Tuesday, May 06, 2014

Pendidikan Keterampilan Pengelolaan Emosi yang Terabaikan



“Fish swim, birds fly and people feel.”
– Haim Ginott, child pyschologist, author of Between Parent and Child.

Akhir-akhir ini, sepertinya saya banyak membaca berita tentang kekerasan pada anak. Lebih tragisnya lagi, beberapa dilakukan oleh anak yang lebih besar/tua kepada anak yang lebih kecil/muda, pada usia yang terbilang belum dewasa.  Sebagai seorang ibu, saya nggak kebayang bagaimana perasaan ibu dari anak-anak yang menjadi korban kekerasan tersebut. Kekerasan yang seharusnya nggak perlu terjadi.  Saya merasa harus menulis ini, walaupun saya bukan seorang pakar pendidikan anak atau seorang psikolog. Saya menulis ini sebagai seorang ibu yang nggak pernah berhenti belajar (dan membaca) dan memperbaiki diri, terutama dalam keseharian saya dengan anak-anak. Ya, mereka memang masih kecil, tapi proses pendidikan mengenai emosi dan cara menyalurkannya sudah berlangsung sejak mereka bisa menangis.

Saya termasuk seorang mama yang pada awalnya merasa tidak nyaman mendengar anak-anak menangis dan rewel. Tapi setelah membaca dan berusaha menerapkan prinsip-prinsip positive discipline/peaceful parenting, saya belajar untuk menerima semua emosi anak, termasuk yang negatif. Ini tidak mudah untuk dilakukan, bahkan butuh waktu lama... termasuk saya, masih terus berlatih sejak 3 tahun lalu ketika Little Bug mulai tantrum-mania hingga sekarang menghadapi duo bocah yang sudah mulai berantem untuk 1001 alasan.

Siapa sih yang tega mendengar anak menangis meraung-raung, tantrum selama lebih dari 30 menit? Boro-boro 30 menit, didikan dan harapan masyarakat kita pada umumnya adalah anak nggak boleh menangis. Rengek dikit sudah di-shush-kan atau dituruti kemauannnya. Apalagi menangis karena alasan yang tampak sepele, biasanya akan ditanggapi dengan kata-kata “Gitu aja kok nangis? Kamu kan udah besar! Nggak baik ah nangis! Cowok nggak boleh nangis! Nggak boleh cengeng!” Padahal, yang perlu ditanggapi bukanlah tangisan itu semata melainkan perasaan yang ada di balik tangisan atau rengekan itu! Karena di dalam dunia anak-anak, nggak ada perasaan yang sepele. “When it comes to young children, feelings are their world” (Shumaker, 2012). Perasaan yang mendorong terjadinya rengekan, tangisan, pukulan, tendangan, atau keluarnya teriakan keras itu.

In reality, life isn’t all sunshine and rainbows. Nggak melulu senang, ada kala sedih dan kesal. Terkadang kita nggak mendapat apa yang kita inginkan, nggak semua rencana berjalan sesuai rencana, dan berbagai hal yang membuat kita merasa sedih, kecewa, takut, marah, atau campur aduk semuanya. Begitu pula dengan anak-anak--- mereka bukan dewasa mini, mereka adalah anak-anak yang perlu diajarkan keterampilan untuk menghadapi semua emosi negatif yang timbul di dalam diri mereka. Itulah tugas penting kita sebagai orang tua, pengasuh, dan guru. Dan untuk mengajarkan keterampilan menyalurkan perasaan ini juga butuh waktu yang nggak sedikit, nggak secepat mengajarkan calistung. Proses yang panjang dan dimulai sejak dini, dengan kita sebagai contoh teladan. Nah lho! Kapan terakhir kali kita marah tanpa meluap-luap ke anak? Apakah kita sendiri sudah bisa mengungkapkan emosi negatif dengan tepat?

All feelings are OK. All behavior isn’t.” (Shumaker, 2012). Ketika anak merasakan emosi negatif, pertama kita harus membantu anak mengidentifikasi dan me-label emosi yang dirasakan. Dengan anak yang paling kecil, hal ini bisa menjadi saat yang tepat untuk mengajarkan berbagai label emosi ketika si anak mengalaminya, misal dengan bilang, “Ade marah karena nggak dibelikan mainan... Ade sedih karena Eyang harus pulang... dsb” . Anak yang lebih besar juga bisa dibantu untuk mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata.

Kedua, sebagai orang tua/pengasuh/guru, kita harus menunjukkan ke anak bahwa kita menerima (accept) dan menghargai (value) bahwa anak kita sedang merasa demikian. It’s OK not to be happy all the time (Shumaker, 2012). Kita harus memberikan waktu untuk anak untuk merasakan sedih ketika mereka sedih, marah ketika marah, dsb. Dan kita harus mendukungnya di kala sedang down, bahwa perasaan ini akan datang dan pergi, tinggal bagaimana kita akan menghadapinya. Anak akan merasa bahwa dia dihargai dan didengarkan, bahwa perasaannya nggak disepelekan, dan kita menjadi sumber yang dipercaya untuk bercerita tentang permasalahan yang sedang dihadapi.

Ketiga, kita dapat menunjukkan perilaku yang dapat diterima untuk menyalurkan perasaan tersebut sekaligus menunjukkan batasan perilaku apa yang tidak dibolehkan. Jadi, anak bisa mengekspresikan emosi tanpa menyakiti diri sendiri, orang lain atau merusak benda lain.Misalnya ketika anak merasa marah dan ingin memukul, arahkan pada bantal atau kasur, bukan pada orang, sambil berkata “Ade pukul bantal aja ya, bukan pukul Mama” atau “Kakak kalau mau teriak bisa ke dalam bantal atau di kamar dengan pintu tertutup ya, supaya nggak bikin sakit telinga orang lain”. Atau misalnya anak tantrum, biarkan dia tantrum di area yang aman (misalnya di kamar atau area yang sepi), yang dia tidak dapat melukai dirinya sendiri ataupun orang/benda lain di sekitarnya. Kalau mau menangis, dibiarkan menangis, bahkan untuk anak laki-laki, karena menangis adalah bagian dari meluapkan emosi. Kuncinya adalah membiarkan anak itu meluapkan emosi terlebih dahulu supaya merasa lega. Baru setelah tenang bisa diajak diskusi dan diajak mencari solusi bersama.

Untuk ke depannya atau pencegahannya, anak bisa diajak membuat daftar hal-hal yg dapat dia lakukan untuk kembali tenang ketika mengalami emosi negatif. Kami membuat sebuah area bernama “pojokan tenang” di rumah yang ada papan dengan tempelan list ide tersebut sebagai pengingat ketika sedang marah. Little Bug juga menempelkan gambar-gambar yang membuat dia senang, seperti gambar Lego kesukaannya, hahaha!

Kenapa penting sekali untuk menerima seluruh emosi anak (yg positif dan negatif) dan mengajarkan cara menyalurkan yg bisa diterima? Karena perasaan negatif tersebut tidak akan hilang begitu saja: dengan dipendam, diabaikan, atau disepelekan lama-lama malah bisa bisa meluap tak terkendali, hingga takutnya menyakiti diri sendiri dan/atau orang lain. Penyebab yang tampak sepele bisa memicu keluarnya luapan emosi yang sudah lama terpendam. Jatuhnya gorengan senilai Rp1000 bisa memicu pemukulan yang mengakibatkan kematian, astagfirullah! :( 

Sebagai seorang mama, menurut saya pembelajaran keterampilan emosi ini yang paling berat, sulit, dan lama. Nggak ada jalan pintas, kita harus menjalani prosesnya. Yang paling penting, kita tidak boleh tutup mata terhadap aspek perkembangan sosioemosional ini, apalagi dibutakan oleh prestasi akademis yang mungkin menutupi ketimpangan dalam keterampilan pengelolaan emosi.  Dengan tiap anak pasti cara dan kiat coping emosi berbeda-beda, tapi tujuannya sama: agar anak-anak bisa memiliki keterampilan untuk menghadapi keseluruhan ragam emosi yang akan dialaminya dalam hidup.  Dengan membantu anak-anak menghadapi emosi mereka, maka kita akan membantu anak-anak untuk lebih terampil mengendalikan perilaku mereka sendiri, bahkan ketika kita tidak mengawasi mereka. Tentunya dengan tidak mengesampingkan aspek pendidikan keagamaan, pendidikan keterampilan emosi adalah bekal yang akan awet seumur hidup mereka, apapun yang mereka hadapi kelak dalam hidup. 

Bacaan referensi:
Shumaker, Heather. 2012. It's OK NOT to Share and Other Renegade Rules for Raising Competent and Compassionate Kids. USA: Penguin Group
Markam, DR. Laura. 2012. Peaceful Parent, Happy Kids. USA: Penguin Group.
website: Janet Lansbury, Aha!Parenting.com

No comments:

Post a Comment