Thursday, December 03, 2015

Ideal vs. Real


3 Desember 2015

Hallo semuanya, lama tak bersua J Tak terasa sudah menjelang akhir tahun 2015 dan juga akhir semester 1 untuk kelas 1 SD (bagi yang menggunakan sistem semester). 6 bulan pertama bagi kami dalam jenjang formal kelas 1 SD itu banyak sekali penyesuaian, perjuangan, dan juga penemuan—dan proses ini masih berlanjut ya, hehehe… I just thought I’d write to tell you how it has really been. Bukan mau menakut-nakuti dan bukan juga mau mengumbar aib pribadi, postingan ini lebih kepada pengingat buat diri saya sendiri untuk terus berjuang dan terus bersyukur atas apa yang ada.
Coming in to this homeschooling thing, I had a lot of ideals. Don’t get me wrong—I still do. Hanya saja, saya belajar untuk lebih luwes untuk menyesuaikan antara “the ideal” vs. “the real”… sama-sama beakhiran “-eal”, tapi huruf depannya beda haha.

Pada umumnya, awal tahun ajaran itu sudah membayangkan akan ini-itu dengan jadwal rapi setiap harinya. Think again! Life happens. Bisa jadi pagi itu Baby Bird bangun tidur disertai tantrum selama 30 menit. Atau mendadak si Hubs dinas ke Jakarta dan kami menemani perjalanan ke sana supaya nggak kena 3-in-1. Atau ada pameran keren yang hanya hari itu saja padahal jaraknya lumayan sehingga jadinya pergi seharian. Atau Little Bug butuh waktu extra untuk membahas suatu materi tertentu sehingga yang lain jadi tergeser. Atau ada yang sakit. Atau hal-hal lain yang sifatnya di luar dugaan. Yep, life happens. What I learned: just enjoy and focus on the time being together. Little Bug pernah nyeletuk, “Yang penting kita bareng-bareng kan, Ma?” J

Belajar memang nggak kenal tempat dan waktu. Teorinya begitu tapi kadang masih merasa dikejar-kejar oleh materi yang belum tercover. Face it, sebagian besar dari kita adalah produk sekolah formal selama 12+ years yang penuh dengan target-target capaian materi kurikulum. Dan meskipun kami memliih untuk mengikuti aturan pemerintah mengenai sekolahrumah (that’s what they call it), mengelola waktu supaya bisa tercapai ideal “belajar apa saja di mana saja kapan saja dengan siapa saja” dan juga memenuhi persyaratan negara… butuh banyak legowo nya. Anak-anak nggak akan sadar dengan tekanan tersebut kecuali kalau kita turut menekan mereka… jadi jangan!  Cukup mereka tahu setahun ke depan ada topik-topik apa saja yang akan dibahas. Selebihnya biar kita yang fasilitasi dengan metode yang paling cocok dengan anak-anak. Focus on the positive. Focus on the excitement of learning something new. Jelaskan kenapa hal tersebut penting/relevan untuk dipelajari. Focus on fun field trips that you can go on or intriguing projects you can do. Dan selalu kaitkan dengan kehidupan sehari-hari setiap ada kesempatan.



Kita sebagai fasilitator yang harus kerja keras mengawasi waktu, supaya tetap fleksibel untuk memenuhi keingintahuan mereka tapi di sisi lain juga nggak lupa waktu. Enaknya homeschool ya anak didiknya hanya anak-anak kita aja, jadi kalau butuh menyesuaikan waktu akan lebih mudah diakali. Kita punya sepanjang hari, which is a lot!Kita sebagai orang tua pelan-pelan bisa belajar untuk legowo dan enjoy dengan proses belajar yang terjadi meskipun tidak sesuai jadwal, tidak sesuai rencana awal, atau bahkan "ketinggalan" menurut kita... insyaaAllah there is room for flexibility and time for catching up.. anaknya cuma anak kita aja kan, bukan sekelas isi 40? Hehehe... :)  Plus kita nggak harus stuck di 1 metode saja—we can facilitate the learning process however we want. Misalnya ketika belajar soal rukun Iman, saya membacakan cerita tentang malaikat sebelum Little Bug tidur. Contoh lain, saya membahas materi soal bangun ruang matematika melalui kegiatan bermain balok kayu di sore hari. Atau perubahan bentuk benda dan karakteristik benda melalui sensory play jelly beku saat akhir pekan. Lama-lama Little Bug juga bisa belajar bahwa dalam sehari itu ada alokasi waktu yang bisa dia gunakan dengan bebas dan juga ada waktu untuk menyelesaikan hal-hal yang diperlukan. 

Real life is like that. Ideally, they are free to do whatever they want the whole day, seperti saat mereka masih balita (siapa sih yang nggak mau? Haha). But in reality, the older you get, the more obligations to finish before you can do what you want… that’s when you learn to prioritize, etc. Dalam hal ini, mulai jenjang kelas 1 ini, Little Bug ada paperwork/kegiatan terstruktur sesuai kurikulum nasional di luar waktu bebasnya untuk belajar/bermain yang lain. Supaya bisa legowo? Make those obligations as fun or enjoyable as you can using creative ways. Find meaning in them and do your best to enjoy fulfilling them. Jangan berpikiran bahwa kewajiban tersebut nggak ada gunanya dan kita terpaksa melakukannya. Perception is important… jadi tugas kita sebagai orang tua untuk memfasilitasi supaya persepsi anak-anak tetap positif. Some things is life you may not like but you just gotta tough it out. But who says you can’t find enjoyable ways to do them? Hehe ;)

Ketika menemui tantangan atau kesulitan, saya selalu ingatkan Little Bug mengenai konsep growth mindset – bahwa otak dia adalah otot yang sedang dilatih, makin sering dilatih makin terampil. Cara melatih otak ya dengan berbagai tantangan atau kesulitan. Misalnya dalam hal menulis rapi: dia sedang melatih otaknya untuk mengkoordinasi otot-otot di tangan supaya bisa menulis dengan rapi dan terbaca. Saya sering menyemangati dengan kata-kata “it gets easier the more you do it” meskipun dia tampak nggak percaya, hehe ;p You can read more about the growth mindset here.


Last but definitely not least, don’t forget to think positive towards Allah in all of your days. Your day might not start out the way you planned it, or it might not turn out the way you planned it, but it sure is the way Allah planned it for you, and He is the best of all planners. Don’t lose your ideals as long as you can balance it with the real…. Just do your best and be thankful for each day, because life can be messy at times but it’s always a blessing to be alive and living it together with your family!

No comments:

Post a Comment