Wednesday, October 16, 2013

Letting Go: Embracing the Chaos and Enjoy the Learning



October 16, 2013


Gak terasa, tau-tau sudah sebulan berlalu sejak terakhir kali menulis blog. Yes, I have problems with time management (keliatan kaan?), khususnya mengalokasikan waktu buat menuliskan kegiatan homeschool di rumah. Tapi, alhamdulillah foto-foto pada numpuk di file folder, nunggu dikompilasikan dan diceritakan, so it’s not all “lost” in time. Yah, I’m doing my best, and memang baru segini kemampuannya, hehehe... *wanna be better though, really!*

Anyways,  sejak terakhir kali posting ttg masa adaptasi, alhamdulillah sekarang-sekarang ini sudah jauh lebih tenang. Masih penyesuaian sana-sini, but alhamdulillah sekali I’ve learned to embrace the chaos and enjoy the learning. Embrace the “chaos” maksudnya sudah belajar untuk lebih legowo melihat rumah yg seperti kelewatan angin ribut. Ada bear counters di bawah meja, bekas paint di lantai teras belakang yg sudah mengering, potongan-potongan kertas (“pempek buatanku untuk Mama!” kata Little Bug) di sudut lantai ruang keluarga, tumpukan buku-buku yang habis dibaca di sana-sini, dan “chaos” lainnya yang dulunya mungkin membuat saya merasa “gerah” karena ingin punya rumah yg bersih. I knew it wouldn’t be possible with kids in the house, but I still had that *false* hope that I could be that supermom who could handle the mess, hahaha! My problem was that, theoretically I knew what to expect from having a house with 2 little kids in it, but putting theory into really accepting the reality were 2 different things.

Begitu pula dengan our homeschool routine. From books/blogs/articles, I knew that play is the main way to learn for kids. I knew that I should let learning flow naturally through play. I knew that I wanted my kids to really enjoy their childhood filled with play. I knew what my ideal homeschool days were supposed to be like. But knowing and actually doing are 2 very different things. And being an over-achiever and having a high need for control, it is still challenging (but not impossible) for me to “let go” and let the learning happen naturally.

Tadinya saya berusaha untuk membuat adanya tema bulanan yang akan menaungi kegiatan belajar Little Bug setiap bulannya, beserta kegiatan2 yang pre-planned yg saya siapkan sesuai tema tadi.  But, it wasn’t working--- Little Bug is still very young and has fleeting interests.. satu hari mau belajar tentang ayam, sorenya mau belajar tentang hiu. Padahal lagi belajar tentang makanan sehat, hahaha!  Dan saya perhatikan, memang benar bahwa kalau suatu hal tidak dianggap “penting” oleh anak, maka dia nggak akan melakukannya dengan semangat yg alami. Dia akan secara alami bersemangat melakukan hal-hal yg bagi dia “penting”, dan buat Little Bug, hal itu adalah bermain.
Saya sangat takut kalau memaksakan suatu kegiatan supaya sesuai dengan tema bulanan pada saat itu—walaupun dianya sendiri sih mungkin oke-oke aja belajar tentang suatu topik dari saya—in the long term akan menekan rasa ingin tahunya yang begitu besar. Padahal justru rasa ingin tahu itulah yg harus terus dipupuk sebagai fondasi belajar yang lebih formal nantinya ketika sudah memasuki usia SD dan seterusnya. Pada saat yang sama, saya juga masih ingin memberikan beberapa materi yang penting menurut saya (dan suami) untuk dipelajari oleh Little Bug sedari kecil. Nah,jadi muter otaklah sampai sekarang untuk berusaha mencari win-win solution that works.

Jadinya, saya mengalah. Instead of preparing a monthly theme, saya bebaskan Little Bug memilih apa yg ingin dia pelajari setiap harinya. Untuk sementara ini, saya nanya ke dia malam sebelum tidur.. “Besok mau belajar tentang apa? Mau main apa? Apa masih mau lanjutkan belajar/main yang tadi?” Dengan cara itu, malamnya (moga2) saya bisa sempat untuk men-google dan menyiapkan bbrp kegiatan yang berkaitan dengan keinginan Little Bug.

Seperti hari ini, Little Bug semalam bilang kalau dia ingin menjadi seorang Raja. Jadilah saya malam nyari ide tentang crafts yg berkaitan dengan “raja” dan nyiapin pagi-paginya, juga nyiapin buku yang ada kaitannya dengan si Raja itu. Nggak banyak-banyak yang disiapkan, hanya cadangan ide kalau-kalau Little Bug butuh extra encouragement. Dan buktinya, dari segambreng perlengkapan prakarya yg saya sediakan dalam sebuah nampan plastik, Little Bug tetap bebas memilih apa yg dia inginkan untuk digunakan dalam membuat sebuah mahkota raja untuk dirinya sendiri. Jadi saya menahan diri men-suggest apa-apa sehingga bisa menikmati melihat jalan berpikir si anak kecil ini dan hasil jerih payahnya sendiri.



In the future, saya ingin membuat sebuah “Invitation To Play” di meja kecil di ruang keluarga, yg isinya (usulan) berbagai elemen (mainan, buku, alat-alat, dsb) yang bisa dipakai untuk bermain sesuai tema tertentu atau suatu hal yg mungkin nanti menurut saya perlu untuk dipelajari oleh Little Bug. Ini masih still in progress sih, but I figured that it’s the best way to gently give extra play ideas that Little Bug can choose from, if he wants to. Selain itu, saya juga sudah mulai  bener-bener merampingkan daftar hal-hal yang saya ingin Little Bug pelajari, jadi itu saja yang saya kejar, sisanya bener-bener kombinasi dari bermain bebas dan pembelajaran dari kegiatan sehari-hari.

Alhamdulillah, so far so good.. it hasn’t been easy to let go and embrace the chaos, but I will try my best for the kids.. and I must say, it does feel good to have fun with the kids, even if it means that on some days you have to give kids a bath 5x a day and your back terrace floor is covered in painted footprints :) 

 

No comments:

Post a Comment