Thursday, December 03, 2015
Ideal vs. Real
Saturday, August 22, 2015
Film “Inside Out”: Getting in touch with our own Emotional Headquarters
![]() |
| (Picture from Wikipedia) |
Friday, August 07, 2015
Opening doors
Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com dan FB page "Our Learning Family"
Sewaktu kami memutuskan untuk memilih alternatif pendidikan anak-anak berupa homeschool, pada awalnya kami membayangkan kalau kami akan bisa menjalani kegiatan belajar yang lebih santai, sesuai dengan minat anak, tanpa terikat dengan segala hikuk-pikuk pendidikan formal pada umumnya. Lalu... kami dibangunkan dari mimpi yang ideal itu dengan kabar bahwa ada peraturan mendikbud no.129 thn. 2014 mengenai "sekolahrumah" alias homeschool ini. Jegerrr!
Reaksi teman-teman HS terhadap permen tsb sepertinya sangat beragam, berhubung kami tidak terikat komunitas manapun, jadi mau nggak mau harus menentukan sikap dan bergerak mencari informasi sendiri.
Kami pada dasarnya menyambut baik adanya peraturan ini, krn meneguhkan status anak-anak yang berHS ria. Tapi memang di sisi lain, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh keluarga HS, yang bukan tidak mungkin, kurang sejalan dengan visi misi maupun kegiatan keluarga HS yang sangat beragam.
Kalau keluarga kami sendiri... kami memang menginginkan anak-anak untuk kelak memiliki ijazah nasional maupun internasional. Kenapa? Karena kami ingin membuka pintu sebanyak-banyaknya buat anak-anak kami kelak ketika mereka menyusuri perjalanan hidup mereka sendiri. Jangan sampai nantinya mereka terhalang oleh persyaratan administrasi ketika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yg lebih tinggi.. atau siapa tau mau ambil beasiswa baik dalam/luar negri.. atau apapun yang membutuhkan ijazah resmi... just because we (as their parents) didn't take the necessary steps to ensure they can get it when the time comes.
Jangan salah.. we do not want to "teach to the test"--- justru salah satu alasan kami HS adalah untuk menghidari konsep belajar hanya demi nilai! Bukan lantas ijazah ini jadi satu2nya tujuan dalam HS kami ya... tapi kami lebih memandangnya sebagai tantangan.. bagaimana kita bisa menyelaraskan antara keinginan untuk nantinya mendapatkan ijazah ini dengan semangat untuk terus belajar seumur hidup dan mengejar apa yang diminati.
Okay, selesai urusan paradigma... dengan kaca mata positive thinking, saya lalu mendatangi disdik di tempat tinggal kami. Alhamdulillah diterima dengan baik, lalu saya berdiskusi panjang lebar mengenai implikasi permen ini, serta apa yg menjadi hak dan kewajiban saya sbg orang tua. Nah, sampai saya menulis ini, setahu saya belum ada petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan permen 129 itu. Jadi masih banyak area abu-abu... tapi yg bisa saya pahami dari diskusi pada hari itu adalah (semoga nggak salah):
1. Kita wajib mendaftarkan anak kita yg HS ke disdik setempat, dengan membawa fotokopi identitas diri dari orang tua dan anak, surat pernyataan dari orang tua yg menyatakan akan bertanggung jawab untuk menjalankan pendidikan di rumah, klo si anak sudah di atas 13thn maka dia juga harus bikin surat pernyataan bersedia menjalani pendidikan hs, dan dokumen program sekolahrumah yg sekurang-kurangnya mencantumkan rencana pembelajaran.
Format dan ketentuan semua dokumen itu belum ada, jadi saya buat sederhana namun terkesan resmi. Saat ini masih berkutat di rencana pembelajaran (saya hanya buat rencana untuk tahun ajaran ini saja), jadi belum balik lagi ke disdik buat daftar secara resmi (jadi belum tau juga tanggapan mereka akan seperti apa thd dokumen2 yg saya buat ini). Tunggu tanggal mainnya yaa!
2. Kalau sudah terdaftar, karena juknis belum ada, jadi disdik juga belum ada peraturan yg mengatur hak/kewajiban mereka ke kita, dan sebaliknya. Jadi untuk saat ini sifatnya supaya saling tahu saja dan sebagai awal partnership kita dengan mereka. Nah, waktu itu sempet ada pembicaraan mengenai NISN (nomor induk siswa nasional) buat anak HS yg terdaftar, tapi saya lupa bagaimana dan sepertinya masih belum jelas ketentuannya. Nanti insyaaAllah saya akan tanya lagi pas ke disdik. Logikanya sih klo terdaftar berarti akan dapat NISN atau at least sudah terdaftar dalam sistem.. jadi kalau ada apa-apa sudah ada administrasinya.
3. Kurikulum yg dipakai mengacu kpd kurnas. Plus harus mengajarkan Agama, PPKn dan Bhs Indonesia di luar pelajaran lainnya.
Nah, buat kami yang ingin memakai kurikulum Cambridge, ini jadi tantangan karena tadinya berniat ngebut drilling soal ketika kls 5/6 aja buat ujian paket A, nah jadinya kan gak bisa sesederhana itu. Kesan pertama: wah jadi banyak dong pelajarannya! Tapi kalau mau positive thinking, kita bisa cari cara supaya pelajaran kurnas ini bisa dibuat semenarik mungkin dan diselaraskan dengan kegiatan belajar yg lain (yang sesuai dengan visi misi dan metode yg kita gunakan). Dan dari sepanjang hari, paling yg dipakai untuk belajar materi kurnas itu berapa lama sih.. nggak harus sepanjang hari kan..?
Plus.. pelajaran bahwa in life, there are just some things you just have to do even though you don't like it.. but it doesn't mean that your life will be taken over by it. Pinter-pinternya kita aja mengaturnya. Toh yang penting kontennya aja yg sesuai kurnas.. metode pengajarannya? Terserah kita! (dan nggak perlu dilaporkan, hehehe)
4. Evaluasi dilakukan oleh pendidik (orang tua), lembaga informal/nonformal, dan/atau pemerintah. Nah ini masih agak abu-abu bagi saya, tapi menurut ibu kabid yang berdiskusi dengan saya, jadinya kita melakukan evaluasi secara berkala (semesteran) bekerja sama dengan PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat) setempat. Nah teknis evaluasinya itu tergantung PKBM yg kita gandeng, dan nantinya evaluasi tsb akan dituangkan dalam raport yg dikeluarkan oleh PKBM.
Nilai-nilai raport itu kalau nggak salah menjadi salah satu syarat nantinya ujian kesetaraan (paket A,B,C) dan menjadi salah satu dokumen pendukung jika nantinya berniat melanjutkan ke jenjang pendidikan formal selanjutnya, meskipun ijazah paket belum keluar (sementara bisa pakai surat keterangan lulus ujian, yg juga nantinya diterbitkan oleh PKBM tsb berdasarkan hasil ujian si anak). Ini khusus buat yg sudah mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yg lebih tinggi. Klo yg belum ya raport buat pegangan aja kalau sewaktu-waktu dibutuhkan hehehe :)
Okay, dengan berbekal poin-poin di atas, saya akhirnya meminta rekomendasi disdik untuk PKBM setempat yang track recordnya sudah terbukti baik. Sebenarnya bisa googling juga sih, tapi pastikan PKBM yg dituju sudah terdaftar dan memiliki NILEM (nomor induk lembaga atau apa gitu ya). Langkah selanjutnya adalah untuk berdiskusi dengan pengelola PKBM, membicarakan teknis partnership kami dengan mereka. Syukur-syukur mereka juga sudah mengetahui soal permen sekolahrumah, jadi akan lebih memudahkan pengaturan partnership ini sesuai dengan ketentuan yg diminta oleh si permen tsb.
Hosh-hosh.. panjang juga ya tulisan ini.. begitu pula perjuangan ini hehehe! Hikmah yang dapat saya ambil adalah melatih keberanian dan mendorong saya untuk asertif dalam mengurus kebutuhan pendidikan anak-anak. Nggak usah nunggu yang lain bergerak, jadilah penggerak kalau memang tujuannya baik, insyaaAllah :)
Semoga sharing pengalaman saya ini bisa bermanfaat :)
Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com dan FB page "Our Learning Family"
Friday, May 22, 2015
Tolong jangan bilang anakku “pintar”….
Ditulis oleh Arum Budiani, pemilik blog http://ourlearningfamily.blogspot.com
Tuesday, April 21, 2015
Grup sosmed para Kartini
Namun demikian, semuanya saling menghormati pilihan masing-masing. Mereka saling bertukar informasi, dari tips mengasuh anak sampai rekomendasi merek payung lipat yang tahan banting. Ide resep masakan, isu pendidikan, tips dandan, curhat mengenai sebagian perilaku para suami yang entah kenapa nggak bisa dipahami para istri (haha!), rekomendasi toko/tempat liburan/produk/film bagus, info diskonan (emak-emak banget), sampai curhatan demi mempertahankan kewarasan masing-masing--- semua diterima dengan terbuka. Setiap Kartini memiliki kesempatan untuk memberikan pendapat dan berbagi pengalaman---tanpa memaksakan kehendaknya kepada yang mengajukan pertanyaan di awal diskusi. Tanpa men-judge.
This is my perception of the modern-day Kartini. Women who consciously make their own life choices and take responsibility for them, some good and others that require a grain of salt and a bite-the-bullet-and-get-on-with-it attitude. It's not just about getting an education and putting that degree in a paid job. It's about educating yourself so you can make the best decisions with your given situation. It's about learning to be a wise woman who is empathic and doesn't give in to prejudice or negative stereotypes. It's about being supportive and being a good friend, encouraging them to be a better person within their own abilities and also learning to accept advice form others. It's about the journey of living life to the fullest and being thankful for what you have (and don't have).. it's about trying to be better each day... and trying again the next. Confidence, support, compassion, empathy, and courage.
So to all women, Happy Kartini Day! May we all be wise and smart women who will make the world a better place, starting from our own families and surroundings. Dan semoga semakin banyak support group yang hadir dalam kehidupan para Kartini masa kini... let's all start judging less and supporting more towards our women-friends, you never know what battle they are fighting behind their smile. Thank you to my group, you all know who you are! :)
Sunday, March 22, 2015
The Essentials
Little Bug took part in his 1st ever piano competition today. Yes, he's just turned 6, the baby of the competition and he smallest too, hahaha...
No, i'm not some super-ambitious tiger mom with the eye on the trophy. But yes, I am the mom who wants her son to learn about intrinsic motivation from an early age. I want Little Bug to start learning about personal goals... personal targets.. and benchmarking against his own previous achievements. Well, not that he has been in a competition before, but he sure has come a long way from the basic do-re-mi. Heck, just last month I wasn't even sure if he could be able to finish learning the song for the competition, hehehe!
The song was a piece titled "March" by Dimitri Shostakovich. We chose a piece that was upbeat and goes along with his age: young and bubbly. I asked his teacher for a piece that wasn't too easy or too hard, but with enough challenge to scaffold his piano playing abilities. Alhamdulillah, he rose to the challenge and persevered, although i had to give him a pretty serious encouragement midway during his 2-month practice before the competition.
I told him... that what really mattered was his perseverance in practicing. His confidence in playing. His courage to take part in the competition, even though he barely made the minimum age requirement and had no previous experience. His endurance through the hard parts of the song. And mostly, it's not about winning, but about challenging your own self and striving to be better than before. Winning is just a bonus... but that's not the heart of the reason behind competing...it's against yourself and your own previous achievements, others are just inspiration.
So, now as I'm writing this, we're still in the concert hall, listening to other piano geniuses displaying their hard work. The trophies are lined up... and thankfully Little Bug performed with more ability than before. He slipped up a bit but didn't stop,just calmy fixed it and continued with his song, finishing with a lift of his small captain's hat and a big grin on his cheerful face. I'm thankful Little Bug can be a part of this.. i hope he'll be inspired.. and be humbled, always.
Friday, March 20, 2015
Not what, but how...
A couple of weeks ago, we went to Kidzania for Little Bug's birthday present. One of the professions he chose to do was a package courier, working together in a team of 3 kids along with 2 older, maybe 7 or 8 year olds. They were given a destination for the delivery--a tenant somewhere within the Kidzania town area. As they rushed off pushing their delivery carts, I followed a bit behind and casually asked where they were headed. They told me their destination and i just followed, eager to see how fast they would make the delivery (of course, i knew the destination already). For about 5-10 minutes, the were scurrying around the town streets, looking around for the destination. I couldn't help asking the older kids if they knew where to go, and they just laughed and said so innocenltly, "no". OMG.
They were probably in 2nd grade or so.. but they didn't realize that they had a problem---a challenge to solve. And they were doing nothing about it, just giggling and running around. Not wanting to waste precious time (if you've been to Kidzania, you know what i'm talking about) and just feeling bad for Little Bug running around in circles and not being heard by them, i told them to go back to the delivery "office" and to ask again about the location. The guy repeated his instructions and also gave them explicit directions, again, on how to get there. Finally!
So, this was an eye opener for me... these older kids should've had some sense of "real world" problem solving and initiative, but they were completely "blank" and just plain unaware of their situation. Why??
For any reason, i realized that the "what" breadth of facts that a kid knows just won't matter at all if they're equally clueless on what to do with what information they have, no matter the amount. And without an inquisitive atitude, how can they overcome problems/challenges, no matter how simple?
So with that experience, I started to emphasize a more explicit problem-solving approach with Little Bug in our daily lives. If he asks something, i start to ask him "how would you find the answer to that question, without asking me? What resources could you use? How would you use them?"
Before this, I would just usually ask him, "What do you think?" So he can think creatively and then I would comment on his answer. Now, it's more step-by-step and I try to get his understanding of thw challenges or problem he is facing.
Kids nowadays have Google search, books, and all sorts of sources of information at their fingertips. We just have to make sure they can see the problem or challenge that they face, especially when it's right under their nose.

