Saturday, April 26, 2014

Memilih Kurikulum



Tahun ini, alhamdulillah Little Bug sudah berusia 5 tahun. Which means.... inshaaAllah tahun depan kemungkinan besar sudah bisa mulai jenjang SD. Berhubung mama adalah seseorang yang butuh banyak informasi sebelum mengambil keputusan besar, maka keputusan soal kurikulum apa yang rencananya ingin dipakai ketika SD pun sudah mulai dipikirkan dari sekarang.

Why? Toh masih lama kan ya?

Well, buat kami, menentukan kurikulum butuh pertimbangan yang agak panjang dan balik lagi ke esensi  dan tujuan dari kami melakukan homeschooling itu sendiri. Yaitu sebagai bagian dari ikhtiar supaya anak2 inshaaAllah bisa menjadi pembelajar yang:

  • ·         mandiri,

  • ·         suka belajar (apa saja) sepanjang hayat mereka (life long learner & loves learning),

  • ·         berpikiran terbuka dan kreatif,

  • ·         bisa menemukan passion & bakat mereka dan punya waktu untuk mengembangkannya...


sehingga bermanfaat untuk dirinya & masyarakat... and most importantly, mereka bisa bahagia dunia & akhirat.

Tapi sebagai orang tua, kami juga ingin ngasih “bekal” berupa jaring pengaman. Selain doa dan ikhtiar, kami ingin anak2 nantinya inshaaAllah punya ijazah atau some sort of certification. Selain buat benchmark dengan anak-anak sebaya, juga bisa membuka opsi kesempatan buat melanjutkan pendidikan di jenjang formal atau mengambil tawaran-tawaran yang memerlukan persyaratan ijazah. Kita nggak bisa meramalkan masa depan, kan?  Jadilah kami sekarang sedang mempertimbangkan mau pake kurikulum apa.

Pilihan alternatif sejauh ini ada 2: Cambridge dan kurikulum nasional (kurnas) 2013.

Cambridge kami jadikan alternatif pilihan karena mereka menawarkan sebuah kurikulum yang stabil (sudah dipakai lama sekali), ujiannya juga jelas (dinilai di Cambridge-nya sendiri dan sejauh ini belum dengar ada permasalahan dlm hal validitas, kebocoran soal, kesulitan yg gak jelas, dsb) dan terbuka buat siapa saja, termasuk anak homeschooling. Selain itu, kebetulan (sudah diatur Allah) suami tiba2 dapat review dari kolega si Hubs (yg anaknya pakai Cambridge dan kini 21thn) bahwa pendekatan yg digunakan holistik sehingga kolega tsb sangat puas dengan cara berpikir anaknya. Jadi bukan hafalan semata, melainkan aplikasi dan problem solving. Ada teman yang bilang juga kalau proses evaluasi Cambridge ya bergantung pada keseluruhan proses belajar dari awal-akhir tingkat, jadi bukan sekedar menjawab soal tapi dinilai juga proses berpikir siswa untuk mencapai jawaban tersebut. Jadi harusnya gak perlu lagi tuh sistem-kebut-semalam atau stress yg gak perlu karena takut nggak bisa jawab soal.  Oh ya, sertifikasi Cambridge ini juga dipakai/diterima di banyak negara di dunia dan di Indonesia juga bisa digunakan untuk mendaftar di beberapa PTN yg bagus. Hanya hambatannya adalah kalau mau meneruskan ke jenjang pendidikan formal SD-SMA, harus masuk ke sekolah yg pakai kurikulum yg sama, yakni sekolah internasional—biayanya jelas jauh di atas sekolah negeri atau swasta biasa. And last but not least, it’s all in English. Hmm.. mungkinkah Little Bug bisa mengikutinya? Kalau jadi pilih ini, berarti setahun ke depan harus mulai menguatkan Bhs.Inggrisnya dlm kehidupan sehari2 dan dalam berkegiatan... well, at least we’ve still got a year, hehehe!

Alternatif ke-2 adalah kurnas 2013. Per tahun lalu, diknas mulai menerapkan kur 2013 untuk kls 1 dan 4, dan katanya sih tahun2 ke depan akan pakai kurikulum ini. Materinya berupa tema-tema yang mengintegrasikan beberapa pelajaran dasar dalam tema tersebut. Jadi, dalam 1 tema sudah ada pelajaran Bhs.Indonesia, matematika, dsb.
Kedengarannya cukup menarik dan lebih sesuai untuk anak2. Buku ajaran dan buku pegangan guru juga bisa (dan sudah) di-download gratis dari internet. Setelah tanya-tanya ke bbrp teman yang anaknya pakai kur2013, responsnya cukup positif. Hanya saja, kurikulum ini masih baru... dan entah brp lama akan dipakai?

Sebenarnya, yg saya takutkan hanya kebijakan pendidikan Indonesia yg suka bergonta-ganti nggak jelas, tergantung dengan mentrinya, kabinetnya, politiknya. Takutnya nanti ada UU atau aturan ttt yg menghambat anak-anak untuk melakukan penyetaraan hasil belajar mereka, sehingga bisa menghambat mereka di kemudian hari. Atau bisa jadi kurikulumnya masih berganti-ganti, krn yg sekarangpun cukup mendadak pergantian dan pelaksanaannya. Atau bisa juga evaluasi hasil belajarnya yang “ajaib”, sehingga nggak mencerminkan dengan tepat kemampuan si anak. Tapi jauh di dalam hati (cieh) masih ingin anak punya ijazah nasional... namanya juga anak Indonesia, hidup di Indonesia..
Hmm, mungkin gak ya kedua kurikulum ini dijalankan berbarengan? That's what I'd like to find out. Karena siapa tau bisa, tanpa memberatkan anak atau memakan waktu yg terlalu banyak dari anak. So we can get the best out of both worlds....

We can’ty deny that we live in a world that needs certification of some sort. So for that matter, I’ll be looking into these 2 curriculums fro the next few months... *lots of reading to do* semoga Allah memberikan petunjukNya yg paling baik untuk kami, amiiin....

Yosh, ganbarimashouuuu!






No comments:

Post a Comment