Tuesday, February 25, 2014

A pre-birthday letter to my soon-to-be 5 year old



25 February 2009
Mama ingat pada hari ini, 5 tahun lalu, udara masih dingin di Matsuyama. Iya, itu kota kelahiranmu, Nak.. kota kecil dimana dokter kandungan yang berbahasa Inggris hanya 1 di rumah sakit kecil itu—Tasaka sensei. Hari Rabu itu, Mama siap-siap dengan Papa dan Tante Seiko untuk ke RS. Sejujurnya Mama takut sekali.. karena sudah siap-siap mau lahiran normal, eeeh ternyata setelah diperiksa panggulnya maka disarankan untuk operasi saja demi keselamatan bayi dan ibu. Mama hanya bisa menyiapkan barang-barang di list keperluan melahirkan yang diberikan oleh RS dan terus berdoa.
Sampai di RS, Mama dipasangkan alat untuk mendengar detak jantung kamu. Bunyinya kencang dan cepat.. mungkin saingan sama detak jantung Mama yang saat itu cemas, takut, dan juga excited pada saat yang bersamaan. Mama ingat susternya tiba-tiba lari masuk ke kamar dan bilang kalau Mama harus segera diinfus supaya bisa diberikan obat, karena mulai muncul kontraksi--- padahal operasinya dijadwalkan untuk keesokan paginya. Malam harinya, Mama mulai puasa setelah makan malam.. Papa juga pulang setelah jam berkunjung selesai. Iya, di Jepang memang RS cukup “steril” dari penunggu yang tidak benar-benar dibutuhkan. Susternya baik-baik dan selalu siaga 24 jam. Walaupun begitu, sebenarnya Mama malam itu nggak bisa tidur..

26 February 2009
Pagi-paginya, Papa sudah datang. Mama siap-siap untuk proses operasi, jam 9 dijadwalkan tapi jam 8 sudah mulai untuk persiapannya. Mama ingat begitu masuk ruang operasi, ACnya terasa dingin sekali. Tapi rasa dingin dan gugup itu hilang ketika Mama dengar tangisan kamu, Nak.. jam 9.20 kalau nggak salah, Allah memberikan panggilan baru “Mama” untuk Mama... Mama untuk bayi kecil yang nangisnya terdengar hingga ujung lorong RS. Bayi kecil yang menangis kejer di awal-awal perjuangan Mama untuk memberikan ASI. Bayi kecil yang kepalanya bulat sempurna, mata sipit, dan kukunya selalu menghadiahkan sebuah cakaran baru setiap paginya. Bayi kecil yang pada kedua kakinya dituliskan nama mama dengan spidol hitam, supaya pas dimandikan suster nggak bakal ketuker. Bayi kecil yang sudah disiapkan namanya... doanya.. supaya inshaaAllah menjadi anugerah dari Allah yang memimpin dengan bijaksana dan menebar manfaat ke mana saja.

25 February 2014
Sore ini Bogor hujan... cuaca mendung dan langitnya sedikit mengingatkan Mama pada pemandangan dari jendela kamar RS waktu dulu.. tempat Mama selalu melihat Papa pergi pulang ke rumah hingga sosok berjaket abu-abu dan bersepeda itu sudah belok dan tak terlihat lagi. Tapi pemandangan sekarang siapa yang dapat membayangkan dulu. Ada kamu dan adikmu yang sedang tertidur lelap di dalam kamar. Dan ada Mama yang sedang berkaca-kaca membayangkan betapa cepatnya waktu berlalu.
Ya, 5 tahun benar-benar cepat, Nak! The days are long but the years fly by. Alhamdulillah, Mama nggak pernah menyesal memilih untuk selalu di rumah dengan kamu. Walaupun Mama suka mengeluh capek atau rumah berantakan, tapi Mama nggak akan pernah menyesali semua ini. Mama benar-benar bersyukur diizinkan Allah untuk tetap di rumah dan berjuang untuk membesarkan dan mendidik kamu sendiri. Mama sudah ikhlas untuk menunda semua impian Mama dalam hal karir. Mama juga selama 5 tahun ini berusaha untuk meneyimbangkan antara keinginan pribadi dan tugas sebagai seorang Mama.
Mama hanya menyesal karena Mama masih belum pandai mengatur waktu supaya semuanya bisa senang. Betapa berat membuat kamu menunggu ketika Mama masih harus menyelesaikan cucian piring atau menjemur baju. Mama juga belum pandai mengatur emosi seperti yang disarankan oleh semua artikel parenting yang Mama baca. Juga belum bisa melakukan semua ide aktivitas seru supaya kamu bermainnya tambah asyik dan punya nilai tambah pembelajarannya.
Tapi Nak, kamu tahu nggak? Kamu akan selalu punya tempat istimewa di hati Mama. Karena kamu adalah anak pertama... anak yang bersama Mama (dan Papa) belajar bagaimana berkompromi dan hidup bersama. Anak yang jadi “kelinci percobaan” ketika Mama menghadapi setiap tumbuh kembang kamu yang baru. Kamu yang sudah melihat Mama marah, senang, sedih, khawatir, dan semua emosi yang Mama nggak sadari. Kamu yang sudah ada sejak awal lika-liku perjalanan hidup Mama dalam menjadi seorang Mama. All those good times.. sad times.. hard times.. enlightining times.. thankful times... you’ve been there all along, looking up to me (and your Papa) and sometimes (lots of times) I guess I just didn’t act like a Mom should. Banyak sekali buku dan artikel tentang parenting yang Mama punya dan baca, tapi ketika sudah pada prakteknya, kadang susah sekali melakukan yang sederhana sekalipun. Maafkan Mama kalau Mama dulu masih sering marah dan membuat kamu merasa takut. Maafkan Mama yang dulu kadang terlalu sering lihat HP atau laptop sehingga kamu merasa terabaikan. Maafkan Mama yang belum bisa ber-scrapbook ria sebelum tahu-tahu laptop Mama diambil pencuri, lengkap dengan foto dan video kita yang sebagian belum sempat terback-up. I’m so sorry... I’m so sorry for not realizing this earlier... before now that you’re suddenly about to turn 5 years old, inshaaAllah tomorrow.
Mama tahu, nggak ada gunanya menyesal.  Tapi kamu benar-benar cepat sekali tumbuhnya... not my little baby anymore.. Dalam sekejap mata kamu udah jadi bocah lucu yang sudah bisa berargumen kalau ada yang tak sesuai, makannya  lahap, melakukan persuasi untuk mendapatkan Lego (lagi), dan senang bermain piano di waktu luang. Alhamdulillah, Nak... Allah yang Maha Penjaga.. Maha Melindungi.. Kalau bukan karena Allah yang jaga kamu, Allah yang mengilhami cara berpikir kamu.. akan jadi seperti apakah kamu, dengan Mama yang serba tak-sempurna ini? Mama hanya bisa membaca artikel parenting dan berusaha mendidik kamu semampu Mama... tapi sebenarnya Allah-lah yang membuat kamu menjadi anak yang hebat seperti sekarang ini.
Mama nggak bisa berhenti menangis haru mengingat 5 tahun itu sudah berlalu dengan begitu cepat... you’ve been beside me all along, dan kamu adalah guru Mama selama ini. Mama ikut tumbuh dan berkembang bersama kamu, Nak... dan Mama hanya berdoa supaya diberikan umur panjang dan kesehatan yang baik supaya bisa terus mendampingi kamu dalam tumbuh, berkembang, dan belajar tentang hidup ini. I love you so much, my little bug.. I know I’m not perfect but I really did try and still do try to be the best Mom for you. I know, sometimes I try too hard. But you’re there to teach me that I don’t need to be perfect to have fun with you. I just need to be more present in the moment with you.. be more patient.. and learn to have fun and relax a little more... not mind the housework too much...and be more simple in viewing this world and what’s truly important in life... and inshaaAllah that I will try my hardest to do, I promise you that! Alhamdulillah, Allah is teaching me about my life priorities through you... Allah is improving my skills through you.. and Allah is reminding me to become more humble through you.
Jadi saat kamu merasa kalau Mama lebih sayang adik daripada kamu... atau Mama terlalu “sibuk” untuk menikmati bermain bersamamu... tolong jangan lari dari Mama ya. Tolong ingetin Mama dan cerita sama Mama ya. Karena Mama butuh kamu.. sama seperti kamu butuh Mama. Dan suatu hari nanti saat kamu sudah bisa mengerti semua yang Mama tulis ini, maka kamu akan tahu kalau Mama (dan Papa) selalu sayang kamu.. always love you no matter what you do or what you say...  and that your Papa and I are very thankful to Allah for you and very blessed to be your parents. You’ll always have that special place and special connection as the firstborn child. My baby boy, always!

Love,
Mama
Bogor, 25 February 2014

No comments:

Post a Comment