Friday, November 07, 2014

Ijazah & Ibu Rumah Tangga



Waktu saya dulu memutuskan untuk berhenti bekerja setelah Little Bug lahir, si Hubs bertanya kepada saya: “Nggak apa-apa tuh kamu berhenti bekerja? Ijazahnya nggak sayang? Nanti kalau kamu mau lanjut sekolah lagi juga nggak apa-apa kok...” Dan saya dengan (se)tenang (mungkin) menjawab “insyaaAllah nggak apa-apa.” Tetap pada pendirian saya. Pun ada tawaran pekerjaan sampingan nantinya, yang saya terima haruslah yang bisa dikerjakan dari rumah, part-time, atau sifatnya insidentil saja. Sekolah lagi? Hmm... untuk saat ini, menjadi seorang ibu dan full-time home manager saja adalah sekolah lanjutan bagi saya, dengan ujiannya yang tak menentu materinya, praktek langsung setiap saat, dan tak pernah berakhir hingga akhir hayat.

Oh ya, ijazah. Bagi saya, ijazah adalah tanda kesetaraan. Bahwa kita telah bekerja keras dan jujur untuk menyelesaikan sebuah bagian/tingkat pendidikan formal tertentu, dengan pola pikir yang dibentuk sebagai hasil dari ilmu yang didapat. Ya, ijazah S1 saya harusnya mencerminkan bahwa saya memiliki pola pikir dan attitude yang mencerminkan seseorang yang telah lulus dari universitas. Jadi kalau dikomentarin “sayang amat ijazahnya nganggur karena ujung-ujungnya di rumah saja”—saya amat sangat tidak setuju. Kenapa? Karena pola pikir dan attitude seharusnya nggak akan pernah “nganggur” ketika kita meletakkan ijazah itu di rumah saja. Keinginan untuk belajar ilmu dan informasi terkini tetap bisa berlangsung dari rumah, apalagi dengan adanya internet yang memudahkan belajar di mana saja dan kapan saja dengan siapa saja yang bersedia berbagi ilmunya, dari yang berbayar maupun yang free. Belum lagi banyaknya seminar, workshop, atau training insidentil yang bisa diikuti. Belajar maupun menebar manfaat tidak harus berhenti di persoalan ijazah ataupun status sebagai ibu rumah tangga.

Kesadaran bahwa menjadi orang tua itu butuh ilmu parenting yang dipadukan se-harmonis mungkin dengan praktek di lapangan dan disesuaikan dengan sifat dan keunikan tiap anak plus kondisi keluarga, itu juga merupakan pengejawantahan dari pola pikir yang dilambangkan oleh si ijazah tadi. Hanya nggak pake apresiasi resmi dari pihak luar. Nggak ada jabatan resmi atau gelar lanjutan buat pembelajaran seumur hidup ini. Oh ada deng gelarnya, saya menyebutnya “M.om” atau “M.ama”, ujiannya nanti di akhirat, langsung sama Allah. Well, that goes for everybody, not just for us stay-at-home-moms.
But anyways, intinya jangan anggap pendidikan itu hanya demi ijazah, dan ijazah itu hanya demi pekerjaan (di kantoran). Kalau begitu, then we’d be stuck at square one: “ijazah nganggur kalau ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga”.  Menjadi ibu rumah tangga itu adalah sebuah pilihan pekerjaan, dan nggak semua orang beruntung untuk menjadikannya sebagai pekerjaan yang utama atau satu-satunya. Dan pilihan ini juga bukan solusi untuk ongkang-ongkang kaki menikmati uang suami. Being a stay-at-home-mom is HARD WORK. It’s work that never ends—or as I prefer to look at it, a blessing  that never ends. A blessing because you can make this decision and you can adjust your life to it however you need to—and you will find ways to adjust even though it might not be an easy task to do.

So, don’t be afraid of that one piece of paper. Cara menghargai ijazah adalah dengan mencerminkan pola pikir, sikap, dan integritas yang sesuai dengan si ijazah tadi. Sekolah lagi, monggo. Bekerja formal, silahkan. Menebar manfaat dari rumah, ya sama baiknya. Dan yang paling penting: ingatlah kalau rezeki dari Allah, bukan dari ijazah :) Ijazah can open up opportunities, but it shouldn't be an obstacle to create them. Jum'at barokah buat semuanya! :)

1 comment: