kotak engklek itu, jadi belajar secara kinestetik.




Awalnya saya pakai angka 1-10, lalu saya modifikasi lagi bentuk dan jumlah kotak-kotaknya jadi 1-12. Lalu pada lain kesempatan saya campur angka dengan bentuk matematika dasar (segitiga, kotak, dkk), terus iseng sayang mulai kasih angka dengan pola penambahan jumlah tertentu (skip counting). Little Bug awalnya nggak ngeh, kenapa saya nulisnya 2,4,6,.. lalu saya ajak berpikir, kira-kira angka-angka tsb selisihnya berapa satu dgn yg lain sebelum/setelahnya (dia memang sudah bisa konsep berhitung tambah/kurang sederhana dari kegiatan bermain lainnya). Setelah dia ngeh kalau masing-masing angka berselisih 2, saya ajak bersama-sama hitung berapa angka yg harus saya tulis di kotak selanjutnya dan juga kasih dia kesempatan buat nulis sendiri di kotaknya. Baru deh dia menguatkan pemahamannya saat loncat-loncat sambil nyebut angka-angkanya (lama-lama makin hafal deh!)



 Permainan ini bisa disesuaikan dengan konsep yang sedang dipelajari atau yg ingin dikuatkan: angka, huruf, bentuk, vocab, dsb. Seru karena anak belajar sembari bergerak dan bermain, plus semakin seru lagi kalau kita juga ikutan (seperti iklan susu berkalsium tinggi itu tuh, supaya tetep awet muda dan bebas encok hahaha)! The only limit to your hopscotch game is how much chalk you have and the area of your driveway/road you are using :D Happy playing!

Friday, December 19, 2014

Gender-free Play

Okay, this is probably a sensitive issue. Di masyarakat kita, stereotipe tentang apa yang pantas dan tidak pantas dimainkan oleh anak-anak kecil berdasarkan jenis kelamin mereka, saya rasa masih lumayan kuat. But we try to make a safe, gender-free play area at our house. Semenjak Baby Bird belum lahir, Little Bug sudah punya 1 set permainan masak-masakan plus celemek. Aneka stuffed-toys atau boneka juga ada, meskipun waktu itu belum ada boneka berbentuk bayi yah, belum nemu yang gender-neutral. Waktu awal-awal beli mainan masak-masakan, si Hubs bereaksi seperti para ayah pemula pada umumnya: “kok anak cowok main masak-masakan??” Dan begitu pula ketika Baby Bird sudah cukup besar untuk memilih mainannya sendiri di ruang main, “nggak apa-apa tuh Baby Bird main mobil-mobilan?” Dan jawaban saya dari dulu sampai sekarang tetap sama: insyaaAllah nggak apa-apa.


 

Insight dari buku “It’s OK not to share” dari Heather Shumaker, “play that crosses gender roles is creative and harmless. It won’t change who they are.” Jadi kacamata kita sebagai orang tua hendaknya melihat aktivitas bermain tersebut sebagai suatu proses anak yang sedang bermain dan mengeksplorasi berbagai macam peran dan kegiatan. Jangan disangkut-pautkan dengan jenis kelamin atau identitas diri sebagai laki-laki/perempuan—that is a whole different issue! Well, anak-anak memang belajar dari bermain kan? Anak tertarik pada masak-masakan, karena dia melihat kegiatan masak di rumah, suka diajak makan ke restoran untuk nyobain beragam jenis masakan baru, ataupun karena dia ingin mencoba untuk melakukannya sendiri (dengan cara yang aman untuk usianya). Main boneka? Anak-anak kita suatu saat nanti insyaaAllah akan menjadi orang tua juga kan? Bermain peran yang berbeda-beda juga membantu tumbuhnya empati pada anak. Yes, being able to imagine yourself in someone else’s shoes..  bagiamana perasaan mereka, kegiatan mereka, dan apa saja tantangan yang mungkin mereka akan hadapi.. it all starts from empathy. Dan buat yang punya anak kecil, udah pasti tau kalau mengajarkan empati ini butuh waktu dan proses yang lamaaaaa dan susah-susah gampang. *that’s why I don’t fuss over calistung at this early age, because soft skills like empathy dkk nggak mungkin dipelajari secara singkat*

 Ketika bermain bebas, anak harus merasa aman untuk mencoba hal-hal baru. Ya, mungkin saja termasuk bermain yang “tidak sesuai” dengan gender-role secara umum di masyarakat. Tapi, bukan lantas kita bisa langsung men-cap kalau anak perempuan yang main dengan perkakas rumah tangga akan menjadi tukang bangunan ataupun anak cowok yang mencoba sepatu hak tinggi mamanya akan menjadi cross-dresser saat dewasa nanti! Coba untuk melihat dari sudut pandang anak-anak: mereka berhak untuk mencoba hal-hal yang baru ataupun menarik buat mereka. Si anak cowok bisa kita ajak untuk diskusi tentang capeknya berjalan dalam high heels, mengajak dia berempati kenapa mama meminta dia untuk jalan sendiri instead of  digendong saat mama pakai high heels ke acara kondangan. Atau dia bisa merasa lebih tinggi (badannya) untuk sesaat dan diajak diskusi tentang makanan bergizi supaya tumbuh besar, sehat, dan juga lebih tinggi, hehehe :) Si anak cewek suatu saat akan hidup mandiri dan bisa mendandani rumahnya secara mandiri, ataupun ketika manggil tukang bangunan akan bisa jadi mandor yang cermat... dan siapa tau akan jadi arsitek yang berbakat!

Shumaker juga menohok saya pribadi dengan quote: A child’s play is not the problem. It’s our reaction to it. Kalau kita bereaksi terlalu ekstrim terhadap ide bermain anak-anak (selama tidak menyalahi norma moral dan sosial ya), takutnya mereka akan berpikir bahwa kegiatan tersebut buruk:
  • “Eeeh, masa’ anak cowok masak-masakan?” --> nanti gimana mau masak untuk diri sendiri kalau sudah tidak tinggal di rumah? Atau bantu di saat ada anggota keluarga yang sakit dan butuh makanan saat itu juga? 
  • “Anak cewek masa’ main mobil-mobilan?” --> lha, kita suka ajak anak-anak naik mobil kan? Wajar kalau mereka mau bermain mobil-mobilan. Nanti anak cewek ini kalau sudah bisa nyetir sendiri juga harus bisa merawat keamanan mobilnya sendiri :)
  • “Anak cowok kok main boneka?” --> punya anak cowok yang bisa bantu ngemong adiknya itu suatu berkah banget lhooo... apalagi kalau nantinya jadi ayah yang involved dalam pengasuhan anaknya. Juga bisa jadi sarana anak-anak untuk memahami hadirnya adik baru dan perasaan-perasaan sulit (spt rasa iri, ketakutan nggak disayang lagi, dsb) yang menyertainya. 
  • "Anak cewek kok bawa pedang?” --> well, girls can be tough too! Mereka bisa belajar kapan untuk menjadi lemah lembut dan juga kapan harus tough ketika situasi tidak kondusif. Bisa juga jadi trigger diskusi bahwa membela kebenaran bisa dilakukan selain dengan cara perlawanan fisik. 
  • “Masa’ pilih warna itu? Kan itu warna cewek/cowok...” --> colors are for everyone.


Jadi intinya jaga reaksi kita terhadap kegiatan bermain anak-anak. Berikanlah komentar yang non-judgemental dan apa adanya, sesuai dengan apa yang kita lihat. Misalnya:
·         Oh, kakak lagi main dengan boneka hari ini.
·         Oh, mama bisa lihat kalau kamu lagi nyoba sepatu mama ya?
·         Ade lagi bantu memperbaiki pintu rumah.
·         Wah, lagi masak apa siang ini?
·         Ade kuat ya, bisa manjat pohon sampai tinggi!

Semakin kita berbaik sangka dengan kegiatan anak-anak, maka akan semakin memudahkan anak untuk terbuka dan merasa aman bin nyaman mengekspresikan perasaan kepada kita (which is, the foundation of open communication as our kids grow older). Jadikan kesempatan ini untuk menggali cerita atau alasan di balik pilihan bermain mereka. Don’t assume, just ask! Jalan berpikir anak-anak itu bisa lebih sederhana—sekaligus bisa jadi lebih imajinatif dari yang kita duga! Kalau ada komentar-komentar yang sepertinya menyakiti perasaan si anak, kita sebagai orang tua bisa bantu menjadi fasilitator mereka dalam mediasi konflik seperti halnya konflik lainnya. “Mama/papa takut kalau kata-kata orang itu bikin ade sedih. Apa iya?” Lalu bantu anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka. Melalui bermain ini kita sebagai orang tua dapat menjadi dekat dengan anak-anak, memahami cara mereka memanadang dunia, berempati dengan mereka, dan yang paling penting bisa menanamkan family values kepada mereka. Happy playing!