Sunday, June 29, 2014

Yamaha JMC Music Course: My very own “Okaasan to issho” music show each week



June 29, 2014

*note: this is NOT a sponsored post, I’m not getting any money or being asked by anybody to promote Yamaha Music School. This is just based on our own experience. Although, I wouldn’t mind if Yamaha gave us a free trip to Japan, hahaha *wishful thinking* ;D

Kemarin akhirnya saya membawa 2 lembar foto 3x4 yang sudah diminta sejak bulan April/Mei lalu. Bukannya pelit nggak mau ke foto studio, tapi saya aja yang kelupaan terus untuk print & bawa karena terburu-buru takut telat keasyikan mau berangkat setiap kali Little Bug mau pergi les musik di Yamaha. Yup, it’s always a fun time for us (for me, at least)... saya bisa bonding dengan Little Bug (karena saya ikutan masuk & mendampingi di kelasnya) daaaan lagu-lagunya enak, seperti mendengar lagu-lagu di acara Jepang “Okaasan to issho” (artinya: bersama dengan ibu) yang sering saya tonton bareng Little Bug dulu waktu masih di Matsuyama. Jadi akhirnya kemarin foto itu ditempel di sertifikat level 1 Junior Music Course (JMC) yang alhamdulillah sudah berhasil Little Bug lewati bulan Februari yang lalu. Nggak terasa sekarang menjelang 1 tahun sejak dia bergabung di kelas JMC.. dan perkembangannya, masyaaAllah!

Sebenarnya, waktu tahun lalu memutuskan untuk HS, kami ingin memasukkan Little Bug ke salah satu kursus peminatan—yaa, buat kegiatan yang di luar rumah dan sekaligus untuk alasan “sosialisasi teman sebaya” –kalau ada kerabat yang menanyakan the oh-so-famous-HS-question-of-“socialization”. Waktu itu pilihannya jatuh antara kursus English dengan kursus musik, dan kami akhirnya memilih musik karena selain membaca kalau aktivitas bermusik itu adalah whole-brain activity, kami juga mengejar (kata Yamaha) “golden age”-nya Little Bug untuk perkembangan indera pendengarannya (hearing abilities). Kalau dipikir-pikir mungkin inilah kenapa anak kecil banyak yg bisa hafidz Qur’an kali yaa... selain memang dimudahkan Allah (bagi siapa saja yg berniat menghafal Qur’an), secara usia perkembangan juga katanya usia 4-6th itu saat indera pendengaran berkembang pesat (kalau saya gak salah ingat baca di brosur & poster di kelas Yamaha). Kami pikir waktu itu kalau English skills bisa disambi di rumah lah yaa dan alhamdulillah secara tak terduga Allah dekatkan kami juga dengan “guru bule” yg pada akhirnya jadi teman dekat keluarga kami.

Anyways, waktu mendaftar dan trial, saya terus terang belum ngeh kalau program JMC ini adalah kursus 2 tahun yang berkelanjutan. Saya pikir, apa bedanya dengan kursus English yg punya lanjutan level sampai entah berapa tahun... tapi ternyataaa, musik itu berbeda.. nggak bisa asal masuk, berhenti, dan melanjutkan kalau dengan kelas JMC ini. Kenapa? Karena pendekatannya beda. Beda di mana? Hmm, let me start at the beginning of when I first knew about Yamaha... 

Kalau diingat-ingat, di Matsuyama, saya sering bersepeda melewati tempat kursus Yamaha... di jalanan berkelak-kelok yang menurun dari areal Matsuyama Jo (castle) ke arah Okaido. Tempat les yang kecil di deretan ruko/pertokoan nan cantik, di jendela-jendelanya ditempel poster bergambar anak-anak sedang menyanyi dengan iringan guru yang bermain piano—saya hanya sempat memperhatikan poster itu sekilas ketika sedang berhenti menunggu antrian lampu merah untuk menyeberang jalanan.. dan pada saat itu, saya nggak begitu memperhatikan karena pemandangan anak-anak bernyanyi dengan guru yang bermain piano itu saya anggap biasa, karena saya pun melihat demikian di preschool tempat saya mengajar dan juga di day-care anak-anak pada umumnya. Musik = bernyanyi dengan iringan langsung piano/gitar. Pun pernah terbersit pertanyaan tentang tempat apakah itu, saya hanya ingat kalau teman saya yang orang Jepang bilang bahwa “oh, Yamaha, itu kursusnya bagusnya untuk anak kecil, karena melatih pendengaran. Mimi de kikoeru no renshuu...”  (berlatih mendengar (nada) dengan kuping) *bahasa jepangnya bener gak ya, lupa* .Pada waktu itu ya saya belum kebayang kalau akan berminat dengan programnya, apalagi di Indonesia...

Anyways, fast forward 4-5 tahun kemudian, Little Bug akhirnya masuk ke JMC level 1, yg dimulai antara usia 4-5 tahun. Dia memang dari kecil sudah menyukai lagu dan bernyanyi, dan ketika trial, lagu-lagu yang dimainkan di electone maupun yang dinyanyikan itu terasa familiar dengan lagu-lagu yang dulu dia dengar waktu *setiap hari* menonton acara anak “Okaasan to issho” dan “Inai-inai Baa!” di TV. Di daycare pun lagu-lagu itu yang dinyanyikan hehehe :)  Jadilah dia semangat banget, ditambah karena Mama mendampingi untuk setiap kelasnya, bener-bener “okaasan to issho” (bersama dengan ibu). Dari awal dia hanya bisa memainkan nada do-do-do dan do-re-do hingga saat ini sudah mulai berlatih cadence 3-not (3 not piano yang ditekan secara bersamaan untuk mendukung melodi lagu), dia nggak pernah mengeluh bosan atau merasa stres.

JMC ternyata memang begitu pendekatannya, beda. Semua dibawa fun dan dikenalkan lewat lagu dan nyanyian, bukan lewat drill dan hafalan istilah. Lagu-lagu yang dinyanyikan ataupun dimainkan itu punya karakteristik masing-masing yang bertujuan mengenalkan dan mengajarkan berbagai unsur dalam musik secara sembunyi-sembunyi. Kesannya kok begitu? Susah mendeskripsikannya, intinya anak nggak sadar kalau sedang mengeksplorasi berbagai komponen dalam musik. Lagu yang temponya cepat & lambat, nada yang terputus-putus atau yang sambung-menyambung, suara yang keras atau semakin kecil, dsb. Semuanya ada teorinya, ada namanya, tapi ya sudah dikemas rapi dalam repertoire lagu... tanpa si anak sadari. Setidaknya, secara perlahan-lahan dan bertahap baru si anak dikenalkan istilah khususnya, sebagai selingan di dalam kelas kalau pas lagi bahas komponen tertentu. Yang dilakukan Little Bug (dan anak-anak lain) kebanyakan hanya belajar bermain via kuping dan mulut. Setiap menekan tuts electone, mulutnya ikut bernyanyi nada yang ditekan, beserta panjang/pendeknya ketukan dan keras/lembutnya suara. 

Terkait dengan bermain lagu, anak juga serasa “bintang” dari pertunjukannya sendiri. Kenapa? Karena setiap lagu, yang paling sederhana sekalipun (misal do-do-do atau mi-re-do), itu punya iringan musiknya tersendiri. Jadi bukan berlatih via drilling beratus kali sendiri sehingga terdengar membosankan karena berulang-ulang itu-itu aja, melainkan memainkan komposisi nada yang diminta dalam iringan sebuah lagu tertentu, yang judulnya ya khas anak-anak. Misalnya, “Gajah bermain” atau “Roller coaster”. Padahal ya nadanya gitu-gitu aja, tapi karena dikemas dalam aransmen yang ceria, jadi terasa “wah”! Setiap kali diperkenalkan lagu baru, anak-anak juga diajak berimajinasi membayangkan cerita yang disampaikan oleh lagu  & nada tersebut, sehingga penghayatannya juga dilatih.

Selain bermain repertoire lagu, ada juga yang aku sebut “latihan kuping”, di saat anak-anak berkumpul di sebelah piano dan gurunya memainkan rangkaian solfege tertentu dan anak-anak diminta menyanyikan ulang rangkaian nada tadi sekaligus menghafalkannya. Kalau dipikir-pikir, mirip dengan salah satu cara untuk menghafal Al Qur’an mungkin ya, dengan mendengar berulang kali dan mengucapkan apa yg didengar berulang kali. Saya juga jadinya menggunakan metode ini untuk melatih hafalan surat pendek untuk Little Bug :)
 
Wah, jadi panjang deh entry yang satu ini. Alhamdulillah, menjelang 1 tahun atau 2 level di JMC, kami merasakan manfaatnya dan semakin kagum dengan ilmu Allah, yang tentunya melebihi “cuplikan” yang kami lihat dari awal sampai sekarang. Little Bug jari-jarinya semakin panjang (ha!), percaya dirinya semakin oke untuk tampil di panggung, dan ada warna tambahan pada kehidupan kanak-kanaknya yang diberikan oleh musik. Ya, tentunya di luar warna yang diberikan oleh pembelajaran aspek yang lain sehari-harinya. Intinya berikhtiar untuk memfasilitasi perkembangan anak secara holistik. Jadi, somehow, pendidikan musik kami lihat melengkapi “puzzle” yang sedang disusun oleh Little Bug dalam perkembangannya. Mungkin saja mengimbangi sisi serius-nya yang suka melahap buku-buku non-fiksi tentang binatang, mobil, laut, dan seabreg lainnya.. atau mungkin mengasah kemampuannya untuk berkonsentrasi sambil tetap merasa “enjoy”.. dan bisa jadi menyemangatinya dalam usahanya menghafal berbagai surat pendek... wallahualam.

Semoga bisa terus semangat berlatih dan terus menikmati bermusik ya.. siapa tau, one day, nanti bisa menebar lebih banyak manfaat dengan bantuan musik ;)

Ramadhan day 1: The arrival of The Humble Hud-huds



29 Juni 2014

Bismillah...

Alhamdulillah hari ini sudah tiba bulan suci Ramadhan! Seperti yang telah saya tulis di sini, kami tahun ini berencana mengajak anak-anak untuk melakukan lebih banyak kebaikan (good deeds) melalui ajakan duo burung Hud-hud yang lucu. Deg-degan juga sih karena nggak bisa ditebak tanggapan Little Bug akan bagaimana, tapi alhamdulillah, bisa dikatakan berhasil!


Hari ini Little Bug memang berencana ikut sahur dan latihan puasa, jadi saya siapkan Humble Hud-huds pada sebuah nampan di ruang seni kami. Setelah sholat subuh, si Hubs tidur lagi, Baby Bird juga masih tidur, jadi kesempatan yang tepat nih! Aktivitas dengan burung Hud-hud ini bisa menjadi special bonding time antara saya dengan Little Bug di pagi hari saat Baby Bird masih tertidur (walaupun nantinya ada aktivitas yang bisa juga dilakukan barengan, ini hanya “nilai plus” aja hehehe). Dengan bersemangat, saya bilang ke Little Bug kalau “kita kedatangan tamu istimewa nih! Lihat yuk siapa!” Trigger kalimat itu alhamdulillah cukup menarik perhatian Little Bug dan dia langsung ke ruang seni untuk melihat “siapa” yang “datang”...


 Saya sudah menyiapkan Humble Hud-huds beserta surat pendek yang dijepit dengan paruh mereka. Selain itu, saya siapkan stik es krim sebagai sarana aktivitas pagi ini—membantu mereka membuat sarang! Jadi selain mengajak Little Bug untuk memberikan nama panggilan buat mereka dan membantu mereka membuat sarang, dia juga diajak untuk membuat sesuatu untuk teman Hud-hud yang barusan pindahan juga. *Kebetulan ada teman keluarga kami yang baru pindah ke rumah baru, jadi sekalian dijadikan “target” perbuatan baik hari ini, hehehe*

Duo burung Hud-hud diberikan nama: “Happy” dan “Hipa”... lucu kan? :)  Lalu kami mulai proses membuat sarangnya, yang butuh sedikit brainstorming terlebih dahulu sebelum mulai menempel-nempelnya, seperti: mau berbentuk seperti apa, ukurannya sebesar apa, tingginya nanti seberapa, cara menyusun/membuatnya seperti apa, dsb. Lalu sesudah ketemu bentuk dan cara menyusunnya, saya dan Little Bug bekerja sama membuat sarang tersebut dengan menggunakan paruh dari si Happy dan si Hipa, jadinya seperti permainan ketangkasan deh, hehehe! Setelah sarang burungnya selesai, Little Bug melanjutkan kreasinya dengan berinisiatif memberikan telur-telur untuk setiap burung Hud-hud. Lalu kami juga membuat sesuatu untuk anak teman kami yang baru saja pindah ke rumah baru juga agar dia bisa merasa cepat betah & nyaman di rumah barunya.



Proses pembuatan sarang bisa digunakan untuk mengajarkan:

  •  Konsep matematika sederhana: bentuk segi tiga, segi empat, segi lima, dan segi enam. Menghubungkan ukuran burung dengan bentuk, ukuran, dan tinggi sarang yang diperlukan supaya kedua burung muat dalam 1 sarang. Sempat juga muncul opsi untuk membuat 2 sarang, masing2 burung mendapat 1 sarang, tapi nggak jadi. Setiap burung juga ingin diberikan telur, jadi melatih konsep hitung sederhana dan penambahan/pengurangan sederhana.

  • Kemampuan motorik halus: menggunakan “paruh” burung untuk menjepit batang-batang es krim. Menggulung bentuk bulat dari kertas Kokoru.

  • Koordinasi mata-tangan: menempelkan stik es krim & kertas gulungan Kokoru.

  • Sosioemosional: kerjasama membuat sarang, belajar bergiliran ketika menempel stik es krim dan mengoleskan lem pada stik es krim; belajar empati dengan membayangkan perasaan para burung (dan juga anak teman keluarga kami) yang baru saja pindah ke rumah baru.


Alhamdulillah, Little Bug dengan semangat membangunkan si Hubs dan asyik cerita tenang Happy dan Hipa, lalu berulang kali bilang kalau dia nggak sabar lihat besok pagi akan ada surat apa dari mereka, hehehe... :)

Oh ya, ada juga doa yang berhubungan dengan soal “rumah” ini yang bisa diajarkan ke anak-anak, QS Nuh 71: ayat 28,

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu-bapakku, dan siapapun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang beriman laki-laki dan perempuan...”

Semoga bisa menginspirasi ya! So happy that it’s Ramadhan! In shaa Allah sampai jumpa di posting selanjutnya... kira-kira apa yaa isi surat yang akan dibawa oleh Happy & Hipa? Hmmm.... :)

Tuesday, June 24, 2014

The Humble Hud-huds : Tamu Istimewa di Bulan Ramadhan



In shaa Allah, sebentar lagi bulan suci Ramadhan akan segera tiba. Kami ingin mengajarkan anak-anak bahwa bulan yang istimewa ini adalah kesempatan bagi kita untuk lebih giat lagi dalam berbuat kebaikan dan menebar manfaat, tentunya selain beribadah secara pribadi. Jadi, (latihan) puasa buat Little Bug bukanlah alasan untuk bermalas-malasan atau gogoleran di tempat tidur, apalagi di depan TV... tapi, kami ingin mengajaknya dengan cara yang agak sedikit berbeda dan moga-moga lebih menarik buat dia (dan Baby Bird juga).

Alhamdulillah, teringat oleh posting blog yang diadakan oleh salah satu blog parenting yang saya ikuti, mereka menciptakan ide The Kindness Elves dalam rangka menyambut hari Natal. Nah berhubung ini Ramadhan, cukup ide mereka buat inspirasi dan setelah sedikit baca-baca, akhirnya saya memilih untuk menghadirkan..... 2 ekor burung Hud-hud, dari kisah Nabi Sulaiman a.s. Saya menyebut mereka "The Humble Hud-huds", artinya burung Hud-hud yang bersahaja... karena kalau berbuat & menyebarkan kebaikan, nggak perlu berkoar-koar toh?

Ya, burung Hud-hud bersifat peka terhadap keadaan sekeliling dan cocok untuk mengajak anak-anak melakukan berbagai kebaikan. Cara membuatnya pun mudah & murah, cukup dengan jepitan baju, mata plastik (atau bisa juga digambar dengan spidol), dan potongan kecil kain flanel/perca/helai bulu imitasi--- sesuai dengan persediaan yang ada aja :)  Ujung jepitan baju menjadi “jambul” dari burung Hud-hud, ujung satunya lagi menjadi paruhnya yang nanti bisa dijepitkan ke berbagai macam benda atau ke surat kecil dari mereka, sesuai dengan aktivitas ajakan pada hari itu.



Nah, aktivitasnya terserah kepada keluarga masing-masing, intinya aktivitas yang mengajak kepada berbuat baik bagi orang lain. Bisa dilakukan setiap hari atau sesempatnya/sesuai dengan sikon setiap keluarga. Beberapa ide misalnya mengajak anak-anak untuk membantu dalam pembuatan makanan untuk berbuka puasa keluarga, mengajak berbagi makanan untuk berbuka puasa untuk tetangga/masjid, mengajak mendonasikan beberapa mainan/buku untuk anak yatim, mengajak membuat prakarya untuk diberikan ke eyang/teman,  mengajak bersedekah, dsb. Jadi, orang tuanya kudu kreatif dikit hehehe... ;p

In shaa Allah, saya akan berusaha mem-post kegiatan bersama burung Hud-hud yang kami lakukan.. yang pertama sepertinya akan memulai dari awal, yakni mengajak anak-anak membantu burung Hud-hud membuat sarang mereka (dari stik es krim) dan memberikan nama. Nah bisa juga disisipkan kisah Islam atau ayat Al Qur’an atau hadits yang berkaitan dengan aktivitas hari itu.. dimulai dari kisah burung Hud-hud di pasukan Nabi Sulaiman a.s. :)



Jadi, selamat merencanakan kegiatan Ramadhan...  jangan lupa bisa sekalian download gratis Jurnal Ramadhan untuk anak dari blog ini juga! Ganbarimashou!!!

Saturday, May 31, 2014

Free Printable pertama kami

Setelah sekian lama menggunakan free printable dari blog & website lain, kini saatnya kami mulai membuat free printable sendiri untuk dibagikan buat teman-teman semua. Tujuannya hanya 1: berbagi manfaat buat sesama.  Jadi, doakan saja saya bisa mengatur waktu dengan lebih terampil lagi, sehingga Allah mudahkan saya untuk buat printable-printable lainnya, amiiin....

Anyways, inspirasi di balik printable ini adalah printable gratis "Kids Ramadhan Journal" yang diberikan oleh blog A Muslim Homeschool. Nah, berhubung Little Bug baru 5 tahun dan juga belum banyak menggunakan Bhs.Inggris dalam kegiatan belajarnya, jadi sepertinya dia nggak akan mendapatkan manfaat yang maksimal dari jurnal tersebut. Jadiiii setelah sekian tahun nggak menggunakan program Word selain buat menulis blog, kembali saya mengasah ingatan dan keterampilan seperti jaman kuliah duluuu hehehe :D

Alhamdulillah, jadilah Jurnal Ramadhan sederhana yang inshaaAllah bisa digunakan anak-anak dari usia 4 tahun - SD. Isinya banyak mewarnai--- dari cover depan hingga halaman paling akhir, yang terdapat tempat khusus buat menggambar (atau bisa juga tempel foto). Nah, begini cara penggunaannya:

  • Halaman cover: warnai cover sesuka anak dan tuliskan namanya di bagian bawah. 
  • Halaman pembuka: ada space buat menempel foto anak di awal Ramadhan atau bisa juga menggambar potret diri sendiri, atau menggambar apapun yang anak inginkan yang berhubungan dengan bulan Ramadhan.
  • Halaman Target Ramadhan: nah pada bagian ini anak-anak perlu dibantu untuk berdiskusi menentukan target apa yang ingin mereka capai selama bulan Ramadhan tahun ini. Target tidak perlu muluk-muluk... yang penting sederhana, konkrit, dan sesuai dengan kemampuan anak. Ada 5 balon untuk 5 buah bidang target: sholat, Al-Qur'an, puasa, sedekah, dan lain-lain. Ada baiknya orang tua juga berdiskusi dengan anak mengenai bagaimana mencapai target tersebut,, jadi anak juga nggak asal-asalan membuat target hehehe. 
  • Halaman harian: print 1 halaman untuk setiap hari di bulan Ramadhan, tulis hari ke-berapa dan di bawahnya tulis tanggal masehi-nya. Selanjutnya, anak tinggal mewarnai bagian-bagian pada halaman ini sesuai dengan kegiatannya sehari-hari. Pada kotak "Perbuatan Baikku Hari Ini", anak diajak untuk melakukan sedikitnya 1 perbuatan baik untuk orang lain, sederhana saja sudah cukup. Misalnya, membantu Mama membereskan meja makan setelah sahur, mengantarkan makanan berbuka untuk tetangga, dsb. Pada kotak "Keberhasilanku Hari Ini", anak disemangati untuk terus mencapai keberhasilan baru. Misalnya, berhasil menghafal 1 ayat Al Qur'an, berhasil belajar 2 huruf hijaiyah, berhasil naik sepeda tanpa jatuh, dsb. Jadi, berpuasa di bulan Ramadhan bukan alasan untuk bermalas-malasan.. justru harus memacu diri untuk lebih baik lagi dimulai dari bulan yang penuh rahmat ini. Dan terakhir, kotak "Ayat Al Qur'an atau Hadits hari ini" adalah ajakan buat orang tua dan anak untuk sama-sama memilih 1 ayat atau 1 hadits untuk direnungkan setiap hari. Bisa saja dihafalkan ataupun tidak, yang penting ayat atau hadits tersebut didiskusikan maknanya dan aplikasi atau hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Ayat atau hadits yang dipilih bebas, nggak harus berkaitan dengan bulan Ramadhan juga nggak apa-apa.. yang penting adalah interaksi antara kita dengan Al Qur'an dan Hadits, sehingga menjadikan mereka bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Semoga kegiatan menelaah Al Qur'an dan Hadits ini bisa tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari bahkan setelah bulan Ramadhan usai :)
  • Halaman penutup: ada space buat menempel foto anak saat Idul Fitri atau bisa juga menggambar potret diri sendiri/keluarga, atau menggambar apapun yang anak inginkan yang berhubungan dengan momen Idul Fitri. Di bawahnya ada kotak tempat renungan saat Ramadhan usai, silahkan didiskusikan kira-kira apa saja kesan dan pemikiran saat berakhirnya Ramadhan.. boleh juga diisi doa dan harapan hingga inshaaAllah Ramadhan tahun berikutnya.
Nah, jurnal ini tidak dimaksudkan sebagai alat evaluasi yang memberatkan anak. Intinya ada catatan khusus untuk mengenang Ramadhan tahun ini dan sebagai sarana mendekatkan anak dengan orang tua dalam sebuah kegiatan bersama saat bulan Ramadhan. Gunakanlah kesempatan ini untuk menyemangati anak dalam berkegiatan dan hargailah perbuatan baiknya dan keberhasilannya walau sesederhana apapun.

Jadi, semoga jurnal ini bermanfaat buat semua... dan silahkan di-share link ke halaman blog ini jika ada yang mau download. Karena GRATIS, mohon jangan sampai ada yang menyalahgunakan ya... Semoga Allah terima niat saya untuk berbagi ilmu yang bermanfaat, amiin...

Untuk men-share file ini dengan orang lain, mohon di-share link-nya via blog Our Learning Family yaa... thank you!
















Saturday, May 24, 2014

Pieces of the “Why Homeschool?” Puzzle



 Semua bermula ketika ada ajakan gathering teman-teman SMA ke Pulau Pramuka. Little Bug sangat, sangat, sangat (!!!) antusias dengan rencana liburan singkat ke laut itu! Memang, dari dulu dia sudah ada minat yang besar terhadap semua hal yang berbau laut: hiu, paus, ikan-ikan, dan pantai. Mungkin karena si Hubs juga “doyan” laut, jadi modeling-nya berhasil “ditransfer” ke Little Bug hehehe :D Anyways, demi memaksimalkan pengalaman liburan itu sebagai pembelajaran (ini pemikiran emak homeschool banget deh), maka awal bulan ini kami mulai tema bulanan tentang laut. Saya tiba-tiba teringat kalau ibuku sepulang haji memberikan buku tentang scientific wonders in Oceans & Animals yang ditinjau dari isi (berbagai ayat) Al-Qur’an yang relevan (She’s the best mom, right? Alhamdulillah!). Selama ini buku itu duduk manis di musholla rumah (karena masih panjang antrian buku lainnya yang ingin saya baca), tapi baru kemarin-kemarin ini saya mulai mencari-cari mana isi yang bisa saya share ke Little Bug, yang kira-kira akan bisa dia bayangkan dan pahami (remember, he’s still 5 yo). Nah, sejak saat itu malah saya-nya yang keterusan (baca). Dan alhamdulillah...

Saya jadi sadar bahwa selama ini, saya belum benar-benar berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sebagai seseorang yang beruntung dilahirkan dalam keadaan otomatis beragama Islam, saya selama ini nggak melalui proses “ilmiah” dalam mencari tahu tentang daya tarik Islam itu sendiri. Beda dengan para mualaf yang ada proses “aha! Moment”-nya alias diberikan hidayah dari Allah SWT, yang dari cerita-cerita yang saya baca, banyak dari mereka yang masuk Islam diawali karena baca ayat Al-Qur’an yang membuka pikiran dan hati mereka.  Dan pagi ini, saya baru menyadari.... mungkin Allah dengan cara-Nya “menyuruh” saya homeschooling salah satunya supaya bisa lebih dekat dengan-Nya dan melibatkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan saya pribadi maupun (inshaaAllah) dalam kehidupan anak-anak.... masyaaAllah!

Kok bisa saya berpikir ke arah situ? Well, seperti yg pernah saya ceritakan di awal, keputusan untuk homeschooling waktu itu diambil setelah proses istikhoroh dan pertimbangan yang cukup lama. Keputusan yang berat karena waktu itu Little Bug sudah dalam proses masuk ke TK setelah 2 tahun di waiting list—TK yang ideal sesuai tujuan pendidikan keluarga kami saat itu. Tapi entah kenapa muncul keraguan dari niat yang tadinya sudah mantep... yang setelah “berproses” akhirnya berakhir dengan permulaan baru untuk mencoba homeschooling. I didn’t know how I was going to do it or wether or not it was going to work for our family, but it felt like the right thing to do. Nggak kalah penting sudah kulonuwun sama yang Maha Mengetahui.

Nah, pagi ini, saya berpikir.... kalau saja...

  • Kami dulu nggak harus pulang dari Jepang, anak-anak pasti akan saya masukkan ke sekolah Jepang.. dan saya mungkin nggak akan berpikir untuk memperkaya kehidupan mereka dengan Al-Qur’an—mungkin hanya sebatas ngaji dan hafalan surat pendek saja.

  • Kami tetap memasukkan Little Bug ke sekolah ideal itu, saya tentunya nggak akan pusing mikir untuk mengajarkannya agama, karena ada mindset bahwa sudah “all-in” dengan paket pembelajaran di sekolah.

Kalau saja saya nggak homeschool, saya nggak akan berusaha mencari sumber-sumber lainnya untuk mengajarkan tentang Islam ke anak-anak. Karena saya pengetahuannya minim, ditambah pelajaran agama waktu sekolah duluuu yang sudah “banyak lupa” , saya (awalnya) terpaksa untuk belajar lagi... for the kids sake... but it’s actually for my own sake. Kemarin waktu nonton film kartun bareng Little Bug tentang “sifat-sifat Allah”, saya ikutan belajar lagi.. waktu nyari ayat Al-Qur’an tentang lapisan laut, saya jadi berdoa semoga anak-anak bisa melihat kalau Al-Qur’an itu bukan sekedar bahan hafalan atau kewajiban baca semata, tapi benar-benar the most important book in our lives!

Memang, ada opsi untuk memasukkan anak-anak ke TPA buat belajar ngaji, atau madrasah buat belajar agama, panggil guru ngaji ke rumah, masuk ke rumah hafidz, dsb. Ya, semuanya inshaaAllah ada ahli yg bisa bantu. Tapi karena proses belajar di rumah yang mulai terasa hambar oleh ilmu thok (saja—dalam bhs.jawa), maka alhamdulillah hidayah (menurut opini awam saya) datang dalam bentuk kebutuhan untuk membuka Al-Qur’an dan mempelajari mukjizat ilmiahnya. Setidaknya, itu sebuah permulaan bagi saya.. bagi homeschooling kami. Semogaaaa kelak ada bagian (atau keseluruhan) isi Al-Qur'an yang mereka bisa ingat.. atau siapa tahu mereka kelak bisa mengungkap lebih banyak ilmu Allah yang sudah ada di dalam Al-Qur'an. But for the main part, I'll be happy if at least they want to *enthusiastically* open the Al-Qur'an daily plus read and reflect about the meaning.

Salah satu keuntungan homeschooling adalah penyesuaian tujuan homeschooling atau pergeseran basis kegiatan sehari-hari bisa dilakukan kapan saja, sesuai dengan perkembangan keluarga—dalam hal ini, perkembangan saya pribadi dalam hubungan saya dengan Allah SWT. Sepertinya ibuku dulu pernah mendoakan supaya saya bisa lebih banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an... saya nggak begitu ngeh waktu itu, tapi mungkin ini adalah jawaban dari doanya, wallahualam. Saya jadi menyadari, mungkin inilah (sebagian) alasan Allah waktu itu membuat saya ragu-ragu untuk memasukkan Little Bug ke sekolah formal itu. Mungkin Allah nyuruh saya untuk belajar lagi... and what better way to do it then to learn with my kids? MasyaaAllah!

Jadi, saya hanya ingin share cerita ini sebagai sharing pengalaman saja, bukan untuk pamer apalagi mengintimidasi. Semua keluarga punya alasan dan tujuan masing-masing. Dan nggak harus homeschool juga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT--this is just my own circumstances. Barangkali saja ini bisa membantu memberikan insight buat siapapun di luar sana yang lagi “galau” tentang homeschooling. Ya, tidak semua keluarga akan cocok dengan homeschooling, dan nggak semua akan memiliki tujuan yang sama atau menggunakan metode yang sama. But if it feels right, then trust Allah.. and pray... karena Allah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hambaNya.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah*. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Luqman: 27).

*Ilmu-Nya dan hikmah-Nya, artinya semua itu tidak cukup untuk menuliskan kalimat Allah.