Sunday, September 11, 2016

Raising Humans


Sept.11, 2016

I’ve been meaning to write a lot ever since the newest baby was born--- I know, you get the urge to write at the weirdest, busiest, and most impossible times to write haha! Dengan diingatkan kembali niat buat sedekah setiap hari, seenggaknya berusaha sedekah ilmu aja kali ya... bahkan mungkin bukan ilmu, sekedar sharing paradigma aja. Karena kita melihat hidup kita melalui kacamata masing-masing, siapa tau kacamata kita butuh dipoles dikit lensanya biar semakin jernih :) 

Alhamdulillah, sejak lahiran, beberapa hari terakhir ini kepala si emak HS ini sudah mulai bisa memikirkan hal lain selain ngejar jadwal ASI dan ngejar jam tidur. Well, life doesn’t stop just because you gave birth to a baby, right? Si Hubs dah selesai cuti dari minggu lalu, anak-anak juga udah selesai “libur”nya, the daily grind must go on. You would think that, being the 3rd time around, parenting would go easier. In reality? I think it’s all about prespective. About how you look at what parenting really is, what having kids really means to you.

No offense, but one of my major ick-factor is when someone says to me, “Udah, langsung aja nambah anak, biar sekalian capeknya...”. And I’m like, WHAT?!? 1. Elo kata, gue kayak kucing, punya anak tiap musim kawin, sekali beranak banyak? 2. Emangnya membesarkan anak-anak itu seperti nyuci piring atau nyuci baju atau kerjaan rumah tangga lainnya--- sekalian dikerjakan supaya cepat selesai lalu berleha-leha kemudian? Tentunya kedua jawaban ini nggak saya katakan ya, jawaban andalan saya hanya senyum dan ketawa diplomatis sambil melipir ke tempat lain atau ganti topik pembicaraan.

Buat saya, punya anak itu artinya dapat kesempatan istimewa untuk membesarkan manusia. Yes, raising humans, not kittens. Kalau hewan piaraan cukup dikasih makan/minum, dijaga kebersihannya, dan diberikan kasih sayang... kalau manusia, it is way more than that. Raising humans, not racing to get them all grown up and out of the house.  I know, it sounds ironic. Tapi setiap kali dengar ada orang tua yang bilang “Iya nih, masih ngasuh bocah-bocah di mall” atau “asyik, giliran papanya ngasuh anak-anak”... it seems like spending time with your children make you as excited as.... washing dishes. (hahaha, yes, it’s obvious, I hate washing dishes). Sesuatu yang pingin cepat-cepat diselesaikan. Kewajiban yang melelahkan.

Yes, I know parenting IS exhausting and it NEVER ENDS. Nggak terbatas pada ayah ibu yang berada di rumah, bahkan ayah ibu bekerja pasti tetap memikirkan anak-anak mereka sepanjang hari. Status orang tua itu sudah melekat dan nggak bisa dilepaskan... jadi, kenapa kita nggak menikmatinya sekalian???

We have been given the special priveledge of being someone’s mom or dad. Anak-anak kita nggak milih kita... we were chosen for them.. and they are programmed to love us unconditionally no matter what we do. So why take this priveledge for granted? Kita nggak tahu sampai kapan dapat kesempatan buat menikmati mereka tumbuh. And don’t let tragedy be your wake-up call, naudzubillahminzalik. You can wake up thankful everyday, but you sometimes forget just how much a priveledge it is to be a parent somewhere along the long journey. Fyi, for me, the most recent reminder untuk bersyukur adalah ketika tanda tangan berlembar-lembar Informed Consent pra-operasi SC-- itu cukup sebagai wake-up call, if anything else.  With every signature, I prayed that I would be given many more chances to become a better parent. Yeah, going to an operating table can do wonders for you to think about your life.

So dear parents, let’s enjoy our moments with our kids. Jangan anggap mereka sebagai bagian sebuah “to-do list” yang perlu dikerjakan supaya cepat selesai. Nikmati waktu bersama mereka sebelum mereka tahu-tahu udah mau terbang dari sarang. Be happy with them. Let them know you are thankful to be their parents. Yakinkan anak-anak kalau “mengasuh” mereka bukan sesuatu yang “melelahkan” atau “terpaksa dilakukan”... tapi kesempatan istimewa, karena mereka istimewa!  

No comments:

Post a Comment